Beranda

Selasa, 03 Januari 2023

Mantra – Suaranya lebih utama daripada maknanya

Mantra adalah suara, mantra adalah energi, mantra adalah frekuensi/getaran,

Mantra berarti suara, ucapan tertentu berenergi yang bervibrasi dengan frekuensi tertentu. Ilmu pengetahuan modern saat ini melihat seluruh keberadaan jagad raya ini sebagai gaung energi dengan berbagai tingkat getaran atau frekuensi yang berbeda. Secara logika, di mana ada suara maka ada getaran. Jadi dapat disimpulkan bahwa seluruh keberadaan ini adalah berbagai jenis suara atau penggabungan suara yang kompleks – jadi bisa dikatakan pula bahwa seluruh keberadaan ini adalah penggabungan berbagai mantra. Dari berbagai suara/getaran/mantra tersebut, beberapa telah diidentifikasi, yang mungkin fungsinya seperti kunci. Jika kita menggunakannya dengan cara tertentu, maka suara itu menjadi kunci untuk membuka dimensi suatu kehidupan dan pengalaman yang berbeda di dalam diri kita.

Jadi mantra bukanlah sesuatu yang sekedar kita ucapkan. Itu adalah sesuatu yang kita perjuangkan, karena tanpa kita menjadi kuncinya maka keberadaan tidak akan terbuka untuk kita. Menjadi mantra berarti kita menjadi kuncinya. Hanya jika kita adalah kuncinya maka kita dapat membuka apa terkunci bagi diri kita. Jika tidak, maka orang lain harus membukanya untuk kita dan kita harus melanjutkannya.

Ada berbagai jenis mantra (frekuensi/getaran). Setiap mantra mengaktifkan jenis energi tertentu di bagian tubuh yang berbeda. Tanpa kesadaran yang diperlukan, dan hanya mengulang-ulang suara saja dengan alur pemikiran yang entah kemana maka hanya akan membawa ketumpulan pada pikiran. Tetapi ketika dilakukan dengan kesadaran yang benar, dengan pemahaman yang tepat tentang apa dan bagaimana itu, maka mantra bisa menjadi sarana yang sangat kuat.

Mantra berasal dari berbagai bahasa, dan aspek dasar bahasa tersebut sangat peka terhadap suara. Apakah itu berasal dari bahasa Sanskerta, Jawa Kuno, maupun bahasa-bahasa lain. Setiap bentuk memiliki getaran, berarti pula memiliki frekuensinya, berarti pula memiliki suara yang melekat padanya. Setiap bentuk dalam keberadaan jagad raya ini bergema dengan cara tertentu dan menciptakan getaran atau frekuensi atau suara tertentu. Dalam ilmu pengetahuan modern bahwa antara bentuk, getaran/frekuensi, dan suara adalah sesuatu yang selalu melekat satu dengan lainnya.

Saat kita bersuara, sebuah bentuk sedang dibuat. Ilmu pengetahuan menggunakan suara dengan cara tertentu sehingga menciptakan bentuk yang tepat. Kita dapat membuat bentuk yang kuat dengan mengucapkan suara dalam pengaturan tertentu. Ternyata inipun ada dalam tradisi Yoga yang dikenal sebagai Nada Yoga yaitu yoga dengan cara menciptakan suara-suara tertentu untuk membentuk suatu pengaruh yang akan mempengaruhi tubuh sehingga menciptakan kondisi sistem tubuh yang sehat.

Jika kita menguasai suara maka juga menguasai bentuk yang melekat padanya. Sansekerta dan beberapa bahasa lain termasuk Jawa Kuno adalah contoh bahasa dimana bentuk dan suara terhubung. Contoh saja dalam bahasa Inggris misalnya jika kita mengucapkan “sun” atau “son”, dalam pengucapannya sama, hanya dalam ejaannya saja yang berbeda. Artinya antara suara dan bentuk tidak saling melekat karena sebuah ucapan bisa merujuk kepada beberapa bentuk, bukan satu atau sebuah bentuk saja. Contoh lain misalnya antara ucapan “when” dan “went”, ucapannya sama namun ejaannya berbeda. Apa yang kita tulis bukanlah kriterianya. Namun suaralah kriterianya. Ketika kita menyadari suara apa yang melekat pada bentuk tertentu, kita memberikan suara ini nama untuk bentuk itu. Sekarang suara dan bentuknya terhubung, maka jika kita mengucapkan suara itu, kita berhubungan dengan bentuknya – tidak hanya secara psikologis, tetapi secara eksistensial kita terhubung dengan bentuk. Apa yang berbentuk, kita ubah menjadi suara atau getaran/frekuensi.

Itulah alasan mengapa beberapa bahasa (misal Sansekerta, atau Jawa Kuno) diajarkan harus dipelajari dengan hafalan. Diajarkan dengan cara melantunkannya tanpa henti. Tidak masalah apakah tahu artinya atau tidak karena suaralah yang paling penting, bukan artinya. Arti hanya dibuat dalam pikiran kita yang tidak bisa menembus dimensi kehidupan lainnya, namun suara mampu membawa pada dimensi yang berbeda. Ilmu pengetahuan modern mengidentifikasi bahwa penciptaan jagad raya inipun diawali dengan suara (ledakan) yang disebut Big Bang. Salah satu kitab Upanisad pun juga menuliskan bahwa dalam kekosongan jagad raya ini yang ada hanya suara AUM.

Mantra, dengan melantunkannya secara konsisten dengan fokus pada suaranya, setelah beberapa waktu itu akan menjadi bagian dari sistem kita dan itu akan mengatur suasana tertentu untuk kita. Mantra bukanlah kesadaran tetapi mantra mengatur suasana yang tepat. Suara akan mengatur jenis suasana yang tepat dalam kerangka fisiologis, psikologis dan juga di atmosfer.

Jadi inilah yang dilakukan penulis, saat melantunkan mantra fokus pada suaranya dan menikmati sensasi apapun dari suara itu, tidak penting untuk membayangkan apapun karena itu justru bisa merusak prosesnya. Juga saat melantunkan tidak perlu merenungkan atau menganalisa artinya, karena arti hanya sebatas dalam dimensi pikiran sendiri, tidak bisa mengakses dalam dimensi yang lebih luas. Suara atau getaran/frekuensi-lah yang bisa mengakses pada dimensi yang lebih luas. 

Rahayu Sagung Dumadi

Aguswi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...