Beranda

Rabu, 11 Januari 2023

Suwung – Nyepi

 

Oleh: Aguswi

         Kata “suwung” adalah literatur Jawa yang berarti kosong, sepi, tiada apapun juga. Dunia ini berawal dari Suwung (kekosongan). Itulah yang dinyatakan oleh Chandogya Upanisad: “idam va agranaiva kincit asit, sadva saumnya idam agra acit, ekam eva advitya”, artinya “sebelum diciptakan, alam semesta ini tidak ada apa-apa, sebelum alam semesta diciptakan hanya Hyang Kuasa yang ada, maha esa tiada duanya”

Manava Dharma Sastra I.5 juga menjelaskan: “asid idam tamobhutam aprajnatam alaksanam, apratarkyam avijneyam prasuptamiva sarvatah”, artinya “ketahuilah bahwa asal mulanya alam semesta ini terselimuti kegelapan, tak terlihat, tanpa sifat, melampaui daya penalaran atau akal, seakan-akan terselimuti dalam tidur lelap universal”.

Jika memang alam ini berawal dari Suwung (kekosongan), lalu benarkah Tuhan itu ada? Secara logika, kekosongan adalah tanpa ada apapun juga, tiada obyek apapun yang dapat ditemukan. Jawaban atas pertanyaan apakah Tuhan itu ada maka tergantung pada kesadaran kita mengenai definisi “ada”. Jika kita mendefinisikan kata “ada” sebagai sebuah kenyataan yang harus memiliki bentuk atau ciri-ciri fisik, maka sudah jelas Tuhan itu tidak ada. Instrumen apapun yang digunakan akan gagal untuk membuktikan bahwa Tuhan itu terlihat atau sosok-Nya yang sejati dapat disaksikan.

Dengan memperluas definisi “ada” hingga pada tingkat kasunyatan metafisik, pernyataan Tuhan itu “ada” atau “tidak” tergantung pada kesadaran pengertian mengenai Tuhan itu sendiri. Mereka yang berkesadaran bahwa Tuhan adalah Pribadi dengan keberadaan metafisik (mereka yang dikategorikan sebagai para penganut kepercayaan Tuhan Personal), maka ada teks-teks kuno yang menyatakan bahwa Tuhan itu “ada”. Seperti yang tertulis dalam Bhagavad-Gita adhyaya 11 yang menyatakan bahwa Arjuna menyaksikan Sri Krishna dalam wujud Mahavisvarupa-Nya yang sesungguhnya adalah wujudNya sebagai Saguna Brahman (Tuhan Berkepribadian, Yang Terpikirkan).

Begitu juga dengan Manava Dharma Sastra adhyaya 1 yang menjelaskan alam semesta secara runtut dari keadaan Suwung (kosong) hingga kemudian meng “ada” dengan sendirinya dengan kekuatan-Nya yang Maha Ada.

Terkait pernyataan bahwa Tuhan itu ada, para saintis atau siapa pun juga yang berpegang pada pembuktian empiris tentu saja bisa menyangkal pernyataan itu. Seperti pernyataan Stephen Hawking dan para atheis lainnya yang menyatakan bahwa tidak ada sosok Tuhan yang terlibat dalam pembentukan alam semesta. Namun, menyangkal sebuah realitas metafisik (niskala) dengan pendekatan empiris yang melibatkan perangkat indriawi manusia adalah kebodohan belaka. Meski dibantu dengan perangkat paling canggih sekalipun, tidak akan pernah bisa mengungkapkan keberadaan-Nya secara utuh. Wilayah non-materi dari alam semesta ini hanya akan bisa ditangkap dengan perangkat non-indriawi pada diri manusia.

Suwung merupakan realitas kekosongan yang menjadi inti sekaligus meliputi segala yang ada. Tuhan, sejatinya bukanlah sosok atau pribadi, melainkan kekosongan yang meliputi seluruh jagad raya. Tuhan dalam keadaan esensialnya adalah kekosongan yang tanpa batas. Segala sosok agung apapun juga yang digambarkan oleh berbagai sastra suci, atau pun sebagaimana yang disaksikan oleh beberapa Sang Waskita (pelaku spiritual), sejatinya tak lebih dari manifestasi atau pengejawantahan Tuhan, Sang Suwung. Sang Suwung mengejawantah menjadi Wisnu, atau Brahma atau Mahadewa adalah tergantung kepada tujuan-Nya dalam pengejawantahan-Nya tersebut. Atau pun mengejawantah dalam Realitas Cahaya Tertinggi yang meliputi segalanya. Sang Suwung mengejawantah (memanifestasi) dalam wujud keberadaan Yang Berpribadi tiada lain hanyalah cara Sang Suwung untuk membuat manusia lebih mudah mengenal keberadaan-Nya sebagai realitas Yang Maha Agung.

Leluhur Nusantara yang menjelaskan keberadaan Tuhan sebagai Kang Akarya Jagad, Kang Murbeng Dumadi; tidak sedang menyebut sosok Tuhan. Tetapi yang sedang diungkap adalah keberadaan Sang Suwung yang mengejawantah menjadi jagad raya beserta segala isinya. Hal ini senada dengan petikan dari Chandogya Upanisad 3.14.1 “sarvam khalvidam brahma” yang artinya “segalanya adalah pengejawantahan dari Hyang Kuasa”. Tuhan sebagai Sang Suwung adalah bagian tak terpisahkan dari alam semesta, dan Sang Suwung adalah akar dari keberadaan alam semesta.

Di dalam segala yang ada, di sana ada Tuhan, Sang Suwung. Sang Suwung adalah Kesadaran yang bekerja menjadikan (meng ”ada” kan), memelihara, dan meluruhkan segala keberadaan melalui serangkaian hukum yang kita sebut hukum alam (rta).

Berarti manusia juga merupakan pengejawantahan dari Sang Suwung, maka manusia disebut mikrokosmos, jagad alit. Sebagaimana Sang Suwung dan jagad raya tiada pernah terpisah, demikian pula Sang Suwung dengan manusia adalah kesatuan juga. Sebuah kesatuan antara Sang Suwung dengan Sang Diri inilah dalam filosofi Jawa disebut Manunggaling Kawula Lan Gusti. Bahwa sudah sejak pada awalnya antara Sang Suwung dengan Sang Diri ini merupakan sebuah kesatuan yang tidak pernah maupun tidak akan terpisahkan. Sang Suwung adalah Kekosongan yang menjadi esensi sekaligus memenuhi dan meliputi diri manusia. Sang Suwung yang mengejawantah menjadi Pribadi Agung atau Personal maka terkesan terpisah dengan manusia.

Setiap manusia (sebagai pengejawantahan dari Sang Suwung) memiliki kebebasan penuh untuk memilih tindakan sesuai yang diinginkan. Yang menjadi batasannya adalah kapasitas dirinya sendiri dan hukum-hukum semesta. Manusia memiliki murba atau kuasa sejauh kapasitasnya, dan memiliki wasesa atau wewenang memilih tindakan dimana setiap pilihannya mendatangkan resiko tertentu yang dalam susastra Jawa disebut wohing pakarti – buah perbuatan. Manusia bisa melakukan sesuatu oleh karena ada daya atau kuasa yang diberikan oleh Sang Suwung, namun setiap apa yang dilakukan akan selalu terikat dengan hukum-hukum semesta yang sama sekali tidak bisa dihindari. Tindakan destruktif manusia akan dipatulkan oleh hukum-hukum semesta sebagai wohing pakarti yang juga merugikan dan membawa dukacita. Tanpa upaya untuk menata, memperbaruhi hidup, harmonis dengan alam semesta sebagai pengejawantahan dari Sang Suwung, maka dukacita pasti akan dialami. Dalam hal ini harus kita sadari bahwa sejatinya tidak ada dosa yang berakar pada ketidaksenangan dan kemarahan Hyang Kuasa terhadap tindakan manusia. Apapun yang diperbuat oleh manusia, Sang Suwung tetaplah Suwung; tiada marah dan benci, pun juga tiada senang dan duka. Tetapi manusia sudah pasti ngunduh wohing pakarti (mendapatkan segala akibat perbuatan yang dilakukannya).  

Nyepi....dalam pemahaman umat Hindu etnis Jawa sesungguhnya adalah sebuah laku dalam rangka Nyuwung (mengosongkan diri). Apa yang dikosongkan? Sebagaimana yang dijelaskan dalam upanisad-upanisad bahwa dunia ini pada awalnya hanyalah kekosongan saja tiada materi, tiada rupa, tiada obyek apapun juga dan yang ada hanya dengungan suara AUM; maka seperti itu pula bahwa Nyepi adalah laku mengosongkan hasrat-hasrat duniawi semata melalui pengendalian indriya-indriya dalam diri terutama rajendriya (rajanya indriya yaitu pikiran), dan hanya merenungkan esensi-esensi Ketuhanan. Jiwa manusia juga berasal dari-Nya, Sang Suwung yang mengejawantah; oleh karena itu Nyepi juga sebagai laku untuk suatu tujuan tertinggi perjalanan jiwa manusia, yaitu menuju sangkan paraning dumadining manungsa (asal dan tujuan manusia itu diciptakan). Nyuwung juga merupakan upaya bagi Sang Jiwa untuk kembali murni. Menjadi Diri Sejati atau Realitas Cahaya yang paling murni. Inilah yang disebut kamoksan sejati atau Moksa. Sang Diri Sejati akan menuntun untuk mencapai tataran Suwung. Inilah keadaan yang disebut sampurnaning hurip. Menjadi murni dan kembali kepada Suwung membuat manusia tiada tapi ada, dan ada tapi tiada. Kosong tapi isi, isi tapi kosong. Catur Brata yang selama ini kita kenal sebagai bagian dari sadhana atau laku di hari raya Nyepi adalah cara-cara brata untuk melatih Sang Diri ini dalam nyuwungke (mengosongkan) diri ini dari berbagai hasrat duniawi dengan cara (1) mengosongkan kerja (amati karya), (2) mengosongkan ego maupun ahangkara (amati geni), (3) mengosongkan kesenangan (amati lelanguan), dan (4) mengosongkan berbagai keinginan duniawi yang membuat pikiran menjadi mengembara kemana-mana (amati lelungan).

Saat sang Jiwa meneruskan perjalanan dengan menyelami realitas Sang Diri, maka pada puncaknya akan melampaui kerikatan dengan bumi dan serasa berada di angkasa raya. Kita akan secara nyata merasakan keagungan jagat raya yang tanpa batas, yang pada ujungnya kita akan berada pada sebuah kekosongan. Tubuh pun serasa lebur dan sirna, tetapi kesadaran kita tetap ada. Inilah yang disebut Suwung. Kita menjadi tiada, lebur dengan Sang Suwung yang merupakan sumber dari seluruh keberadaan ini.

Nyepi adalah upaya untuk jumbuh (menyatu, bersenyawa) dengan Sang Suwung yang merupakan sumber dari segala keberadaan di dunia ini. Oleh karena itu juga dapat diartikan jumbuh dengan segala bentuk kehidupan dari yang rendah hingga yang tertinggi. Dengan begitu kita pun menyadari bahwa kita dengan segala bentuk kehidupan adalah satu, kita dengan makhluk hidup lainnya adalah satu, bersaudara – Vasudheva Kutumbakan.

 

Satriya Jawa – Pasundan-Parahyangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...