Pemujaan dalam Hindu yang memakai media arca (patung yang sudah
disakralkan) bukan
berarti bahwa umat Hindu adalah penganut ajaran yang
sesat, penyembah berhala, atau juga Hindu adalah pemuja setan. Sama sekali tidak benar. Pemujaan melalui media simbol berbagai atribut dewa
dan dewi dalam suatu pura bagi Hindu, simbol tersebut adalah wujud-Nya yang disebut Saguna Brahman (terpikirkan). Yang berarti mewujudkan
Tuhan
melalui media seperti Arca, patung dewa, gambar
atau lukisan dewa, batu dan lain-lain. Ini dimaksudkan agar kita mudah berkonsentrasi beserta membayangkan wujud Tuhan
bagi yang baru belajar atau menjadi Hindu tahap
dasar.
Bagi umat
Hindu yang sudah tidak memerlukan simbol-simbol sebagai media dalam pemujaan atau yang tingkat
spiritualnya sudah tinggi dan memuja tanpa memerlukan
sarana simbol, itu disebut wujud Nirguna Brahman (tak terpikirkan).
Bhagavadgita
IV.11 yang menyatakan:
“ye yathaa maam prapadyante
tams tathaiva bhajaamy
aham
mama vartmaanuvartante
manusyaah paartha
sarvasah”
Jalan manapun yang ditempuh seseorang mendekati-Ku, Aku terima,
melalui banyak jalan manusia mengikuti jalan-Ku, wahai Arjuna.
Selanjutnya
Bhagavadgita VII.21 juga menyatakan:
“yo-yo yaam-yaam tanum bhaktah
sraddhayaarcitum icchati
tasya-tasyaa calaam
sraddhaam
taam eva vidadhaamy aham”
Apapun bentuk pemujaan yang ingin dilakukan oleh para bhakta
dengan penuh keyakinan, Aku menjadikan bentuk keyakinannya itu menjadi mantap.
Apa yang dijelaskan Bhagavadgita diatas memberikan pilihan cara/jalan kepada para bhakta untuk memujaNya dan Dia akan selalu
menerimanya.
Simbol yang dipakai sarana media pemujaan
itu bukanlah
sekedar simbol sebagai materi belaka melainkan simbol yang
sudah melalui proses sakralisasi sehingga simbol tersebut
tampak hidup, suci, sakral, dan keramat.
Konsep Hindu
yang mewujudkan Tuhan yang tidak berwujud agar terasa lebih dekat dengan
pemujaNya sehingga terkesan memanusiakan-Nya (menganggap-Nya sebagai teman,
sahabat, ibu, orang tua, dll) inilah konsep pemujaan Tuhan melalui wujudNya
yang Saguna Brahman. Oleh karena mempersonifikasikan dengan wujud maka tidaklah salah jika sebuah
simbol sakral-Nya misal Arca diberikan busana, dimandikan, diberi
makan atau sesajen; dan itulah ungkapan bhakti dari para bhakta-Nya.
Hindu
itu universal yang bersedia menerima perbedaan. Hindu di
Nusantara ini sangat beragam ada Hindu etnis Bali, etnis Jawa, etnis Dayak, dll; yang semuanya
tata cara pemujannya sangat beragam, antara satu dengan lainnya tidak sama
namun memiliki muatan hakikat atau esensi yang sama. Ada beberapa sekte dalam Hindu di Nusantara ini maupun di India, namun itu
bukan berarti Hindu mengalami perpecahan. Sekte-sekte itu hanyalah tata cara dalam pemujaan Hyang Tunggal.
Tidak sedikit ulasan tentang agama Hindu yang terkesan memojokkan, melecehkan dan menghina umat Hindu.
Misalnya ulasan yang mengatakan bahwa Hindu adalah agama
primitif, Hindu agama bumi, dll. Pertanyaannya adalah mengapa pelecehan seperti itu terjadi kepada
umat Hindu? Dimana letak kelemahan kita sebagai umat Hindu sehingga orang
dengan mudah bias melecehkan begitu saja.
Setahu penulis, adat di Bali seperti menghukum orang yang manak salah atau melahirkan
anak buncing, sudah lama ditiadakan. Begitu juga
dengan adat Mesatia atau seorang istri yang terjun
ke dalam kobaran api tempat jenazah suaminya, itupun juga sudah
ditiadakan.
Lantas, bagaimana
opini umat Hindu tentang ajaran sesat? Apakah ada ajaran-ajaran dalam Hindu yang
menganjurkan untuk mencelakai orang lain? Saya yakin tidak ada. Tidak seperti para
teroris yang atas nama klaim kebenaran mutlak dalam keyakinannya membolehkan
membunuh orang lain karena dianggap sesat. Bukankah keyakinan para teroris ini
yang justru sesat?
Ada juga yang mengatakan bahwa dalam Weda ada juga ajaran Black
Magic seperti dalam Atharwaweda. Kitab Atharwaweda bukanlah kitab sihir, black magic
atau sejenisnya. Itu adalah kitab yang berisi mantra-mantra atau doa-doa untuk keperluan
sehari-hari, misal doa agar selamat dijalan, doa agar selalu sehat, doa agar
selalu sukses dalam setiap pekerjaan, doa agar mendapat ketenangan, doa agar
umur panjang, dsb.
Dalam Hindu ada ungkapan suci Wasudewa Kutumbakam yang artinya semua
mahluk di dunia adalah saudara. Bahkan Hindu memandang bahwa orang hina dan
binatang sekalipun adalah sama, sebagaimana dinyatakan dalam Bhagavadgita V.18:
“vidyaa vinaya sampanne
braahmane gavi hastini
suni caiva svapaake ca
panditaah sama darsinah”
Orang bijaksana melihat semuanya
sama, baik dalam melihat brahmana budiman nan rendah hati maupun seekor sapi,
gajah, dan anjing ataupun orang yang rendah sekalipun.
Segehan, Sesajen
Untuk Setan?
Singkat cerita di sebuah sekolah Katolik ada seorang murid
Hindu yang bersekolah di sana. Suatu ketika ada kegiatan makan bersama antara murid bersama gurunya.
Mereka berdoa secara agama Katolik. Selesai makan, rupanya Ibu guru ingin tahu dan bertanyalah
dia pada
murid Hindu itu "Dalam Hindu apakah ada doa makan?"
Murid Hindu tersebut diam tak bisa menjawab. Sementara temannya malah mengejek.
"Bukan doa, Bu. Tapi ibunya memberi sesajen dulu untuk setan-setan".
Sampai dirumahnya, si murid Hindu menceritakan pada ayahnya dengan
setengah menggugat. "Kenapa sih tak ada doa makan dalam agama Hindu?"
Lalu ayahnya menjawab seraya mengambil buku kumpulan doa-doa
dalam Hindu. "Nak, siapa bilang tidak ada? Ini adalah doa
makan. Om Anugraha Amertadi Sanjiwani Ya Namah Swaha. Yang artinya:
Oh Hyang Widhi semoga makanan ini suci dan memberikan penghidupan
kepada hamba lahir
dan bhatin”.
Lalu anak tersebut
kembali bertanya "Kenapa ibu sehabis memasak selalu memberikan
sesajen (segehan)? Benarkah sesajen itu untuk setan? Ayahnya
lalu menjawab "Nak, itu sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan. Dan itu bukanlah sesajen untuk setan.
Karena itu merupakan cara dan tradisi umat Hindu dalam mengekspresikan ucapkan syukurnya setelah selesai memasak.
AGUS WIDODO
(Satriyo Jawa)
Bogor – Jawa Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar