Oleh:
Aguswi
vratena dīkṣāmāpnoti dīkṣayāpnoti
dakṣiṇām,
dakṣiṇā śraddhāmāpnoti
śraddhayā satyamāpyate
Terjemahan:
Dengan melakukan pantangan (vratena) maka akan
mendapatkan penyucian (Diksa), dengan penyucian akan mendapatkan kehormatan
(Daksina),
dengan kehormatan akan mendapatkan keyakinan (Sraddha), dan dengan
keyakinan akan mendapatkan kebenaran (satya)
yang sejati.
Kata vratena berasal dari kata vrata yang artinya pengekangan, ketaatan. Berarti pula vrata sama artinya dengan brata.
Jadi kemanakah arah dari pelaksanaan Catur Brata Penyepian? Tidak lain adalah satyamāpyate (untuk mengetahui kebenaran yang sejati).
Melasti:
“irikang triodasi ikang kresnapaksa, lastiana ikang, pratima yogamsa Sang Hyang
Tiga Wisesa, luirnya Desa, Puseh, Dalem sarengakena sarwa
area, pratima, Dewa Parhyangan padang ke kabeh, kengakena maring sagara, iniring dening wang, saha widhi widana, hidangkan larapan ring
Sang Hyang Baruna, malaku anganyut laraningjagat, sasapa klesa letu-hing
bhuwana telas kalebur ring sagara. Telas tiningkah saparikrama, mantukakna punang pratima
miwah jajaraken munggwing bale panjang aturin datengan, kayeng pralagi. Ri sampun puput
sapula-pali, mantu-kakna maring sthananira soang-soang”
Pada hari trio dasi krsna paksa, yakni dua hari
sebelum hari tilem sasih kasanga atau pada hari ketiga belas sesudah bulan
purnama sasih kasanga semua pratima atau pralingga sebagai simbol (niasa)
perwujudan Tuhan Yang Maha Esa (Ida Hyang Widhi Wasa) diusung ke laut atau ke
sumber mata air terdekat dengan seperangkat upakara dengan tujuan untuk
disucikan. Makna dari persembahan upakara tersebut adalah menghanyutkan semua
kekotoran dunia.
Lontar Sundarigama (petikan) juga menambahkan tujuan Melasti yaitu “….amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara….’ yang artinya “…mengambil sari-sari air kehidupan ditengah samudera…”
Jadi tujuan Melasti menurut Lontar Sundarigama adalah untuk menghilangkan segala kekotoran dalam diri dan alam sehingga bisa mendapatkan pengetahuan yang sejati (sarining amertha kamandalu) ditengah-tengah lautan kehidupan (telenging sagara) ini yang penuh dengan suka duka.
Dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan Melasti yang tersurat dalam lontar Sundarigama sejalan dengan sebuah mantra yang tersurat dalam Yajurveda XIX.30, bahwa untuk mendapatkan penyucian maka kekotoran-kekotoran dalam diri harus dibersihkan terlebih dahulu. Ketika kekotoran dalam diri sudah lenyap maka alam pun bisa dibersihkan pula dari kekotorannya. Dan secara ritual, Sundarigama telah memberikan sebuah metode yaitu melalui Melasti. Dan tentu Sundarigama memberikan metode lanjutan yang berbunyi (petikan):
“…enjangnya nyepi amati geni, tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirnya, ageni-geni saparanya tan wenang, kalinganya wenang sang wruh ring tattwa gelarakena semadi tama yoga ametitis kasunyatan.”
“…besoknya, Nyepi, tidak menyalakan Api, semua
orang tidak boleh melakukan pekerjaan, berapi-api dan sejenisnya juga tidak
boleh, karenanya orang yang tahu hakikat kebenaran melaksanakan samadhi tapa
yoga menuju kebenaran sejati”.
Dari pantangan yang disebutkan yaitu amati geni dan anyambut karya inilah kemudian dikembangkan menjadi empat (ditambah amati lelungan dan amati lelanguan) yang disebut Catur Brata Penyepian. Namun pada dasarnya dari amati geni dan anyambut karya yang diarahkan kepada pelaksanaan semadi, sudah tentu tidak akan ada lelungan (bepergian) dan lelanguan (kesenangan). Namun dua brata tambahan ini menjadi sebuah penegasan yang mendukung dua brata yang sebelumnya.
Pada prinsipnya, saat Nyepi semua indria kita redakan, kita kendalikan sehingga seluruh indria kita menemukan ketenangannya. Memang tidak mudah, akan tetapi juga tidak sulit bagi yang tekun berusaha. Untuk melaksanakan Nyepi yang benar-benar spiritual maka Catur Brata Penyepian harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dengan disertai upawasa (berpantang makan dan minum), mona (berpantang terhadap berkata-kata), dan dhyana (pemusatan pikiran kepada obyek Ketuhanan).
Sudah jelas lontar Sundarigama menyebut amati geni, berarti pula kegiatan memasak tidak dibolehkan karena setiap memasak sudah pasti menggunakan api sehingga kita pun diarahkan untuk berpantang terhadap makanan (upawasa). Ketika semadi (dhyana) dijalankan maka akan ada pemusatan pikiran disana sehingga secara otomatis kita pun diarahkan kepada mona.
Catur Brata Penyepian sesungguhnya sebuah metode pengendalian diri bagaimana agar kita menjadi The Master (pengendali) dari diri kita sendiri sehingga kita pun bisa menjadi Master Mind (pencipta) dari jalan kehidupan kita sendiri. Logikanya adalah bagaimana mungkin kita mampu mengendalikan bagian diri kita yang halus (misal indria) bila mengendalikan yang sifatnya fisik saja misal mengendalikan makan dan minum saja tidak mampu?
Pikiran kita setiap hari terisi dengan berbagai pemikiran yang berproses di dalamnya. Bila berbagai pemikiran itu tidak kita kendalikan maka bisa terjadi eror dalam sistemnya yang berwujud stress, depresi, galauw, emosi, marah, sedih, bingung dan sejenisnya; dan ini membahayakan diri kita sendiri karena pikiran tidak lagi diposisi sebagai teman tetapi sebagai beban atau bahkan bisa sebagai musuh kita sendiri karena sifatnya yang berubah. Seperti halnya sebuah kolam dengan air yang jernih namun bila banyak gelombang yang terjadi maka kejernihannya tidak akan tampak dan dasar kolam pun juga tidak tampak. Namun ketika gelombang-gelombang air kolam itu reda maka kolam mendapatkan ketenangannya dan kejernihannya pun tampak begitu juga dengan dasarnya. Begitu pula dengan pikiran yang setiap hari berproses dengan berbagai pemikiran, dan ketika berbagai pemikiran semakin banyak maka pikiran semakin kehilangan ketenangannya, pikiran akan menjadi semakin kacau dan ruwet. Namun bila berbagai pemikiran tadi bisa dikendalikan maka secara perlahan pikiran akan mendapatkan ketenangannya kembali, sehingga kita pun akan merasakan sesuatu yang damai saat berbagai gelombang pemikiran tadi dapat dikendalikan. Semakin terkendali maka semakin pikiran mendapatkan kemurniannya atau kesejatiannya (Lontar Sundarigama = ametitis kasunyatan yaitu mendapatkan pengetahuan yang sejati).
Dan Lontar Sundarigama memberikan metode untuk mengendalikan berbagai pemikiran itu yang puncaknya adalah dengan gelarakena semadi tama yoga yaitu melakukan pemusatan pikiran yang dalam Astangga Yoga disebut dhyana (termasuk rangkaian yang sebelumnya seperti misalnya pranayama). Dalam Yoga Sutra Patanjali, I.2: Yogas Citta Vrtti Nirodah yang artinya Yoga adalah untuk mengendalikan gelombang-gelombang pikiran. Jadi memang ini sejalan dengan tujuan dari konsep Catur Brata Penyepian yaitu metode sadhana untuk pengendalian diri.
Saat Nyepi….upawasa (puasa) yang dilakukan dengan semangat dan niat yang tulus maka tidak akan merasakan lapar dan haus. Jadi amatilah diri sendiri saat puasa “Apakah aku merasakan lapar dan haus?”. Saat dalam mona atau melakukan dhyana juga amati diri sendiri “Apakah aku bisa merasakan ketenangan?”. Dan secara keseluruhan amati juga “Apakah aku dalam keadaan terkendali?”. Jawablah dalam diri sendiri dengan penuh kesadaran.
Jadi rangkaian Hari Raya Nyepi adalah metoda bagi diri ini untuk bertransformasi kepada tingkat kesadaran yang lebih tinggi yaitu kasunyatan (kebenaran yang sejati).
AGUSWI
Pasundan-Parahyangan-Nuswantara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar