Hal yang paling utama dalam beragama menurut Hindu adalah
kesadaran diri pribadi masing-masing dengan segala keyakinannya karena Hindu
lebih mendasarkan ajarannya pada cinta kasih kepada setiap orang, persaudaraan,
dan saling menghargai dalam kesetaraan bagi semua makhluk, tanpa dilandasi
kebencian dan kekerasan. Agama Hindu tidak pernah
mengajarkan kepada umatnya untuk melakukan kegiatan beragama yang dilandasi
oleh rasa ketakutan yang berlebihan baik takut akan berbagai ancaman hukuman,
takut Tuhan akan marah apabila dianggap kurang dalam menghaturkan persembahan
atau ketakutan-ketakutan lainnya.
Harus kita akui bahwa dalam kenyataannya
pilihan agama tidak sepenuhnya diawali berdasarkan kesadaran diri untuk menentukan
pilihan dari berbagai alternatif yang ada namun lebih dominan diperoleh dari
ketururnan/orang tua sehingga memiliki konsekwensi logis hanya memahami ajaran
agama yang telah ditentukan sejak lahir dan tidak pernah memiliki pemahaman
tentang ajaran agama lain sebagai pembanding. Kondisi ini bisa jadi berpotensi
menimbulkan militansi dan fanatisme agama yang berlebihan atau dapat pula
menimbulkan kelatahan ritual yang acapkali tanpa pemahaman tentang kedalaman maknanya
karena melaksanakan ritual yajna hanya mengikuti
warisan turun temurun, kemudian dihantui ketakutan karena bersembunyi dibalik kata
“nak mule keto“.
Beryajna
Dengan Lascarya
Dasar dan tujuan pelaksanaan yajna dalam
agama Hindu yang lahir dari konsep Tri
Rna atau tiga hutang yang antara lain adalah bahwa
kita berhutang
kepada Tuhan yang telah memberikan kehidupan kepada kita, kita berhutang kepada para Rsi atau para
guru yang telah memberikan kita pengetahuan, dan kita telah berhutang kepada para leluhur (orang tua, kakek nenek, buyut, atau pun para sesepuh dalam keluarga)
karena melalui mereka kita lahir dan dibesarkan. Dan hutang-hutang ini wajib
kita bayar dengan pelaksanaan yajna. Konsep Tri Rna ini acapkali
menjadi bias bila dibandingkan dengan makna yajna yang
berarti pemujaan, persembahan atau korban suci yang tulus ikhlas sebagai
ungkapan rasa bhakti. Konsep membayar hutang tidak semestinya
semata-mata dimaknai sebagai hutang piutang seperti yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari yang biasanya diikuti dengan bunga hutang bahkan dalam
tekanan debt collector.
Mungkin kita seringkali mendengar
anggapan miring dari orang lain
yang mengatakan bahwa orang Hindu senang menghamburkan uang hanya untuk
melaksanakan ritual keagamaan yang bahkan ada yang
sampai harus berhutang atau menjual tanah atau harta bendanya hanya karena
ketakutan atau hanya sekadar gengsi untuk memuaskan harga diri belaka tanpa
kedalaman makna spiritual. Pendapat ini bisa jadi ada
benarnya jika tingkat pemahaman dan kesadaran diri
tentang pelaksanaan yajna lebih banyak hanya mengedepankan
ukuran-ukuran yang dangkal tanpa kedalaman spiritual. Ritual yang dilaksanakan
acapkali hanya berhenti dipermukaan saja sebagai kewajiban untuk membayar
hutang tanpa diikuti spirit persembahan bhakti yang seharusnya melandasi setiap
pelaksanaan yajna.
Tidak ada sastra suci manapun dalam Agama
Hindu yang mengajarkan kepada umatnya untuk
melaksanakan yajna dengan beban yang memberatkan, ataupun yang bahkan mengarahkan umatnya untuk menjadi miskin
karena terbebani oleh pelaksanaan yajna yang
berlebihan. Semua itu tidak ada dalam konsep Agama Hindu. Melakukan yajna adalah didasari dengan lascarya (tulus ikhlas), bukan dengan ketakutan karena sesungguhnya Tuhan
sebagai pencipta semua isi Jagad Raya dalam pustaka Weda manapun tidak ada yang
menyatakan bahwa Dia akan menagih hutang atas semua jasa-Nya
atau menjadi marah dan menjatuhkan hukuman karena
persembahan yang dilaksanakan dianggap kurang. Sejatinya seberapapun banyaknya
persembahan yajna yang kita lakukan seumur hidup itu tidak akan pernah setara atau dikatakan mampu melunasi hutang atau
mengembalikan apa yang telah dianugrahkan-Nya
kepada kita, dan kita hanya berusaha
dengan
pengorbanan dan bhakti yang tulus.
Sloka dalam Bhagawadgita IX.26 : “Siapapun
dengan kesucian hati dan ketulusan mempersembahkan sehelai daun, sebiji buah,
setangkai bunga dan setetes air
wahai Partha, maka Aku (Tuhan ) terima“. Jadi ketika kita
bisa memahami dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa ukuran dalam
pelaksanaan yajna adalah kualitas bukan kuantitas, lalu kenapa
masih banyak yang melaksanakan yajna hanya
karena takut atau gengsi?
Menjadikan setiap yajna yang kita laksanakan sehari-hari
sebagai yajna yang Satwika (yajna yang pelaksanaannya didasarkan pada
pustaka suci Weda) harus diupayakan dengan mengedepankan sentuhan
nilai spiritual dan bukan sekedar
sentuhan materialistik belaka. Beryajna juga
sebaiknya tidak berdasarkan gengsi yakni memaksakan diri untuk melaksanakan yajna yang mewah
dan besar-besaran (yajna yang Rajasika) hanya untuk
memuaskan rasa angkuh dan ego diri sendiri agar dipandang hebat oleh tetangga
dan lingkungan, namun harus dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sangat ironis sekali jika seseorang beryajna
dengan cara berhutang kepada tetangga atau sampai
menjual tanah. Tidak dogma yang mengatakan bahwa Tuhan,
para dewa-dewi, para Rsi dan para leluhur mengeluh
atau membedakan nilai persembahan berdasarkan tingkatan Nista, Madya dan Utama. Apapun tingkatannya jika itu dilaksanakan
dengan tanpa pamrih dan didasarkan pada petunjuk-petunjuk Weda maka itu
menjadi yajna yang utama (satwika).
Kita harus berani melakukan evaluasi terhadap
pelaksanaan yajna khususnya dalam melaksanakan ritual
keagamaan yang terkesan membebani atau memberatkan
agar pelaksanaan yajna sampai pada tujuannya yang sejati dan
tertinggi yaitu memberikan rasa damai dalam jiwa. Mari kita
bebaskan diri dari belenggu ketakutan-ketakutan dalam melaksanakan yajna yang
bersembunyi dalam ungkapan “nak mula keto”, sudah waktunya kita cerdas
dalam beragama menekankan pada pemahaman yang
lebih mendalam tentang makna ritual yang dilaksanakan melalui diskusi yang sehat
dan mencerahkan bathin, bukan diskusi yang mau menang sendiri tanpa argumentasi
yang cerdas sehingga kedepan pelaksanaan yajna benar-benar
dilandasi lascarya, bukan tersandera
oleh ketakutan atau sekadar gengsi.
Oleh:
AGUS WIDODO
(Satriyo Jawa)
Bogor - Jawa Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar