Lingkungan
sangat mempengaruhi perilaku, kata-kata dan tindakan kita seperti layaknya yang
kita makan.
Kita semua pasti sudah tidak
asing dengan ungkapan “Kita adalah apa yang kita makan”. Pandangan Hindu
terhadap hal ini adalah bahwa jenis makanan yang berbeda yang kita konsumsi
mempunyai pengaruh yang sangat signifikan pada kondisi pikiran dan emosi kita.
Sebagai contoh; memakan daging, yang dikenal sebagai makanan yang tamasik, akan
mengarahkan kita ke kesadaran yang lebih rendah dan akan terikat dengan rasa ketakutan,
iri dan penyesalan yang selalu mengikuti. Mengkonsumsi makanan pedas yang
terlalu banyak atau makanan rajasik, dapat menyebabkan aktivitas fisik dan
intelektual yang terlalu bersemangat. Pada sisi lain, makanan yang murni atau
sattvik – seperti buah-buahan segar dan sayuran yang tumbuh di atas tanah –
membantu mengembangkan intuisi atau jiwa kita. Untuk perkembangan spiritual
yang maksimal, yang terbaik adalah banyak memakan makanan yang sattvik, mengurangi
memakan makanan yang rajasik dan menghindari makanan yang tamasik. Chandogya
Upanisad 7.26.2 mengatakan: “Ketika makanan yang dimakan itu murni, pikiran
juga menjadi murni, Ketika pikiran menjadi murni, ingatan menjadi kuat. Dan
ketika seseorang mempunyai sebuah ingatan yang kuat, seluruh ikatan yang
mengikatnya di dunia material ini akan hilang.”
Perluasan dari gagasan ini “Kita
adalah apa yang kita makan” dengan mengacu bahwa teman atau kawan atau rekan
kita juga sangat mempengaruhi kondisi pikiran dan emosi kita – oleh karena
itulah kita sebut “Kita adalah apa yang kita temui”. Ada dua buah syair,
“Seperti air yang berubah menurut kondisi tanah dimana ia mengalir, begitu juga
seseorang terpengaruh oleh karakter dengan apa ia terkait.” “Bahkan seorang
manusia yang sempurna, yang memiliki pemikiran yang penuh dengan kebaikan, oleh
karena dipengaruhi oleh teman-temannya yang baik hati.”
Tindakan, kata-kata, tingkat
kesadaran dan perilaku kita terhadap kehidupan sangat dipengaruhi oleh
lingkungan kita, selain dengan makanan yang kita makan. Oleh karena itu, sangat
penting untuk hanya berhubungan dengan orang-orang yang baik, religious, dan
orang-orang yang berkesadaran tinggi. Kemungkinan sulit untuk menjalankan
sadhana jika kita berjuang sendirian. Kita memerlukan pertemanan dengan orang
lain untuk memperkuat jalan sadhana tersebut, terutama selama masa-masa yang
sulit dalam kehidupan kita. Sebuah kelompok membantu seorang individu dan
individu membantu sebuah kelompok.”
Tentu, kita harus memilih dengan
bijaksana, oleh karena pertemanan juga bisa mempengaruhi kita secara negatif.
Ini adalah sebuah cerita ilustrasi. Seorang remaja memulai tahun pertamanya di
sebuah sekolah menengah dan mempunyai teman baru yang mempunyai sebuah
kebiasaan bersumpah. Remaja tersebut sebelumnya tidak pernah bersumpah, tetapi
oleh karena dia sering menghabiskan waktu dengan teman barunya itu, dia secara
perlahan mengikuti kebiasaan kata-kata teman barunya itu.
Pada suatu saat, ketika hubungan
yang religious sangat penting selama sekolah di sebuah universitas, terutama
bagi seorang siswa yang tinggal jauh dari rumah. Pengaruh negatif yang sangat
nyata datang dari teman yang lebih menyukai pesta daripada berusaha untuk
belajar. Kurang terlihat namun sangat mengikis, pengaruh datang dari pengajar
yang sangat atheis atau merendahkan Hindu. Pengajar yang seperti itu bisa
menanamkan kebiasaan yang negative dan menyebabkan rendahnya keyakinan.
Bagaimana mencari pertemanan
religious yang cocok? Para mahasiswa semestinya tidak menutup diri terhadap
kelompok-kelompok spiritual yang bisa dihadiri secara teratur. Bagi para
mahasiswa sangat dianjurkan untuk sering mengunjungi tempat suci setiap minggu.
Jika tempat suci terlalu jauh untuk dikunjungi setiap minggunya, maka
setidaknya hadir setiap ada acara sembahyang bersama. Bergabung dengan kelompok
mahasiswa Hindu membuka kesempatan untuk berinteraksi dengan yang sebaya yang
sama-sama tertarik dengan kegiatan spiritual. Bisa bergabung dengan kelompok
Yoga atau Meditasi.
Disamping pentingnya untuk
mengatur hubungan pertemanan yang murni, terkadang sangat perlu juga untuk
berinteraksi dengan orang-orang yang sangat materialistik atau bahkan dengan
orang-orang yang hedonistik. Tantangannya adalah mengendalikan emosi
orang-orang seperti itu yang merasuki dan mempengaruhi diri sendiri. Dengan
begitu kita akan merasakan suasana hati dan emosi dan mungkin kita bisa mengetahui
dengan sebenarnya diri mereka.
Pada saat itu sesungguhnya diri
kita mengalami perubahan aura, aura menjadi sangat buruk oleh karena
terpengaruh oleh aura orang lain tersebut. Tidak mempunyai prana yang cukup
untuk melawan gangguan itu. Aura adalah energi halus yang bercahaya yang
memancar menyelubungi tubuh manusia. Warna aura berubah secara konstan menurut
pasang surut dan aliran kondisi kesadaran, pemikiran, suasana hati dan emosi
kita. Ada latihan-latihan yang dapat kita lakukan untuk memperkuat aura kita
yaitu meditasi atau pun bentuk-bentuk pemujaan yang lain. Seperti menghadiri
persembahyangan bersama adalah salah satu cara yang cukup kuat untuk memurnikan
aura kita. Untuk mempertahankan kesucian, kemurnian, sangat penting untuk
selalu terhubung dengan hal-hal yang baik, penuh spiritualitas. Hindari
kebodohan dan bedakan antara kesadaran yang tinggi dan kesadaran yang rendah.
Oleh: Agus Widodo
(Satriyo Jawa)
Bogor - Jawa Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar