Beranda

Selasa, 03 Januari 2023

Gelombang Pikiranmu Adalah Perintah Bagi Sang Alam

(Fenomena Yang Logis, Bukan Mistis atau Gaib)

 Ini adalah cerita pengalaman unik tentang beberapa pemikiran yang menunjukkan betapa luar biasa canggihnya pikiran yang dimiliki manusia. Tentang pikiran itu sendiri sudah sering kita sharingkan disini, apa itu pikiran dan bagaimana cara kerjanya. Dan kali ini ada beberapa cerita unik tentang beberapa pemikiran, bagi penulis beberapa peristiwa ini adalah logis karena bisa dijelaskan dengan logika Sains. Namun bagi yang tidak paham kemungkinan akan menganggap ini adalah sisi yang mistis atau gaib.

Cerita pertama, si A (inisial untuk seseorang) adalah seorang pekerja di sebuah tempat. Si A secara agama adalah minoritas di tempat kerjanya. Pada musim pemilihan presiden yang lalu tiba-tiba si A dihampiri salah satu karyawan di ruangannya (katakanlah si B) dan ngobrol perihal Pilpres. Lalu si B itu bertanya setengah nebak kalau dalam Pilpres itu sudah pasti si A akan memilih calon presiden yaitu si J, bukan Si P. Mengapa si B tahu? Karena latar belakang si A yang agamanya adalah berbeda dari si B, tidak mungkin si A akan memilih calon presiden si P yang banyak didukung partai berbasis agama. Dan diakhir obrolan si B nyletuk ke si A “Kamu harus memilih si P dalam pencoblosan nanti, klo kamu memilih si J maka ruanganmu akan aku kunci”. Si A kaget dengan kata-kata itu, merasa bahwa itu sudah bukan lagi obrolan biasa, lebih terasa itu gertakan bagi si A yang secara agama minoritas di tempat itu. Dan ketika si B sudah keluar ruangan, si A dalam hati berpikir dalam suasana hati setengah marah “Orang seperti si B ini seharusnya jauh dari kantor ini”. Dan apa yang terjadi? Dua bulan kemudian si A gak pernah melihat wajah si B hadir di kantor, ternyata dia sudah dipindah ke kabupaten lain sejak seminggu sebelumnya lalu.

Adakah hubungan antara apa yang dipikirkan si A dengan perpindahan si B itu? Secara administrasi memang tidak ada, namun secara hukum alam kemungkinan itu ada. Bagaimana menjelaskannya? Ingatlah, bahwa pikiran manusia akan selalu memancarkan gelombang-gelombang frekuensi atas apa yang dipikirkannya. Gelombang-gelombang frekuensi itu terpancar ke Akasa dan bisa diterima oleh pikiran-pikiran lainnya yang bersesuaian dan menembus ruang dan waktu. Jadi ketika si A berpikir “Orang seperti si B ini seharusnya jauh dari kantor ini” maka gelombang pemikiran itu terpancar ke Akasa dan melalui Akasa gelombang itu hanya akan mengarah ke pikiran pihak-pihak terkait dan bisa masuk atau ditangkap oleh pikiran dari pihak-pihak terkait sesuai apa yang dipikirkan si A, dalam hal ini bisa jadi gelombang pemikiran si A melalui kecerdasan Akasa mengarah ke pihak-pihak yang memiliki otoritas dalam memindahkan pegawai. Sehingga ketika gelombang pemikiran itu masuk ke pikiran pihak-pihak yang memiliki otoritas tersebut maka akan membentuk suatu rangsangan pemikiran dalam pikiran pihak-pihak pemegang otoritas itu yang arahnya adalah harus memindahkan si B ke tempat lain. Memang secara visual lebih terlihat bahwa pemindahan si B adalah karena alasan yang lebih administratif, namun dari sisi yang lebih halus bisa jadi penyebabnya yaitu pemikiran si A tadi yang menjadi penghubung bagi si B untuk menerima buah karmanya karena menggertak. Antara si A dengan pihak-pihak pemegang otoritas tersebut memang tidak saling kenal secara fisik, namun setiap pikiran manusia dimuka bumi ini tidaklah terpisah, semua pikiran manusia maupun makhluk hidup lainnya saling terhubung satu dengan lainnya layaknya jaringan internet yang menghubungkan satu perangkat dengan jutaan perangkat lainnya dari berbagai benua.

Cerita kedua, si A sedang berkebun di kebunnya, dia berdiri di batas timur kebunnya yang deket kebun orang lain (sampai saat ini si A tidak mengenal si pemilik kebun tersebut). Di kebun orang lain tersebut deket batas dengan kebun si A ada pohon sengon besar sekali yang lingkar batang kayunya hampir 2 meter. Oleh karena keberadaan pohon tersebut, maka pada saat pagi hari sinar matahari terhalangi sehingga tanaman produktif di kebun si A yang deket pohon tersebut menjadi kurang sinar matahari pagi dan tumbuhnya kurang normal. Lalu si A sambil menyentuh pohon itu dengan jelas berguman “Wah pohon ini sudah seharusnya ditebang, karena menghalangi sinar matahari pagi terhadap tanaman yang lebih produktif”. Lalu apa yang terjadi? Dua minggu si A tidak pergi berkebun, begitu ke kebun melihat pohon itu sudah ditebang dan masih tergeletak belum diberesi sama sekali.

Adakah hubungan antara apa yang dipikirkan si A dengan penebangan pohon itu? Bisa jadi ada dan bahkan bisa jadi menjadi pemicu utama terjadinya penebangan pohon itu. Secara prinsip, cara kerjanya sebenarnya sama dengan cerita pertama diatas. Gelombang frekuensi pemikiran si A terpancar ke Akasa, dan oleh kecerdasan Akasa dibuat lebih cenderung mengarah kepada pikiran dari orang yang bersesuaian dengan pemikiran si A. Siapa orang itu? Tentu pemilik kebun atau penanggung jawab dari kebun itu. Kecerdasan Akasa cenderung tidak akan mengarahkan pemikiran si A itu kepada pikiran pihak lain yang tidak bersesuaian misalnya yang bukan pemilik atau penanggungjawab kebun itu. Dan ketika gelombang pemikiran si A yang bermuatan bunyi “Wah pohon ini sudah seharusnya ditebang, karena menghalangi sinar matahari pagi terhadap tanaman yang lebih produktif” masuk ke pikiran pemilik atau penanggungjawab kebun maka akan menciptakan sebuah rangsangan pemikiran dalam pikiran pemilik atau penanggungjawab kebun itu yang muatannya mengarah pada “bahwa pohon sengon itu sebaiknya ditebang”. Dari pemikiran itulah kemudian mewujudkan tindakan nyata yaitu menebang pohon sengon itu.

Mungkin masih ada yang bingung yang dimaksud “pikiran-pikiran yang bersesuaian” logikanya seperti apa. Analoginya seperti ini, misal dari cerita pertama si A itu ibarat pemancar radio yang sedang memancarkan gelombang radio pada frekuensi 100 Mhz, maka gelombang radio itu hanya akan bisa ditangkap oleh radio receiver pada gelombang yang menunjukkan skala 100 Mhz, bila radio receiver diputar pada skala misal 95 Mhz maka sama sekali tidak bisa menangkap gelombang itu karena tidak bersesuaian besarannya. Karena itulah sama sekali tidak akan menyasar pada gelombang yang menunjukkan besaran skala lainnya selain 100 Mhz. Itulah yang dimaksud dengan pikiran yang bersesuaian bahwa pemikiran si A akan cenderung mengarah atau bisa masuk ke pikiran orang lain yang bersesuaian dengan pemikiran si A.

Cerita lainnya masih ada, tetapi pada prinsipnya cara kerja pikiran adalah sama.


Aguswi

Salam Kecerdasan

Old Indonesia Science

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...