Nusantara ini kaya dengan kelimuan
Mantra Yantra dan Tantra, terutama Jawa dan Bali. Karya-karya klasik yang
berupa sastra-sastra kuno banyak ditemukan yang hingga kini nilai-nilainya
masih banyak dijadikan falsafah hidup masyarakat (terutama Jawa dan Bali) dalam
kehidupan sehari-hari. Praktek-praktek yang bersumber dari sastra-satra kuno
para leluhur masih banyak diyakini dan dilakukan sebagai sebuah jalan hidup
dalam mencapai sebuah tujuan tertentu.
Sadulur Papat Kalima Pancer, kalimat ini
bagi masyarakat Jawa tidaklah asing yang artinya Saudara Empat Kelima adalah
Pusat (tengah). Pancer disini artinya adalah tengah, yang dimaksud tiada
lain adalah Sang Hidup (Atma) itu sendiri yang menghidupi kedua
lapisan badan ini (dari perspektif Tri Sarira), kedua lapisan itu adalah Sthula
Sarira (badan fisik) dan Suksma Sarira (badan halus/badan astral).
Jadi Atma sebagai Sang Hidup kedudukan-Nya sebagai Pancer
(tengah), yang menjadi lapisan badan manusia yang paling halus yang disebut Antah
Karana Sarira.
Saat Sang Atma mulai menghidupi Sthula
Sarira dan Suksma Sarira dari janin dalam rahim seorang ibu, ada
empat macam cahaya yang menyertai yaitu sebagai berikut:
1.
Cahaya putih, yang kemudian disebut Kakang
Kawah
2.
Cahaya kuning, yang kemudian disebut Adi
Ari-Ari
3.
Cahaya merah, yang kemudian disebut Getih
4.
Cahaya hitam, yang kemudian disebut Puser.
Empat cahaya inilah
yang merupakan unsur pembentuk Suksma Sarira (sains menyebutnya Badan
Astral), dan setiap cahaya memiliki kecenderungannya masing-masing.
1.
Kakang Kawah dengan cahaya putihnya
adalah manifestasi dari Buddhi dengan kecenderungan yang sabar dan
stabil, Buddhi adalah sebagai Kesadaran, baik Kesadaran Jaga (awareness)
maupun Kesadaran Kepahaman. Fungsi dari Buddhi adalah menentukan
keputusan. Buddhi adalah juga kebijaksanaan. Kita sering mendengar nasehat “jadilah
manusia yang berbuddhi”, yang artinya jadilah manusia yang memiliki prilaku
yang bijaksana, prilaku yang bermoral, yang beretika. Jangan
justru berperilaku yang sebaliknya bukan mencerminkan identitas sebagai
manusia. Terhadap sesama manusia kita harus ngewongke,
maksudnya adalah memanusiakan manusia.
Jangan sampai memperlakukan orang lain sebagai budak atau sebagai alat
(memperalat orang lain) untuk ambisi-ambisi pribadi. Menganggap orang lain
sebagai budak atau alat akan cenderung memperlakukan mereka tidak sebagaimana
layaknya manusia. Mungkin akan timbul perlakuan yang sewenang-wenang, senonoh
atau bahkan jauh dari moralitas. Berbuddhi tidak hanya untuk kepada sesama
manusia saja tetapi kepada makhluk hidup serta lingkungan lainnya kita harus
berbuddhi. Bayangkan jika manusia tidak berbuddhi kepada lingkungan sekitar
maka akan muncul perilaku-perilaku yang mengarah kepada pengrusakan alam, dan
akibatnya sampai hari ini banyak tempat dilanda banjir dan tanah longsor.
2.
Adi Ari-Ari dengan cahaya
kuningnya adalah manifestasi dari Manah. Manah tiada lain adalah
pikiran, dan pikiran memiliki dualisme (baik-buruk). Kecenderungan dari Manah
(pikiran) adalah sangat mudah terpikat dengan kenikmatan dunia. Segala macam
imajinasi ada dalam pikiran. Karena sifatnya yang dualisme, maka pikiran bisa
menjadi teman dan juga bisa menjadi musuh diri sendiri. Bagi mereka yang bisa
mengendalikan gelombang-gelombang pikirannya maka pikiran itu akan membawanya
pada kemuliaan yang tertinggi. Namun bagi orang yang membiarkan
gelombang-gelombang pikirannya menjadi liar, penuh dengan ambisi-ambisi, penuh
dengan keinginan-keinginan yang hanya bersifat kesenangan belaka, maka pikiran
itu tak ubahnya seperti musuh diri sendiri yang akan membawanya pada
kesengsaraan. Pikiran adalah rajendriya (rajanya indriya), bila pikiran
tidak terkendali maka indriya yang lain juga tidak akan terkendali. Itulah
perlunya pikiran harus dikendalikan agar indriya-indriya yang lain juga
terkendali. Rsi Patanjali dalam Yoga Sutra menuliskan “yogas
citta vrtti nirodhah”, artinya yoga adalah untuk mengendalikan
gelombang-gelombang pikiran. Dan Yoga Sutra ditulis oleh Sang Rsi dalam
rangka untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia tentang cara mengendalikan
gelombang-gelombang pikiran.
3.
Getih dengan cahaya merahnya adalah
manifestasi dari Ahangkara dengan kecenderungannya yaitu agresif, ambisi
dan dengki. Ahangkara juga bisa disebut Perasaan yang berfungsi untuk
merasakan dan bertindak.
4.
Puser dengan cahaya hitamnya adalah
manifestasi dari Citta dengan kecenderungan yang lembam. Citta
adalah lapisan ingatan atau memori, Citta menyimpan segala macam
ingatan/memori pengalaman manusia, baik yang manis maupun yang pahit. Puser
atau Citta adalah pikiran bawah sadar. Semua memori manusia dalam hidup
sekarang, bahkan memori dari berbagai kehidupannya yang sebelumnya semua
tersimpan dalam Citta. Memori itu bisa dimunculkan kembali sehingga kita ingat
akan kehidupan kita dikelahiran yang sebelumnya dengan teknik regresi, back
to the pastlife. Silahkan baca buku terbitan Media Hindu yang berjudul Banyak Kehidupan Banyak Guru yang juga
merupakan terjemahan penulis, maka akan lebih mengerti dalam memahaminya karena
di buku itu diceritakan tentang seorang pasien yang diregresi (memorinya
dikembalikan ke waktu lampau dengan teknik hipnosis) oleh seorang psikolog yang
ahli hipnosis, dan pikiran pasien berhasil menembus ruang dan waktu lampau yang
cukup jauh.
Keempatnya mengeluarkan tanda yang nyata
bersamaan dengan lahirnya sang jabang bayi.
Yang pertama keluar adalah Kakang Kawah,
lebih umum kita mengenalnya sebagai air ketuban, yang keluar terlebih dahulu
dari rahim. Saat sang ibu merasakan bahwa si jabang bayi hendak lahir ke dunia,
maka air ketuban akan muncul terlebih dahulu. Dengan munculnya/pecahnya air
ketuban maka sebagai tanda nyata bahwa si jabang bayi sudah amat dekat
kelahirannya. Karena air ketuban ini muncul terlebih dahulu, maka disebut Kakang
Kawah yang berarti kakak yang berupa air, bagaikan kawah sebuah gunung
berapi yang menyemburat.
Lalu si jabang bayi menyusul keluar dari
rahim seorang ibu. Keluarnya si jabang bayi ini disertai dengan keluarnya Getih,
yaitu darah. Lalu yang seperti usus yang melekat pada puser jabang bayi keluar
juga, oleh karena itu disebut Puser, yang artinya pusat.
Yang terkahir kali muncul adalah Adi
Ari-Ari atau plasenta. Adi artinya adik, Ari-Ari artinya
plasenta. Dengan demikian Kakang Kawah, Adi Ari-Ari, Getih dan Puser
muncul mengiringi lahirnya si jabang bayi.
Penyebutan Sadulur Papat Kalima
Pancer oleh para Wasi/Pinandita/Pandita di Jawa dalam sebuah mantra saat
sedang melakukan ritual tidak lain adalah mengacu kepada lapisan tubuh manusia
yaitu Suksma Sarira (sedulur papat) dan Antah Karana Sarira atau Atma
(pancer).
Badan manusia adalah Sthana Hyang
Kuasa, karena itulah diri kita sendiri harus menjaga badan kita masing-masing.
Menjaga berbagai lapisan badan kita sendiri berarti juga menjaga Sthana
Hyang Kuasa dalam bentuk badan ini. Melalui badan ini pula-lah Hyang Kuasa
mengejawantah dalam bentuk makhluk hidup dan ikut bermain sandiwara kehidupan
ini.
Lebih jauh lagi konsep Sadulur Papat
Kalimo Pancer bila dikaitkan dengan konsep Dewata Nawa Sanga maka Kakang
Kawah dengan cahaya putihnya merujuk arah Timur dewanya Iswara, Adi
Ari-Ari dengan cahaya kuningnya merujuk arah Barat dewanya Mahadewa, Getih
dengan cahaya merahnya merujuk arah Selatan dewanya Brahma, Puser dengan
cahaya hitamnya merujuk arah Utara dewanya Wisnu. Dan Pancer sebagai
pusatnya yaitu arah Tengah dewanya Siwa.
Inilah sebenarnya filosofi dari Sadulur
Papat Kalimo Pancer yang terkandung dalam berbagai keilmuan Mantra
Yantra Tantra di Jawa, tidak lain adalah sebagai bentuk penghormatan atau
pemeliharaan kepada lapisan-lapisan badan manusia itu sendiri yang sejatinya
adalah Sthana Hyang Kuasa. Dan lebih jauh lagi juga sebagai bentuk
penghormatan kepada seluruh penjuru alam semesta dengan Ista Dewata-Nya.
AGUSWI
Rahayu
Sagung Dumadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar