Beranda

Rabu, 11 Januari 2023

KUNINGAN - Sebuah Kematangan Diri

Lihatlah hamparan sawah yang penuh dengan tanaman padi, mula-mula berupa bibit yang kehijauan kemudian semakin tumbuh lalu muncul bulir-bulir (bakalan) padi yang kehijauan dan masih kosong tanpa isi. Kemudian Sang Petani melakukan perlakuan tertentu misal menyemprotnya dengan obat jika ada hama pada tanaman, juga melakukan pemupukan jika ternyata tanaman padi kurang subur. Sehingga dari perlakuan itu tanaman padi menjadi tumbuh sehat dan subur, dan bulir-bulir padi akan semakin terisi dan semakin matang seiring berjalannya waktu hingga padi menjadi menguning padat berisi dan siap dipanen, untuk kemudian dikonsumsi masyarakat sehingga bisa memuaskan rasa lapar setiap orang, bisa memberikan asupan-asupan yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam mendukung aktivitasnya sehari-hari.

Begitulah kita hendaknya, saat kita baru dilahirkan kita adalah bibit yang akan terus tumbuh. Mula-mula kita kekanak-kanakan dimana semua serba tergantung dari orang tua maupun orang lain, orang tua kita ibarat sang petani terus memupuk ataupun mengairi kekanak-kanakan atau keremajaan kita dengan kebutuhan jasmani dan pendidikan yang sebaik mungkin; memberikan asupan-asupan yang bergizi berharap agar putra mereka tumbuh sehat dan kuat, memberikan pendidikan yang terbaik berharap agar sang putra menjadi cerdas dan nantinya berguna bagi bangsa dan negara juga mengharumkan nama keluarga, memberikan obat berupa petuah-petuah bijak atau nasihat agar sang putra mampu menghadapi berbagai tantangan maupun halangan rintangan dalam hidupnya sehingga bisa terus tumbuh dari bulir-bulir keremajaannya menuju pribadi yang dewasa, yang sudah terisi dengan berbagai pengetahuan dan sudah matang untuk mandiri tidak tergantung lagi kepada orang lain, bahkan dengan pengetahuannya dia akan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat, dengan pengetahuannya dia bisa memberikan makanan dan air bagi masyarakat yang lapar dan haus akan pengetahuan, dia bisa memberikan asupan-asupan pengetahuan yang bergizi kepada masyarakat, dan pada akhirnya masyarakat menjadi terpuaskan dengan keberadaannya.

Sebagai pribadi yang sudah matang dan berpengetahuan ibarat padi yang sudah menguning padat berisi lalu merunduk, seperti itulah pribadi yang matang dia akan terus rendah hati, tidak akan mencerminkan diri yang sombong, congkah dan angkuh; karena dia menyadari bahwa kematangannya dalam hal pengetahuan bukan untuk disombongkan akan tetapi untuk kebermanfaatan bagi masyarakat.

Kematangannya dalam pengetahuan menjadikan dirinya menjadi memahami hakekat hidup ini, bagaimana harus bersikap dan berperilaku yang pantas di dalam masyarakat. Dia memiliki ketajaman dalam merasa, dalam istilah Jawa “ngrumangsani”, merasa bahwa sesuatu itu pantas atau tidak untuk dipikirkan dikatakan atau bahkan dilakukan. Merasakan bahwa dirinya bermanfaat atau justru menimbulkan masalah oleh karena sikap dan perilakunya. Merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, merasakan bahwa dirinya adalah satu dengan semua orang dalam kemanusiaan, itu “tat tvam asi”.

Dan sebagai puncaknya adalah dia matang dalam kerohanian, dalam hubungannya dengan Sang Maha Tinggi.

Sudahkah kita menjadi pribadi yang matang? Jadilah diri yang “ngrumangsani” alias merasa apakah sudah matang atau belum.

Rahayu Sagung Dumadi

AGUSWI          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...