Beranda

Kamis, 12 Juli 2018

WEDA MEMBANGUN KEMBALI NUSANTARA

      Judulnya memang tendensius, tetapi kalau alam sudah menggeliat dan mendukung, maka itu pun terjadi. Manusia boleh saja berkomentar, tetapi hasil akhirlah yang menentukan. Weda adalah penyangga alam semesta, ia juga adalah alam dan isinya. Maka tidak aneh kalau yang berperan dalam “penataan” alam ini adalah pengetahuan Weda itu sendiri. Jadi, siapapun itu yang ingin berperan dan berbuat untuk ikut serta dalam menata kembali alam semesta ini maka dia tidak akan pernah berhasil apabila mengabaikan Weda itu. Kalau toh ini hanya angan-angan, maka tidak banyak orang yang berangan-angan seperti ini. Ya, memang orang yang hanya mencari selamat seperti itu. Karena berangan-angan pun memerlukan keberanian, harus punya nyali. Karena harus berjuang keras untuk merealisasikan angan-angannya, dan siap untuk dicemoh dan dicibir oleh orang-orang di sekitarnya. Dan orang bebas dan sah-sah saja mencibir karena memang bukan misinya.
      Dikaitkan dengan judul tulisan ini, maka Weda pun memiliki peran besar dalam menata kembali bumi Nusantara ini. Dan ini sesungguhnya sudah dimulai hampir seribu tahun lalu, ketika Dharmawangsa Teguh dari Medang Kahuripan membuat terobosan dengan proyek “angjawaken byasa mata,” sebuah upaya untuk menterjemahkan ajaran-ajaran Maharsi Wyasa ke dalam bahasa Jawa. Tentu yang diterjemahkan adalah Weda atau turunannya, seperti Itihasa dan Purana. Proyek itu pasti dikaitkan dengan upaya penataan masyarakat pada masa itu. Dari angjawaken inilah maka kemudian di tanah Jawa ini terdapat beragam Weda, atau Weda-Weda lokal yang relevan dengan perikehidupan masyarakat Jawa yang kemudian membentuk tradisi dan budaya yang khas, yang secara lisan dikenal dengan sebutan kearifan budaya lokal (culture and local wisdom), yang karena kekhasannya kemudian menjadi sebuah keunggulan lokal (local genius).
      Tentu, beragamnya kearifan budaya lokal ini tetap bersumber dari Weda. Namun demikian dalam memperkenalkan ajaran Weda yang di angjawaken ini pastilah terjadi proses akulturasi dengan nilai-nilai peradaban lokal asli Jawa yang bernilai tinggi dan sudah ada sejak ribuan tahun sebelumnya. Walaupun, ajaran Weda boleh dikatakan merupakan ajaran import yang dibawa oleh orang asing, yang konon berasal dari Bharatawarsa (India), namun dalam proses akulturasi itu tidak terjadi insiden menang-menangan. Artinya, tidak ada yang dimenangkan atau dikalahkan. Karena nyatanya, nilai-nilai peradaban lokal tidak pernah dihancurkan, malahan semakin diperkuat. Diperkuat berarti nilai-nilai peradaban lokal tersebut dicarikan cantolan atau dibuktikan bahwa ternyata referensinya ada dalam ajaran Weda. Buktinya, bisa dilihat dari berbagai peninggalan yang berumur ribuan tahun tetap tidak terusik. Jadi, boleh dikatakan bahwa peninggalan-peninggalan maupun ajaran-ajaran lokal yang sudah ada malahan semakin lestari setelah mendapatkan sentuhan ajaran Weda. Tidak pernah tercatat dalam sejarah, tentang datangnya ajaran Weda ke tanah Jawa melalui pertumpahan darah. Sehingga, walaupun Hindu termasuk salah satu agama import, namun justru bisa menyatu dengan peradaban lokal, karena tidak pernah memaksa keyakinan lokal untuk berubah mengikuti keyakinan Hindu. Dengan kata lain terbukti bahwa Hindu tidak ekspansif dan memaksakan kehendak, karena yakin bahwa kebenaran itu bersifat universal. Agama Hindu di Nusantara sangat toleran dengan keyakinan-keyakinan lainnya.
      Seperti yang ditegaskan oleh Mansur Hidayat (2013), dalam bukunya, “Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru,” dengan mengatakan bahwa: “Masuknya agama dan ajaran Hindu-Buddha di Nusantara pada umumnya tidak membuat kepercayaan terhadap leluhur ini menjadi luntur dan hilang. Namun justru semakin memperkuat kepercayaan asli dengan ditambah nuansa dan variasi yang lebih baru. Demikian juga yang terjadi di Lamajang, unsur-unsur animisme dan dinamisme ini tetap bertahan dan menemukan langkah persamaan dengan ajaran Hindu-Buddha sehingga terjadi akulturasi yang sangat kental. Perkembangan pengetahuan dengan masuknya ajaran Hindu-Buddha ini menyebabkan kemajuan masyarakat yang luar biasa dalam bidang alat-alat teknologi maupun pengetahuan bahasa di mana bahasa Sansekerta dengan bahasa pengantarnya yaitu pengetahuan tulis menulis yang nantinya menjadi awal dari periodisasi sejarah, baik di Nusantara pada umumnya, maupun Lamajang pada khususnya. Perkembangan penduduk maupun masyarakat yang ada di Lamajang bertambah pesat seiring dengan masuknya agama Hindu dan Buddha yang menyebabkan masyarakat Lamajang awal mulainya membentuk stratifikasi sosial dan pembagian kerja yang lebih jelas.”……. (hal 2-3).

         Yoseph Iskandar (1997) dalam bukunya, “Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa) menyatakan: “Para pendatang dari India itu, ada juga yang mengajarkan agama yang dianutnya dan menyiarkan kepada penduduk di desa-desa. Mereka mengajarkan pujaan yang disebut Dewa Iswara, yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa yang disebut Trimurtiswara. Juga masih banyak dewa lain yang dipujanya selain itu. Walaupun demikian, mereka tidak saling bertentangan dalam menyebarkan agamanya, karena mereka berhasil menemukan cara yang tepat. Penduduk disini keturunan kaum pendatang juga. Sejak dahulu mereka memuja roh, api, bulan, matahari dan sebagainya. Kaum pendatang baru dari India Selatan itu telah menguasai berbagai ilmu karena mereka telah mempelajari di negeri asalnya. Mereka tidak menghalangi pemujaan yang dianut penduduk disini. Hanya nama pujaannya yang diganti dan disesuaikan dengan adat penduduk disini. Dengan cara demikian, mereka tidak menemui kesulitan untuk mempelajarinya. Demikianlah pemujaan api disamakan dengan pemujaan Dewa Agni, pemujaan matahari disamakan dengan pemujaan Dewa Aditya atau Dewa Surya dan seterusnya. Adapun pemujaan roh besar disamakan dengan pemujaan Hyang Wisnu, Hyang Siwa, dan Hyang Brahma yang disebut pemujaan tiga dewa atau Trimurti.”…(hal 36).
      Selanjutnya, pada hal 45-46 dikatakan bahwa: “Pada masa pemerintahan Dewawarman VIII di Kerajaan Salakanagara, kehidupan penduduk makmur sentosa. Ia sangat memajukan kehidupan keagamaan. Di antara penduduk ada yang memuja Wisnu, namun jumlahnya tidak seberapa. Ada yang memuja Siwa, ada yang memuja Ganesa, dan ada pula yang memuja Siwa-Wisnu. Yang terbanyak pemeluknya adalah agama Ganesa atau Ganapati. Sang raja membuat candi dan patung Siwa Mahadewa dengan hiasan bulan sabit pada kepalanya (mardhacandrakapala) dan patung Ganesa (Ghayanadawa). Juga patung Wisnu untuk para pemujanya.”
      Bermunculannya kerajaan-kerajaan Hindu yang silih berganti dengan masing-masing peradaban yang dibangunnya tetap bernuansa Hindu, seperti yang tercatat dalam sejarah. Kerajaan Salakanagara di Jawa Barat (130-362 M = 232 tahun), Tarumanagara di Jawa Barat (358-669 M = 311 tahun), Sunda dan Galuh di Jawa Barat (670-1482 M = 812 tahun), Sunda Pajajaran (1482-1579 M = 97 tahun), Mataram Hindu (Medang Kamulan) di Jawa Tengah (695-929 M = 234 tahun), Medang Kauripan di Jawa Timur (929-1042 M = 113 tahun), Kadiri di Jawa Timur (1049-1222 M = 173 tahun), Singasari di Jawa Timur (1182-1292 M = 110 tahun), Majapahit (1293-1518 M = 225 tahun) (Yoseph Iskandar, 1997).
      Kalau dihitung, sejak tahun 130 – 1579 Masehi, maka ternyata selama 1449 tahun peradaban Nusantara dibangun oleh nuansa Hindu-Buddha, artinya Weda dalam perwujudannya dalam praktek kehinduan sangat mewarnai budaya masyarakat Nusantara. Dari peradaban yang sederhana, dari waktu ke waktu nuansa Weda meresapi jiwa-jiwa penghuni Nusantara sehingga terbentuk menjadi sebuah bangsa yang besar dan terhormat dan pada puncaknya muncul sebuah kerajaan besar, Majapahit Raya. Terlepas dari berbagai masalah atau pergolakan internal yang terjadi pada masanya; Majapahit tetap diakui sebagai sebuah simbol kejayaan Nusantara.
      Namun kemudian, karena karma bumi akibat kesombongan penghuninya, kebesaran itu menyurut tajam, berbagai konflik, perebutan kekuasaan mulai menghempaskan segala kebesaran yang dengan susah payah dibangun oleh para pendahulunya. Surutnya Majapahit secara otomatis menyurutkan aplikasi Weda di negeri ini. Dan nuansanya pun mulai sirna secara perlahan. Belum lagi adanya upaya-upaya untuk menghancurkan berbagai catatan-catatan penting; hanya karena rasa takut berlebihan. Sementara yang sudah meresap dalam sanubari masyarakat dan tidak mungkin dihancurkan secara fisik, kemudian beberapa kata kuncul dirubah dengan istilah-istilah dari negeri padang pasir, sehingga esensi aslinya hilang, dan berubah seakan itu bukan ajaran Weda.
      Perubahan ini sangat merugikan karena ajaran-ajaran yang tadinya sangat bermanfaat untuk kemakmuran dan kesejahteraan tidak lagi dirasakan manfaatnya. Misalnya, ujub untuk kebutuhan para petani sejak menabur bibit hingga memanen padi juga dirubah. Karena dirubah, maka ujub-ujub ini tidak manjur lagi. Khususnya, yang sangat banyak hilang adalah pedoman-pedoman yang dibutuhkan dalam berhubungan ataupun penghormatan kepada leluhur. Dampaknya, hubungan niskala dengan leluhur pun terputus, padahal penghormatan atau pemujaan kepada leluhur atau nenek moyang merupakan peradaban tua dan sangat diyakini manfaatnya; ini sudah ada sebelum Hindu masuk ke Nusantara.
      Sirnanya atau surutnya ajaran Weda di masyarakat Nusantara, khususnya di Jawa dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit tidak membuat negeri ini menjadi lebih makmur, walaupun begitu kaya alamnya, tetapi malahan jatuh ke tangan penjajah serakah yang miskin, selama lebih dari 350 tahun. Perjuangan tanpa henti para pahlawan akhirnya menghasilkan sejarah baru dengan merdekanya negeri ini pada tahun 1945. Namun, kembali sejarah berulang. Keserakahan dan kesombongan kelompok-kelompok tertentu membuat bumi ini bergolak dengan terjadinya pembantaian pada peristiwa G30S PKI tahun 1965. Belum sempat berbenah setelah “kenyang” dijajah Belanda dan Jepang, negeri ini terpuruk kembali kepada perpecahan sesama saudara. Dan ini tidak mudah, karena peristiwa berdarah tahun 1965 itu membuat semakin bertambah dan beratnya karma-karma buruk bangsa ini. Karma buruk semakin menumpuk. Pembunuhan sesama saudara, khususnya di Bali yang banyak memakan korban jiwa, dan hanya menimbulkan dendam dan membuat taksu serta karisma Bali hancur lebur.
      Betapa sedihnya ibu pertiwi menyaksikan putra-putranya saling membunuh, dan terseok-seok membenahi kembali negeri ini, namun lalu muncul harapan. Tetapi ternyata itu tidak lama, 32 tahun kemudian krisis moneter membuat bangsa ini kembali menangis. Tahun 1997, penderitaan itu muncul lagi dan hingga kini kita tetap belum mampu mengembalikan karisma sebagai bangsa besar seperti 500 tahun lalu. Dan hampir selama 500 tahun ini Weda hanya membesarkan Bali, tidak Nusantara; karena baik peluang maupun kesadaran belum muncul. Walaupun jelas sekali bahwa ada sesuatu yang menjadi kekuatan-kekuatan utama yang merupakan manifestasi ajaran Weda, yang diaplikasikan dalam mengelola negeri ini.
      Seperti, bendera merah putih yang merupakan salah satu panji-panji Majapahit, yaitu simbol gula kelapa; yang mendampingi panji utama Majapahit yaitu Surya Majapahit. Selain itu, ada burung Garuda simbol kemerdekaan (kebebasan) yang mencengkeram erat sasanti bhinneka tunggal ika; yang kesemuanya terwujud dalam sebuah pedoman hidup bangsa yaitu Pancasila. Setiap sila dari Pancasila pun tidak lepas dari sumbernya, yaitu Weda. Selama 500 tahun ini memang terlihat ada kemajuan, namun tidak sebanding dengan pengorbanan dan penderitaan bangsa ini. Artinya, kemajuan itu tidak ada artinya apabila melihat seperti apa kekayaan bumi Nusantara ini.  
     Oleh karena itu, saatnya kembali menyebarluaskan ajaran Weda di negeri ini. Karakter negeri ini membutuhkan ajaran Weda sebagai landasan ideal maupun operasional dalam membangun kembali karisma Nusantara yang sudah hampir terjungkal ini. Dengan berbagai pengalaman masa lalu, kita harus yakin bahwa bangsa ini akan muncul dan diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain dengan kekuatan Weda. Dan hanya Weda yang mampu melakukan itu.
      Kemunculan Catur Weda dan Trisula serta bendera merah putih, umbul-umbul merah putih dan Panji Surya Majapahit yang mewarnai Upacara Wedar Hayuning Penataran; 17 November 2013 lalu merupakan simbolisasi bahwa nilai-nilai ajaran Weda yang pernah membuat bangsa ini besar dan terhormat akan kembali, dimulai di tanah Jawa. Syaratnya, umat Hindu atau orang-orang yang sadar akan swadharmanya terhadap negeri ini harus berani muncul untuk berjuang demi Nusantara. Saatnya, Weda kembali membangun karisma Nusantara. Ayo!


Oleh:
Agus Widodo
(Satriyo Jawa)
Bogor - Jawa Barat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...