Beranda

Senin, 02 Juli 2018

Dalam Hindu Tidak Ada Ritual Yang Sesat


Pemujaan dalam Hindu yang memakai media arca (patung yang sudah disakralkan) bukan berarti bahwa umat Hindu adalah penganut ajaran yang sesat, penyembah berhala, atau juga Hindu adalah pemuja setan. Sama sekali tidak benar. Pemujaan melalui media simbol berbagai atribut dewa dan dewi dalam suatu pura bagi Hindu, simbol tersebut adalah wujud-Nya yang disebut Saguna Brahman (terpikirkan). Yang berarti mewujudkan Tuhan melalui media seperti Arca, patung dewa, gambar atau lukisan dewa, batu dan lain-lain. Ini dimaksudkan agar kita mudah berkonsentrasi beserta membayangkan wujud Tuhan bagi yang baru belajar atau menjadi Hindu tahap dasar.

Bagi umat Hindu yang sudah tidak memerlukan simbol-simbol sebagai media dalam pemujaan atau yang tingkat spiritualnya sudah tinggi dan memuja tanpa memerlukan sarana simbol, itu disebut wujud Nirguna Brahman (tak terpikirkan).


Bhagavadgita IV.11 yang menyatakan:
“ye yathaa maam prapadyante
  tams tathaiva bhajaamy aham
  mama vartmaanuvartante
  manusyaah paartha sarvasah”

Jalan manapun yang ditempuh seseorang mendekati-Ku, Aku terima, melalui banyak jalan manusia mengikuti jalan-Ku, wahai Arjuna.

Selanjutnya Bhagavadgita VII.21 juga menyatakan:
“yo-yo yaam-yaam tanum bhaktah
  sraddhayaarcitum icchati
  tasya-tasyaa calaam sraddhaam
  taam eva vidadhaamy aham”

Apapun bentuk pemujaan yang ingin dilakukan oleh para bhakta dengan penuh keyakinan, Aku menjadikan bentuk keyakinannya itu menjadi mantap.

Apa yang dijelaskan Bhagavadgita diatas memberikan pilihan cara/jalan kepada para bhakta untuk memujaNya dan Dia akan selalu menerimanya.

Simbol yang dipakai sarana media pemujaan itu bukanlah sekedar simbol sebagai materi belaka melainkan simbol yang sudah melalui proses sakralisasi sehingga simbol tersebut tampak hidup, suci, sakral, dan keramat. Konsep Hindu yang mewujudkan Tuhan yang tidak berwujud agar terasa lebih dekat dengan pemujaNya sehingga terkesan memanusiakan-Nya (menganggap-Nya sebagai teman, sahabat, ibu, orang tua, dll) inilah konsep pemujaan Tuhan melalui wujudNya yang Saguna Brahman. Oleh karena mempersonifikasikan dengan wujud maka tidaklah salah jika sebuah simbol sakral-Nya misal Arca diberikan busana, dimandikan, diberi makan atau sesajen; dan itulah ungkapan bhakti dari para bhakta-Nya.

Hindu itu universal yang bersedia menerima perbedaan. Hindu di Nusantara ini sangat beragam ada Hindu etnis Bali, etnis Jawa, etnis Dayak, dll; yang semuanya tata cara pemujannya sangat beragam, antara satu dengan lainnya tidak sama namun memiliki muatan hakikat atau esensi yang sama. Ada beberapa sekte dalam Hindu di Nusantara ini maupun di India, namun itu bukan berarti Hindu mengalami perpecahan. Sekte-sekte itu hanyalah tata cara dalam pemujaan Hyang Tunggal.

Tidak sedikit ulasan tentang agama Hindu yang terkesan memojokkan,  melecehkan dan menghina umat Hindu. Misalnya ulasan yang mengatakan bahwa Hindu adalah agama primitif, Hindu agama bumi, dll. Pertanyaannya adalah mengapa pelecehan seperti itu terjadi kepada umat Hindu? Dimana letak kelemahan kita sebagai umat Hindu sehingga orang dengan mudah bias melecehkan begitu saja.

Setahu penulis, adat di Bali seperti menghukum orang yang manak salah atau melahirkan anak buncing, sudah lama ditiadakan. Begitu juga dengan adat Mesatia atau seorang istri yang terjun ke dalam kobaran api tempat jenazah suaminya, itupun juga sudah ditiadakan.

Lantas, bagaimana opini umat Hindu tentang ajaran sesat? Apakah ada ajaran-ajaran dalam Hindu yang menganjurkan untuk mencelakai orang lain? Saya yakin tidak ada. Tidak seperti para teroris yang atas nama klaim kebenaran mutlak dalam keyakinannya membolehkan membunuh orang lain karena dianggap sesat. Bukankah keyakinan para teroris ini yang justru sesat?

Ada juga yang mengatakan bahwa dalam Weda ada juga ajaran Black Magic seperti dalam Atharwaweda. Kitab Atharwaweda bukanlah kitab sihir, black magic atau sejenisnya. Itu adalah kitab yang berisi mantra-mantra atau doa-doa untuk keperluan sehari-hari, misal doa agar selamat dijalan, doa agar selalu sehat, doa agar selalu sukses dalam setiap pekerjaan, doa agar mendapat ketenangan, doa agar umur panjang, dsb.

Dalam Hindu ada ungkapan suci Wasudewa Kutumbakam yang artinya semua mahluk di dunia adalah saudara. Bahkan Hindu memandang bahwa orang hina dan binatang sekalipun adalah sama, sebagaimana dinyatakan dalam Bhagavadgita V.18:

“vidyaa vinaya sampanne
  braahmane gavi hastini
  suni caiva svapaake ca
  panditaah sama darsinah”

Orang bijaksana melihat semuanya sama, baik dalam melihat brahmana budiman nan rendah hati maupun seekor sapi, gajah, dan anjing ataupun orang yang rendah sekalipun.

Segehan, Sesajen Untuk Setan?

Singkat cerita di sebuah sekolah Katolik ada seorang murid Hindu yang bersekolah di sana. Suatu ketika ada kegiatan makan bersama antara murid bersama gurunya. Mereka berdoa secara agama Katolik. Selesai makan, rupanya Ibu guru ingin tahu dan bertanyalah dia pada murid Hindu itu "Dalam Hindu apakah ada doa makan?" Murid Hindu tersebut diam tak bisa menjawab. Sementara temannya malah mengejek. "Bukan doa, Bu. Tapi ibunya memberi sesajen dulu untuk setan-setan". Sampai dirumahnya, si murid Hindu menceritakan pada ayahnya dengan setengah menggugat. "Kenapa sih tak ada doa makan dalam agama Hindu?" Lalu ayahnya menjawab seraya mengambil buku kumpulan doa-doa dalam Hindu. "Nak, siapa bilang tidak ada? Ini adalah doa makan. Om Anugraha Amertadi Sanjiwani Ya Namah Swaha. Yang artinya: Oh Hyang Widhi semoga makanan ini suci dan memberikan penghidupan kepada hamba lahir dan bhatin.

Lalu anak tersebut kembali bertanya "Kenapa ibu sehabis memasak selalu memberikan sesajen (segehan)? Benarkah sesajen itu untuk setan? Ayahnya lalu menjawab "Nak, itu  sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan. Dan itu bukanlah sesajen untuk setan. Karena itu merupakan cara dan tradisi umat Hindu dalam mengekspresikan ucapkan syukurnya setelah selesai memasak.

AGUS WIDODO
(Satriyo Jawa)
Bogor – Jawa Barat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...