Judulnya memang tendensius, tetapi kalau
alam sudah menggeliat dan mendukung, maka itu pun terjadi. Manusia boleh saja
berkomentar, tetapi hasil akhirlah yang menentukan. Weda adalah penyangga alam semesta,
ia juga adalah alam dan isinya. Maka tidak aneh kalau yang berperan dalam
“penataan” alam ini adalah pengetahuan Weda itu sendiri. Jadi, siapapun itu
yang ingin berperan dan berbuat untuk ikut serta dalam menata kembali alam
semesta ini maka dia tidak akan pernah berhasil apabila mengabaikan Weda itu.
Kalau toh ini hanya angan-angan, maka
tidak banyak orang yang berangan-angan seperti ini. Ya, memang orang yang hanya mencari selamat seperti itu. Karena
berangan-angan pun memerlukan keberanian, harus punya nyali. Karena harus
berjuang keras untuk merealisasikan angan-angannya, dan siap untuk dicemoh dan
dicibir oleh orang-orang di sekitarnya. Dan orang bebas dan sah-sah saja
mencibir karena memang bukan misinya.
Dikaitkan dengan judul tulisan ini, maka
Weda pun memiliki peran besar dalam menata kembali bumi Nusantara ini. Dan ini
sesungguhnya sudah dimulai hampir seribu tahun lalu, ketika Dharmawangsa Teguh
dari Medang Kahuripan membuat terobosan dengan proyek “angjawaken byasa mata,”
sebuah upaya untuk menterjemahkan ajaran-ajaran Maharsi Wyasa ke dalam bahasa
Jawa. Tentu yang diterjemahkan adalah Weda atau turunannya, seperti Itihasa dan
Purana. Proyek itu pasti dikaitkan dengan upaya penataan masyarakat pada masa
itu. Dari angjawaken inilah maka
kemudian di tanah Jawa ini terdapat beragam Weda, atau Weda-Weda lokal yang
relevan dengan perikehidupan masyarakat Jawa yang kemudian membentuk tradisi
dan budaya yang khas, yang secara lisan dikenal dengan sebutan kearifan budaya
lokal (culture and local wisdom),
yang karena kekhasannya kemudian menjadi sebuah keunggulan lokal (local genius).
Tentu, beragamnya kearifan budaya lokal
ini tetap bersumber dari Weda. Namun demikian dalam memperkenalkan ajaran Weda
yang di angjawaken ini pastilah terjadi
proses akulturasi dengan nilai-nilai peradaban lokal asli Jawa yang bernilai
tinggi dan sudah ada sejak ribuan tahun sebelumnya. Walaupun, ajaran Weda boleh
dikatakan merupakan ajaran import
yang dibawa oleh orang asing, yang konon berasal dari Bharatawarsa (India),
namun dalam proses akulturasi itu tidak terjadi insiden menang-menangan. Artinya, tidak ada yang dimenangkan atau
dikalahkan. Karena nyatanya, nilai-nilai peradaban lokal tidak pernah
dihancurkan, malahan semakin diperkuat. Diperkuat berarti nilai-nilai peradaban
lokal tersebut dicarikan cantolan atau dibuktikan bahwa ternyata referensinya
ada dalam ajaran Weda. Buktinya, bisa dilihat dari berbagai peninggalan yang
berumur ribuan tahun tetap tidak terusik. Jadi, boleh dikatakan bahwa peninggalan-peninggalan
maupun ajaran-ajaran lokal yang sudah ada malahan semakin lestari setelah
mendapatkan sentuhan ajaran Weda. Tidak pernah tercatat dalam sejarah, tentang
datangnya ajaran Weda ke tanah Jawa melalui pertumpahan darah. Sehingga,
walaupun Hindu termasuk salah satu agama import,
namun justru bisa menyatu dengan peradaban lokal, karena tidak pernah memaksa
keyakinan lokal untuk berubah mengikuti keyakinan Hindu. Dengan kata lain
terbukti bahwa Hindu tidak ekspansif dan memaksakan kehendak, karena yakin
bahwa kebenaran itu bersifat universal. Agama Hindu di Nusantara sangat toleran
dengan keyakinan-keyakinan lainnya.
Seperti yang ditegaskan oleh Mansur
Hidayat (2013), dalam bukunya, “Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru,” dengan
mengatakan bahwa: “Masuknya agama dan
ajaran Hindu-Buddha di Nusantara pada umumnya tidak membuat kepercayaan
terhadap leluhur ini menjadi luntur dan hilang. Namun justru semakin memperkuat
kepercayaan asli dengan ditambah nuansa dan variasi yang lebih baru. Demikian
juga yang terjadi di Lamajang, unsur-unsur animisme dan dinamisme ini tetap
bertahan dan menemukan langkah persamaan dengan ajaran Hindu-Buddha sehingga
terjadi akulturasi yang sangat kental. Perkembangan pengetahuan dengan masuknya
ajaran Hindu-Buddha ini menyebabkan kemajuan masyarakat yang luar biasa dalam
bidang alat-alat teknologi maupun pengetahuan bahasa di mana bahasa Sansekerta
dengan bahasa pengantarnya yaitu pengetahuan tulis menulis yang nantinya
menjadi awal dari periodisasi sejarah, baik di Nusantara pada umumnya, maupun
Lamajang pada khususnya. Perkembangan penduduk maupun masyarakat yang ada di
Lamajang bertambah pesat seiring dengan masuknya agama Hindu dan Buddha yang
menyebabkan masyarakat Lamajang awal mulainya membentuk stratifikasi sosial dan
pembagian kerja yang lebih jelas.”……. (hal 2-3).
Yoseph
Iskandar (1997) dalam bukunya, “Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa)
menyatakan: “Para pendatang dari India
itu, ada juga yang mengajarkan agama yang dianutnya dan menyiarkan kepada
penduduk di desa-desa. Mereka mengajarkan pujaan yang disebut Dewa Iswara,
yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa yang disebut Trimurtiswara. Juga
masih banyak dewa lain yang dipujanya selain itu. Walaupun demikian, mereka
tidak saling bertentangan dalam menyebarkan agamanya, karena mereka berhasil
menemukan cara yang tepat. Penduduk disini keturunan kaum pendatang juga. Sejak
dahulu mereka memuja roh, api, bulan, matahari dan sebagainya. Kaum pendatang
baru dari India Selatan itu telah menguasai berbagai ilmu karena mereka telah
mempelajari di negeri asalnya. Mereka tidak menghalangi pemujaan yang dianut
penduduk disini. Hanya nama pujaannya yang diganti dan disesuaikan dengan adat
penduduk disini. Dengan cara demikian, mereka tidak menemui kesulitan untuk
mempelajarinya. Demikianlah pemujaan api disamakan dengan pemujaan Dewa Agni,
pemujaan matahari disamakan dengan pemujaan Dewa Aditya atau Dewa Surya dan
seterusnya. Adapun pemujaan roh besar disamakan dengan pemujaan Hyang Wisnu,
Hyang Siwa, dan Hyang Brahma yang disebut pemujaan tiga dewa atau Trimurti.”…(hal
36).
Selanjutnya, pada hal 45-46 dikatakan
bahwa: “Pada masa pemerintahan Dewawarman
VIII di Kerajaan Salakanagara, kehidupan penduduk makmur sentosa. Ia sangat
memajukan kehidupan keagamaan. Di antara penduduk ada yang memuja Wisnu, namun
jumlahnya tidak seberapa. Ada yang memuja Siwa, ada yang memuja Ganesa, dan ada
pula yang memuja Siwa-Wisnu. Yang terbanyak pemeluknya adalah agama Ganesa atau
Ganapati. Sang raja membuat candi dan patung Siwa Mahadewa dengan hiasan bulan
sabit pada kepalanya (mardhacandrakapala) dan patung Ganesa (Ghayanadawa). Juga
patung Wisnu untuk para pemujanya.”
Bermunculannya kerajaan-kerajaan Hindu
yang silih berganti dengan masing-masing peradaban yang dibangunnya tetap
bernuansa Hindu, seperti yang tercatat dalam sejarah. Kerajaan Salakanagara di
Jawa Barat (130-362 M = 232 tahun), Tarumanagara di Jawa Barat (358-669 M = 311
tahun), Sunda dan Galuh di Jawa Barat (670-1482 M = 812 tahun), Sunda Pajajaran
(1482-1579 M = 97 tahun), Mataram Hindu (Medang Kamulan) di Jawa Tengah
(695-929 M = 234 tahun), Medang Kauripan di Jawa Timur (929-1042 M = 113
tahun), Kadiri di Jawa Timur (1049-1222 M = 173 tahun), Singasari di Jawa Timur
(1182-1292 M = 110 tahun), Majapahit (1293-1518 M = 225 tahun) (Yoseph
Iskandar, 1997).
Kalau dihitung, sejak tahun 130 – 1579
Masehi, maka ternyata selama 1449 tahun peradaban Nusantara dibangun oleh
nuansa Hindu-Buddha, artinya Weda dalam perwujudannya dalam praktek kehinduan
sangat mewarnai budaya masyarakat Nusantara. Dari peradaban yang sederhana,
dari waktu ke waktu nuansa Weda meresapi jiwa-jiwa penghuni Nusantara sehingga
terbentuk menjadi sebuah bangsa yang besar dan terhormat dan pada puncaknya
muncul sebuah kerajaan besar, Majapahit Raya. Terlepas dari berbagai masalah
atau pergolakan internal yang terjadi pada masanya; Majapahit tetap diakui
sebagai sebuah simbol kejayaan Nusantara.
Namun kemudian, karena karma bumi akibat
kesombongan penghuninya, kebesaran itu menyurut tajam, berbagai konflik,
perebutan kekuasaan mulai menghempaskan segala kebesaran yang dengan susah
payah dibangun oleh para pendahulunya. Surutnya Majapahit secara otomatis
menyurutkan aplikasi Weda di negeri ini. Dan nuansanya pun mulai sirna secara
perlahan. Belum lagi adanya upaya-upaya untuk menghancurkan berbagai
catatan-catatan penting; hanya karena rasa takut berlebihan. Sementara yang
sudah meresap dalam sanubari masyarakat dan tidak mungkin dihancurkan secara
fisik, kemudian beberapa kata kuncul dirubah dengan istilah-istilah dari negeri
padang pasir, sehingga esensi aslinya hilang, dan berubah seakan itu bukan
ajaran Weda.
Perubahan ini sangat merugikan karena
ajaran-ajaran yang tadinya sangat bermanfaat untuk kemakmuran dan kesejahteraan
tidak lagi dirasakan manfaatnya. Misalnya, ujub untuk kebutuhan para petani
sejak menabur bibit hingga memanen padi juga dirubah. Karena dirubah, maka
ujub-ujub ini tidak manjur lagi. Khususnya, yang sangat banyak hilang adalah
pedoman-pedoman yang dibutuhkan dalam berhubungan ataupun penghormatan kepada
leluhur. Dampaknya, hubungan niskala dengan leluhur pun terputus, padahal
penghormatan atau pemujaan kepada leluhur atau nenek moyang merupakan peradaban
tua dan sangat diyakini manfaatnya; ini sudah ada sebelum Hindu masuk ke
Nusantara.
Sirnanya atau surutnya ajaran Weda di
masyarakat Nusantara, khususnya di Jawa dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit
tidak membuat negeri ini menjadi lebih makmur, walaupun begitu kaya alamnya,
tetapi malahan jatuh ke tangan penjajah serakah yang miskin, selama lebih dari
350 tahun. Perjuangan tanpa henti para pahlawan akhirnya menghasilkan sejarah
baru dengan merdekanya negeri ini pada tahun 1945. Namun, kembali sejarah
berulang. Keserakahan dan kesombongan kelompok-kelompok tertentu membuat bumi
ini bergolak dengan terjadinya pembantaian pada peristiwa G30S PKI tahun 1965.
Belum sempat berbenah setelah “kenyang” dijajah Belanda dan Jepang, negeri ini
terpuruk kembali kepada perpecahan sesama saudara. Dan ini tidak mudah, karena
peristiwa berdarah tahun 1965 itu membuat semakin bertambah dan beratnya
karma-karma buruk bangsa ini. Karma buruk semakin menumpuk. Pembunuhan sesama
saudara, khususnya di Bali yang banyak memakan korban jiwa, dan hanya
menimbulkan dendam dan membuat taksu serta karisma Bali hancur lebur.
Betapa sedihnya ibu pertiwi menyaksikan
putra-putranya saling membunuh, dan terseok-seok membenahi kembali negeri ini, namun
lalu muncul harapan. Tetapi ternyata itu tidak lama, 32 tahun kemudian krisis
moneter membuat bangsa ini kembali menangis. Tahun 1997, penderitaan itu muncul
lagi dan hingga kini kita tetap belum mampu mengembalikan karisma sebagai
bangsa besar seperti 500 tahun lalu. Dan hampir selama 500 tahun ini Weda hanya
membesarkan Bali, tidak Nusantara; karena baik peluang maupun kesadaran belum
muncul. Walaupun jelas sekali bahwa ada sesuatu yang menjadi kekuatan-kekuatan
utama yang merupakan manifestasi ajaran Weda, yang diaplikasikan dalam mengelola
negeri ini.
Seperti, bendera merah putih yang
merupakan salah satu panji-panji Majapahit, yaitu simbol gula kelapa; yang
mendampingi panji utama Majapahit yaitu Surya Majapahit. Selain itu, ada burung
Garuda simbol kemerdekaan (kebebasan) yang mencengkeram erat sasanti bhinneka tunggal ika; yang kesemuanya
terwujud dalam sebuah pedoman hidup bangsa yaitu Pancasila. Setiap sila dari
Pancasila pun tidak lepas dari sumbernya, yaitu Weda. Selama 500 tahun ini
memang terlihat ada kemajuan, namun tidak sebanding dengan pengorbanan dan
penderitaan bangsa ini. Artinya, kemajuan itu tidak ada artinya apabila melihat
seperti apa kekayaan bumi Nusantara ini.
Oleh karena itu, saatnya kembali
menyebarluaskan ajaran Weda di negeri ini. Karakter negeri ini membutuhkan
ajaran Weda sebagai landasan ideal maupun operasional dalam membangun kembali
karisma Nusantara yang sudah hampir terjungkal ini. Dengan berbagai pengalaman
masa lalu, kita harus yakin bahwa bangsa ini akan muncul dan diperhitungkan
oleh bangsa-bangsa lain dengan kekuatan Weda. Dan hanya Weda yang mampu
melakukan itu.
Kemunculan Catur Weda dan Trisula serta
bendera merah putih, umbul-umbul merah putih dan Panji Surya Majapahit yang
mewarnai Upacara Wedar Hayuning Penataran; 17 November 2013 lalu merupakan
simbolisasi bahwa nilai-nilai ajaran Weda yang pernah membuat bangsa ini besar
dan terhormat akan kembali, dimulai di tanah Jawa. Syaratnya, umat Hindu atau
orang-orang yang sadar akan swadharmanya terhadap negeri ini harus berani
muncul untuk berjuang demi Nusantara. Saatnya, Weda kembali membangun karisma
Nusantara. Ayo!
Oleh:
Agus Widodo
(Satriyo Jawa)
Bogor - Jawa Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar