Lihatlah hamparan sawah yang penuh dengan tanaman padi, mula-mula berupa bibit yang kehijauan kemudian semakin tumbuh lalu muncul bulir-bulir (bakalan) padi yang kehijauan dan masih kosong tanpa isi. Kemudian Sang Petani melakukan perlakuan tertentu misal menyemprotnya dengan obat jika ada hama pada tanaman, juga melakukan pemupukan jika ternyata tanaman padi kurang subur. Sehingga dari perlakuan itu tanaman padi menjadi tumbuh sehat dan subur, dan bulir-bulir padi akan semakin terisi dan semakin matang seiring berjalannya waktu hingga padi menjadi menguning padat berisi dan siap dipanen, untuk kemudian dikonsumsi masyarakat sehingga bisa memuaskan rasa lapar setiap orang, bisa memberikan asupan-asupan yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam mendukung aktivitasnya sehari-hari.
Begitulah
kita hendaknya, saat kita baru dilahirkan kita adalah bibit yang akan terus
tumbuh. Mula-mula kita kekanak-kanakan dimana semua serba tergantung dari orang
tua maupun orang lain, orang tua kita ibarat sang petani terus memupuk ataupun
mengairi kekanak-kanakan atau keremajaan kita dengan kebutuhan jasmani dan
pendidikan yang sebaik mungkin; memberikan asupan-asupan yang bergizi berharap
agar putra mereka tumbuh sehat dan kuat, memberikan pendidikan yang terbaik
berharap agar sang putra menjadi cerdas dan nantinya berguna bagi bangsa dan
negara juga mengharumkan nama keluarga, memberikan obat berupa petuah-petuah
bijak atau nasihat agar sang putra mampu menghadapi berbagai tantangan maupun halangan
rintangan dalam hidupnya sehingga bisa terus tumbuh dari bulir-bulir
keremajaannya menuju pribadi yang dewasa, yang sudah terisi dengan berbagai
pengetahuan dan sudah matang untuk mandiri tidak tergantung lagi kepada orang
lain, bahkan dengan pengetahuannya dia akan mampu memberikan manfaat kepada
masyarakat, dengan pengetahuannya dia bisa memberikan makanan dan air bagi
masyarakat yang lapar dan haus akan pengetahuan, dia bisa memberikan
asupan-asupan pengetahuan yang bergizi kepada masyarakat, dan pada akhirnya
masyarakat menjadi terpuaskan dengan keberadaannya.
Sebagai
pribadi yang sudah matang dan berpengetahuan ibarat padi yang sudah menguning
padat berisi lalu merunduk, seperti itulah pribadi yang matang dia akan terus
rendah hati, tidak akan mencerminkan diri yang sombong, congkah dan angkuh;
karena dia menyadari bahwa kematangannya dalam hal pengetahuan bukan untuk
disombongkan akan tetapi untuk kebermanfaatan bagi masyarakat.
Kematangannya
dalam pengetahuan menjadikan dirinya menjadi memahami hakekat hidup ini,
bagaimana harus bersikap dan berperilaku yang pantas di dalam masyarakat. Dia
memiliki ketajaman dalam merasa, dalam istilah Jawa “ngrumangsani”, merasa bahwa sesuatu itu pantas atau tidak untuk
dipikirkan dikatakan atau bahkan dilakukan. Merasakan bahwa dirinya bermanfaat
atau justru menimbulkan masalah oleh karena sikap dan perilakunya. Merasakan
apa yang dirasakan oleh orang lain, merasakan bahwa dirinya adalah satu dengan
semua orang dalam kemanusiaan, itu “tat tvam asi”.
Dan
sebagai puncaknya adalah dia matang dalam kerohanian, dalam hubungannya dengan
Sang Maha Tinggi.
Sudahkah
kita menjadi pribadi yang matang? Jadilah diri yang “ngrumangsani” alias merasa
apakah sudah matang atau belum.
Rahayu Sagung Dumadi
AGUSWI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar