Beranda

Minggu, 22 Oktober 2023

Warna Hitam Dalam Tradisi (Baju) Jawa dan Sunda

Dalam keilmuan Jawa, warna hitam pada baju tradisi Jawa adalah lambang kesempurnaan. Kesempurnaan seperti apa yang dimaksud?

Dalam kesusastraan Veda dijelaskan bahwa dunia ini pada awalnya tidak ada apapun, kosong dan hanya ada gema suara AUM. Dapat diasumsikan bahwa kondisinya adalah Maha Kegelapan. Kata “kegelapan” disini tidak mengacu kepada hal-hal yang negatif melainkan untuk mendeskripsikan sesuatu kekosongan dari apapun yang tidak dapat dipikirkan. Inilah yang disebut alam Sunya (baca: sunia) yang dalam kesusastraan Jawa disebut Suwung. Karena itulah masyarakat Jawa familiar menyebut Sang Pencipta jagad raya ini sebagai Sang Hyang Suwung. Maka warna yang identik dengan gelap adalah warna Hitam.

Warna hitam pada baju tradisi yang dipakai masyarakat Jawa dan Sunda memberi pesan bahwa dalam menghubungkan diri pribadi dengan Diri Agung (Sang Pencipta atau Sang Hyang Suwung) maka kita harus men-Sunia-kan atau menyuwungkan atau mengosongkan diri dari segala bentuk gejolak indriawi atau gejolak rasa lainnya sehingga pada saat diri kita mencapai kondisi Sunya atau Suwung maka akan menyerap berbagai pengetahuan dari Sang Hyang Suwung itu sendiri. Tanpa bisa men-Sunia-kan diri maka aliran deras pengetahuan dari alam semesta tidak akan bisa membanjiri diri ini.

Mari kita jelaskan secara logika. Misalnya sebuah botol kaca dihampakan dengan sebuah alat sehingga menjadi hampa udara lalu ditutup. Coba tutup botol kaca itu dilepas maka dengan cepat udara yang diluar botol akan terserap ke dalam botol dan botol menjadi terisi dengan udara bebas. Peristiwa ini membuktikan bahwa kehampaan botol memiliki energi serap yang besar sekali dengan dengan secepatnya botol terisi udara. Nah, ketika kita mampu menghampakan atau men-Sunia-kan diri maka kita akan memiliki daya serap yang sangat tinggi terhadap pengetahuan di alam semesta ini. Kondisi Sunia atau Suwung inilah dalam Yoga Sutra disebut kondisi Samadhi. Dan inilah yang dilakukan dan dicapai oleh para waskita atau para kaum bijaksana jaman dahulu sehingga mereka semua mampu menuliskan pengetahuan-pengetahuan yang berharga yang kita warisi hingga saat ini.

Itulah makna warna Hitam dalam tradisi (baju) Jawa dan Sunda.

 

Rahayu Sagung Dumadi

Aguswi            

SESAJI (BANTEN) SEDERHANA, "RAME TIRAKATE"

 Sebuah upacara besar dengan banyak sesaji bukanlah menjadi penentu bahwa itu akan menjadi upacara yang Sattwika, upacara yang sudah pasti berhasil mencapai tujuannya. Begitu juga sebaliknya, upacara yang sederhana tidak bisa dikategorikan sebagai upacara yang Tamasika yaitu upacara yang penuh dengan kekurangan. Jika ada yang berpikir bahwa upacara yang besar dengan sesaji yang “wahhhh” sekali adalah upacara yang sudah pasti sukses mencapai tujuannya maka itu pikiran “ngawur, bener karepe dewe”.

Para Mpu pembuat keris jaman dahulu saat memulai membuat keris entah dengan cara dipijat-pijat atau ditempa logamnya selalu dibarengi dengan laku spiritual tertentu hingga keris pusaka itu jadi. Dan setelah keris itu jadi tidak ada upacara khusus seperti misalnya proses “energized” (pengisian energi), karena energi itu mengisi keris saat keris itu mulai dibuat hingga selesai dibuat yang diperkuat dengan laku spiritual Sang Mpu. Tidak seperti sekarang, barang apapun termasuk sesaji dijadikan dulu baru diproses “urip” dengan ritual; tidak ada yang salah namun hasilnya akan sangat berbeda.

Dulu leluhur kami misal nenek dan orang tua kami bahwa jika kita memiliki tujuan yang ingin dicapai tidak boleh lupa sebelumnya sebaiknya puasa, nenek bilang “poso lhee ben kabul kajate” (puasa nak, biar tercapai yang diinginkan). Tidak seperti sekarang berdoa di sana sini sono ke berbagai tempat suci dan doanya agar apa yang dicita-citakan tercapai. Proses “inside” (dalam diri) sangat kurang, dan hanya ramai proses “outside” (luar diri). Jadi dalam hal ini pemakaian sesaji lebih banyak namun “tirakate” (brata nya) sangat kurang. Kualitas batiniah yang terbentuk sudah pasti akan sangat berbeda. Para leluhur di Jawa mengajarkan agar kita sering “tirakat” (puasa) dengan harapan diri kita menjadi bersih, jauh dari kesialan, jauh dari ketidakberuntungan. Sehingga saat diri kita sudah bersih maka untuk mencapai tujuan diharapkan tidak ada hambatan dan rintangan yang berarti. Artinya diri kita dari dalam dipersiapkan terlebih dahulu dengan baik agar pantas menjadi wadah sesuatu yang akan dicapai. Yang disebut tirakat (puasa) itu tidak hanya membatasi makan dan minum, akan tetapi juga menjaga pembicaraan, menjaga pemikiran kita, menjaga perilaku kita; agar jangan sampai ada pembicaraan, pemikiran dan perilaku yang tidak pantas. Itulah konsep berpikir leluhur Jawa yang sungguh hebat. Karena itulah dahulu tahun 90-an penulis sebelum mendaftar ke sekolah yang diimpikan puasa terlebih dahulu selama beberapa hari. Dan astungkarah tercapailah yang diinginkan. Saat itu sama sekali tidak seperti sekarang yang ngaturang pioning sana sini sono bahkan ada yang melaksanakan upacara khusus untuk itu. Tidak ada yang salah namun kondisi batin maupun psikologis yang terbentuk akan sangat berbeda sekali.

Begitu juga dengan upacara apapun di pura dahulu, para sesepuh dan lainnya banyak yang puasa pada saat hari pelaksanaan upacara. Kami pernah melaksanakan upacara “Entas-Entas” yaitu upacara Dewa Pitra Pratistha untuk para leluhur kami yang dipuput oleh seorang Romo Resi. Setelah dijemput di bandara lalu sesampainya di rumah tujuan kami menyajikan makanan lalu Beliau bilang “aku isih poso yo mas nganti telung dino sak wise rampung upacara, aku mung ngombe banyu putih wae” (saya masih puasa ya mas sampai tiga hari sesudah selesainya upacara, saya hanya minum air putih saja). Beliau lanjut mengatakan “aku wis mulai poso petang dino kepungkur” (saya sudah mulai puasa sejak empat hari lalu). Dan kita memakai sesaji yang cukup sederhana dan penulis sendiri dibantu seorang pinandhita yang membuatnya. Upacara-upacara yang sekelas dengan ini kita lihat diberbagai tempat banyak yang sesajinya “wahh” lumayan untuk memenuhi deretan-deretan tatanan meja yang berjajar. Upacara di setiap pura atau dimanapun haruslah dikemas dengan sangat bijaksana dengan berbagai pertimbangan atau perspektif. Tidak karena ada biaya banyak dan melimpah lalu upacara dibikin besar. Sisi pendidikan, pemberdayaan ekonomi, peningkatan sumber daya manusia, dan lain-lain harus juga menjadi pertimbangan. Namun adakalanya ternyata ada saja orang yang gila yang mengatakan “ini supaya bethara-betharinya turun semua maka harus dibikin besar”. Adalagi sebuah tempat yang umatnya hanya belasan KK, upacara yang dilaksanakan di sana disetting dan dibiayai dari luar oleh orang-orang yang punya kekuatan finansial dan karena setahun dua kali maka cukup menguras tenaga umat setempat yang kenyataannya hidupnya sebagai “wong cilik” dan tidak berani bicara hanya “iya iya saja” meski dalam hati berontak. Andai dana-dana yang ada itu sebagian dimanfaatkan untuk pemberdayaan ekonomi atau pendidikan masyarakat setempat bukankah itu lebih sangat bijaksana?

Sesaji itu posisinya sebagai sarana yang tidak mutlak harus ada semua dan berbagai tempat harus sama. Sama sekali tidak seperti itu. Coba lihat anak SD yang masih kelas awal bagaimana mereka berhitung? Ada yang menggunakan jarinya dan ada juga yang memakai bulatan-bulatan telur atau bola juga lainnya. Tanpa bantuan jari atau bulatan-bulatan itu mereka akan kesulitan untuk berhitung. Sehingga jari atau alat bantu lainnya berposisi sebagai sarana saja, bukan tujuan mereka berhitung. Ketika mereka sudah naik tingkat dikelas atas maka dalam berhitung mereka sudah tidak perlu lagi sarana jari-jari atau gambar bulatan-bulatan. Mengapa? Karena proses berhitung itu sudah berkembang dalam pikiran mereka. Begitu juga dengan sesaji atau banten baik yang sederhana atau banyak posisinya adalah sebagai sarana saja, bukan menjadi tujuan sebuah upacara. Jadi leluhur di Jawa yang mengajarkan agar kita sering “tirakat” (puasa) dengan maksud agar perkembangan rohani itu terjadi di dalam diri, karena memang rohani tidak bisa dikembangkan dengan lebih baik jika dilakukan dari luar diri.


Rahayu Sagung Dumadi
Aguswi

"Nongkrong" Di Pura Itu Menyehatkan, Apalagi Jika Melakukan Sadhana

Apa yang kita rasakan saat kita berada dekat perapian yang sedang menyala-nyala? Pasti kita akan merasakan hangat atau bahkan panas. Mengapa? Karena kita berada dalam jangkauan pancaran energi panas yang bersumber dari perapian tersebut. Kecuali saat dekat perapian itu kita memakai baju atau selimut yang tebal maka kita tidak akan merasakan hangatnya atau panasnya perapian itu karena energi panasnya terhalang oleh baju kita yang tebal sehingga energi panas tidak sampai menyentuh kulit.

Begitu juga saat kita “nongkrong” di tempat sakral misalnya pura, maka kita akan terpapar oleh energi yang terpancar dari tempat itu. Idealnya sebuah pura itu penuh dengan pancaran energi baik, kecuali ada sesuatu yang kurang tertata yang menyebabkan sistem energi yang kacau. Katakanlah sebuah pura itu energinya sangat baik, maka siapa pun yang ada di pura itu idealnya terpapar energi yang sangat baik tersebut. Energi itu akan bersenyawa dengan energi badan siapapun yang ada dalam radius paparan energi tersebut. Dan dampaknya terhadap badan (bukan hanya badan fisik) kita sangat bagus. Namun lain cerita jika diri kita berselimut tebal dengan sifat keangkuhan, keegoisan, kesombongan, ketamakan, kedengkian, dan lain-lain; maka paparan energi baik dari pura itu tidak akan bisa merasuk dalam lapisan-lapisan badan kita, apalagi bersenyawa dengan energi badan kita. Mengapa terjadi demikian? Karena semua sifat-sifat buruk dalam diri berposisi sebagai blokir dalam lapisan-lapisan badan kita terhadap paparan energi baik dari pura tersebut. Apalagi kalau tidak hanya “nongkrong” tetapi melakukan sadhana di tempat itu maka akan sangat menguntungkan diri kita. Energi baik yang terpancar dari tempat itu akan lebih sempurna bersenyawa dengan energi badan kita. Dan bila lapisan-lapisan badan kita berlimpah energi maka sistem dalam badan kita akan berfungsi dengan sempurna juga karena sistem dalam badan hanya akan berfungsi optimal jika kebutuhan energinya terpenuhi. Maka sehatlah diri kita baik fisik maupun mental. Bebaskan diri dari sifat-sifat buruk maka diri kita akan terbuka menganga terhadap alam semesta untuk mengalirkan energinya.

Pura sebagai sebuah sistem energi, dan sebagian orang melebih-lebihkan sebagai “rumah bethara” itu soal keyakinan pribadi dan sah-sah saja. Dari awal hingga akhir pembangunannya melalui berbagai tahapan yang sebenarnya dalam rangkai membangun sebuah sistem energi. Karena itulah ada ruang-ruang atau tempat-tempat khusus untuk kegiatan yang khusus juga. Misal kegiatan yang sifatnya sosial maka hanya boleh dilakukan di ruang yang khusus sesuai peruntukkannya, tidak akan mungkin boleh dilakukan di tempat atau ruang dimana khusus untuk melakukan pemujaan. Dalam suatu ruang yang  didesain secara khusus untuk suatu sistem energi, maka itu akan memudahkan proses persenyawaan energi manusia yang saat di dalam ruang itu dalam melakukan proses hubungan dengan alam semesta (energi).

Padmasana….. dari sisi keyakinan memang diyakini sebagai hal tertentu dan berfungsi tertentu, dan setiap pribadi bisa saja berbeda dalam meyakininya. Namun dalam konsep Sains sebenarnya adalah antena pemancar sekaligus receiver (penerima) dari gelombang-gelombang energi yang terbentuk. Kita lihat dalam pembangunannya pasti yang ada di dasar padmasana itu adalah apa yang kita sebut “dhatu” yang dibuat atau ditata dari berbagai material tertentu misalnya logam, bebatuan, mineral, dll. Persenyawaan antar berbagai unsur logam, bebatuan, mineral, dan lainnya itu menghasilkan suatu pola atau sistem energi yang memperkuat sistem energi lainnya. Artinya “dhatu” yang ditanam di dasar padmasana berfungsi sebagai Booster dari fungsi Padmasana itu sendiri. Manusia yang melakukan pemujaan di sana memang dengan pikirannya sendiri memancarkan gelombang-gelombang energinya dari proses pemujaannya, namun kemampuan pikiran itu bisa saja sangat terbatas, ada orang yang kemampuan pikirannya kuat namun juga ada yang lemah. Dan dengan adanya Padmasana itu menjadi diuntungkan karena sistem energi dari Padmasana itu akan menangkap gelombang energi yang terpancar dari pikiran kita dan diperkuat lalu dipancarkan kembali oleh Padmasana ke alam semesta dengan lebih powerfull. Dan sebagai receiver maka Padmasana juga menangkap energi tertentu dari alam semesta lalu diperkuat dan dipancarkan ulang sehingga bisa ditangkap oleh sistem energi tubuh manusia. 

 

Rahayu Sagung Dumadi

Aguswi

Kamis, 12 Oktober 2023

LOGIKA CUNTAKA

Benarkah Kematian Orang Lain Menyebabkan Cuntaka Bagi Kerabat Untuk Beberapa Waktu Lamanya?

Untuk mengetahui jawabannya maka kita harus menguraikan berbagai lapisan badan manusia kita. Dan terkait lapisan-lapisan badan ini maka Panca Mayakosha adalah konsep yang paling detil tentang lapisan-lapisan badan.


Ana Mayakosha

Ini adalah lapisan badan yang kita kenal sebagai badan fisik. Ibarat sebuah komputer lapisan badan ini sebagai hardware dari lapisan badan lainnya. Lapisan badan ini terbentuk dari sari-sari makanan yang kita makan setiap hari. Seluruh bagian badan fisik dari kaki hingga kepala semuanya terbentuk dari sari-sari makanan yang masuk dan terserap ke dalam sistem tubuh kita. Lebih detil lapisan badan Ana Mayakosha ini terdiri dari 5 unsur yang kita kenal sebagai Panca Mahabhuta yaitu unsur padat (pertiwi), unsur cair (apah), unsur udara (bayu), unsur panas/cahaya (teja), dan unsur ruang (akasa). Bagian badan yang termasuk unsur padat misalnya: gigi, tulang, rambut, daging, otot, kuku, dll. Yang termasuk unsur cair misalnya: darah, lendir, enzim, air kencing, air liur, dll. Yang termasuk unsur udara misalnya: nafas, gas-gas dalam tubuh, bau badan, dll. Yang termasuk unsur panas/cahaya misalnya: suhu badan, warna kulit, dll. Yang termasuk unsur ruang misalnya: rongga mulut, rongga hidung, rongga perut, rongga tenggorokan, dll.

Apa yang bisa menyebabkan lapisan badan Ana Mayakosha ini kotor, atau terganggu sistemnya (kinerjanya)? Debu, virus atau bakteri penyebab penyakit, pola makan yang tidak sehat, pola hidup yang tidak sehat.  

 

Mano Mayakosha

    Kita mengenal juga lapisan badan ini sebagai badan mental. Juga ada yang menyebutnya sebagai pikiran, meski sebenarnya jika dibedah lebih dalam maka lapisan badan ini lebih dari yang dipahami sebagai pikiran oleh kebanyakan orang. Lapisan badan ini bertindak sebagai software dari lapisan badan Ana Mayakosha sebagai hardwarenya. Lapisan badan ini tersusun dari kombinasi antara memori dan kecerdasan/intelek. Memori yang dimaksud disini lebih dari sekedar memori dalam pikiran yang kebanyakan dipahami. Berbagai memori misalnya memori genetik, memori evolusi, memori atom, memori karma, memori pengetahuan, dll.

Analoginya pada sebuah komputer lapisan Mano Mayakosha ini adalah data-data yang ada dalam komputer itu yang bisa dipindahkan ke komputer lain jika komputer lama rusak atau sudah tidak upgrade lagi. Sangat mungkin sekali lapisan Mano Mayakosha yang isinya data-data atau memori kehidupan seseorang inilah yang dikatakan mengalami reinkarnasi kembali, juga sangat mungkin lapisan inilah yang sering dimaksudkan sebagai Jiwa. 

Apa yang bisa menyebabkan lapisan badan Mano Mayakosha ini terganggu sistemnya? Yang bisa menganggu sistemnya adalah data-data memori yang bermuatan kebencian, trauma, kemarahan, kesombongan, kesedihan, dan lain-lain yang sejenisnya. Data-data seperti itu akan bertindak layaknya virus atau malware dalam komputer yang bertindak menggangu atau merusak kinerja komputer. Begitu juga dengan pemikiran tentang kebencian, kesedihan, dan lain-lain akan bertindak menganggu kinerja dari pikiran sehingga pikiran tidak bisa bekerja secara optimal. Saat lapisan badan Mano Mayakosha ini terganggu sistemnya maka lapisan badan Ana Mayakosha pun juga bisa terganggu, lapisan Prana Mayakosha pun juga bisa terganggu.  

 

Prana Mayakosha

Prana artinya energi, dan prana dalam tubuh adalah energi yang sangat vital agar sistem dalam badan bisa bekerja. Jadi prana inilah energi yang membuat badan beserta sistemnya ini bisa beroperasi dan berfungsi. Analoginya sebuah laptop adalah harwarenya, windows beserta program-program lainnya (termasuk data-datanya) adalah sofwarenya, dan tenaga listrik yang digunakan agar laptop itu menyala dan bisa beroperasi adalah energinya. Begitu pula dengan lapisan badan Prana Mayakosha dia sebagai energi dari lapisan badan Ana Mayakosha dan Mano Mayakosha. Prana bisa didapat dari makanan, sadhana pranayama, atau sentuhan dari energi lainnya dari luar badan.

Apa yang bisa menyebabkan lapisan badan Prana Mayakosha ini bisa terganggu sistemnya? Maka hanya energi juga yang bisa mempengaruhi. Pemikiran bisa mempengaruhi namun secara tidak langsung, karena dari pemikiran akan terbentuk energi tertentu, dan energi itulah yang mempengaruhi.  

 

Vijnana Mayakosha

Ini adalah lapisan badan halus sebagai penghubung antara lapisan Ananda Mayakosha dengan lapisan badan lainnya yang bersifat fisik (Ana Mayakosha, Mano Mayakosha dan Prana Mayakosha). Ini adalah lapisan badan yang memungkinkan kita memiliki pengetahuan atau kecerdasan yang luar biasa. Meski begitu lapisan ini bukanlah data-data seperti lapisan Mano Mayakosha. Lapisan ini adalah perangkat atau sistem atau teknologi yang memungkinkan kita untuk bisa mengakses  kemampuan/kekuatan atau pengetahuan atau kecerdasan yang luar biasa dari alam semesta ini dari pada yang dapat diakses dengan indriya pada umumnya. Bila lapisan Vijnana Mayakosha seseorang tidak berkembang maka dia hanya seperti orang kebanyakan, namun ketika lapisan ini sangat berkembang maka dia akan menjadi orang yang kemampuannya atau pengetahuannya atau kecerdasannya jauh diatas orang kebanyakan. Vijnana Mayakosha akan sangat berkembang jika dilatih dengan sadhana spiritual sehingga lapisan badan Ana, Mano, dan Prana juga sangat berkembang sistemnya. Sesuai dengan tingkat berkembangnya lapisan Vijnana Mayakosha seseorang; maka dia memiliki kewaskitaan, sifat telepatik. Mengetahui suatu kejadian sebelum itu terjadi melalui mimpi, atau pemikiran, atau sebuah penglihatan ke masa depan. Dia juga bisa terlihat oleh banyak orang di banyak tempat yang berbeda dalam waktu yang sama. Dia memiliki kemampuan membaca pemikiran orang lain dan juga mengubahnya. Dia memiliki kemampuan yang menyembuhkan; kata-katanya, sentuhannya atau pandangannya dapat menyembuhkan penyakit yang mematikan. Pada tingkatan tertentu dari berkembangnya lapisan Vijnana Mayakosha ini bahkan dia sanggup masuk ke badan orang lain. Para orang suci yang sanggup merasakan getaran-getaran frekuensi alam, atau mendengarkan suara-suara alam lalu menuliskannya dalam bentuk kata-kata adalah contoh pribadi-pribadi yang lapisan Vijnana Mayakosha nya sangat berkembang. Para ilmuwan dengan penemuannya yang hebat-hebat seperti Einstein dan lainnya adalah juga contoh pribadi yang lapisan Vijnana Mayakosha nya sangat berkembang. Dia seorang Einstein yang jaman itu mampu menangkap frekuensi alam lalu menuliskannya dalam sebuah rumus yang orang lain tidak mampu memikirkannya. Juga seperti Maharesi Bharadvaja yang mampu menangkap frekuensi-frekuensi alam lalu menuliskannya dalam buku yang hingga saat ini kita warisi sebagai Vimana Shastra yaitu sebuah pengetahuan tentang wahana terbang antar tempat, antar planet, antar galaxi dan antar dimensi.

Pada orang yang meninggal lapisan Vijnana Mayakosha ini akan terurai begitu saja menyatu dengan alam semesta. Karena Vijnana Mayakosha ini hanya akan bisa berada di badan jika badan (Ana, Mano, dan Prana) masih bisa berfungsi sebagaimana mestinya untuk hidup, jika tidak bisa lagi berfungsi untuk hidup maka secara otomatis akan lepas begitu saja dan menyatu dengan alam bebas. Misalnya orang yang mengalami kecelakaan dan kepalanya hancur maka tidak mungkin lagi badan Ana Mayakosha bisa hidup tanpa kepala, dan saat itu juga Vijnana Mayakosha akan lepas begitu saja dan bersenyawa terurai kembali dengan alam.

 

Ananda Mayokosha

Dalam literatur Sanskerta kata “ananda" artinya kebahagiaan. Ini adalah lapisan yang sebenarnya bukan hanya halus, namun lebih dari itu yaitu tidak bisa dipikirkan apa itu, hanya bisa dikatakan sebagai lapisan yang murni, lapisan kebahagiaan. Mungkin inilah yang disebut badan kausal, atau mungkin pula inilah yang disebut Atma oleh beberapa sastra. Lapisan ini juga hanya akan bisa berada di badan jika lapisan Ana, Mano dan Prana berfungsi sebagaimana mestinya untuk hidup. Sama seperti Vijnana Mayakosha, lapisan Ananda Mayakosha ini juga hanya akan bisa berada di badan jika badan (Ana, Mano, dan Prana) masih bisa berfungsi sebagaimana mestinya untuk hidup, jika tidak bisa lagi berfungsi untuk hidup maka secara otomatis akan lepas begitu saja dan menyatu dengan alam semesta. Analoginya seperti balon udara yang meletus maka udara dalam balon akan otomatis menyatu begitu saja dengan udara bebas. Begitulah lapisan Vijnana Mayakosha dan Ananda Mayakosha pada orang yang meninggal maka akan menyatu begitu saja dengan alam bebas.

 

Pada perihal kematian orang lain maka yang paling terkait adalah kesedihan bagi handai taulan. Pemikiran kesedihan inilah yang bertindak menganggu proses pemikiran, juga menjadi penyebab terbentuknya energi dalam tubuh yang tidak harmoni. Handai taulan yang proses pemikirannya terganggu karena kesedihan maka energi tubuhnya juga terganggu sistemnya. Semakin larut dalam pemikiran kesedihan maka semakin terbentuk energi merugikan dalam badan. Dan akhirnya kondisi badan akan semakin kacau sistemnya. Dalam kondisi seperti itu maka pikiran akan sulit untuk difokuskan pada perihal spiritual. Ada KEMUNGKINAN bahwa kondisi seperti inilah yang dimaksudkan dalam sebuah tradisi sebagai KEADAAN TIDAK SUCI (atau kotor) karena pengaruh orang meninggal. Kalau memang benar maka ini sama levelnya dengan orang yang keadaannya sedang diliputi oleh kebencian, kesombongan, kekecewaan, trauma, depresi, iri, dengki, dll; yang semuanya bertindak menganggu sistem dari Mano Mayakosha itu sendiri dan merembet menganggu Prana Mayakosha dan Ana Mayakosha.

Namun lain halnya jika handai taulan ternyata memiliki tingkat kesadaran yang tinggi sehingga tidak mengalami kesedihan perihal kematian itu maka kondisi lapisan-lapisan badannya tidak akan terpengaruh dan tetap pada kondisi alamiah dirinya sendiri.

Jadi pada peristiwa kematian orang TIDAK SELALU BISA membuat sedih handai taulan, tergantung tingkat kesadaran masing-masing. Ada yang sedih, bahkan ada yang berlarut-larut kesedihannya sampai berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Kemungkinan juga ada yang sama sekali tidak sedih karena sadar tentang suatu kematian.

Dan apabila digeneralisir bahwa setiap ada kematian maka handai taulan semua pasti sedih dan dinyatakan BERKEADAAN TIDAK SUCI maka ITU SEBUAH KEKLIRUAN.   

   

 

 

 

Selasa, 10 Oktober 2023

MENGAPA AKHIR-AKHIR INI SAYA SERING DIPERTEMUKAN DENGAN ORANG-ORANG YANG DEPRESI? (pertanyaan seorang remaja yang ternyata sedang dalam kondisi galau)

Ketahuilah bahwa pikiran manusia itu memiliki daya magnetis yang luar biasa yang bahkan kita sendiri tidak menyadarinya karena lebih banyak bekerja dibawah kesadaran kita. Sifat alami pikiran adalah tidak pernah akan berhenti berpikir, dia akan terus memikirkan sesuatu. Namun pikiran bisa dikendalikan, kita sebagai pemilik pikiran kita sendiri bisa menentukan apa yang seharusnya atau tidak seharusnya dipikirkan. Kemampuan kita menentukan itulah contoh pengendalian diri. Pikiran yang terus berproses berpikir secara alami juga memancarkan vibrasi atau getaran (frekuensi) tertentu ke segala arah. Dan karena pikiran terus berpikir maka dia juga terus bervibrasi (berfrekuensi). Dan ketahuilah bahwa antar pikiran semua individu saling berhubungan, ibarat pikiran itu adalah komputer maka antar pikiran individu itu ibarat sejumlah besar komputer yang saling terhubung satu sama lainnya dalam sebuah jaringan internet. Dan pikiran semua individu saling terhubung melalui jaringan “pikiran semesta” yaitu Sang Kecerdasan Semesta itu sendiri.

Antar pikiran bisa saling berbagi, saling menarik, saling mempengaruhi, atau bahkan saling menjauhi. Pemikiran yang ada di dalam pikiran menentukan kualitas dari pikiran itu sendiri; apakah sedang menjadi pikiran yang tajam, tumpul, kuat, lemah, meditatif ataupun kualitas lainnya maka sangat ditentukan berbagai pemikiran yang sedang ada dalam pikiran itu sendiri. Jika pikiran sedang kalut, bingung, sedih , depresi maka vibrasi frekuensi yang dipancarkan pun adalah jenis frekuensi tentang kekalutan, kebingungan, kesedihan, depresi. Begitu juga jika pikiran sedang damai, bahagia, tenang, ceria, gembira maka vibrasi yang dipancarkannya pun adalah jenis frekuensi kedamaian, kebahagiaan, ketenangan, keceriaan, kegembiraan. Dan frekuensi itu memancar dari pikiran dan gelombangnya akan diterima oleh pikiran lainnya lalu terjadi interaksi antar gelombang pikiran dan berproses apakah itu akan saling menarik, saling mempengaruhi, atau saling menjauhi, maka itu tergantung kesamaan kualitas dari kedua pikiran tersebut.

Secara alami pikiran akan saling menarik pikiran lain yang memiliki kualitas yang sama. Jika pikiran kita sedang memikirkan tentang kesedihan, kelemahan, kegalauan; maka kita akan cenderung dipertemukan dengan orang-orang yang juga sedang sedih, lemah dan galau. Dari pertemuan itu bisa jadi berlanjut pada pembicaraan seputar pemikiran itu dan terjadilah “saling berbagi” pemikiran untuk suatu tujuan. Begitu juga jika pikiran kita sedang memikirkan tentang kebahagiaan, kesenangan, keceriaan atau lainnya; maka kita akan cenderung dipertemukan dengan orang-orang yang sedang bahagia, senang, ceria.

Diantara gelombang-gelombang pikiran yang lemah, jika ada pikiran yang kuat maka yang kuat bisa masuk dalam interaksi itu. Mengapa? Ya karena dia kuat. Dan yang kuat bisa hadir sebagai “energizer”. (pemberi energi atau semangat atau solusi) terhadap yang lemah. Dalam posisi ini gelombang frekuensi pikiran yang kuat sebagai pemberi pengaruh pada yang lemah.  

Orang yang sedang saling “curhat” pengalamannya dan saling perhatian antara keduanya adalah orang-orang-orang yang memiliki kualitas frekuensi yang serupa. Orang yang saling berbagi satu dengan lainnya juga orang-orang yang gelombang frekuensi pikirannya serupa. Orang yang menjauhi atau saling menjauhi antara satu dengan lainnya berarti ada “crash” gelombang frekuensi pikiran diantara keduanya, sehingga mendorong salah satu atau keduanya secara bawah sadar untuk saling menjauhi. Juga……..DUA ORANG SEJOLI SALING JATUH CINTA OLEH KARENA SAMA-SAMA MEMILIKI GELOMBANG FREKUENSI TENTANG CINTA YANG SALING TARIK-MENARIK.

 BY AGUSWI

ARCHANGEL 

HARI RAYA SARASWATI berpesan “jadilah orang yang cerdas”, Hari Raya PAGERWESI berpesan “bentengi dirimu dengan kecerdasanmu”

        Hari raya Saraswati dikemas dirayakan lebih dahulu baru kemudian dilaksanakan hari raya Pagerwesi, itu selalu dan akan terus seperti kita. Mengapa? Perlu kita ketahui bahwa satu-satunya hal yang dapat kita jadikan benteng atau pertahanan dalam diri kita hanyalah pengetahuan. Tanpa pengetahuan maka manusia akan mengalami kebodohan (avidya), dari kebodohan maka manusia akan sangat beresiko terjerumus dalam berbagai penderitaan dalam setiap kehidupannya. Tanpa pengetahuan yang baik manusia tidak akan bisa berpikir berkata-kata dan bertindak dengan benar. Tanpa pengetahuan sangat mungkin pemikiran orang akan liar tidak tentu arah sehingga membawa pada ketidakbenaran. Tanpa pengetahuan bisa jadi kata-kata pun tidak terkendali sehingga sering melontarkan kata-kata yang tidak baik. Dan ketika pemikiran dan kata-kata tidak terkendali maka tindakannya pun akan seperti itu pula, menjadi tidak terkendali. Dan hari Saraswati adalah hari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus mendapatkan jalannya terlebih dahulu untuk mengalir ke dalam diri seseorang, barulah jika pengetahuan itu sudah ada di dalam diri baru bisa difungsikan salah satunya sebagai benteng dalam diri. Itulah alasan mengapa Saraswati merupakan hari raya yang lebih dahulu dilaksanakan beberapa waktu sebelum Pagerwesi.

        Namun perlu dipahami bahwa sebagaimana air hanya akan bisa mengalir ke tempat yang lebih rendah, begitu juga air pengetahuan hanya akan bisa mengalir kepada mereka yang memiliki kerendahan hati. Orang-orang yang angkuh, sombong, congkak, penuh kedengkian, pemarah, mudah emosional, mudah membuli, gampang memprovokasi maka pengetahuan yang benar tidak akan bisa mengalir kepada orang-orang seperti itu. Dibutuhkan orang yang “pangerten” (ungkapan Jawa) yang artinya mau memahami, mau menyadari, mau mencari kebenarannya, mau bertoleransi. Barulah setelah pengetahuan itu bersenyawa dalam diri seseorang dan membentuk sebuah komposisi kesadaran maka dia bisa memfungsikannya sebagai “way of life” salah satunya sebagai benteng dalam diri; benteng yang memagari diri untuk tidak terpapar dalam berbagai pemikiran yang buruk, benteng yang memagari diri dari paparan tindakan yang asusila, benteng yang memagari diri agar setiap ucapan tidak keluar dari konteks kebenaran.

        Seringkali kita membaca postingan di medsos begitu mudahnya seseorang mencaci, memaki, membuli, memprovokasi, merendahkan, dsb; itu mengindikasikan bahwa orang tersebut tidak memiliki benteng dalam dirinya sehingga dia dengan mudahnya terpapar dalam perilaku yang sama sekali tidak mencerminkan kesopanan dan kesantunan. Sifat-sifat buruk seperti itu akan menjadi sebuah penghalang atau blokir terhadap aliran pengetahuan ke dalam dirinya.

Pengetahuan memiliki kekuatan yang luar biasa, sebagaimana api yang mampu membakar benda hingga menjadi abu, begitu pula api pengetahuan akan sanggup membakar berbagai penderitaan dan kesengsaraan yang dialami seseorang. Bhagavadgita memberikan penjelasan bahwa dengan pengetahuan orang yang paling berdosa sekalipun akan sanggup menyeberangi lautan penderitaan.

Pagerwesi menurut lontar Sundarigama disebutkan :

“budha kliwon shinta ngaran pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh.”

Artinya:

Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pamujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (Sembilan Dewata) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

 

“Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca Mahabhuta, sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah”

Artinya:

Sang Pandhita hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Prameswara. Tengah malam melakukan yoga samadhi, ada persembahan untuk Sang Panca Mahabhuta yang warnanya menurut uripnya dan ditempatkan di tempat pemujaan.

 

“Ngawerdhiaken” artinya mengembangkan, tumitah artinya yang terlahirkan, tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan. Dalam ungkapan Jawa ini sama dengan “Memayu Hayuning Bhuwana” yang artinya mengembangkan, melestarikan, menjaga segala bentuk kehidupan. Segala bentuk kehidupan ini harus dikembangkan, dilestarikan dan dijaga; karena apabila itu tidak dilakukan maka manusia akan dilanda penderitaan lahir maupun batin entah sebagai dampak dari yang terjadi secara global atau pun karena dirinya sendiri. Misal saja tumbuh-tumbuhan (pertanian ) tidak dikembangkan dan dilestarikan maka akibatnya adalah kemiskinan dan kelaparan. 

Dalam konteks sekarang, kata “sang purohita” ini ditujukan kepada kita semua yaitu orang-orang yang memiliki keluhuran budhi sebagaimana para purohita (pandhita) yang memiliki sifat-sifat mulia. Dan hendaknya mereka yang memiliki keluhuran budhi, yang memiliki kesadaran diri melakukan yoga samadhi. Jadi inilah hakikat dari Pagerwesi bahwa dengan segenap pengetahuannya seseorang hendaknya melakukan yoga samadhi. Menurut Yoga Sutra yang ditulis oleh Maharsi Patanjali bahwa “Yoga adalah untuk mengendalikan gelombang-gelombang pikiran” Mengapa pikiran perlu dikendalikan? Agar supaya pikiran tidak larut dalam berbagai gelombang pemikiran terutama pemikiran yang buruk yang memungkinkannya untuk kehilangan sifat sejatinya. Semakin gelombang-gelombang pemikiran itu dibiarkan, maka semakin mengganggu kinerja dari pikiran, bahkan bisa membuat pikiran menjadi galauw, stress hingga gila. Sehingga dengan kondisi pikiran yang seperti itu maka tingkat kesadaran seseorang menjadi menurun dan akibatnya mudah berprilaku yang tidak pantas hingga kejam. Yoga samadhi tidak bisa diartikan sempit sebagaimana asumsi kebanyakan orang yaitu “duduk diam hening tidak bergerak sama sekali”, tetapi lebih luas dari itu yaitu tertuang dalam konsep Astangga Yoga dimana pada bagian awal berkaitan dengan pengendalian perilaku kita sehari-hari yaitu Yama dan Nyama. Bahwa sebelum menjalankan laku sadhana inti atau puncak dari Yoga yaitu Samadhi maka syaratnya adalah perilaku sudah mencerminkan sebuah keluhuran budhi. Tanpa keluhuran budhi (sifat-sifat yang mulai) maka laku sadhana yoga tahap lanjutan adalah sia-sia belaka. Karena pengetahuan yang terkandung dalam inti atau puncak laku sadhana yoga tidak akan bisa mengalir dalam diri, oleh karena terblokir oleh sifat-sifat buruk dalam diri.

Buatkan jalan berupa kemuliaan diri bagi pengetahuan untuk bisa mengalir dan bersenyawa dalam sang diri dan membentuk sebuah komposisi kesadaran yang tinggi. DAN ORANG YANG CERDAS ADALAH ORANG YANG SANTUN DALAM BERPIKIR BERKATA DAN BERBUAT.

Saat pengetahuan sudah mengambil peran dalam komposisi kecerdasan maka hendaknya kita menggunakan kecerdasan itu untuk segala sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan, bukan malah sebaliknya yang menentang hukum kehidupan, menodai atau bahkan menghancurkan sendi-sendi kehidupan. Dunia ini akan damai bila seluruh penghuninya bisa menggunakan kecerdasannya dengan tepat.

Jadi hanya pengetahuanlah yang bisa dijadikan benteng yang kuat dalam diri agar segala kecenderungan atau sifat-sifat yang buruk tidak mampu menyentuh sang diri sehingga tujuan hidup bisa tercapai.  

 

Aguswi

ARCHANGEL

Senin, 17 Juli 2023

Apanya yang di Entas-Kan? Apanya yang disempurnakan? Apanya yang dilinggihkan? Dan manakah yang disebut Jiwa?

Dalam sistem Yoga, badan manusia terdiri dari 5 lapisan yang disebut Panca Mayakosha. Lapisan-lapisan tersebut antara lain:

1.       Ana Mayakosha

Ini adalah lapisan badan yang kita kenal sebagai badan fisik. Ibarat sebuah komputer lapisan badan ini adalah hardwarenya. Lapisan badan ini tersusun dari sari-sari makanan yang kita makan setiap hari. Seluruh bagian badan fisik dari kaki hingga kepala semuanya tersusun dari sari-sari makanan yang masuk dan terserap ke dalam sistem tubuh kita. Lebih detil lapisan badan Ana Mayakosha ini terdiri dari 5 unsur yang kita kenal sebagai Panca Mahabhuta yaitu unsur padat (pertiwi), unsur cair (apah), unsur udara (bayu), unsur panas/cahaya (teja), dan unsur ruang (akasa).

Bagian tubuh yang termasuk unsur padat misalnya: gigi, tulang, rambut, daging, otot, kuku, dll. Yang termasuk unsur cair misalnya: darah, lendir, enzim, air kencing, air liur, dll. Yang termasuk unsur udara misalnya: nafas, gas-gas dalam tubuh, bau badan, dll. Yang termasuk unsur panas/cahaya misalnya: suhu badan, warna kulit, dll. Yang termasuk unsur ruang misalnya: rongga mulut, rongga hidung, rongga perut, rongga tenggorokan, dll.

Pada orang yang meninggal maka lapisan badan ini cepat atau lambat akan membusuk atau terurai kembali kepada sumbernya yaitu Panca Mahabhuta. Bila orang yang meninggal jenazahnya dikubur maka proses penguraian akan terjadi secara alami di dalam tanah. Jika jenazah tersebut dikremasi (dibakar) maka proses penguraian akan lebih cepat; unsur cair, unsur udara, unsur panas/cahaya, dan unsur akasa akan terurai sepenuhnya ketika proses pembakaran selesai, dan yang tertinggal adalah abu pembakaran yaitu unsur padat yang lambat laun akan menjadi tanah. Ada pula jenazah yang tidak dikubur atau dibakar melainkan ditaruh begitu saja di tempat tertentu seperti misalnya di bawah pohon, di dalam gua, dll. Di Tibet ada tradisi jenazah ditaruh begitu saja di tempat dimana banyak burung pemakan bangkai, begitu ditaruh dalam waktu yang tidak lama jenazah habis dimakan burung. Ada lagi yang dihanyutkan begitu saja di sungai seperti di tempat-tempat tertentu di India. Dan semua cara itu hanyalah metode pengembalian unsur Panca Mahabhuta.

 

2.       Mano Mayakosha

Kita mengenal juga lapisan badan ini sebagai badan mental. Juga ada yang menyebutnya sebagai pikiran, meski sebenarnya jika dibedah lebih dalam maka lapisan badan ini lebih dari yang dipahami sebagai pikiran oleh kebanyakan orang. Lapisan badan ini bertindak sebagai software dari lapisan badan Ana Mayakosha sebagai hardwarenya. Lapisan badan ini tersusun dari kombinasi antara memori dan kecerdasan/intelek. Memori yang dimaksud disini lebih dari sekedar memori dalam pikiran yang kebanyakan dipahami. Berbagai memori misalnya memori genetik, memori evolusi, memori elemental, memori atom, memori karma, memori pengetahuan, dll.

Memori genetik misalnya bentuk hidung kita, bentuk mata kita, warna kulit kita dengan leluhur-leluhur kita pasti sama. Orang Indonesia tidak akan mungkin memiliki bentuk hidung dan mata seperti orang India, Cina atau Eropa.

Memori atom misalnya meski hari ini kita makan daging ayam, maka badan kita beserta sistemnya tidak akan berubah menjadi badan atau sistem badan ayam karena memori atom dalam sistem badan kita akan selalu mengarah bahwa daging ayam yang dicerna ini harus diubah menjadi atom-atom bagian badan atau sistem badan manusia.

Memori karma adalah yang sering kita sebut sebagai buah dari tindakan, kita berbuat baik maka hasilnya kita akan mendapat kebaikan namun sebaliknya jika kita berbuat buruk maka kita pun akan mendapatkan keburukan atau penderitaan.

Memori pengetahuan adalah kita membawa data-data pengetahuan dari kehidupan yang sebelumnya ke kehidupan sekarang sehingga pengetahuan itu dikehidupan sekarang begitu mudahnya kita kuasai dan kita kembangkan. Sedangkan orang lain mungkin saja sulit untuk menguasai karena data-data pengetahuan itu belum ada dalam dirinya dari kehidupan sebelumnya sehingga baru sekarang dia mencoba untuk mempelajarinya. Sedangkan kita karena data-data itu sudah ada yang terbawa dari kehidupan sebelumnya maka dikehidupan sekarang tinggal mengembangkan saja dengan lebih baik. Kita tidak akan pernah bisa memikirkan suatu pengetahuan dengan mudah jika memang data-data yang berkaitan dengan pengetahuan itu tidak atau belum pernah ada dalam Mano Mayakhosa diri kita. Dan bahkan mungkin kita tidak akan bisa berpikir tentang itu. Seorang Einstein memiliki kemampuan berpikir seperti itu dan menjadi ilmuwan hebat yang bahkan dijaman sekarang belum tentu ada yang bisa seperti Einstein, itu oleh karena Einstein memiliki data-data pengetahuan itu sejak dari kehidupan yang sebelumnya dan mungkin dikehidupan yang sebelumnya pengetahuannya sudah sangat berkembang sehingga dikehidupan sekarang menjadi lebih sangat berkembang lagi sehingga menjadi ilmuwan hebat.

Pada orang yang meninggal lapisan badan Mano Mayakosha ini tidak akan hancur atau terurai, dia akan menjadi entitas tersendiri setelah badan Ana Mayakosha mati.  

Analoginya pada sebuah komputer lapisan Mano Mayakosha ini adalah data-data yang ada dalam komputer itu yang bisa dipindahkan ke komputer lain jika komputer lama rusak atau sudah tidak upgrade lagi. Sangat mungkin sekali lapisan Mano Mayakosha yang isinya data-data atau memori kehidupan seseorang inilah yang dikatakan mengalami reinkarnasi kembali, juga sangat mungkin lapisan inilah yang sering dimaksudkan sebagai Jiwa.  

 

3.       Prana Mayakosha

Prana artinya energi, dan prana dalam tubuh adalah energi yang sangat vital agar sistem dalam badab bisa bekerja. Jadi prana inilah yang membuat badan beserta sistemnya ini bisa beroperasi dan berfungsi. Analoginya sebuah laptop adalah harwarenya, windows beserta program-program lainnya adalah sofwarenya, dan tenaga listrik yang digunakan agar laptop itu menyala dan bisa beroperasi adalah energinya. Begitu pula dengan lapisan badan Prana Mayakosha dia sebagai energi dari lapisan badan Ana Mayakosha dan Mano Mayakosha.

Berikut tentang Prana:

 

Prana vayu

Prana Vayu berhubungan dengan aktivitas pernafasan. Jika Prana Vayu terkuras maka aksi pernafasan bisa terhenti. Pernafasan dan kerja paru-paru sangat berhubungan langsung. Begitu  pernfasan berhenti, maka terjadilah yang disebut kematian. Dan Prana Vayu telah hilang sama sekali. Jadi selama proses pernafasan bisa bertahan maka asupan Prana Vayu ke dalam badan bisa dipertahankan sehingga tubuh tetap hidup.

 

Samana vayu

Samana vayu bertanggungjawab menghasilkan panas di dalam sistem tubuh. Suhu tubuh kita yang hangat atau panas adalah bukti keberadaan Samana Vayu. Mengapa badan harus ada panas? Secara logika panas itu menghasilkan energi, dan panas badan adalah suatu bentuk energi untuk mendukung sistem dalam badan bekerja. Api digunakan untuk memasak di dapur agar makanan bisa dimakan. Begitu pula panas badan juga salah satunya dibutuhkan untuk mendukung sistem pencernaan agar mampu mencerna makanan sehingga sari-sari makan bisa diserap oleh jaringan badan. Pada orang yang meninggal setelah samana vayu hilang maka badan mulai mendingin dan menjadi kaku.

 

Apana vayu

Apana Vayu berhubungan dengan semua sensorik dalam badan. Kemampuan gerak pada badan, kemampuan penglihatan, pendengaran, pengecapan, jaringan syarat, dll; adalah contoh sensorik dalam badan. Kita bisa menggerakkan tangan, kaki, maupun anggota badan lainnya itu berkat dukungan utama dari Apana Vayu. Pada fenomena orang yang meninggal namun ada bagian-bagian tubuhnya masih beberapa kali bergerak meski sedikit berarti Apana Vayu belum hilang sama sekali dan badan itu masih bisa merasakan sensasi sehingga bereaksi dengan gerakan. Dalam banyak kasus orang-orang ketakutan karena jenazah bisa bergerak sedikit, terjadi berulang-ulang. Jadi ada sentakan-sentakan halus yang terjadi di tubuh karena aktivitas sensoriknya masih berfungsi.

 

Udana vayu

Udana Vayu berhubungan dengan daya apung badan. Ketika udana vayu hilang maka daya apung juga hilang. Tentang daya apung, kita mungkin berbobot tujuh puluh kg atau delapan puluh kg atau berapa pun. Kita tidak merasakan berbobot tujuh puluh atau delapan puluh kg tersebut, bukan? Bobot itu ada saat kita ada diatas timbangan, namun ketika kita berjalan itu tidak terasa oleh karena udana vayu menciptakan daya apung sehingga kita bisa berdiri seimbang. Udana vayu membuat tubuh kurang terasa terhadap gravitasi bumi. Jadi saat udana vayu mulai surut maka tubuh menjadi terasa lebih berat. Padahal bobotnya masih sama, tidak bertambah. Para pekerja rumah sakit pasti merasakan ada perbedaan membawa orang hidup dengan orang mati, membawa orang mati terasa lebih berat karena tidak ada lagi daya apung. Kita pun bisa membuktikan dengan merasakan mengangkat beras sekarung bobot 50 kg akan terasa lebih berat dari pada mengangkat badan orang lain yang bobotnya sama 50 kg juga. Coba saja menggendong orang yang bobotnya 50 kg pasti akan terasa lebih ringan jika dibanding menggendong beras sekarung dengan bobot yang sama.  

 

Vyana vayu

Vyana vayu berfungsi sebagai pengawet alami. Bila suatu bagian badan Vyana Vayu-nya surut meski kita masih hidup maka bagian badan itu pun akan membusuk. Bagian badan luka lalu pada bagian itu terjadi pembengkakan atau bahkan pembusukan maka berarti bagian tersebut kekurangan Vyana Vayu. Beberapa jenis bisa ular bisa melakukannya, jika ular itu menggigit maka dengan cepat akan terjadi pembusukan di bagian yang digigit tersebut, meski kita masih hidup. Beberapa virus juga sanggup melakukannya, misal penyakit lepra. Meski masih hidup, namun karena Vyana Vayu surut maka bagian badan itu akan mulai terurai, dan proses pembusukan mulai terjadi. Pada orang yang meninggal jika Vyana Vayu sudah hilang maka proses pembusukan atau penguraian akan terjadi.

Pernah mendengar sebuah cerita bahwa ada seorang sepuh yang sudah tua sekali bermeditasi di kamarnya namun setelah sekian waktu hilang begitu saja tanpa bekas, berarti ada sistem-sistem di dalam yoga bagaimana agar badan ini terurai dengan cepat dalam hitungan jam. Dalam kematian yang normal maka ini tergantung pada usia seeorang juga seberapa energiknya badan itu sendiri. Sangat mungkin membutuhkan waktu yang lama bahkan hingga berhari-hari agar semua prana itu meninggalkan badan. Inilah alasannya ada tradisi atau budaya ritual untuk orang yang meninggal yang dilaksanakan hingga berhari-hari karena kerabat yang masih hidup merasa vyana vayu mungkin masih ada. Ketika kita mengubur jenazah seseorang, vyana vayu mungkin masih melayang-layang di sana hingga berhari-hari. Karena itulah tradisi kremasi (pembakaran jenazah) sangat bagus untuk mempercepat penguraian jenazah dalam waktu hitungan jam. Dan saat ini ada berbagai masalah yang terjadi, menunda kremasi atau penguburan hingga beberapa hari karena menunggu anggota kerabatnya yang jauh datang. Padahal untuk orang yang mati kita harus pahami bahwa dia tidak lagi berbadan. Dia telah kehilangan badannya. Sepanjang hidupnya jika dia berpikir bahwa dirinya adalah badannya, tidak pernah menyadari bahwa badannya adalah akumulasi dari planet ini; maka ketika secara mendadak dia menyelip keluar dari badan maka dia akan cenderung untuk melayang-layang di sekitar badannya yang telah mati. Karena perspektifnya selama hidup yang kurang tepat itu maka dia kehilangan kecerdasan diskriminatifnya (kemampuan membedakan), dia tidak bisa membedakan badan yang hidup dan yang mati. Jadi dalam tradisi kita bahwa ketika seseorang sudah pasti meninggal maka harus segera melakukan kremasi atau penguburan. Dan ini baik bagi yang mati sehingga mereka tahu bahwa permainan hidup sudah selesai. Ini juga baik bagi yang hidup, kita akan melihat jika seseorang yang sangat kita sayangi mati dan tubuh mereka masih ada kita akan terus berhayal “mungkin mereka hanya sedang tidur, mungkin mereka akan duduk, mungkin beberapa keajaiban akan terjadi, mungkin sesuatu yang lain akan terjadi” dan hal seperti ini sangat tidak perlu untuk berlanjut. Kita akan melihat orang-orang menangis dan drama emosional yang besar pun terjadi. Namun saat kita mengkremasi jenazahnya, kita akan melihat semua orang menjadi hening. Karena semua orang tahu bahwa permainan sudah selesai bagi yang masih hidup dan bagi yang mati. Jadi tentang kehidupan yang meninggalkan sistem, sangat mengakar kuat, bukan sesuatu yang langsung keluar begitu saja. Secara bertahap kehidupan itu pergi, begitu pula secara bertahap kehidupan itu masuk.   

Jadi pada orang yang meninggal maka lapisan badan Prana Mayakosha ini akan hilang sepenuhnya terurai kembali menyatu dengan prana-prana alam semesta karena fungsinya menjaga suatu badan fisik telah selesai.

 

4.       Vijnana Mayakosha

Ini adalah lapisan badan halus sebagai penghubung antara lapisan Ananda Mayakosha dengan lapisan badan lainnya yang bersifat fisik (Ana Mayakosha, Mano Mayakosha dan Prana Mayakosha). Ini adalah lapisan badan yang memungkinkan kita memiliki pengetahuan atau kecerdasan yang luar biasa. Meski begitu lapisan ini bukanlah data-data seperti lapisan Mano Mayakosha. Lapisan ini adalah perangkat atau sistem atau teknologi yang memungkinkan kita untuk bisa mengakses  kemampuan/kekuatan atau pengetahuan atau kecerdasan yang luar biasa dari alam semesta ini dari pada yang dapat diakses dengan indriya pada umumnya. Bila lapisan Vijnana Mayakosha seseorang tidak berkembang maka dia hanya seperti orang kebanyakan, namun ketika lapisan ini sangat berkembang maka dia akan menjadi orang yang kemampuannya atau pengetahuannya atau kecerdasannya jauh diatas orang kebanyakan. Sesuai dengan tingkat berkembangnya lapisan Vijnana Mayakosha seseorang; maka dia memiliki kewaskitaan, sifat telepatik. Mengetahui suatu kejadian sebelum itu terjadi melalui mimpi, atau pemikiran, atau sebuah penglihatan ke masa depan. Dia juga bisa terlihat oleh banyak orang di banyak tempat yang berbeda dalam waktu yang sama. Dia memiliki kemampuan membaca pemikiran orang lain dan juga mengubahnya. Dia memiliki kemampuan yang menyembuhkan; kata-katanya, sentuhannya atau pandangannya dapat menyembuhkan penyakit yang mematikan. Pada tingkatan tertentu dari berkembangnya lapisan Vijnana Mayakosha ini bahkan dia sanggup masuk ke badan orang lain. Para orang suci yang sanggup merasakan getaran-getaran frekuensi alam, atau mendengarkan suara-suara alam lalu menuliskannya dalam bentuk kata-kata adalah contoh pribadi-pribadi yang lapisan Vijnana Mayakosha nya sangat berkembang. Para ilmuwan dengan penemuannya yang hebat-hebat seperti Einstein dan lainnya adalah juga contoh pribadi yang lapisan Vijnana Mayakosha nya sangat berkembang. Dia seorang Einstein yang jaman itu mampu menangkap frekuensi alam lalu menuliskannya dalam sebuah rumus yang orang lain tidak mampu memikirkannya. Juga seperti Maharesi Bharadvaja yang mampu menangkap frekuensi-frekuensi alam lalu menuliskannya dalam buku yang hingga saat ini kita warisi sebagai Vimana Shastra yaitu sebuah pengetahuan tentang wahana terbang antar tempat, antar planet, antar galaxi dan antar dimensi.

Pada orang yang meninggal lapisan Vijnana Mayakosha ini akan terurai begitu saja menyatu dengan alam semesta. Karena Vijnana Mayakosha ini hanya akan bisa berada di badan jika badan (Ana, Mano, dan Prana) masih bisa berfungsi sebagaimana mestinya untuk hidup, jika tidak bisa lagi berfungsi untuk hidup maka secara otomatis akan lepas begitu saja dan menyatu dengan alam bebas. Misalnya orang yang mengalami kecelakaan dan kepalanya hancur maka tidak mungkin lagi badan Ana Mayakosha bisa hidup tanpa kepala, dan saat itu juga Vijnana Mayakosha akan lepas begitu saja dan bersenyawa terurai kembali dengan alam.

 

5.       Ananda Mayokosha

Dalam literatur Sanskerta kata “ananda" artinya kebahagiaan. Ini adalah lapisan yang sebenarnya bukan hanya halus, namun lebih dari itu yaitu tidak bisa dipikirkan apa itu, hanya bisa dikatakan sebagai lapisan yang murni, lapisan kebahagiaan. Mungkin inilah yang disebut badan kausal, atau mungkin pula inilah yang disebut Atma oleh beberapa sastra. Lapisan ini juga hanya akan bisa berada di badan jika lapisan Ana, Mano dan Prana berfungsi sebagaimana mestinya untuk hidup. Sama seperti Vijnana Mayakosha, lapisan Ananda Mayakosha ini juga hanya akan bisa berada di badan jika badan (Ana, Mano, dan Prana) masih bisa berfungsi sebagaimana mestinya untuk hidup, jika tidak bisa lagi berfungsi untuk hidup maka secara otomatis akan lepas begitu saja dan menyatu dengan alam semesta. Analoginya seperti balon udara yang meletus maka udara dalam balon akan otomatis menyatu begitu saja dengan udara bebas. Begitulah lapisan Vijnana Mayakosha dan Ananda Mayakosha pada orang yang meninggal maka akan menyatu begitu saja dengan alam bebas.

 

Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa pada orang yang meninggal maka yang tersisa adalah lapisan badan Mano Mayakosha, lapisan badan lainnya semuanya lebur terurai bersenyawa kembali dengan alam bebas. Tentang Mano Mayakosha sebagai data-data memori dalam badan, analoginya adalah data-data dalam komputer yang terkontaminasi atau cacat oleh karena virus maka data seperti itu harus dibersihkan atau dipulihkan kondisinya agar menjadi data yang normal kembali. Jika dibiarkan maka akan mempengaruhi kinerja dan fungsi dari komputer itu sendiri yang mengarah kepada kerusakan fisik atau sistem dari komputer tersebut. Jika data-data yang terkontaminasi virus itu tidak dipulihkan maka saat dia dipindahkan ke komputer lain pun maka komputer itu juga sangat mungkin akan terganggu kinerja dan fungsinya. Begitu juga dengan Mano Mayakosha sebagai jiwa yang jika kondisinya tidak sebagaimana mestinya maka layaknya data-data dalam komputer yang terkontaminasi virus yang akan menganggu kinerja dan fungsi dari lapisan badan lainnya. Jiwa yang sering resah, pemarah, emosional, iri, dengki, tamak bisa menyebabkan lapisan badan Ana Mayakosha menjadi terganggu atau sakit; begitu juga dengan lapisan Prana Mayakosha akan terganggu sistem energinya.  

Jiwa yang telah meninggalkan badan fisik jika kondisinya mengalami ketidaksempurnaan maka perlu dipulihkan dari semua yang menyebabkan ketidaksempurnaan itu agar jiwa itu memiliki kemampuan sebagaimana mestinya dan jika jiwa itu reinkarnasi kembali maka kondisinya akan lebih baik sehingga dampaknya ke kehidupannya sendiri pun juga lebih baik. Jadi yang reinkarnasi itu adalah data-data memori seseorang yang menjelma dalam badan yang baru, layaknya data-data komputer yang dipindahkan ke komputer lainnya. Lalu siapa atau apa yang menggerakkan jiwa itu reinkarnasi kembali padahal lapisan Prana sebagai energi penggerak saat dia masih berbadan fisik pun sudah terurai bersenyawa kembali dengan alam bebas? Tidak lain adalah Shakti atau kekuatan alam semesta itu sendiri yang menggerakkan jiwa-jiwa itu dan jiwa-jiwa itu akan cenderung tergerak sesuai dengan catatan karma atau memori kehidupannya.  

Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam tradisi Pangentas Panjurung Suksma atau lebih dikenal sebagai Entas-Entas obyeknya adalah lapisan badan Mano Mayakosha dari orang yang telah lama meninggal yang tujuannya adalah memulihkan kondisi lapisan badan tersebut agar bebas dari ketidaknormalan atau ketidaksempurnaan sehingga menjadi lapisan badan yang lebih Powered (alias Jiwa yang berkemampuan).

Dari uraian diatas pula, dalam tradisi Ngelinggihan, sangat mungkin juga obyeknya adalah lapisan Mano Mayakosha dari orang yang sudah meninggal. Sangat tidak logis jika yang dimaksud dilinggihkan adalah atma dari orang yang sudah meninggal. Perlu kita ketahui bahwa sifat Atma itu sama dengan sifat Paramatma (Brahman) dan Atma adalah juga Paramatma itu sendiri. Jangankan untuk dicekal atau dikuasai atau diposisikan atau dikondisikan, dipikirkan pun tidak bisa makanya disebut bersifat Acintya. Atma tetap seperti Paramatma itu sendiri pada berbagai sifatnya.

 

Aguswi

Bocah Ndeso

Kamis, 16 Februari 2023

BOLEHKAH AKU MENIKAH LAGI?

 (Poligami Menurut Hindu)

 

Kitab Regveda VI.15.19 : “...asthuri no garhapatyani santu…” semoga hubungan kami sebagai suami istri berlangsung abadi.

Dalam Kitab Regveda: X.85.42: “ihaiva stam ma vi yaustam visvam ayur vyasnutam, krindantu putrair naptrbhih modamanau sve grhe” artinya semoga pasangan suami istri tidak pernah terpisahkan, semoga berdua mencapai hidup yang penuh kebahagiaan bersama anak dan cucunya tinggal di rumah dengan gembira.

Kitab Regveda X.85.47: “ ….sumanjantu visve devah, sam apo hrdayanu nau..” artinya semoga para Dewata selalu menyatukan dengan kekal hati mereka sebagai suami istri.

Dalam Manawa Dharmasastra IX.45 : “etavan eva puruso yajjaya atma prajeti ha, viprah prathus tatha caitad yo bharta sa smrtangana” artinya seorang laki-laki menjadi disebut orang sempurna jika terdiri dari tiga yang menjadi satu, yaitu dirinya sendiri (suami), istrinya seorang dan keturunannya.

Manawa Dharmasastra IX.101: “anyonyasyavy abhicaro bhaved amaranantikah, esa dharmah samasena jneyah stri pumsayoh parah”. Artinya Hendaknya supaya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, ini harus dimengerti sebagai hukum yang tertinggi bagi suami-istri.

Dalam Manawa Dharmasastra IX.102 : “tatha nityam yateyatam, stripumsau tu krtakkriyau, yatha nabicaretham ca, dayabhagam nobodhata” artinya hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya agar mereka tidak bercerai dan tidak melanggar kesetiaan antara satu dengan lainnya.

Secara tersirat mantra-mantra atau sloka-sloka diatas mengandung makna bahwa secara ideal dalam perkawinan itu hanya ada seorang suami dan seorang istri, tidak ada poligami dan poliandri.

Hati yang sudah bersatu dalam sebuah ikatan perkawinan tentunya tidak ada perihal poligami atau poliandri, tidak ada perihal suami dan istri yang suka dimadu. Kalau toh dalam masyarakat hal itu terjadi pasti karena tidak adanya jalan lain. Poligami bukan harapan hidup manusia yang normal, tetapi suatu kenyataan hidup bagi orang-orang tertentu yang karena karma-nya tidak bisa menghindari poligami. Karena berbagai hal tertentu jalan itu dipilih untuk ditempuh.

 

Kitab Silakrama:

“Sukla Brahmacari ngarannya tanpa rabi sangkan rere, tan maju tan kuring sira, adyapi teku ring wreddha tewi tan pangicep arabi sangkan pisan.”

Artinya: Sukla Brahmacari namanya orang yang tidak menikah sejak lahir sampai ia meninggal. Hal ini bukan karena impoten atau lemah sahwat. Ia sama sekali tidak pernah menikah sampai umur lanjut.

“Sewala Brahmacari ngaranya, marabi pisan, tan parabi, muwah yan kahalangan mati srtinya, tanpa rabi, mwah sira, adnyapi teka ri patinya, tan pangucap arabya. Mangkana Sang Brahmacari yan sira Sewala Brahmacari”

Artinya: Sewala Brahmacari namanya bagi orang yang hanya menikah satu kali, tidak menikah lagi. Bila mendapat halangan salah satu meninggal, maka ia tidak menikah lagi hingga ajal menjemputnya.

Kresna Brahmacari atau Tresna Brahmacari berarti seseorang diizinkan menikah lebih dari satu kali dengan batas maksimal empat kali. Hal ini dilakukan dengan ketentuan istri pertamanya tidak dapat melahirkan satupun keturunan, tidak dapat berperan sebagai seorang istri (misalnya sakit keras), dan telah mengizinkan untuk melakukan pernikahan yang kedua. Brahmacari ini tercantum dalam penggalan Slokantara 1, yaitu: “…. Kresna Brahmacari ialah orang yang menikah paling banyak empat kali, dan tidak lagi. Siapakah yang dipakai contoh dalam hal ini? Tidak lain ialah Sang Hyang Rudra yang mempunyai empat dewi, yaitu Dewi Uma, Dewi Gangga, Dewi Gauri, dan Dewi Durga. Empat dewi yang sebenarnya hanyalah empat aspek dari satu, inilah yang ditiru oleh yang menjalankan Kresna Brahmacari

 

Tuntunan (bukan anjuran) menikah lagi atau Poligami

Manawa Dhrmasastra IX.80: “madyapa sadhu vrtta ca pratikula ca ya bhavet, vyadhita vyadhivettavya himsra rthaghni ca sarvada”  artinya wanita yang minum alkohol, bertabiat buruk, suka menentang, berpenyakit, penipu atau menyianyiakan, pada setiap saat ia dapat diganti dengan istri yang lain.

Penjelasan: Secara logika, seorang istri yang suka mabuk minuman keras, bertabiat buruk juga menjadi penipu maka menyalahi etikanya sebagai seorang istri yang memiliki kewajiban yang seharusnya menjaga keluarga serta menjadi teladan dalam keluarga. Seorang istri yang menyianyiakan keluarga maka juga melanggar sumpahnya sebagai seorang istri yang diucapkan saat upacara pernikahan. Dan sloka ini memberikan penjelasan bahwa istri seperti itu akan membawa kehancuran bagi keluarga, oleh karena itu tidak salah jika istri seperti itu ditinggalkan dan digantikan dengan yang lain (menikah lagi). Dan secara tersirat, mungkin hal kebalikannya juga berlaku jika suami yang salah. 

Manawa Dharmasastra IX.81: “bandhastame dhivedyabde dasame tu mrtapraja, ekadase strijanani sadyas tva priyavadini” artinya wanita yang tidak berketurunan dapat diganti setelah delapan tahun, ia yang anaknya semua meninggal dalam sepuluh tahun, ia yang hanya mempunyai seorang anak perempuan saja dalam waktu sebelas tahun; tetapi wanita yang suka bertengkar tidak menunggu waktu lagi.

Penjelasan: Keluarga yang ideal adalah keluarga yang memiliki keturunan, karena salah satu tujuan perkawinan adalah untuk melanjutkan keturunan. Jika sebuah keluarga tidak memiliki keturunan maka dikatakan belum sempurna sebagai sebuah keluarga. Karena itulah menurut sloka ini seorang istri yang tidak bisa memberikan keturunan setelah delapan tahun ia boleh digantikan (secara tersirat suami boleh menikah lagi dengan wanita lain yang bisa memberikan keturunan). Jika dalam keluarga itu anak-anaknya meninggal semua dan dalam sepuluh tahun berikutnya istri tidak bisa memberikan keturunan lagi maka ia juga boleh digantikan. Dan bagi keluarga yang hanya mempunyai seorang anak perempuan saja maka dalam waktu sebelas tahun istri juga boleh digantikan. Jaman dahulu anak laki-laki sangat didambakan karena diharapkan jika seorang suami meninggal maka anak laki-laki inilah yang diharapkan menjadi tumpuan. Namun jaman sekarang pun seorang anak perempuan juga tangguh-tangguh meski tidak ada saudara laki-laki.

Manawa Dharmasastra IX.82: “ya rogini syat tu hita sampanna caiva silatah, sanujnapyadhi vettvya navamanya ca karhicit” artinya tetapi istri yang sakit, baik terhadap suaminya, bertingkah laku yang bajik, dapat diganti hanya dengan persetujuannya dan tidak boleh dihina.

Penjelasan: Seorang istri yang karena penyakit tidak bisa memberikan keturunan, perilakunya bajik dan tetap bertanggungjawab terhadap kewajibannya sehari-hari dalam keluarga, maka suami hanya boleh menikah lagi dengan maksud untuk mendapatkan keturunan hanya jika istri memberikan persetujuan terhadap maksudnya.  

Hindu menganut azas monogami, akan tetapi tidak menyalahkan poligami. Tidak ada satupun mantra atau sloka Veda yang menyalahkan atau melarang sepenuhnya poligami. Sudah jelas banyak sloka yang menganjurkan bahwa suami istri harus setia selamanya. Namun jika karena sebuah alasan yang sangat mendasar, maka berpoligami pun tidak dilarang. Namun itu pun bukan sebuah anjuran, akan tetapi sebatas tuntunan.

Misalnya jika seorang istri tidak bisa memberikan keturunan oleh karena suatu penyakit atau kemandulan atau kelainan dalam sistem reproduksinya, dari fakta ini sama sekali tidak ada anjuran seorang suami untuk berpoligami agar mendapatkan keturunan, akan tetapi jika memang ingin berpoligami pun juga tidak salah dan ada tuntunannya seperti Manawa Dharmasastra IX.82 yaitu dengan persetujuan istrinya. Jadi tentang berpoligami yang ada adalah tuntunan atau panduan, bukan anjuran. 

 

Poliandri?

 "Naste mrte pravrajite klive ca patite patau, pancasvapatsu narinam patiranyo vidhiyate" 

(Parasara Dharmasastra)


Terjemahan:
"Seorang wanita bersuami boleh mengambil seorang suami yang kedua dalam 5 keadaan yang mendesak berikut ini, yaitu: bila suaminya yang pertama selalu berbuat semena-mena, mati, menjadi pertapa, kehilangan kejantanan atau turun derajatnya"


Penjelasan:
Jadi, seorang istri boleh berpoliandri dengan ketentuan misalkan pada zaman dahulu suami pergi bertapa sehingga tidak jelas kapan kembalinya bahkan biasanya suaminya tidak pernah kembali dari bertapa. kemudian jika suaminya sudah meninggal tentunya dalam hal ini istri boleh menikah lagi, kemudian karena misalkan (maaf), suaminya impoten atau Gay, sehingga istri boleh mengambil suami yang kedua sebab berkaitan dengan biologis, siapa yang kelak menafkahi istri secara biologis bila (maaf) suaminya impoten dan atau Gay? tentunya jika demikian keadaannya, maka  istri diizinkan mengambil suami yang kedua. Jadi ini adalah tuntunan bagi seorang istri yang menghadapi fakta hidup seperti itu, sloka ini hanya tuntunan, bukan anjuran.

Kisah Drupadi yang bersuamikan 5 orang yaitu Panca Pandawa tidak bisa dijadikan rujukan atau pembenaran bahwa seorang wanita dengan mudah boleh poliandri (bersuami lebih dari satu). Krisna sendiri mengatakan bahwa itu melanggar etika dharma, begitu pula Maharesi Vyasa mengatakan hal yang sama bahwa itu bertentangan dengan kebenaran.

Jadi Pandawa diberi nasihat oleh ibunya yaitu Kunti bahwa jika salah satu mendapat sesuatu maka harus saling berbagai dengan saudaranya yang lain. Dan pada saat itu ibu Kunti sedang melakukan puja saat para Pandawa datang membawa Drupadi dari hasil memenangkan sayembara. Secara khusus memang Arjuna lah yang membawa Drupadi. Saat ibu Kunti hampir selesai melakukan puja Arjuna mengatakan bahwa dia datang membawa oleh-oleh untuk ibunya. Dan ibu Kunti tanpa menoleh ke arah Pandawa dan masih fokus ke arca Dewa Siwa berkata bahwa jika salah satu mendapat sesuatu maka harus berbagi kepada lainnya juga. Semua Pandawa tersentak kaget dengan perintah ibunya karena yang dimaksudkan Arjuna sebagai oleh-oleh adalah Drupadi sebagai menantu yang dimenangkan dari sayembara. Saat Kunti menoleh ke arah Pandawa dia juga kaget bukan main, karena sama sekali tidak menyangka bahwa yang dimaksud Arjuna adalah Drupadi. Namun karena ibu Kunti mengatakan itu di depan arca Mahadewa maka itu dianggap sebagai sabda orang tua yang harus dilaksanakan. Dan Kunti pun tidak bisa menarik perkataannya karena dia ucapkan saat dihadapan Mahadewa, andai Kunti menarik perkataan itu maka itu sebuah karma buruk baginya, dan para Pandawa tidak mau ibunya akan menderita. Andai Drupadi dikembalikan ke ayahnya Drupada maka itu sebuah penghinaan dan pelecehan bagi Drupada dan Drupadi. Andai hanya Arjuna yang menikahi Drupadi yang notabene melanggar sabda ibunya, bahwa itu harus dibagi maka hukumnya bagi Yudistira, Bima, Nakula dan Sadewa harus tidak menikah seumur hidup dan menjadi pertapa. Dan jika itu terjadi maka tujuan besar dari Pandawa untuk menegakkan dharma di Hastinapura akan gagal. Akhirnya satu-satunya solusi yaitu sabda Kunti tetap dilaksanakan dengan cara Drupadi dinikahi kelima Pandawa meski itu mengorbankan harga diri Pandawa dan Drupadi di masyarakat demi tujuan yang lebih besar yaitu mengembalikan tatanan Dharma di Hastinapura. Mereka menerima dengan lapang dada celaan atau hinaan dari para Kurawa ataupun masyarakat bahwa wanita bersuami lima itu sebuah dosa besar. Keputusan Pandawa untuk menikahi Drupadi seorang, juga keputusan Drupadi untuk mau dinikahi lima pandawa tidak terlepas dari tuntunan Shri Krisna dan Maharesi Vyasa.

Jadi pernikahan kelima Pandawa dengan Drupadi tidak bisa dijadikan rujukan jaman kapan pun bahwa seorang wanita normal boleh menikahi lima laki-laki.      

 Bocah Angon

Aguswi

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...