Beranda

Kamis, 22 April 2021

Pemikiran Burukmu Adalah Musuhmu

 Dan itu akan menciptakan karma buruk bagimu

 Manusia adalah makhluk paling sempurna, oleh karena hanya manusialah yang bisa memperbaiki karmanya sendiri; begitulah penjelasan yang tertuang di dalam Sarasamuccaya. Dan meski menjadi makhluk yang paling berdosa, dengan pedang pengetahuan maka bisa mencapai kebahagiaan yang sejati; begitulah yang dijelaskan oleh Bhagavadgita. Manusia mempunyai pikiran (human mind) yang sebenarnya sungguh hebat dan luar biasa seperti layaknya pikiran semesta (mind cosmic), namun karena human mind tidak murni lagi maka ia menjadi seperti seolah-olah terbatas dan lemah.

Apa saja yang menjadikan pikiran manusia tidak murni lagi? Tentu berbagai pemikiran buruk, pemikiran negatif, pemikiran tentang dirinya yang lemah, tidak percaya diri, pemikiran tentang ego, marah, dan sebagainya. Antara human mind dengan mind cosmic terjadi suatu hubungan yang saling mempengaruhi satu sama lain. Seseorang yang pikirannya lemah apabila berada di suatu tempat yang sakral atau suci, dengan cara-cara tertentu pikirannya akan dikuatkan, dialiri dengan kemurnian atau kesakralan tempat tersebut. Namun sebaliknya bila tempat tersebut memancarkan power negatif yang sangat kuat maka juga akan membuat pikiran seseorang yang lemah akan menjadi lebih melemah hingga pada level-level tertentu. Bahkan bisa mengacaukan pikiran kuat seseorang sekalipun, seperti misalnya sulitnya berkonsentrasi di tempat tersebut, atau berbagai bayangan pengganggu yang terlintas dalam pikiran. Dan pada level-level tertentu human mind-lah yang mempengaruhi mind cosmic, misal seorang atau beberapa orang terlatih yang mempunya pikiran yang kuat, yang murni dan memiliki kemampuan konsentrasi yang tinggi, yang sendiri atau bersama-sama mengucapkan mantra suci di suatu tempat, maka tempat tersebut akan terpengaruh oleh kemurnian dari orang tersebut.

Pemikiran yang baik akan memancarkan gelombang energi (atau frekuensi) yang baik pula dan pemikiran yang buruk akan memancarkan gelombang yang buruk pula. Jadi berhati-hatilah dalam berpikir oleh karena dengan pikiran kita berarti kita mempengaruhi lingkungan yang ada di sekitar kita, kalau pikiran kita dipenuhi dengan pemikiran yang buruk maka sama halnya kita membuang sampah pemikiran/muatan-muatan buruk di atmosfir, dan sudah tentu muatan-muatan buruk itu akan mempengaruhi orang lain pula, dan itu berarti karma buruk bagi kita sendiri. Secara etheric, pemikiran buruk kita telah ikut andil dalam menciptakan kekacauan dunia, dan tentu tidak bisa disangkal bahwa ini menjadi karma buruk bagi kehidupan kita sendiri.

Suatu misal sebuah rumah dimana penghuninya sedang tidak harmonis satu sama lain, maka atmosfir dalam rumah tersebut akan terasa tidak menentu, sederhananya kita akan merasa tidak nyaman bila berada di dalamnya, kita seperti merasa ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu, atau bahkan kepala kita bisa pusing oleh karena pengaruh kuat dari muatan-muatan buruk dalam atmosfir rumah tersebut.

Jadi milikilah selalu pemikiran yang baik, dengan pemikiran yang baik maka pikiran kita akan semakin tangguh tak tergoyahkan dimanapun kita berada. Justru dengan pemikiran baik yang tangguh itu kita bisa pengaruhi atau pancarkan kepada lingkungan kita untuk kebaikan bersama. Dengan pemikiran baik yang tangguh itu pula berarti kita turut serta menjadi Pencipta Harmoni dalam lingkungan kita, dan ini menjadi karma baik yang luar biasa. Dalam situasi yang sekarang ini disaat pandemi mewabah, banyak bencana alam misal banjir tanah longsor dan semuanya membawa korban yang sangat banyak; jangan bertanya dan protes kepada alam mengapa bencana ini terjadi apa kesalahan manusia, tetapi pikirkan apa yang bisa kita berikan kepada alam untuk semua bencana ini. Pikirkan bagaimana agar orang-orang yang stress dan terdampak oleh berbagai bencana tadi menjadi teringankan stresnya, minimal di lingkungan kita masing-masing. Ciptakan Harmoni dengan cara yang kita mampu dan pancarkan Harmoni itu kepada lingkungan kita.

Ingatlah selalu bahwa dunia ini akan selalu memantulkan apapun perilaku penghuninya, jika perilaku penghuninya buruk maka dunia juga akan memberikan keburukan kepada kita. Dan sebaliknya jika kita berperilaku yang baik maka dunia akan memancarkan keharmonian kepada kehidupan kita.

Dalam sastra-sastra kuno diberikan cara-cara bagaimana agar kita mampu menetralisir berbagai pemikiran buruk dalam human mind kita, seperti misalnya ajaran Rsi Patanjali dalam Kitab Yoga Sutra bahwa dengan Yoga manusia bisa memiliki kendali atas pikiranya sendiri, dan berarti pula memiliki kendali atas hidupnya sendiri.

Dalam konsep Sains, frekuensi pun bisa diolah menjadi penetralisir berbagai gelombang/getaran/muatan buruk dalam human mind atau pun mind cosmic sekalipun. Frekuensi bisa diolah dalam bentuk yang applicable untuk kebaikan manusia, misal dalam bentuk musik, atau benda-benda yang berfrekuensi.

Bukti nyata bahwa musik bisa menenangkan pikiran kita bisa kita coba ketika pikiran sedang suntuk lalu dengarkan musik instrumen yang slow dan halus maka pikiran kita akan terbawa oleh alunan musik itu sehingga pikiran kita menjadi rileks dan sedikit-banyak akan membantu pikiran kita menjadi lebih tenang. Saat pikiran kita sedang serius memikirkan dalam-dalam tentang sesuatu lalu diperdengarkan musik keras dengan nada yang tidak karuan maka pikiran akan semakin kacau dan gagal konsentrasi. Ini bukti nyata bahwa frekuensi dalam alunan musik itu mampu mempengaruhi pikiran manusia untuk menjadi lebih tenang atau pun menjadi kacau.

Dalam Sains banyak produk-produk yang diciptakan dan diiklankan di TV atau media sosial yang dibuat dengan desain tertentu dan tambahan bahan-bahan alami yang memancarkan gelombang energi atau frekuensi tertentu yang berpengaruh baik pada tubuh atau pun pikiran manusia. Contoh pusat-pusat Spa yang banyak menggunakan batuan alami yang memancarkan gelombang energi/frekuensi untuk terapi. Dan ini semua ini tidak bisa kita sangkal bahwa frekuensi yang terkandung ataupun dikemas dengan desain tertentu akan membantu kehidupan manusia untuk menuju hidup yang Harmoni, baik Mind, Body and Spirit.

 By Aguswi

Rahayu Sagung Dumadi

Mungkinkah leluhurku yang telah meninggal memberiku penderitaan?

 

Oleh: Aguswi

 

Ini adalah pertanyaan yang sangat sering diajukan umat. Mereka akan selalu mengenang orang-orang terdekat dan tersayangnya yang telah meninggal dan merasa bertanya-tanya mungkinkah permasalahan hidup mereka yang sering mereka derita adalah berakar pada leluhur mereka, sungguh tak terbayangkan bahwa orang-orang yang telah meninggal tersebut akan dengan sengaja menyebabkan permasalahan dalam kehidupan mereka.

Ada beberapa penyebab utama mengapa para leluhur mengganggu keturunan mereka:

1.    Keinginan/hasrat para leluhur yang tidak terpenuhi

2.    Ketidakmampuan untuk bergerak maju dalam perjalanan jiwa mereka ke alam yang seharusnya (alam para pitara) dan mencapai wilayah alam yang lebih tinggi.

 

Ketidaknyamanan (distress) yang disebabkan oleh hasrat/ keinginan yang tidak terpenuhi

Para leluhur mengganggu keturunannya karena mereka memiliki keinginan yang tidak terpenuhi. Hasrat/keinginan tersebut dapat mencakup:

1.     Kemarahan yang ditujukan kepada keturunan yang tidak berprilaku baik. Misalnya antara keturunannya yang cecok masalah warisan, keyakinan yang tidak lebih baik dan bertentangan dengan ajaran leluhurnya, dll.

2.     Leluhur yang memiliki kemelekatan kepada keluarganya dan masih menginginkan perihal urusan keluarga dilakukan dengan cara leluhur tersebut. Misalnya tradisi leluhur yang tidak dilanjutkan oleh keturunannya untuk dipraktekkan dalam lingkungan keluarga.

3.     Leluhur-leluhur yang menderita kecanduan terhadap beberapa hasrat keinginan fisik seperti rokok, obat-obatan, seks, makanan, dll. Leluhur-leluhur tersebut mengambil manfaat dari perhitungan memberi-dan-menerima (akun karma) antara leluhur tersebut dan keturunannya untuk merasuki keturunan tersebut dan dengan demikian dapat memenuhi hasrat keinginan mereka. Dalam hal ini leluhur-leluhur yang telah meninggal lebih memilih mengganggu keturunan mereka dan bukan orang lain yang juga mungkin memiliki perhitungan memberi-dan-menerima dengan mereka. Hal ini disebabkan ikatan hubungan darah merupakan hal yang terkuat antara leluhur dengan keturunannya. Poin ke 3 ini adalah para jiwa-jiwa leluhur yang selama hidup memiliki tingkat kesadaran/spiritualitas yang cukup rendah sehingga saat sudah tidak berbadan fisik-pun masih melekat dengan kebiasaannya saat masih berbadan fisik dan tidak mampu melepaskannya. Karena tingkat kesadarannya yang rendah itu ia masih terikat dengan hukum-hukum bumi; masih merasakan lapar karena itulah muncul hasrat ingin makan, merasa ketagihan dengan aroma rokok, juga kenikmatan akan seks. 

 

Mereka yang meninggal dan hanya memiliki kekuatan spiritual yang sangat sedikit maka perjalanan jiwa mereka akan banyak hambatan, jiwa-jiwa seperti itu akan sering terjebak diantara alam manusia (fisik) dan alam halus dan mereka butuh bantuan dari para keturunannya yang masih hidup untuk bisa bergerak maju ke alam yang lebih tinggi. Jiwa-jiwa mereka mengalami rasa sakit akibat ulah keturunannya, kemelekatannya ataupun akibat karma buruk jiwa itu sendiri dan tidak tahu bagaimana untuk membantu diri mereka sendiri. Oleh karena tingkat kesadaran jiwa mereka yang rendah maka mereka menjadi lemah (dalam sastra disebut preta yaitu jiwa-jiwa leluhur yang lemah) sehingga ada kemungkinan juga jiwa-jiwa yang lemah itu dalam kendali entitas negatif lainnya untuk tindakan-tindakan yang buruk atau jahat. Dalam kondisi kelemahan atau kesaradan yang rendah itu jiwa-jiwa itu pun tidak menyadari bahwa dirinya dalam kendali entitas lainnya dan juga tidak menyadari apakah tindakannya baik atau buruk. Di sisi lain, jiwa-jiwa leluhur yang lemah itu dalam konteks bertahan hidup dan tidak dapat berpikir di luar diri mereka sendiri. Oleh sebab itu, alih-alih membantu keturunannya, justru mereka sendiri yang sebenarnya membutuhkan bantuan.

Para leluhur yang telah meninggal mengalami kebahagiaan ataupun ketidakbahagiaan penuh sesuai dengan buah karma mereka. Leluhur yang tingkat spiritualnya rendah oleh karena banyak mendapatkan hasil karma yang buruk dan sebagai akibatnya mengalami rasa sakit yang besar. Karena mereka sudah terlepas dengan aktivitas duniawi sebagaimana ketika mereka masih hidup di Bumi, maka mereka menjadi luar biasa terfokus dalam mengurangi rasa sakit tersebut atau untuk mengalami beberapa hasrat keinginan duniawi. Mereka pun menggapai keturunan mereka di Bumi untuk melakukan sesuatu bagi mereka. Karena tidak memiliki tubuh fisik, maka mereka tidak perlu tidur dan dapat bekerja dalam menggapai keturunan mereka dengan kumulatif pikiran yang terfokus yang menakjubkan. Fokus pada satu pikiran tersebut yang pada gilirannya akan meningkatkan kemampuan mereka untuk mempengaruhi keturunannya.

Penderitaan atau ketidaknyamanan (distress) yang dialami oleh para leluhur di wilayah alam semesta yang lebih rendah tingkatannya memancar dari diri mereka sebagai frekuensi/getaran tidak nyaman yang kemudian terpancar melintasi berbagai wilayah halus serta wilayah bumi. Karena anggota keluarga atau keturunan mereka memiliki frekuensi yang paling cocok/sesuai, maka merekalah yang dapat menerima frekuensi tersebut paling baik.

Hanya para keturunan yang ada di alam Bumi yang memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu bagi leluhurnya yang telah meninggal. Namun kenyataannya banyak bahwa pada saat ini kebanyakan keturunan tidak cukup berkembang secara spiritual untuk dapat melihat secara halus frekuensi tidak nyaman tersebut, karena itulah para leluhur dengan kemampuannya menggunakan kekuatan energinya untuk menciptakan stress atau permasalahan dalam kehidupan keturunan mereka sehingga keturunan tersebut memperhatikan kebutuhan atau pun memahami maksud para leluhur tersebut. Dalam hal demikian, penderitaan ataupun ketidaknyamanan yang disebabkan oleh para leluhur pada dasarnya merupakan sarana untuk berkomunikasi tentang rasa sakit atau pun ketidaknyamanan para leluhur itu sendiri. Para leluhur mencoba untuk berkomunikasi dengan keturunan mereka dan melakukannya dalam bentuk menciptakan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan keturunan mereka. Luasnya permasalahan yang dapat mereka sebabkan secara proporsional jauh lebih besar dibandingkan dengan kemampuan mereka untuk membantu.

Ketika keturunan mereka mendapatkan bahwa permasalahannya tidak kunjung selesai meskipun setelah usaha terbaik mereka, maka terkadang mereka mencari bimbingan spiritual. Jika bimbingan spiritual yang tepat diperoleh dan dilaksanakan, maka hal tersebut tidak hanya memberikan mereka perlindungan yang diperlukan dari leluhur mereka, tetapi juga memberikan para leluhur dorongan yang diperlukan untuk perjalanan mereka selanjutnya di alam spiritual.

Tingkat penderitaan atau ketidaknyamanan (distress) yang diciptakan oleh para leluhur akan bervariasi tergantung pada sifat dan tingkat pencapaian spiritual dari para leluhur. Seorang leluhur yang baik akan memberikan ketidaknyamanan hanya sebatas untuk membuat keturunannya menjadi sadar. Di sisi lain, seorang leluhur pendendam dapat menyebabkan penderitaan yang luas pada keturunannya. Seorang leluhur yang ingin memenuhi hasrat keinginannya akan mengganggu keturunannya dengan hasrat keinginan yang serupa.

Dalam beberapa kasus, perjalanan jiwa para leluhur terganggu oleh karena ada keturunannya yang masih sangat terikat dan larut dalam kesedihan oleh kematian para leluhurnya. Keturunan tidak bisa mengikhlaskan kematian para leluhurnya sehingga setiap saat selalu dihantui dengan kenangan saat mereka masih hidup, dan seolah menginginkan kehadiran para leluhurnya secara fisik. Kondisi ini bagaikan sebuat tali yang mengikat kuat yang dililitkan keturunan kepada jiwa leluhurnya sehingga menjadi hambatan jiwa leluhurnya untuk terus berjalan ke alam yang lebih tinggi.

Seorang leluhur yang berkeinginan pergi bergerak ke wilayah halus yang lebih tinggi akan membidik keturunan mereka agar melakukan sadhana ritual ataupun spiritual yang bisa membantu para leluhur untuk melanjutkan perjalanan jiwanya ke alam yang lebih tinggi. Doa-doa yang diucapkan oleh para keturunannya untuk para leluhurnya sangat membantu para leluhur tersebut. Ada beberapa tradisi misalnya di Jawa ada Pangentas Panjurung Suksma yang tujuan utamanya adalah membantu (mengentaskan) jiwa para leluhur agar tidak terjebak dalam penderitaan atau ikatan yang menghambat perjalanan jiwa mereka menuju ke alam yang lebih tinggi. Ada sebutan “anak suputra” juga terkait dengan hal ini yaitu anak yang berbhakti dan mampu membebaskan orang tuanya termasuk para leluhurnya dari penderitaan.  Ketika jiwa-jiwa para leluhur sudah sempurna dan memiliki kekuatannya sendiri, memiliki tingkat kesadaran yang tinggi dan mampu memberikan hubungan yang positif kepada para keturunannya maka jiwa-jiwa itu baru bisa disebut “pitara”.

 

Rahayu Sagung Dumadi

Selasa, 02 Maret 2021

Virus Corona Adalah Karma Kolektif Manusia Bumi

 Oleh: Aguswi

Kita semua sudah tahu bagaimana virus corona menyebar dan menginfeksi jutaan manusia di seluruh Bumi ini yang menyebabkan kerugian diberbagai sisi kehidupan bahkan menyebabkan angka kematian meningkat drastis di setiap negara. Ini merupakan peristiwa alam yang sama sekali belum pernah kita hadapi dimasa-masa yang sebelumnya dimana seluruh manusia di Bumi menjadi terdampak pada berbagai sektor kehidupan baik fisik (ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dll) maupun non-fisik (psikologi, spiritual).

Sejak awal penyebaran virus ini sudah dilakukan berbagai cara atau strategi bagaimana agar virus corona ini berhenti menyebar dan menyebabkan pandemi; seperti menjaga jarak, menjaga kebersihan, memakai masker, mengkarantina warga, mengembangkan vaksin, dll. Bahkan para spiritualis baik secara kelompok ataupun pribadi melalukan doa-doa dengan tujuan terhindar dari pandemi ini. Namun ternyata virus corona ini semakin menggila, dengan sangat cepat menyebar dan menginfeksi jutaan manusia Bumi dan menyebabkan jutaan kematian.

 Kita semua setiap hari melewati berbagai fase yang berbeda-beda seperti pagi, siang, malam dan begitu seterusnya. Alam semesta pun melewati banyak siklus berdasarkan roda waktu.

Setiap siklus melewati tahap penciptaan, pemeliharaan, dan penghancuran. Saat kita mendekati masa akhir dari suatu siklus maka polusi spiritual di lingkungan mulai meningkat pesat dan mencapai tingkat tertinggi, yang pada akhirnya menyebabkan kehancuran siklus dan kemunculan siklus baru. Polusi spiritual disebabkan oleh perilaku-perilaku yang rendah yang dimiliki banyak orang di Bumi. Dan apabila itu terus terjadi maka semakin memperburuk degradasi spiritual di lingkungan. Polusi spiritual inilah yang memicu terbentuknya energi negatif di lingkungan kita. Bila banyak penduduk Bumi memiliki perilaku yang rendah maka polusi spiritual yang terjadi akan semakin tinggi dan itu akan membentuk energi negatif tingkat tinggi di seluruh lingkungan Bumi. Dan energi negatif inilah yang memicu materialisasi dari virus dan mempercepat penyebarannya serta menambah kedahsyatan (sifat merugikan) dari virus tersebut.   

Setiap perilaku buruk seseorang sudah pasti mengandung konsekuensi yang buruk biasanya dalam bentuk penderitaan yang harus diterima/dialami oleh orang tersebut dalam kehidupan saat ini atau kehidupan yang akan datang. Hal ini dikenal sebagai karma individual orang tersebut. Sama seperti seorang individu yang memiliki hasil karmanya sendiri, begitu juga dengan wilayah, negara dan keseluruhan umat manusia memiliki hasil karma sesuai dominasi perilaku kebanyakan. Hal inilah yang disebut karma kolektif dari wilayah tertentu beserta penduduknya. Sebagai keluarga, komunitas, bangsa, ataupun sebagai bagian dari keseluruhan umat manusia; memori karma kita saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya. Mungkin secara individu kita tidak melakukan sesuatu, tetapi masyarakat dimana kita menjadi bagiannya melakukan sesuatu itu yang tentu memiliki konsekuensi yang bisa dialami semua anggota masyarakat. Situasi apapun bisa terjadi terhadap kita oleh karena realita sosial atau realita dunia. Ada jutaan situasi dimana manusia bisa meninggal setiap hari oleh karena sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan. Banyak orang menderita dan sakit meski mereka tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang terjadi di sekitar mereka. Namun mereka berada dalam situasi itu, itulah karma mereka.

Banyak orang bertanya seputar karma sebagai “Apakah ini kesalahanku? Aku tidak melakukannya. Lalu mengapa ini terjadi pada diriku?” Karma bukanlah seperti itu, karma adalah sebuah sistem memori. Tanpa memori ini maka tidak akan ada struktur yang berbagai macam. Seluruh struktur dibangun dan secara khusus struktur kehidupan bisa terulang hanya karena ada simpanan memori dalam setiap kehidupan. Masyarakat memiliki memori dan terjadilah sebuah situasi, dunia memiliki memori dan terjadilah sebuah situasi. Dan apapun perilaku yang dilakukan ataupun situasi di sekitar kita maka akan berdampak kepada kita.

Karma kolektif, sebagai contoh sebuah negara yang mayoritas penduduknya adalah orang-orang yang cerdas, menguasai teknologi tinggi dan mewujudkannya pada berbagai produk berteknologi tinggi yang sangat banyak dibutuhkan seluruh manusia, akibatnya perekonomian negara menjadi sangat berkembang dan dampaknya adalah seluruh warga negara tersebut menjadi makmur dan sejahtera. Penduduk yang seluruhnya menderita akibat dari negaranya yang sedang berperang juga adalah contoh dari karma kolektif buruk yang dialami oleh seluruh penduduk negara itu yang disebabkan oleh peperangan yang sedang terjadi meski yang perang adalah militer dari negara itu. Sebuah wilayah yang tertimpa bencana yang dahsyat dengan korban yang sangat banyak, ini juga contoh dari karma kolektif buruk yang harus dialami bagi para korban bencana. Karma buruk masa lalu mereka yang memiliki tingkatan yang sama mengarahkan mereka untuk menempati suatu wilayah yang pada suatu waktu akan menerima karma bersama. Ratusan ribu orang menempati suatu wilayah yang pada suatu waktu terjadi tsunami dan ribuan orang tersebut menjadi korban, tsunami memang disebabkan oleh faktor alam, dan ribuan orang yang menjadi korban bersama adalah faktor karma kolektif yang buruk, dan tsunami menjadi perantara yang diberikan oleh alam bagi ribuan orang itu untuk menerima karma buruknya bersama-sama.  

Secara fisik, kita mengamati bahwa penyebaran virus corona disebabkan karena pergerakan manusia dan kontak dari orang ke orang. Namun ditingkat spiritual, penyebabnya berbeda. Negara-negara akan terpengaruh lebih awal sesuai dengan karma kolektifnya. Semakin banyak karma kolektif merugikan di suatu wilayah, maka semakin besar pula kerentanannya terhadap penyebaran virus corona. Dan juga semakin besar polusi spiritual di suatu daerah, maka semakin rentan orang-orang di daerah itu untuk tertular virus corona. Polusi spiritual dapat meningkat karena sejumlah alasan seperti kurangnya latihan spiritual, keserakahan, materialisme, kekejaman terhadap makhluk hidup, tren dan tradisi yang tidak baik secara spiritual, dll. Saat ini sebagian besar umat manusia tidak siap secara spiritual (karena kurangnya latihan spiritual) dan oleh karena itu mudah terpengaruh oleh peningkatan polusi spiritual ini.

Lalu kapan virus corona ini akan berakhir? Ada suatu aturan kehidupan yang menjadi bagian dari Hukum Alam bahwa segala sesuatu yang diciptakan akan dipertahankan selama beberapa waktu dan kemudian akan dihancurkan. Ini juga berlaku bagi pandemi virus corona yang akan berakhir ketika energi dari entitas negatif yang menciptakannya mulai berkurang dan hancur sama sekali. Perilaku-perilaku baik yang dilakukan seluruh manusia sebagai usaha menghadapi pandemi virus corona akan membentuk suatu kumpulan energi yang kuat dan sedikit-demi sedikit akan mampu mengikis entitas negatif yang berperan dalam menciptakan virus corona ini. Menjaga jarak, menjaga kebersihan, menjaga imunitas tubuh, latihan spiritual; adalah perilaku baik yang bisa dilakukan setiap orang. Para ilmuwan berusaha membuat vaksin ataupun alat-alat antivirus adalah usaha-usaha yang lebih utama dibidang Sains.

Apakah doa membantu mengatasi virus corona? Hal ini sangat bergantung pada dua hal yaitu kekuatan karma yang harus dijalani seseorang dan kekuatan spiritual doanya untuk mengatasi penderitaan. Perlu diketahui bahwa kekuatan spiritual doa berbanding lurus dengan level spiritual seseorang. Agar doa dapat mengatasi karma buruk, maka orang yang berdoa perlu memiliki tingkat spiritual yang tinggi. Dalam kaitannya dengan karma kolektif yang buruk, doa yang diucapkan oleh orang-orang dengan level spiritual rata-rata tidaklah manjur untuk mengatasi penderitaan yang harus dijalani. Doa bersama yang dilakukannya pun juga tidak mampu mengatasi hai ini. Doa tersebut hanyalah sebatas memberikan manfaat  psikologis bagi mereka sendiri yang berdoa.

Paradoksnya adalah mereka yang memiliki level spiritual yang tinggi dan yang doanya mampu membuat perubahan dalam situasi duniawi tidak memanjatkan doa yang duniawi dan menerima apapun yang terjadi sesuai dengan kehendak alam. Namun disisi lain orang-orang dengan level spiritual rata-rata berdoa untuk memperoleh hasil tertentu seperti menghentikan virus corona, akan tetapi mereka tidak memiliki kekuatan spiritual yang diperlukan untuk membuat perubahan dalam karma kolektif yang buruk, khususnya bebas dari pandemi virus corona ini.


Rahayu Sagung Dumadi

AGUSWI

 

 

 

 

 

 

Kamis, 25 Juni 2020

Kita Adalah Lubdaka, Sang Pemburu


Oleh: Agus Widodo

“Diceritakan.....Lubdaka sebagai pemburu yang sedang dalam hutan oleh karena sudah malam maka memutuskan menghentikan perburuan, dan akhirnya harus mencari tempat yang aman dari binatang buas untuk beristirahat, tempat itu adalah diatas pohon; agar dia tidak jatuh maka dia harus menjaga kesadarannya. Andai dia meneruskan untuk terus berburu tanpa mempertimbangkan bahwa hari sudah malam mungkin dia dalam bahaya besar karena situasinya di tengah hutan belantara.”

Tidak ada manusia yang tidak berkeinginan, setiap manusia adalah pemburu (para Lubdaka) bagi objek-objek keinginannya sendiri, berbagai keinginan memenuhi pikiran setiap orang meliputi keinginan yang baik atau pun yang dalam kategori kurang baik atau bahkan yang sangat tidak baik. Para orang suci pun berkeinginan, namun keinginan mereka adalah untuk kepentingan alam semesta; berbeda dengan keinginan orang kebanyakan yang cenderung untuk kepentingan pribadi dan sangat duniawi. Dari berbagai keinginan itulah maka bermanifestasi menjadi ucapan dan tindakan dengan harapan agar keinginan itu terwujud. Keinginan yang baik akan membuahkan sesuatu yang baik, begitu juga sebaliknya keinginan yang kurang baik akan membuahkan hasil yang tidak baik. Untuk itulah (dalam Catur Purusartha) Dharma menjadi bagian yang pertama yang harus dijadikan sebagai pijakan/landasan agar setiap keinginan (Kama) kita adalah keinginan yang baik, yang menunjang untuk membentuk jati diri yang lebih baik.
Jaman sekarang keinginan orang banyak yang berlebihan, dan tidak jarang berbalut yang agamis. Misalnya saja berdana punia yang cukup besar, namun dibalik itu ada keinginan untuk mendapatkan penghormatan atau prestise; akibatnya dana punianya itu menjadi ternoda, menjadi tidak bermanfaat baginya dan justru sebaliknya menciptakan karma buruk baginya. Bagi mereka yang memiliki materi lebih namun bermental pemburu nama besar dan prestise, seringkali mencari momen-momen yang tepat agar dapat menggunakan materinya untuk membeli nama besar dan prestise.
Dalam momen Mahasiwaratri ini, setiap pribadi dari kita hendaknya memanfaatkan saat yang agung ini sebagai saat melatih diri untuk mengendalikan setiap keinginan kita (layaknya Lubdaka yang memutuskan untuk menghentikan perburuan karena waktu sudah malam). Keinginan yang tidak terkendali laksana Raksasa yang siap untuk menelan kita untuk masuk dalam perutnya, dan tergilas oleh pencernaannya lalu hancurlah kita. Jadi setiap orang yang tidak mampu mengendalikan keinginannya sehingga menjadi liar maka berbagai keinginan itu cepat atau lambat akan menghancurkan dirinya sendiri. Setiap orang harus terus menyadari dirinya sendiri agar tidak terbelenggu oleh keinginannya sendiri (diceritakan Lubdaka yang terus sadar agar tidak jatuh dari pohon, krn jika dia tertidur maka sudah pasti jatuh dan beresiko diterkam binatang buas).
Mahasiwaratri.....momen melatih diri untuk mengendalikan kata-kata (mona brata); tidak seharusnya banyak bicara, dan berkata-kata yang perlu saja. Kata-kata muncul sebagai manifestasi dari pemikiran, tidak ada kata-kata bila tidak ada pemikiran; oleh karena itu pikiranlah yang sesungguhnya paling awal untuk dikendalikan sehingga bisa menjalankan mona brata. Semakin banyak kata-kata yang terucap dari kita maka semakin banyak pula prana (energi vital) yang dibutuhkan. Mereka yang aliran prana-nya tidak seimbang antara prana yang masuk ke dalam tubuh dengan prana yang keluar dari tubuh oleh karena setiap aktivitas maka akan mendapatkan masalah fisik maupun non fisik dalam hidupnya. Orang yang kekurangan prana akan rentan dengan berbagai penyakit fisik dan mental. Mona brata berarti juga berhemat prana, berhemat prana berarti juga bisa memperpanjang usia. Mona brata pada tingkatan yang tinggi yaitu menghentikan berbagai pemikiran dan hanya fokus pada pemikiran tertentu.
Jagra....memiliki kesadaran penuh terhadap berbagai sisi kehidupan merupakan hal yang mutlak bagi setiap insan, tanpa kesadaran dalam diri maka perjalanan hidupnya akan menemukan banyak kesulitan. Lubdaka sadar bahwa hari sudah malam dan dia harus menghentikan perburuan karena berburu saat malam akan bisa membahayakan dirinya sendiri. Begitulah...... manusia harus memiliki kesadaran dalam setiap aktivitasnya sehari-hari. Sadar bahwa kata-kata yang akan kita ucapkan harus pantas atau membuat senang atau damai kepada orang lain; sadar bahwa setiap tindakan yang akan kita lakukan harus membawa manfaat bagi orang lain, bukan sebaliknya yang justru merugikan orang lain; sadar bahwa setiap postingan yang akan kita unggah dimedsos harus mengandung kesan dan pesan yang baik, bukan sebaliknya yang justru provokatif. Dan berbagai praktek kesadaran lainnya. Pikiran sifatnya sangat dualis, yaitu baik dan buruk. Karena itu tidak seharusnya kita menyandarkan kata-kata dan tindakan hanya kepada pikiran semata yang sifatnya dualis, kita harus melibatkan akal buddhi dalam setiap kata-kata dan tindakan itu agar setiap kata-kata dan tindakan mengandung kebijaksanaan. Sekarang banyak sekali orang yang pintar, gelarnya pun tinggi; dan ternyata banyak diantaranya yang kata-kata ataupun prilakunya tidak berbanding lurus dengan gelarnya; justru menjadi orang yang sombong, angkuh, merasa benar sendiri, dan selalu meminta penghormatan dari orang lain. Orang seperti ini hanya menggunakan pikirannya, tidak menggunakan akal buddhinya. Dalam tradisi Jawa sering kali para sesepuh memberi nasehat “dadio wong sing njawani” artinya “jadilah orang yang sadar atau ngerti atau penuh perasaan”. Dalam nasehat itu secara tersirat memberi pesan bahwa kita hendaknya selalu melibatkan akal buddhi dalam setiap kata-kata dan tindakan kita, karena akal buddhi tidak memiliki sifat dualis seperti yang dimiliki pikiran.
Japa seribu nama Siwa....merupakan sadhana dengan mengucapkan nama-nama Siwa yang jumlahnya 1008. Dengan mengucapkan seribu nama Siwa maka pikiran kita secara perlahan akan terkondisikan atau terfokuskan secara kuat pada nama-nama yang kita ucapkan. Oleh karena yang diucapkan itu adalah nama-nama suci Siwa maka saat pikiran sudah terkondisikan atau terfokuskan maka pikiran akan mendapatkan aliran kekuatan suci dari nama-nama suci Siwa itu dan menjadi berkesadaran tinggi. Hasilnya adalah pemikiran-pemikiran yang buruk atau negatif yang sekian waktu bercokol dalam pikiran sedikit banyak akan tereliminasi sehingga pikiran akan mendapatkan kemurniannya kembali karena bebas dari pemikiran-pemikiran buruk atau negatif. Seperti halnya Lubdaka.....agar dia terus terjaga maka dia memutuskan untuk terus memetik daun-daun pohon satu demi satu (layaknya berjapa) yang kemudian dia jatuhkan, bila dia sampai tertidur maka beresiko jatuh dari pohon dimana dia berada. Jadi japa seribu nama Siwa ini juga memiliki fungsi sebagai terapi untuk pikiran, lebih-lebih pikiran yang terlalu banyak menyimpan berbagai kesan-kesan pemikiran yang buruk atau negatif. Pemikiran-pemikiran buruk atau negatif yang tersimpan dalam pikiran sangat perlu dieliminasi karena membebani atau menghambat kinerja dan bahkan sangat merugikan pikiran itu sendiri. Seperti halnya sebuah komputer yang terjangkit virus, maka kinerjanya akan terhambat bahkan beresiko rusaknya file-file yang ada dalam komputer tersebut. Begitu pula pemikiran-pemikiran yang buruk atau negatif akan membebani pikiran, menghambat kinerja pikiran dan bahkan merusak pikiran itu sendiri. Dan bayangkan saja bila pikiran seseorang menjadi rusak, maka tiada kebaikan dalam kata-kata dan tindakannya.
Pesan dalam momen Mahasiwaratri ini adalah jadilah manusia yang berakal buddhi dan berkesadaran tinggi sehingga menjadi manusia yang unggul, teladan dan terdepan.

Satriya Jawa di Tanah Pasundan      

Sabtu, 18 Agustus 2018

OJO WATON NGOMONG, NANGING NGOMONGO NGANGGO WEWATON

Kualitas atau pun harga diri seseorang itu tolok ukurnya adalah pada perilakunya, itulah yang menjadi tolok ukur. Prilaku yang menunjukkan sifat kepanditaan (yang mulia) adalah sabar, tanpa pamrih, tenang dan halus budinya. Dan jika ada seorang pandita/pendeta/ulama tidak menunjukkan sifat-sifat itu maka ia tidak akan dihormati selayaknya seorang yang sangat terhormat dan dia hanya akan dianggap sebagai manusia awam saja. 

Hal ini dinyatakan dalam Kekawin Nitisastra Sargah I.6:

Jroning wwé parimāna nāla gaganging tuñjung dawut kawruhi
Yan ring jātikula pracāra winaya mwang śīla karménggita
Yan ring paṇḍita ring kṣamā mudita śāntopékṣa ris mardawa
Sang śāstrajña wuwus nirāmrĕtā padanyāngdé sutusténg prajā

Jumat, 17 Agustus 2018

PEMIMPIN HARUS MEMAHAMI MASYARAKATNYA

Seorang pemimpin yang baik harus bisa memahami, mengenal dengan sebenarnya tentang masyarakat yang dipimpinnya dan wajib hukumnya untuk selalu mengutamakan kepentingan masyarakatnya sehingga terwujud rasa senang dan bahagia pada masyarakatnya, maka masyarakatpun akan menaruh hati pada pemimpinnya. Pemimpin dituntut untuk mampu bertutur kata yang tepat dan mampu menempatkan diri dimanapun dia berada di tengah-tengah masyarakat. Adakalanya dia harus bertindak lembut dan penuh kasih sayang ataupun kapan saatnya dia harus bertindak tegas tanpa kompromi demi kepentingan masyarakat. Seperti yang dinyatakan Kekawin Nitisastra I.4 berikut:

Ring janmādhika méta citta rĕsĕping sarwa prajāngénaka,
Ring strī madhya manohara priya wuwustāngdé manah kūng lulut,
Yan ring madhyani sang pinaṇḍita mucap tatwopadéṡa prihĕn,  
Yan ring madhyanikāng musuh mucapakĕn wākṡūra singhākrĕti.
 

Kamis, 16 Agustus 2018

NGELMU IKU KALAKONE KANTI LAKU

NGELMU IKU KALAKONE KANTI LAKU

(ilmu pengetahuan hanya akan bermanfaat jika dipraktekkan)

 Petikan dari sebuah sastra kuno mengatakan sebagai berikut:

 “Ring widyā wiṣa tulya dénikang anabhyāsālasang sampĕnĕh, ……”

 Terjemahan:

Ilmu pengetahuan hanya akan menjadi racun bagi mereka yang tidak terbiasa dan malas untuk mempraktekkannya, ……. (Kekawin Nitisastra, I.3)

 

Canakya Nitisastra IV.15 juga mengatakan hal yang sama:

anabhyāse viṣaṁ ṡāstram ajīrṇe bhojanaṁ viṣam,

daridrasya viṣaṁ goṣṭhī vṛddhasya taruṇī viṣam.

 Terjemahan:

Ilmu pengetahuan yang tidak dipraktekkan akan menjadi racun. Makanan yang tidak dapat dicerna oleh tubuh juga merupakan racun. Bagi orang bodoh, pergaulan dengan banyak orang adalah racun. Perempuan muda bagi mereka yang sudah tua renta adalah racun.

 

Dan sebagaimana disebutkan dalam Serat Wedhatama III.1 (tembang pucung):

ngelmu iku kalakone kanti laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budaya pangekese dur angkara.

Ilmu itu harus dijalankan dengan perbuatan/praktek. Dengan kemauan dan niat yang tulus sebagai kekuatan budi dan kebenaran sebagai penghancur keangkaramurkaan. 

 

Mereka yang kurang berpengetahuan dalam berbahasa biasanya akan sulit dalam bergaul dengan orang lain. Kemampuan dalam mengolah bahasa diibaratkan seperti meracik makanan dengan enam rasa atau sadrasa yaitu manis, asam asin, pedas, pahit dan sepat. Kapan harus mengolahnya dengan rasa manis, atau kapan dengan rasa lainnya, maka dibutuhkan suatu kemampuan.

Sekarang ini banyak sekali orang yang menguasai keilmuan akan tetapi tidak berbanding lurus dengan perilakunya. Ilmu yang mereka kuasai hanya sebatas di mulut dan di kertas saja. Banyak bicara tetapi miskin penerapannya. Bila diminta bicara bisa sampai berjam-jam, dan tiada bukti di masyarakat. Banyak sekali mereka-mereka yang berpendidikan tinggi dengan gelar sederet namun tidak mampu menjaga “ajining diri”. Bicara semaunya, bicara seenaknya yang justru berakibat merendahkan dirinya sendiri.

Mereka yang banyak bicara saja dan tanpa aktualisasi dari apa yang sedang dia bicarakan maka dalam peribahasa Jawa berbunyi “kakehan gludug kurang udan” artinya “terlalu banyak petirnya tetapi hujannya kurang”. Dalam Bahasa Indonesia berbunyi “tong kosong nyaring bunyinya”, orang-orang yang seperti ini akan sangat mudah berkata-kata, mudah berjanji tetapi jarang ditepati, ibarat kata hanya pepesan kosong belaka. Mereka menyembunyikan kebodohannya dengan berlagak angkuh, sok tahu, dan banyak bicara namun tidak menarik untuk didengar.

 Petikan Kakawin Nitisastra, I.9

“………Ring janmālpaka śāstra garwita tĕrĕh śabdanya tanpāmrĕta.

“…….Orang yang sedikit pengetahuannya biasanya angkuh, bicaranya keras dan sama sekali tidak menarik hati

Orang dikatakan berilmu bila dia bisa “nglakoni”, artinya secara nyata mempraktekkannya dan dengan disertai “wiweka” (kebijaksanaan). Manusia berbeda dengan binatang, manusia dibekali dengan wiweka yang diharapkan bahwa manusia bisa membedakan antara yang baik dengan yang buruk. Dengan wiweka maka manusia bisa memikirkan apa yang baik dan harus dilakukan dan apa yang tidak seharusnya dilakukan.

 Kalimat bijak:

“Pengetahuan itu bagaikan susu yang kaya dengan nutrisi kehidupan, namun jika hanya sebatas diseduh saja dalam gelas (hanya sebatas pengetahuan di dalam pikiran) dan tidak diminum (tidak diaktualisasikan atau dipraktekkan) maka nutrisi kehidupan itu akan sia-sia saja karena tidak merasuk dalam urat nadi kehidupan masyarakat”

Penguasaan ilmu pengetahuan yang tanpa disertai dengan kebijaksanaan maka bisa berakibat salah dalam penggunaan ilmu pengetahuan tersebut. Misal saja seperti tokoh teroris yang sudah mati yaitu Dr.Azhari; dia adalah seorang doktor dibidang fisika dan kimia yang tidak mempraktekkannya untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat namun justru sebaliknya mempraktekkannya untuk membuat bom untuk aksi teror.  

Jika kita ahli berbisnis, makmur dan bahagia; ajarkan ilmu itu kepada orang lain agar orang lain pun sejahtera dan makmur seperti kita, jangan justru mengambil setiap peluang dan kesempatan hanya untuk kesejahteraan dan kemakmuran diri sendiri tanpa memberikan kesempatan itu kepada orang lain. Begitu juga dengan keahlian lainnya hendaknya semaksimal mungkin menjadi bermanfaat bagi orang lain.

Orang yang berilmu (juga berwiweka) akan mampu menjaga setiap pemikiran, kata-kata dan perilakunya; dengan begitu dia mampu menjaga “ajining diri” nya sendiri juga diri orang lain. Dia akan mampu menelaah apakah pemikiran, kata-kata dan perilakunya bermanfaat atau justru malah merugikan atau menyakiti orang lain. Orang yang berilmu akan selalu berusaha menjaga keberadaannya untuk selalu bermanfaat bagi orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Dia akan selalu berusaha untuk mengaktualisasikan pengetahuannya untuk kebaikan bersama.

 

AGUSWI

Bumi Pasundan

 

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...