(Perspektif Hindu)
Oleh: Aguswi
Bangsa Indonesia sejak dahulu dikenal oleh bangsa lain sebagai bangsa yang cinta damai. Musyawarah untuk mufakat menjadi salah satu nilai yang terkandung dalam Pancasila sila ke-4. Selama 350 tahun mengalami penjajahan pun, dalam upaya untuk mencapai kemerdekaan sering ditempuh dengan berbagai perundingan seperti Perundingan Meja Bundar, Perundingan Linggarjati, dll. Itu semua adalah sejarah yang membuktikan bahwa bangsa Indonesia sangat mengutamakan perdamaian.
Umat Hindu sebagai bagian dari bangsa yang besar ini juga adalah umat yang cinta damai. Hindu memandang bahwa kecintaan terhadap bangsa dan negara dan pengejawantahan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan landasan bagi umat Hindu untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pandangan ini dapat kita jumpai dalam beberapa kitab suci. Seperti Atharwa Weda XII.1.45:
janam
bibhrati bahudha vivacasam
manadharmanam
prthivi yathaikasam
sahasram
dhara dravinasya me duham
dhraveva
dhenuranapasphuranti”
Terjemahan:
Berikanlah
penghargaan kepada bangsamu yang menggunakan berbagai bahasa daerah, yang
menganut kepercayaan yang berbeda. Hargailah mereka yang tinggal bersama di
bumi pertiwi ini. Bumi yang memberi keseimbangan bagaikan sapi yang memberi
susunya kepada umat manusia. Demikian ibu pertiwi memberikan kebahagiaan yang
melimpah kepada umatnya.
ami ye
vivrata sthana tan vah sam namayamasi”
Terjemahan:
Aku
satukan pikiran dan langkahmu untuk mewujudkan kerukunan di antara kamu. Aku
bimbing mereka yang berbuat jahat menuju jalan yang benar.
yena deva
na viyanti no ca vidvisate mithah,
tat krnmo
brahma vo grhe samjnana purunebhyah
Wahai umat
manusia! Bersatulah, dan rukunlah kamu seperti menyatunya para dewata. Aku
telah menganugerahkan hal yang sama kepadamu, oleh karena itu ciptakanlah
persatuan diantara kamu.
Mewujudkan kehidupan yang demokratis dengan bermusyawarah untuk mencapai kata mufakat dan menumbuhkan kehidupan yang dilandasi rasa saling pengertian, dapat juga ditemukan dalam Rgweda X.191.2 dan X.191.3:
sam
gacchadhvam sam vadadhvam sam vo manamsi janatam
deva
bhagam yatha purve samjnana upasate
Wahai umat
manusia, hiduplah dalam harmoni, dan kerukunan. Hendaklah bersatu dan bekerja
sama. Berbicaralah dengan satu bahasa dan ambilah keputusan dengan satu
pikiran. Seperti orang-orang suci di masa lalu yang telah melaksanakan
kewajibannya, hendaklah kamu tidak goyah dalam melaksanakan kewajibanmu.
samanam
manah saha cittamesam
samanam
mantramabhi mantraye
vah
samanena vo havisa juhomi
Terjemahan:
Wahai umat
manusia, pikirkanlah bersama! Bermusyawarahlah bersama. Satukanlah hati, dan
pikiranmu dengan yang lain. Aku anugerahkan pikiran yang sama dan fasilitas
yang sama pula untuk kerukunan hidupmu”.
Apa yang mereka perjuangkan? Tiada
lain adalah kekuasaan dan kedudukan yang tinggi-tinggi. Sesuai yang tertulis dalam
Kekawin Nitisastra IV.10 (petikan) yang menyatakan “pandĕning kali mūrkaning
jana wimoha matukar arĕbut kawīryawān, tan wring rātnya mokal lawan bhratara
wandhawa ripu kinayuh pakāśrayan, .....”, yang artinya “karena pengaruh
Jaman Kali, manusia menjadi kegila-gilaan, suka berkelahi, berebut kedudukan
yang tinggi, .....” Demi kekuasaan dan kedudukan yang tinggi, seringkali
menempuh berbagai cara meski itu tergolong kekerasan dan bertentangan dengan
hukum alias makar.
Terhadap orang-orang seperti
mereka, pustaka suci Weda menjelaskan dengan tegas tentang konsekuensi atau
hukuman bagi mereka yang jahat, tidak beradat, banyak omong (provokator), makar,
tidak cinta terhadap bangsa dan negara, suka menghina, dan perilaku buruk
lainnya. Seperti yang dinyatakan oleh Kekawin Nitisastra, XV.4-7.
wwang bwat
maśabda lĕmĕhan mapi-tuwi langguk
nityéki
yan pamĕng-amĕng manutindriyanya
buddhinya
durjana katungka papā nicāra
Terjemahan:
Hamba raja
(warga negara) yang tidak mencintai negerinya, harus dihukum berat. Begitu juga
mereka yang banyak omong (provokator/penghasut), tidak suka menurut (melawan
hukum negara) atau sombong, yang selalu bersenang-senang dan melakukan
kehendaknya sendiri (diktator). Demikianpun yang perangainya jahat, lancang,
rendah budhi dan tidak beradat. (Kekawin Nitisastra, XV.4)
tan hantuṣa
ng kĕḍi-kĕḍik yāti-moha garwa
tan bhakti
matwang i ṭuhan titir sampé sĕnghit
yéku ng
balācĕmér ulahnya ya dohakĕnta
Terjemahan:
Begitu juga mereka yang buas, dan yang tiada kehalusan dalam kata-katanya, yang tidak mempunyai sifat penyayang, yang angkuh dan serba kasar. Yang tidak hormat dan tidak cinta kepada tuannya, yang suka menghina serta membikin sakit hati orang lain. Mereka itu adalah hamba yang kelakuannya buruk sekali; mereka harus dienyahkan. (Kekawin Nitisastra, XV.5)
Pupuh di atas menjelaskan bahwa setiap warga negara diharuskan mencintai tanah airnya, dan mengabdikan diri untuk negara. Cinta tanah air berarti cinta alamnya, cinta negaranya, cinta rakyatnya, cinta budayanya, cinta adat-istiadatnya dan sebagainya. Semua warga negara harus memiliki semangat patriotisme dan nasionalisme yang tinggi. Siap membela dan membangun negara dengan potensinya masing-masing. Menjadi duri dalam negaranya sendiri adalah sebuah bentuk penghianatan (makar), dan mereka yang berhianat harus dihukum berat dimana mereka tidak lagi pantas untuk menginjakkan kaki di negara ini. Jika ada hamba (warga negara) atau abdi negara yang tidak memiliki rasa cinta tanah air, maka raja atau pemimpin negara (pemerintah) harus segera menjauhkan atau menyingkirkan orang tersebut (sesuai hukum bisa dipenjara atau bahkan hukuman mati). Orang seperti itu hanya akan membawakan kehancuran bagi negara, membawakan kerusuhan di masyarakat. Selain itu yang juga bisa mendatangkan kehancuran bagi negara antara lain: yang tidak taat pada atasan, yang sombong, yang suka menghambur-hamburkan uang negara demi kesenangan pribadi, yang bertindak semaunya sendiri, yang tidak berbudi dan yang tidak berbudaya.
Dilihat di lapangan, kejadian
kerusuhan 22 Mei 2019 dimana massa begitu berani melakukan pengrusakan dan
melawan petugas maka tidak terlepas dari para provokator yang selalu
berkata-kata keras (wwang bwat maśabda), mereka hanya menuruti
kehendaknya sendiri (manutindriyanya) dan selalu bertindak biadab tidak
beradab (nicāra). Mereka adalah orang yang tidak memiliki kehalusan
buddhi, tidak memiliki sopan-santun (tata krama), suka berkata kasar, memiliki
perangai yang buruk, suka menghina, dan suka membuat sakit hati. Dan
orang-orang seperti itu harus dienyahkan (ya dohakĕnta), kata-kata “ya
dohakĕnta’ di sini bisa saja diterjemahkan dalam bahasa hukum yaitu
‘penjara sekian tahun atau seumur hidup atau bahkan hukuman mati’.
Lebih jauh lagi, mereka yang tidak
memiliki rasa hormat dan cinta kepada pimpinannya maka juga tidak pantas lagi
untuk dijadikan pegawai.
kopa
pragalbha tuwi tan hana mardawanya
nityéki
lālana taman hana mātra dénya
śakténg
pirak kanaka ngiṣṭi dhana pwa tansah
Terjemahan:
Hamba (warga
negara) lainnya yang harus disingkirkan raja (pemerintah) yaitu: mereka yang
suka marah, dan terlampau berani serta tiada mengenal kehalusan; yang suka
menuruti hawa nafsu dengan tiada batasnya. Dan yang terlalu suka kepada uang
dan emas dan senantiasa menghasratkan kekayaan. (Kekawin Nitisastra, XV.6)
Pupuh di atas menjelaskan bahwa seorang
pemimpin harus berhati-hati atau jika memungkinkan menjauhkan atau
menyingkirkan anak buah atau bawahan atau warga masyarakat yang suka marah,
terlalu berani, tidak mengenal kehalusan buddhi, suka menuruti hawa nafsu, dan yang
gemar menumpuk kekayaan untuk dirinya sendiri (śakténg pirak kanaka ngiṣṭi
dhana). Jika orang-orang seperti itu diberikan kedudukan atau kekuasaan,
maka bukan tidak mungkin mereka bisa menggarong uang negara alias
korupsi. Ketegasan seorang pemimpin terhadap warga negara yang semacam ini
sangat penting, karena bisa berdampak besar kepada negara.
dudwāti-mūrka
kuhakānika gӧng sadarpa
śabdanya
tan rahayu nityaśa wākparuṣya
tan yukti
karyanĕniradhipati ng swa-séna
Terjemahan:
Dan lagi,
mereka yang selalu mengumpat dan mencela tuannya (menghina bangsa dan
negaranya); yang makar, bodoh dan amat keji; angkuh, yang perkataannya
tidak baik dan kasar. Hamba (warga negara) yang semacam itu tidak pantas
diangkat menjadi pemimpin.
Kalki Team
Pasundan - Parahyangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar