Beranda

Rabu, 11 Januari 2023

Sadulur Papat Kalima Pancer

 

Nusantara ini kaya dengan kelimuan Mantra Yantra dan Tantra, terutama Jawa dan Bali. Karya-karya klasik yang berupa sastra-sastra kuno banyak ditemukan yang hingga kini nilai-nilainya masih banyak dijadikan falsafah hidup masyarakat (terutama Jawa dan Bali) dalam kehidupan sehari-hari. Praktek-praktek yang bersumber dari sastra-satra kuno para leluhur masih banyak diyakini dan dilakukan sebagai sebuah jalan hidup dalam mencapai sebuah tujuan tertentu.

Sadulur Papat Kalima Pancer, kalimat ini bagi masyarakat Jawa tidaklah asing yang artinya Saudara Empat Kelima adalah Pusat (tengah). Pancer disini artinya adalah tengah, yang dimaksud tiada lain adalah Sang Hidup (Atma) itu sendiri yang menghidupi kedua lapisan badan ini (dari perspektif Tri Sarira), kedua lapisan itu adalah Sthula Sarira (badan fisik) dan Suksma Sarira (badan halus/badan astral). Jadi Atma sebagai Sang Hidup kedudukan-Nya sebagai Pancer (tengah), yang menjadi lapisan badan manusia yang paling halus yang disebut Antah Karana Sarira.

Saat Sang Atma mulai menghidupi Sthula Sarira dan Suksma Sarira dari janin dalam rahim seorang ibu, ada empat macam cahaya yang menyertai yaitu sebagai berikut:

1.    Cahaya putih, yang kemudian disebut Kakang Kawah

2.    Cahaya kuning, yang kemudian disebut Adi Ari-Ari

3.    Cahaya merah, yang kemudian disebut Getih

4.    Cahaya hitam, yang kemudian disebut Puser.

 Empat cahaya inilah yang merupakan unsur pembentuk Suksma Sarira (sains menyebutnya Badan Astral), dan setiap cahaya memiliki kecenderungannya masing-masing.

1.    Kakang Kawah dengan cahaya putihnya adalah manifestasi dari Buddhi dengan kecenderungan yang sabar dan stabil, Buddhi adalah sebagai Kesadaran, baik Kesadaran Jaga (awareness) maupun Kesadaran Kepahaman. Fungsi dari Buddhi adalah menentukan keputusan. Buddhi adalah juga kebijaksanaan. Kita sering mendengar nasehat “jadilah manusia yang berbuddhi”, yang artinya jadilah manusia yang memiliki prilaku yang bijaksana, prilaku yang bermoral, yang beretika. Jangan justru berperilaku yang sebaliknya bukan mencerminkan identitas sebagai manusia. Terhadap sesama manusia kita harus ngewongke, maksudnya adalah memanusiakan manusia. Jangan sampai memperlakukan orang lain sebagai budak atau sebagai alat (memperalat orang lain) untuk ambisi-ambisi pribadi. Menganggap orang lain sebagai budak atau alat akan cenderung memperlakukan mereka tidak sebagaimana layaknya manusia. Mungkin akan timbul perlakuan yang sewenang-wenang, senonoh atau bahkan jauh dari moralitas. Berbuddhi tidak hanya untuk kepada sesama manusia saja tetapi kepada makhluk hidup serta lingkungan lainnya kita harus berbuddhi. Bayangkan jika manusia tidak berbuddhi kepada lingkungan sekitar maka akan muncul perilaku-perilaku yang mengarah kepada pengrusakan alam, dan akibatnya sampai hari ini banyak tempat dilanda banjir dan tanah longsor.   

2.    Adi Ari-Ari dengan cahaya kuningnya adalah manifestasi dari Manah. Manah tiada lain adalah pikiran, dan pikiran memiliki dualisme (baik-buruk). Kecenderungan dari Manah (pikiran) adalah sangat mudah terpikat dengan kenikmatan dunia. Segala macam imajinasi ada dalam pikiran. Karena sifatnya yang dualisme, maka pikiran bisa menjadi teman dan juga bisa menjadi musuh diri sendiri. Bagi mereka yang bisa mengendalikan gelombang-gelombang pikirannya maka pikiran itu akan membawanya pada kemuliaan yang tertinggi. Namun bagi orang yang membiarkan gelombang-gelombang pikirannya menjadi liar, penuh dengan ambisi-ambisi, penuh dengan keinginan-keinginan yang hanya bersifat kesenangan belaka, maka pikiran itu tak ubahnya seperti musuh diri sendiri yang akan membawanya pada kesengsaraan. Pikiran adalah rajendriya (rajanya indriya), bila pikiran tidak terkendali maka indriya yang lain juga tidak akan terkendali. Itulah perlunya pikiran harus dikendalikan agar indriya-indriya yang lain juga terkendali. Rsi Patanjali dalam Yoga Sutra menuliskan “yogas citta vrtti nirodhah”, artinya yoga adalah untuk mengendalikan gelombang-gelombang pikiran. Dan Yoga Sutra ditulis oleh Sang Rsi dalam rangka untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia tentang cara mengendalikan gelombang-gelombang pikiran.

3.    Getih dengan cahaya merahnya adalah manifestasi dari Ahangkara dengan kecenderungannya yaitu agresif, ambisi dan dengki. Ahangkara juga bisa disebut Perasaan yang berfungsi untuk merasakan dan bertindak.

4.    Puser dengan cahaya hitamnya adalah manifestasi dari Citta dengan kecenderungan yang lembam. Citta adalah lapisan ingatan atau memori, Citta menyimpan segala macam ingatan/memori pengalaman manusia, baik yang manis maupun yang pahit. Puser atau Citta adalah pikiran bawah sadar. Semua memori manusia dalam hidup sekarang, bahkan memori dari berbagai kehidupannya yang sebelumnya semua tersimpan dalam Citta. Memori itu bisa dimunculkan kembali sehingga kita ingat akan kehidupan kita dikelahiran yang sebelumnya dengan teknik regresi, back to the pastlife. Silahkan baca buku terbitan Media Hindu yang berjudul Banyak Kehidupan Banyak Guru yang juga merupakan terjemahan penulis, maka akan lebih mengerti dalam memahaminya karena di buku itu diceritakan tentang seorang pasien yang diregresi (memorinya dikembalikan ke waktu lampau dengan teknik hipnosis) oleh seorang psikolog yang ahli hipnosis, dan pikiran pasien berhasil menembus ruang dan waktu lampau yang cukup jauh.

 

Keempatnya mengeluarkan tanda yang nyata bersamaan dengan lahirnya sang jabang bayi.

Yang pertama keluar adalah Kakang Kawah, lebih umum kita mengenalnya sebagai air ketuban, yang keluar terlebih dahulu dari rahim. Saat sang ibu merasakan bahwa si jabang bayi hendak lahir ke dunia, maka air ketuban akan muncul terlebih dahulu. Dengan munculnya/pecahnya air ketuban maka sebagai tanda nyata bahwa si jabang bayi sudah amat dekat kelahirannya. Karena air ketuban ini muncul terlebih dahulu, maka disebut Kakang Kawah yang berarti kakak yang berupa air, bagaikan kawah sebuah gunung berapi yang menyemburat.

Lalu si jabang bayi menyusul keluar dari rahim seorang ibu. Keluarnya si jabang bayi ini disertai dengan keluarnya Getih, yaitu darah. Lalu yang seperti usus yang melekat pada puser jabang bayi keluar juga, oleh karena itu disebut Puser, yang artinya pusat.

Yang terkahir kali muncul adalah Adi Ari-Ari atau plasenta. Adi artinya adik, Ari-Ari artinya plasenta. Dengan demikian Kakang Kawah, Adi Ari-Ari, Getih dan Puser muncul mengiringi lahirnya si jabang bayi.

Penyebutan Sadulur Papat Kalima Pancer oleh para Wasi/Pinandita/Pandita di Jawa dalam sebuah mantra saat sedang melakukan ritual tidak lain adalah mengacu kepada lapisan tubuh manusia yaitu Suksma Sarira (sedulur papat) dan Antah Karana Sarira atau Atma (pancer).

Badan manusia adalah Sthana Hyang Kuasa, karena itulah diri kita sendiri harus menjaga badan kita masing-masing. Menjaga berbagai lapisan badan kita sendiri berarti juga menjaga Sthana Hyang Kuasa dalam bentuk badan ini. Melalui badan ini pula-lah Hyang Kuasa mengejawantah dalam bentuk makhluk hidup dan ikut bermain sandiwara kehidupan ini.

Lebih jauh lagi konsep Sadulur Papat Kalimo Pancer bila dikaitkan dengan konsep Dewata Nawa Sanga maka Kakang Kawah dengan cahaya putihnya merujuk arah Timur dewanya Iswara, Adi Ari-Ari dengan cahaya kuningnya merujuk arah Barat dewanya Mahadewa, Getih dengan cahaya merahnya merujuk arah Selatan dewanya Brahma, Puser dengan cahaya hitamnya merujuk arah Utara dewanya Wisnu. Dan Pancer sebagai pusatnya yaitu arah Tengah dewanya Siwa.

Inilah sebenarnya filosofi dari Sadulur Papat Kalimo Pancer yang terkandung dalam berbagai keilmuan Mantra Yantra Tantra di Jawa, tidak lain adalah sebagai bentuk penghormatan atau pemeliharaan kepada lapisan-lapisan badan manusia itu sendiri yang sejatinya adalah Sthana Hyang Kuasa. Dan lebih jauh lagi juga sebagai bentuk penghormatan kepada seluruh penjuru alam semesta dengan Ista Dewata-Nya.

 

AGUSWI

Rahayu Sagung Dumadi 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...