Beranda

Kamis, 19 Juli 2018

KITA ADALAH APA YANG KITA TEMUI


Lingkungan sangat mempengaruhi perilaku, kata-kata dan tindakan kita seperti layaknya yang kita makan.

Kita semua pasti sudah tidak asing dengan ungkapan “Kita adalah apa yang kita makan”. Pandangan Hindu terhadap hal ini adalah bahwa jenis makanan yang berbeda yang kita konsumsi mempunyai pengaruh yang sangat signifikan pada kondisi pikiran dan emosi kita. Sebagai contoh; memakan daging, yang dikenal sebagai makanan yang tamasik, akan mengarahkan kita ke kesadaran yang lebih rendah dan akan terikat dengan rasa ketakutan, iri dan penyesalan yang selalu mengikuti. Mengkonsumsi makanan pedas yang terlalu banyak atau makanan rajasik, dapat menyebabkan aktivitas fisik dan intelektual yang terlalu bersemangat. Pada sisi lain, makanan yang murni atau sattvik – seperti buah-buahan segar dan sayuran yang tumbuh di atas tanah – membantu mengembangkan intuisi atau jiwa kita. Untuk perkembangan spiritual yang maksimal, yang terbaik adalah banyak memakan makanan yang sattvik, mengurangi memakan makanan yang rajasik dan menghindari makanan yang tamasik. Chandogya Upanisad 7.26.2 mengatakan: “Ketika makanan yang dimakan itu murni, pikiran juga menjadi murni, Ketika pikiran menjadi murni, ingatan menjadi kuat. Dan ketika seseorang mempunyai sebuah ingatan yang kuat, seluruh ikatan yang mengikatnya di dunia material ini akan hilang.”
Perluasan dari gagasan ini “Kita adalah apa yang kita makan” dengan mengacu bahwa teman atau kawan atau rekan kita juga sangat mempengaruhi kondisi pikiran dan emosi kita – oleh karena itulah kita sebut “Kita adalah apa yang kita temui”. Ada dua buah syair, “Seperti air yang berubah menurut kondisi tanah dimana ia mengalir, begitu juga seseorang terpengaruh oleh karakter dengan apa ia terkait.” “Bahkan seorang manusia yang sempurna, yang memiliki pemikiran yang penuh dengan kebaikan, oleh karena dipengaruhi oleh teman-temannya yang baik hati.”
Tindakan, kata-kata, tingkat kesadaran dan perilaku kita terhadap kehidupan sangat dipengaruhi oleh lingkungan kita, selain dengan makanan yang kita makan. Oleh karena itu, sangat penting untuk hanya berhubungan dengan orang-orang yang baik, religious, dan orang-orang yang berkesadaran tinggi. Kemungkinan sulit untuk menjalankan sadhana jika kita berjuang sendirian. Kita memerlukan pertemanan dengan orang lain untuk memperkuat jalan sadhana tersebut, terutama selama masa-masa yang sulit dalam kehidupan kita. Sebuah kelompok membantu seorang individu dan individu membantu sebuah kelompok.”
Tentu, kita harus memilih dengan bijaksana, oleh karena pertemanan juga bisa mempengaruhi kita secara negatif. Ini adalah sebuah cerita ilustrasi. Seorang remaja memulai tahun pertamanya di sebuah sekolah menengah dan mempunyai teman baru yang mempunyai sebuah kebiasaan bersumpah. Remaja tersebut sebelumnya tidak pernah bersumpah, tetapi oleh karena dia sering menghabiskan waktu dengan teman barunya itu, dia secara perlahan mengikuti kebiasaan kata-kata teman barunya itu.
Pada suatu saat, ketika hubungan yang religious sangat penting selama sekolah di sebuah universitas, terutama bagi seorang siswa yang tinggal jauh dari rumah. Pengaruh negatif yang sangat nyata datang dari teman yang lebih menyukai pesta daripada berusaha untuk belajar. Kurang terlihat namun sangat mengikis, pengaruh datang dari pengajar yang sangat atheis atau merendahkan Hindu. Pengajar yang seperti itu bisa menanamkan kebiasaan yang negative dan menyebabkan rendahnya keyakinan.
Bagaimana mencari pertemanan religious yang cocok? Para mahasiswa semestinya tidak menutup diri terhadap kelompok-kelompok spiritual yang bisa dihadiri secara teratur. Bagi para mahasiswa sangat dianjurkan untuk sering mengunjungi tempat suci setiap minggu. Jika tempat suci terlalu jauh untuk dikunjungi setiap minggunya, maka setidaknya hadir setiap ada acara sembahyang bersama. Bergabung dengan kelompok mahasiswa Hindu membuka kesempatan untuk berinteraksi dengan yang sebaya yang sama-sama tertarik dengan kegiatan spiritual. Bisa bergabung dengan kelompok Yoga atau Meditasi.


 Memperkuat Aura Anda

Disamping pentingnya untuk mengatur hubungan pertemanan yang murni, terkadang sangat perlu juga untuk berinteraksi dengan orang-orang yang sangat materialistik atau bahkan dengan orang-orang yang hedonistik. Tantangannya adalah mengendalikan emosi orang-orang seperti itu yang merasuki dan mempengaruhi diri sendiri. Dengan begitu kita akan merasakan suasana hati dan emosi dan mungkin kita bisa mengetahui dengan sebenarnya diri mereka.
Pada saat itu sesungguhnya diri kita mengalami perubahan aura, aura menjadi sangat buruk oleh karena terpengaruh oleh aura orang lain tersebut. Tidak mempunyai prana yang cukup untuk melawan gangguan itu. Aura adalah energi halus yang bercahaya yang memancar menyelubungi tubuh manusia. Warna aura berubah secara konstan menurut pasang surut dan aliran kondisi kesadaran, pemikiran, suasana hati dan emosi kita. Ada latihan-latihan yang dapat kita lakukan untuk memperkuat aura kita yaitu meditasi atau pun bentuk-bentuk pemujaan yang lain. Seperti menghadiri persembahyangan bersama adalah salah satu cara yang cukup kuat untuk memurnikan aura kita. Untuk mempertahankan kesucian, kemurnian, sangat penting untuk selalu terhubung dengan hal-hal yang baik, penuh spiritualitas. Hindari kebodohan dan bedakan antara kesadaran yang tinggi dan kesadaran yang rendah.   


Oleh: Agus Widodo
(Satriyo Jawa)
Bogor - Jawa Barat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...