(Fenomena Yang Logis, Bukan Mistis atau
Gaib)
Cerita pertama, si A (inisial
untuk seseorang) adalah seorang pekerja di sebuah tempat. Si A secara agama
adalah minoritas di tempat kerjanya. Pada musim pemilihan presiden yang lalu
tiba-tiba si A dihampiri salah satu karyawan di ruangannya (katakanlah si B)
dan ngobrol perihal Pilpres. Lalu si B itu bertanya setengah nebak kalau dalam
Pilpres itu sudah pasti si A akan memilih calon presiden yaitu si J, bukan Si
P. Mengapa si B tahu? Karena latar belakang si A yang agamanya adalah berbeda
dari si B, tidak mungkin si A akan memilih calon presiden si P yang banyak
didukung partai berbasis agama. Dan diakhir obrolan si B nyletuk ke si A “Kamu
harus memilih si P dalam pencoblosan nanti, klo kamu memilih si J maka
ruanganmu akan aku kunci”. Si A kaget dengan kata-kata itu, merasa bahwa itu
sudah bukan lagi obrolan biasa, lebih terasa itu gertakan bagi si A yang secara
agama minoritas di tempat itu. Dan ketika si B sudah keluar ruangan, si A dalam
hati berpikir dalam suasana hati setengah marah “Orang seperti si B ini
seharusnya jauh dari kantor ini”. Dan apa yang terjadi? Dua bulan kemudian si A
gak pernah melihat wajah si B hadir di kantor, ternyata dia sudah dipindah ke
kabupaten lain sejak seminggu sebelumnya lalu.
Adakah hubungan antara apa yang
dipikirkan si A dengan perpindahan si B itu? Secara administrasi memang tidak
ada, namun secara hukum alam kemungkinan itu ada. Bagaimana menjelaskannya?
Ingatlah, bahwa pikiran manusia akan selalu memancarkan gelombang-gelombang
frekuensi atas apa yang dipikirkannya. Gelombang-gelombang frekuensi itu
terpancar ke Akasa dan bisa diterima oleh pikiran-pikiran lainnya yang bersesuaian
dan menembus ruang dan waktu. Jadi ketika si A berpikir “Orang seperti si B ini
seharusnya jauh dari kantor ini” maka gelombang pemikiran itu terpancar ke
Akasa dan melalui Akasa gelombang itu hanya akan mengarah ke pikiran
pihak-pihak terkait dan bisa masuk atau ditangkap oleh pikiran dari pihak-pihak
terkait sesuai apa yang dipikirkan si A, dalam hal ini bisa jadi gelombang
pemikiran si A melalui kecerdasan Akasa mengarah ke pihak-pihak yang memiliki
otoritas dalam memindahkan pegawai. Sehingga ketika gelombang pemikiran itu
masuk ke pikiran pihak-pihak yang memiliki otoritas tersebut maka akan
membentuk suatu rangsangan pemikiran dalam pikiran pihak-pihak pemegang
otoritas itu yang arahnya adalah harus memindahkan si B ke tempat lain. Memang
secara visual lebih terlihat bahwa pemindahan si B adalah karena alasan yang
lebih administratif, namun dari sisi yang lebih halus bisa jadi penyebabnya
yaitu pemikiran si A tadi yang menjadi penghubung bagi si B untuk menerima buah
karmanya karena menggertak. Antara si A dengan pihak-pihak pemegang otoritas
tersebut memang tidak saling kenal secara fisik, namun setiap pikiran manusia
dimuka bumi ini tidaklah terpisah, semua pikiran manusia maupun makhluk hidup
lainnya saling terhubung satu dengan lainnya layaknya jaringan internet yang
menghubungkan satu perangkat dengan jutaan perangkat lainnya dari berbagai
benua.
Cerita kedua, si A sedang berkebun
di kebunnya, dia berdiri di batas timur kebunnya yang deket kebun orang lain (sampai
saat ini si A tidak mengenal si pemilik kebun tersebut). Di kebun orang lain
tersebut deket batas dengan kebun si A ada pohon sengon besar sekali yang
lingkar batang kayunya hampir 2 meter. Oleh karena keberadaan pohon tersebut,
maka pada saat pagi hari sinar matahari terhalangi sehingga tanaman produktif
di kebun si A yang deket pohon tersebut menjadi kurang sinar matahari pagi dan
tumbuhnya kurang normal. Lalu si A sambil menyentuh pohon itu dengan jelas
berguman “Wah pohon ini sudah seharusnya ditebang, karena menghalangi sinar
matahari pagi terhadap tanaman yang lebih produktif”. Lalu apa yang terjadi?
Dua minggu si A tidak pergi berkebun, begitu ke kebun melihat pohon itu sudah
ditebang dan masih tergeletak belum diberesi sama sekali.
Adakah hubungan antara apa yang
dipikirkan si A dengan penebangan pohon itu? Bisa jadi ada dan bahkan bisa jadi
menjadi pemicu utama terjadinya penebangan pohon itu. Secara prinsip, cara
kerjanya sebenarnya sama dengan cerita pertama diatas. Gelombang frekuensi
pemikiran si A terpancar ke Akasa, dan oleh kecerdasan Akasa dibuat lebih cenderung
mengarah kepada pikiran dari orang yang bersesuaian dengan pemikiran si A.
Siapa orang itu? Tentu pemilik kebun atau penanggung jawab dari kebun itu.
Kecerdasan Akasa cenderung tidak akan mengarahkan pemikiran si A itu kepada
pikiran pihak lain yang tidak bersesuaian misalnya yang bukan pemilik atau
penanggungjawab kebun itu. Dan ketika gelombang pemikiran si A yang bermuatan
bunyi “Wah pohon ini sudah seharusnya ditebang, karena menghalangi sinar
matahari pagi terhadap tanaman yang lebih produktif” masuk ke pikiran pemilik
atau penanggungjawab kebun maka akan menciptakan sebuah rangsangan pemikiran
dalam pikiran pemilik atau penanggungjawab kebun itu yang muatannya mengarah
pada “bahwa pohon sengon itu sebaiknya ditebang”. Dari pemikiran itulah kemudian
mewujudkan tindakan nyata yaitu menebang pohon sengon itu.
Mungkin masih ada yang bingung
yang dimaksud “pikiran-pikiran yang bersesuaian” logikanya seperti apa.
Analoginya seperti ini, misal dari cerita pertama si A itu ibarat pemancar
radio yang sedang memancarkan gelombang radio pada frekuensi 100 Mhz, maka
gelombang radio itu hanya akan bisa ditangkap oleh radio receiver pada
gelombang yang menunjukkan skala 100 Mhz, bila radio receiver diputar pada
skala misal 95 Mhz maka sama sekali tidak bisa menangkap gelombang itu karena
tidak bersesuaian besarannya. Karena itulah sama sekali tidak akan menyasar
pada gelombang yang menunjukkan besaran skala lainnya selain 100 Mhz. Itulah
yang dimaksud dengan pikiran yang bersesuaian bahwa pemikiran si A akan cenderung
mengarah atau bisa masuk ke pikiran orang lain yang bersesuaian dengan
pemikiran si A.
Cerita lainnya masih ada, tetapi pada prinsipnya cara kerja pikiran adalah sama.
Aguswi
Salam Kecerdasan
Old Indonesia Science
Tidak ada komentar:
Posting Komentar