Judulnya memang tendensius, tetapi kalau
alam sudah menggeliat dan mendukung, maka itu pun terjadi. Manusia boleh saja
berkomentar, tetapi hasil akhirlah yang menentukan. Weda adalah penyangga alam semesta,
ia juga adalah alam dan isinya. Maka tidak aneh kalau yang berperan dalam
“penataan” alam ini adalah pengetahuan Weda itu sendiri. Jadi, siapapun itu
yang ingin berperan dan berbuat untuk ikut serta dalam menata kembali alam
semesta ini maka dia tidak akan pernah berhasil apabila mengabaikan Weda itu.
Kalau toh ini hanya angan-angan, maka
tidak banyak orang yang berangan-angan seperti ini. Ya, memang orang yang hanya mencari selamat seperti itu. Karena
berangan-angan pun memerlukan keberanian, harus punya nyali. Karena harus
berjuang keras untuk merealisasikan angan-angannya, dan siap untuk dicemoh dan
dicibir oleh orang-orang di sekitarnya. Dan orang bebas dan sah-sah saja
mencibir karena memang bukan misinya.
Manusia hidup tidak sendiri, alam ini diciptakan oleh Sang Hyang Widhi dengan ciptaan yang beragam. Setiap ciptaan akan membutuhkan maupun dibutuhkan oleh yang lain. Harmoni diantara ciptaan-Nya adalah sebuah kewajiban agung dari setiap makhluk. Harmoni dengan seluruh isi Jagad Raya.
Beranda
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Kamis, 12 Juli 2018
Senin, 09 Juli 2018
Dunia Ini Adalah Sebuah Asrama
Dalam Hindu kita amat beruntung mempunyai banyak jiwa-jiwa yang
telah mendapatkan pencerahan untuk menuntun kita sepanjang jalan spiritual.
Pengajaran mereka amat dalam dan sungguh kuat mereka penetrasikan ke dalam
kesadaran kita yang biasa dan memberi kita penglihatan batin yang baru tentang
bagaimana memaksimalkan kemajuan spiritual dalam hidup ini.
Guru kami, Yogaswami, Jaffma, dari Sri Lanka , memberi kami sesuatu
yang berharga ketika ia mengatakan, “Dunia
ini adalah sebuah asrama, suatu latihan yang mendasar untuk mencapai moksa,
kebebasan.” Pernyataan Yogasvami mempunyai hubungan dengan puisi William
Shakespeare “Seperti Kamu Menyukainya.”
Seluruh dunia ini adalah
sebuah panggung,
Dan seluruh manusia
semata-mata hanyalah para pemain,
Mereka punya jalan keluar
dan jalan masuk;
Dan seorang manusia memainkan
berbagai peran,
Ia beraksi selama tujuh
abad.
Jumat, 06 Juli 2018
Membangkitkan Hindu Jawa Barat – Sunda
Jawa Barat
adalah cikal bakal kerajaan-kerajaan Hindu di Nusantara. Boleh dibilang Jawa
Barat-lah leluhurnya para Raja-raja
diseluruh Nusantara. Pada abad ke II Masehi banyak datang para pedagang dari
India dengan dikawal oleh para prajurit yang sangat tangguh. Lalu terjadi
interaksi yang bukan hanya interaksi perdagangan tetapi interaksi budaya, agama
dan lain-lain. Sebelum ada kerajaan Kutai pada abad ke IV Masehi, pada
abad ke II Masehi di Jawa Barat sudah
ada kerajaan Hindu yaitu Salakanagara, dan ternyata Kudungga yang ada di Kutai
ada hubungan saudara dengan Raja Salakanagara yang ke VIII. Dan karena Kudungga
hanya punya anak perempuan maka mengadopsi anak kedua dari Raja Salakanagara tersebut
yaitu Aswawarman dan dikawinkan dengan putrinya dan menjadi Raja di Kutai yang
kemudian melahirkan Mulawarman, yang membawa Kutai mencapai kejayaannya. Raja-raja
Salakanagara juga melahirkan keturunan-keturunan yang menjadi raja-raja di
Sumatera dan Jawa Tengah, bahkan Majapahit mengganggap Jawa Barat adalah
leluhur mereka. Karena ternyata kakeknya Raden Wijaya (Pendiri Kerajaan
Majapahit), orang tua dari Lembu Tal (Ayah Raden Wijaya) adalah orang Sunda
yang masih keturunan Raja-raja Jawa Barat. Karena itulah pada masa Raja Hayam
Wuruk ketika majapahit mencapai puncak kejayaan, Beliau berpesan kepada
Mahapatih Gajah Mada agar jangan berperang dengan Jawa Barat karena dosa besar
apabila berperang menundukkan tanah leluhurnya sendiri. Dari uraian sekilas inilah
dapat disimpulkan bahwa Salakanagara adalah Kerajaan Hindu Tertua di Nusantara.
Tidak tahu pasti mengapa dari awal tidak dimunculkan bahwa Kerajaan tertua
adalah Salakanagara di Jawa Barat. Sejarah ini secara detail Media Hindu sudah
pernah memuatnya di Edisi yang sebelumnya, karena itulah penulis tidak akan
mengulanginya lebih jauh.
Kamis, 28 Juni 2018
PANDANGAN HINDU TENTANG NASIONALISME
janam
bibhrati bahudha vivacasam
manadharmanam prthivi yathaikasam
sahasram dhara dravinasya me duham
dhraveva dhenuranapasphuranti
Berikanlah
penghargaan kepada bangsamu yang menggunakan berbagai bahasa daerah, yang
menganut kepercayaan yang berbeda. Hargailah mereka yang tinggal bersama di
bumi pertiwi ini. Bumi yang memberi keseimbangan bagaikan sapi yang memberi
susunya kepada umat manusia. Demikian ibu pertiwi memberikan kebahagiaan yang
melimpah kepada umatnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI
Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...
-
Kualitas atau pun harga diri seseorang itu tolok ukurnya adalah pada perilakunya, itulah yang menjadi tolok ukur. Prilaku yang menunjukkan ...
-
Pendahuluan Semaraknya kegiatan keagamaan yang dilaksanakan diberbagai pure yang kita lihat dewasa ini yang mungkin bahkan terbilang m...
-
Pemujaan kepada para dewa tidak akan lengkap tanpa menggunakan bunga. Jika kita memahami bunga atau daun yang mana yang kita perlukan ...
