Oleh: Aguswi
Manava Dharma Sastra I.5 juga
menjelaskan: “asid idam tamobhutam aprajnatam alaksanam, apratarkyam
avijneyam prasuptamiva sarvatah”, artinya “ketahuilah bahwa asal mulanya
alam semesta ini terselimuti kegelapan, tak terlihat, tanpa sifat, melampaui
daya penalaran atau akal, seakan-akan terselimuti dalam tidur lelap universal”.
Jika memang alam ini berawal dari Suwung
(kekosongan), lalu benarkah Tuhan itu ada? Secara logika, kekosongan adalah
tanpa ada apapun juga, tiada obyek apapun yang dapat ditemukan. Jawaban atas
pertanyaan apakah Tuhan itu ada maka tergantung pada kesadaran kita mengenai definisi
“ada”. Jika kita mendefinisikan kata “ada” sebagai sebuah
kenyataan yang harus memiliki bentuk atau ciri-ciri fisik, maka sudah jelas
Tuhan itu tidak ada. Instrumen apapun yang digunakan akan gagal untuk membuktikan
bahwa Tuhan itu terlihat atau sosok-Nya yang sejati dapat disaksikan.
Dengan memperluas definisi “ada”
hingga pada tingkat kasunyatan metafisik, pernyataan Tuhan itu “ada”
atau “tidak” tergantung pada kesadaran pengertian mengenai Tuhan itu
sendiri. Mereka yang berkesadaran bahwa Tuhan adalah Pribadi dengan keberadaan
metafisik (mereka yang dikategorikan sebagai para penganut kepercayaan Tuhan
Personal), maka ada teks-teks kuno yang menyatakan bahwa Tuhan itu “ada”.
Seperti yang tertulis dalam Bhagavad-Gita adhyaya 11 yang menyatakan bahwa
Arjuna menyaksikan Sri Krishna dalam wujud Mahavisvarupa-Nya yang sesungguhnya
adalah wujudNya sebagai Saguna Brahman (Tuhan Berkepribadian, Yang
Terpikirkan).
Begitu juga dengan Manava Dharma Sastra
adhyaya 1 yang menjelaskan alam semesta secara runtut dari keadaan Suwung
(kosong) hingga kemudian meng “ada” dengan sendirinya dengan kekuatan-Nya
yang Maha Ada.
Terkait pernyataan bahwa Tuhan itu ada,
para saintis atau siapa pun juga yang berpegang pada pembuktian empiris tentu
saja bisa menyangkal pernyataan itu. Seperti pernyataan Stephen Hawking dan
para atheis lainnya yang menyatakan bahwa tidak ada sosok Tuhan yang terlibat
dalam pembentukan alam semesta. Namun, menyangkal sebuah realitas metafisik (niskala)
dengan pendekatan empiris yang melibatkan perangkat indriawi manusia adalah
kebodohan belaka. Meski dibantu dengan perangkat paling canggih sekalipun,
tidak akan pernah bisa mengungkapkan keberadaan-Nya secara utuh. Wilayah non-materi
dari alam semesta ini hanya akan bisa ditangkap dengan perangkat non-indriawi
pada diri manusia.
Suwung merupakan realitas
kekosongan yang menjadi inti sekaligus meliputi segala yang ada. Tuhan,
sejatinya bukanlah sosok atau pribadi, melainkan kekosongan yang meliputi
seluruh jagad raya. Tuhan dalam keadaan esensialnya adalah kekosongan yang
tanpa batas. Segala sosok agung apapun juga yang digambarkan oleh berbagai
sastra suci, atau pun sebagaimana yang disaksikan oleh beberapa Sang Waskita
(pelaku spiritual), sejatinya tak lebih dari manifestasi atau pengejawantahan
Tuhan, Sang Suwung. Sang Suwung mengejawantah menjadi Wisnu, atau Brahma
atau Mahadewa adalah tergantung kepada tujuan-Nya dalam pengejawantahan-Nya
tersebut. Atau pun mengejawantah dalam Realitas Cahaya Tertinggi yang meliputi
segalanya. Sang Suwung mengejawantah (memanifestasi) dalam wujud
keberadaan Yang Berpribadi tiada lain hanyalah cara Sang Suwung untuk
membuat manusia lebih mudah mengenal keberadaan-Nya sebagai realitas Yang Maha
Agung.
Leluhur Nusantara yang menjelaskan
keberadaan Tuhan sebagai Kang Akarya Jagad, Kang Murbeng Dumadi; tidak
sedang menyebut sosok Tuhan. Tetapi yang sedang diungkap adalah keberadaan Sang
Suwung yang mengejawantah menjadi jagad raya beserta segala isinya. Hal ini
senada dengan petikan dari Chandogya Upanisad 3.14.1 “sarvam khalvidam
brahma” yang artinya “segalanya adalah pengejawantahan dari Hyang Kuasa”. Tuhan
sebagai Sang Suwung adalah bagian tak terpisahkan dari alam semesta, dan
Sang Suwung adalah akar dari keberadaan alam semesta.
Di dalam segala yang ada, di sana ada
Tuhan, Sang Suwung. Sang Suwung adalah Kesadaran yang bekerja menjadikan
(meng ”ada” kan), memelihara, dan meluruhkan segala keberadaan
melalui serangkaian hukum yang kita sebut hukum alam (rta).
Berarti manusia juga merupakan
pengejawantahan dari Sang Suwung, maka manusia disebut mikrokosmos, jagad
alit. Sebagaimana Sang Suwung dan jagad raya tiada pernah terpisah,
demikian pula Sang Suwung dengan manusia adalah kesatuan juga. Sebuah kesatuan
antara Sang Suwung dengan Sang Diri inilah dalam filosofi Jawa disebut Manunggaling
Kawula Lan Gusti. Bahwa sudah sejak pada awalnya antara Sang Suwung
dengan Sang Diri ini merupakan sebuah kesatuan yang tidak pernah maupun
tidak akan terpisahkan. Sang Suwung adalah Kekosongan yang menjadi
esensi sekaligus memenuhi dan meliputi diri manusia. Sang Suwung yang
mengejawantah menjadi Pribadi Agung atau Personal maka terkesan terpisah dengan
manusia.
Setiap manusia (sebagai pengejawantahan
dari Sang Suwung) memiliki kebebasan penuh untuk memilih tindakan sesuai
yang diinginkan. Yang menjadi batasannya adalah kapasitas dirinya sendiri dan
hukum-hukum semesta. Manusia memiliki murba atau kuasa sejauh
kapasitasnya, dan memiliki wasesa atau wewenang memilih tindakan dimana
setiap pilihannya mendatangkan resiko tertentu yang dalam susastra Jawa disebut
wohing pakarti – buah perbuatan. Manusia bisa melakukan sesuatu oleh
karena ada daya atau kuasa yang diberikan oleh Sang Suwung, namun setiap
apa yang dilakukan akan selalu terikat dengan hukum-hukum semesta yang sama
sekali tidak bisa dihindari. Tindakan destruktif manusia akan dipatulkan oleh
hukum-hukum semesta sebagai wohing pakarti yang juga merugikan dan
membawa dukacita. Tanpa upaya untuk menata, memperbaruhi hidup, harmonis dengan
alam semesta sebagai pengejawantahan dari Sang Suwung, maka dukacita
pasti akan dialami. Dalam hal ini harus kita sadari bahwa sejatinya tidak ada
dosa yang berakar pada ketidaksenangan dan kemarahan Hyang Kuasa terhadap
tindakan manusia. Apapun yang diperbuat oleh manusia, Sang Suwung
tetaplah Suwung; tiada marah dan benci, pun juga tiada senang dan duka. Tetapi
manusia sudah pasti ngunduh wohing pakarti (mendapatkan segala akibat
perbuatan yang dilakukannya).
Nyepi....dalam pemahaman
umat Hindu etnis Jawa sesungguhnya adalah sebuah laku dalam rangka Nyuwung
(mengosongkan diri). Apa yang dikosongkan? Sebagaimana yang dijelaskan dalam
upanisad-upanisad bahwa dunia ini pada awalnya hanyalah kekosongan saja tiada
materi, tiada rupa, tiada obyek apapun juga dan yang ada hanya dengungan suara
AUM; maka seperti itu pula bahwa Nyepi adalah laku mengosongkan
hasrat-hasrat duniawi semata melalui pengendalian indriya-indriya dalam diri
terutama rajendriya (rajanya indriya yaitu pikiran), dan hanya
merenungkan esensi-esensi Ketuhanan. Jiwa manusia juga berasal dari-Nya, Sang
Suwung yang mengejawantah; oleh karena itu Nyepi juga sebagai laku untuk
suatu tujuan tertinggi perjalanan jiwa manusia, yaitu menuju sangkan
paraning dumadining manungsa (asal dan tujuan manusia itu diciptakan). Nyuwung
juga merupakan upaya bagi Sang Jiwa untuk kembali murni. Menjadi Diri Sejati
atau Realitas Cahaya yang paling murni. Inilah yang disebut kamoksan sejati
atau Moksa. Sang Diri Sejati akan menuntun untuk mencapai tataran Suwung.
Inilah keadaan yang disebut sampurnaning hurip. Menjadi murni dan
kembali kepada Suwung membuat manusia tiada tapi ada, dan ada tapi
tiada. Kosong tapi isi, isi tapi kosong. Catur Brata yang selama ini
kita kenal sebagai bagian dari sadhana atau laku di hari raya Nyepi
adalah cara-cara brata untuk melatih Sang Diri ini dalam nyuwungke
(mengosongkan) diri ini dari berbagai hasrat duniawi dengan cara (1)
mengosongkan kerja (amati karya), (2) mengosongkan ego maupun
ahangkara (amati geni), (3) mengosongkan kesenangan (amati lelanguan),
dan (4) mengosongkan berbagai keinginan duniawi yang membuat pikiran menjadi
mengembara kemana-mana (amati lelungan).
Saat sang Jiwa meneruskan perjalanan
dengan menyelami realitas Sang Diri, maka pada puncaknya akan melampaui
kerikatan dengan bumi dan serasa berada di angkasa raya. Kita akan secara nyata
merasakan keagungan jagat raya yang tanpa batas, yang pada ujungnya kita akan
berada pada sebuah kekosongan. Tubuh pun serasa lebur dan sirna, tetapi
kesadaran kita tetap ada. Inilah yang disebut Suwung. Kita menjadi
tiada, lebur dengan Sang Suwung yang merupakan sumber dari
seluruh keberadaan ini.
Nyepi adalah upaya untuk jumbuh
(menyatu, bersenyawa) dengan Sang Suwung yang merupakan sumber dari
segala keberadaan di dunia ini. Oleh karena itu juga dapat diartikan jumbuh
dengan segala bentuk kehidupan dari yang rendah hingga yang tertinggi. Dengan
begitu kita pun menyadari bahwa kita dengan segala bentuk kehidupan adalah
satu, kita dengan makhluk hidup lainnya adalah satu, bersaudara – Vasudheva
Kutumbakan.
Satriya Jawa – Pasundan-Parahyangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar