Beranda

Selasa, 03 Januari 2023

Adakah Pandita Palsu?

 

Membaca Media Hindu edisi 175 pada kolom Surat Pembaca tentang berita adanya oknum pandita yang melakukan tindakan pelecehan di Jawa Timur tepatnya di Pura Luhur Giri Arjuna, penulis sangat menyayangkan sekali hal memalukan itu terjadi. Penulis menjadi tersentuh oleh karena (1) penulis juga berasal dari Jawa Timur, (2) penulis sangat menaruh hormat kepada para Sapta Resi Jawa.

Seorang Pandita yang semestinya menjadi panutan dan penuntun umat, yang dipandang umat sebagai orang suci, dan bila tindakannya tidak mencerminkan moralitas maka patut dipertanyakan status “kepanditaannya”, dengan kata lain tidak pantas menyandang ataupun disebut “pandita”. Petikan dari Kekawin Nitisastra II.6 yang berbunyi:

“......ring śruti dharma śāstra guruwaktra kinalĕwihakĕn, ring kṣama rupa sang parama paṇḍita linĕwihakĕn”,

Artinya: “.....oleh karena teladan dan pemahamannya akan sastra Weda maka seorang guru akan dihormati. Dan bagi seorang pandita, sikapnya yang sabar dan pemaaf itulah yang menyebabkannya sangat dihormati.

Sargah diatas mengajarkan bahwa semestinya seorang disebut Pandita oleh karena dia menguasai memahami dan menjalankan apa yang diajarkan dalam sastra-sastra Weda. Dan dia yang benar-benar menguasai dan memahami ajaran kebenaran dalam Weda maka pasti tercermin sikap yang sabar dan pemaaf. Dan dengan begitu maka seorang pandita dihormati oleh umatnya. Namun bila ada seseorang yang nota bene menyandang status pandita ternyata masih mengumbar emosi dan melecehkan maka patut dipertanyakan sastra macam apa yang dia kuasai? Pasti bukan Weda karena tidak ada sastra manapun dalam Weda yang mengajarkan bahwa pandita pantas melakukan tindakan pelecehan. Lalu pertanyaan lain pantaskah orang yang melakukan tindakan pelecehan disebut pandita?.

Tentang seseorang layak disebut dan menyandang status pandita, petikan Kekawin Nitisastra II.8 berbunyi “.......ring kṣama lėn upėkṣa sira sang wiku panĕngĕrira”, artinya: sifat pemaaf dan juga keikhlasan hati adalah tanda dari para pandita atau orang suci.

Sifat pemaaf dan ikhlas harus dimiliki oleh seorang pandita dan itu menjadi tanda bahwa dia memang seorang pandita, tanpa itu maka statusnya sebagai pandita pun akan diragukan. Pandita bertugas melayani umat dan dalam melayani umat maka keikhlasan adalah dasarnya.

Tindakan mencela atau melecehkan seorang brahmana (resi, pandita, dll) yang dilakukan oleh siapapun termasuk dia yang juga sudah menyandang status pandita maka Kekawin Nitisastra II.13 menyatakan:

haywa maniṇḍa ring dwija daridra dumadak atĕmu

śāstra tiniṇḍa dėnira kapātaka tinĕmu magӧng

yan kita niṇḍa ring guru patinta maparĕk atĕmu

lwirnika wangśa pātra tumibėng watu rĕmĕk apasah

Terjemahan:

Janganlah kamu mencela brahmana, perbuatan itu dapat mendatangkan penderitaan bagimu. Jika kamu mencela ajaran-ajaran suci, kamu akan mendapatkan kesengsaraan di neraka. Jika kamu mencela guru-guru suci, kamu akan segera menemui ajalmu. Kesemuanya itu seperti piring yang jatuh di batu dan hancur berkeping-keping.

Sejalan dengan pupuh di atas, Serat Panitisastra VII.1 dengan tembang Asmarandana menyebutkan:

sagunging manusa sami | aywa maido ing śāstra | tan wurung papa gĕng tĕmbĕ | lan aja maido sira | wuruking gurunira | yĕkti parĕk patinipun | lir panjang tumibėng sėla ||

 

Terjemahan:

Wahai semua umat manusia, janganlah engkau meremehkan dan menghina kitab suci, tak pelak engkau akan menemui sengsara yang begitu berat nantinya, dan janganlah engkau meremehkan ajaran-ajaran gurumu, sungguh akan dekat ajalmu, ibarat piring besar yang jatuh di atas batu.

Brahmana (pandita, resi, dll) adalah orang yang sudah dipandang suci oleh karena pengetahuannya tentang Weda (bukan karena keturunannya). Beliau memiliki kedudukan yang tinggi yang juga sebagai Guru suci. Mereka para dwija (yang lahir dari upacara dwijati) harus menjaga kedudukannya sebagai Brahmana yang secara mendalam mengerti ajaran-ajaran Weda. Siapapun yang mencela mereka yang sudah suci (para Brahmana) maka itu adalah karma yang amat buruk yang membuahkan penderitaan.  Canakya Nitisastra XIII.20 juga menyebutkan:

ekākṣara-pradātāraṁ yo guruṁ nābhivandate ||

śvāna-yoni-śatā gatvā cāṇdāleṣw abhijāyate ||

Terjemahan:

Seorang guru suci (resi, pandita, dll) harus dihormati. Dia yang menghina dan tidak menghormati guru suci tersebut akan dilahirkan sebagai candala (yang tidak memiliki kehormatan sama sekali dan menjijikkan) selama seratus kali kelahirannya.

Memang jaman sekarang ini langka ada pandita yang memang pantas disebut orang suci, meski umatnya menyucikannya, namun jika sikap dan perilakunya tidak mencerminkan sikap dan perilaku kepanditaan maka tidak layak disebut orang suci. Seperti yang dinyatakan dalam Canakya Nitisastra II.9 bahwa orang suci itu langka:

śaile śaile ca māṇikyaḿ mauktikaḿ na gaje gaje |

sādhawo na hi sarwatra chaṇḍanaḿ na wane wane ||

Terjemahan:

Batu-batu berharga tidak dijumpai di setiap bukit, mutiara tidak terdapat pada setiap kepala gajah, pohon cendana tidak tumbuh di setiap hutan dan tidak di setiap tempat kita jumpai orang suci.

Sesungguhnya siapapun yang melecehkan ataupun merendahkan orang lain itulah yang justru lebih rendah derajatnya dari orang yang dia rendahkan. Seperti yang ditegaskan dalam Canakya Nitisastra VI.2:

pakṣiṇaḥ kākas caṇḍālaḥ paśūnāḿ caiwa kukkuraḥ |

munīnāḿ pāpaś caṇḍālaḥ sarva-cāṇḍāla-nindakaḥ ||

 

Terjemahan:

Diantara sesama burung, gagaklah yang dianggap paling hina. Diantara binatang, anjing dipandang paling hina. Diantara orang suci yang dianggap hina adalah mereka yang pendosa. Dan dari semuanya yang dipandang paling hina adalah orang yang suka menjelekkan yang lain.

 Orang yang bijaksana (termasuk para pandita) adalah sang ateken ring sastra (orang yang selalu berpedoman pada pengetahuan yang benar). Mereka yang meski berpendidikan tinggi atau bahkan sudah menjalani berbagai inisiasi spiritual namun jika dalam sikap dan perilakunya tidak mencerminkan kebenaran maka bukanlah orang bijaksana, BUKANLAH SEORANG PANDITA dan status kepanditaannya adalah PALSU.

by Aguswi 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...