Beranda

Jumat, 13 Januari 2023

“Nyepi …..Apakah aku merasakan lapar dan haus? …..Apakah aku dalam keadaan terkendali?”

 

Oleh: Aguswi

 Nyepi …..sebuah hari raya yang rutin dilakukan umat Hindu dengan berbagai rangkaian ritual yang wajib dilaksanakan sebelumnya, seperti misalnya Melasti, Tawur Kesanga, Catur Brata Penyepian dan Ngembak Geni. Kali ini umat Hindu melaksanakan Nyepi saat pandemi Covid 19 masih menyebar. Dari berbagai rangkaian ritual tersebut mampukah kita menangkap esensi spiritualnya dari setiap ritualnya?

 Dalam Yajurveda XIX.30 dinyatakan:

vratena dīkṣāmāpnoti dīkayāpnoti dakiṇām,

dakiṇā śraddhāmāpnoti śraddhayā satyamāpyate

 

Terjemahan:

Dengan melakukan pantangan (vratena) maka akan mendapatkan penyucian (Diksa), dengan penyucian akan mendapatkan kehormatan (Daksina), dengan kehormatan akan mendapatkan keyakinan (Sraddha), dan dengan keyakinan akan mendapatkan kebenaran (satya) yang sejati.

Kata vratena berasal dari kata vrata yang artinya pengekangan, ketaatan. Berarti pula vrata sama artinya dengan brata.

Jadi kemanakah arah dari pelaksanaan Catur Brata Penyepian? Tidak lain adalah satyamāpyate (untuk mengetahui kebenaran yang sejati).

 

Melasti:

 Tersurat dalam lontar "Sundarigama", yang mengatakan (petikan dari website phdi.or.id): 

“irikang triodasi ikang kresnapaksalastiana ikangpratima yogamsa Sang Hyang Tiga Wisesaluirnya DesaPusehDalem sarengakena sarwa areapratimaDewa Parhyangan padang ke kabehkengakena maring sagarainiring dening wangsaha widhi widanahidangkan larapan ring Sang Hyang Barunamalaku anganyut laraningjagatsasapa klesa letu-hing bhuwana telas kalebur ring sagaraTelas tiningkah saparikramamantukakna punang pratima miwah jajaraken munggwing bale panjang aturin datengankayeng pralagiRi sampun puput sapula-palimantu-kakna maring sthananira soang-soang”

 Terjemahan:

Pada hari trio dasi krsna paksa, yakni dua hari sebelum hari tilem sasih kasanga atau pada hari ketiga belas sesudah bulan purnama sasih kasanga semua pratima atau pralingga sebagai simbol (niasa) perwujudan Tuhan Yang Maha Esa (Ida Hyang Widhi Wasa) diusung ke laut atau ke sumber mata air terdekat dengan seperangkat upakara dengan tujuan untuk disucikan. Makna dari persembahan upakara tersebut adalah menghanyutkan semua kekotoran dunia.

Lontar Sundarigama (petikan) juga menambahkan tujuan Melasti yaitu “….amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara….’ yang artinya “…mengambil sari-sari air kehidupan ditengah samudera…”

Jadi tujuan Melasti menurut Lontar Sundarigama adalah untuk menghilangkan segala kekotoran dalam diri dan alam sehingga bisa mendapatkan pengetahuan yang sejati (sarining amertha kamandalu) ditengah-tengah lautan kehidupan (telenging sagara) ini yang penuh dengan suka duka.    

Dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan Melasti yang tersurat dalam lontar Sundarigama sejalan dengan sebuah mantra yang tersurat dalam Yajurveda XIX.30, bahwa untuk mendapatkan penyucian maka kekotoran-kekotoran dalam diri harus dibersihkan terlebih dahulu. Ketika kekotoran dalam diri sudah lenyap maka alam pun bisa dibersihkan pula dari kekotorannya. Dan secara ritual, Sundarigama telah memberikan sebuah metode yaitu melalui Melasti. Dan tentu Sundarigama memberikan metode lanjutan yang berbunyi (petikan):

“…enjangnya nyepi amati geni, tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirnya, ageni-geni saparanya tan wenang, kalinganya wenang sang wruh ring tattwa gelarakena semadi tama yoga ametitis kasunyatan.”

 Terjemahan:

“…besoknya, Nyepi, tidak menyalakan Api, semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan, berapi-api dan sejenisnya juga tidak boleh, karenanya orang yang tahu hakikat kebenaran melaksanakan samadhi tapa yoga menuju kebenaran sejati”.

Dari pantangan yang disebutkan yaitu amati geni dan anyambut karya inilah kemudian dikembangkan menjadi empat (ditambah amati lelungan dan amati lelanguan) yang disebut Catur Brata Penyepian. Namun pada dasarnya dari amati geni dan anyambut karya yang diarahkan kepada pelaksanaan semadi, sudah tentu tidak akan ada lelungan (bepergian) dan lelanguan (kesenangan). Namun dua brata tambahan ini menjadi sebuah penegasan yang mendukung dua brata yang sebelumnya.

Pada prinsipnya, saat Nyepi semua indria kita redakan, kita kendalikan sehingga seluruh indria kita menemukan ketenangannya. Memang tidak mudah, akan tetapi juga tidak sulit bagi yang tekun berusaha. Untuk melaksanakan Nyepi yang benar-benar spiritual maka Catur Brata Penyepian harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dengan disertai upawasa (berpantang makan dan minum), mona (berpantang terhadap berkata-kata), dan dhyana (pemusatan pikiran kepada obyek Ketuhanan).

Sudah jelas lontar Sundarigama menyebut amati geni, berarti pula kegiatan memasak tidak dibolehkan karena setiap memasak sudah pasti menggunakan api sehingga kita pun diarahkan untuk berpantang terhadap makanan (upawasa). Ketika semadi (dhyana) dijalankan maka akan ada pemusatan pikiran disana sehingga secara otomatis kita pun diarahkan kepada mona.

Catur Brata Penyepian sesungguhnya sebuah metode pengendalian diri bagaimana agar kita menjadi The Master (pengendali) dari diri kita sendiri sehingga kita pun bisa menjadi Master Mind (pencipta) dari jalan kehidupan kita sendiri.  Logikanya adalah bagaimana mungkin kita mampu mengendalikan bagian diri kita yang halus (misal indria) bila mengendalikan yang sifatnya fisik saja misal mengendalikan makan dan minum saja tidak mampu?

Pikiran kita setiap hari terisi dengan berbagai pemikiran yang berproses di dalamnya. Bila berbagai pemikiran itu tidak kita kendalikan maka bisa terjadi eror dalam sistemnya yang berwujud stress, depresi, galauw, emosi, marah, sedih, bingung dan sejenisnya; dan ini membahayakan diri kita sendiri karena pikiran tidak lagi diposisi sebagai teman tetapi sebagai beban atau bahkan bisa sebagai musuh kita sendiri karena sifatnya yang berubah. Seperti halnya sebuah kolam dengan air yang jernih namun bila banyak gelombang yang terjadi maka kejernihannya tidak akan tampak dan dasar kolam pun juga tidak tampak. Namun ketika gelombang-gelombang air kolam itu reda maka kolam mendapatkan ketenangannya dan kejernihannya pun tampak begitu juga dengan dasarnya. Begitu pula dengan pikiran yang setiap hari berproses dengan berbagai pemikiran, dan ketika berbagai pemikiran semakin banyak maka pikiran semakin kehilangan ketenangannya, pikiran akan menjadi semakin kacau dan ruwet. Namun bila berbagai pemikiran tadi bisa dikendalikan maka secara perlahan pikiran akan mendapatkan ketenangannya kembali, sehingga kita pun akan merasakan sesuatu yang damai saat berbagai gelombang pemikiran tadi dapat dikendalikan. Semakin terkendali maka semakin pikiran mendapatkan kemurniannya atau kesejatiannya (Lontar Sundarigama = ametitis kasunyatan yaitu mendapatkan pengetahuan yang sejati).

Dan Lontar Sundarigama memberikan metode untuk mengendalikan berbagai pemikiran itu yang puncaknya adalah dengan gelarakena semadi tama yoga yaitu melakukan pemusatan pikiran yang dalam Astangga Yoga disebut dhyana (termasuk rangkaian yang sebelumnya seperti misalnya pranayama).  Dalam Yoga Sutra Patanjali, I.2: Yogas Citta Vrtti Nirodah yang artinya Yoga adalah untuk mengendalikan gelombang-gelombang pikiran. Jadi memang ini sejalan dengan tujuan dari konsep Catur Brata Penyepian yaitu metode sadhana untuk pengendalian diri.

Saat Nyepi….upawasa (puasa) yang dilakukan dengan semangat dan niat yang tulus maka tidak akan merasakan lapar dan haus. Jadi amatilah diri sendiri saat puasa “Apakah aku merasakan lapar dan haus?”. Saat dalam mona atau melakukan dhyana juga amati diri sendiri “Apakah aku bisa merasakan ketenangan?”. Dan secara keseluruhan amati juga “Apakah aku dalam keadaan terkendali?”. Jawablah dalam diri sendiri dengan penuh kesadaran.  

Jadi rangkaian Hari Raya Nyepi adalah metoda bagi diri ini untuk bertransformasi kepada tingkat kesadaran yang lebih tinggi yaitu kasunyatan (kebenaran yang sejati).

 Rahayu Sagung Dumadi

AGUSWI

Pasundan-Parahyangan-Nuswantara

Rabu, 11 Januari 2023

KUNINGAN - Sebuah Kematangan Diri

Lihatlah hamparan sawah yang penuh dengan tanaman padi, mula-mula berupa bibit yang kehijauan kemudian semakin tumbuh lalu muncul bulir-bulir (bakalan) padi yang kehijauan dan masih kosong tanpa isi. Kemudian Sang Petani melakukan perlakuan tertentu misal menyemprotnya dengan obat jika ada hama pada tanaman, juga melakukan pemupukan jika ternyata tanaman padi kurang subur. Sehingga dari perlakuan itu tanaman padi menjadi tumbuh sehat dan subur, dan bulir-bulir padi akan semakin terisi dan semakin matang seiring berjalannya waktu hingga padi menjadi menguning padat berisi dan siap dipanen, untuk kemudian dikonsumsi masyarakat sehingga bisa memuaskan rasa lapar setiap orang, bisa memberikan asupan-asupan yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam mendukung aktivitasnya sehari-hari.

Begitulah kita hendaknya, saat kita baru dilahirkan kita adalah bibit yang akan terus tumbuh. Mula-mula kita kekanak-kanakan dimana semua serba tergantung dari orang tua maupun orang lain, orang tua kita ibarat sang petani terus memupuk ataupun mengairi kekanak-kanakan atau keremajaan kita dengan kebutuhan jasmani dan pendidikan yang sebaik mungkin; memberikan asupan-asupan yang bergizi berharap agar putra mereka tumbuh sehat dan kuat, memberikan pendidikan yang terbaik berharap agar sang putra menjadi cerdas dan nantinya berguna bagi bangsa dan negara juga mengharumkan nama keluarga, memberikan obat berupa petuah-petuah bijak atau nasihat agar sang putra mampu menghadapi berbagai tantangan maupun halangan rintangan dalam hidupnya sehingga bisa terus tumbuh dari bulir-bulir keremajaannya menuju pribadi yang dewasa, yang sudah terisi dengan berbagai pengetahuan dan sudah matang untuk mandiri tidak tergantung lagi kepada orang lain, bahkan dengan pengetahuannya dia akan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat, dengan pengetahuannya dia bisa memberikan makanan dan air bagi masyarakat yang lapar dan haus akan pengetahuan, dia bisa memberikan asupan-asupan pengetahuan yang bergizi kepada masyarakat, dan pada akhirnya masyarakat menjadi terpuaskan dengan keberadaannya.

Sebagai pribadi yang sudah matang dan berpengetahuan ibarat padi yang sudah menguning padat berisi lalu merunduk, seperti itulah pribadi yang matang dia akan terus rendah hati, tidak akan mencerminkan diri yang sombong, congkah dan angkuh; karena dia menyadari bahwa kematangannya dalam hal pengetahuan bukan untuk disombongkan akan tetapi untuk kebermanfaatan bagi masyarakat.

Kematangannya dalam pengetahuan menjadikan dirinya menjadi memahami hakekat hidup ini, bagaimana harus bersikap dan berperilaku yang pantas di dalam masyarakat. Dia memiliki ketajaman dalam merasa, dalam istilah Jawa “ngrumangsani”, merasa bahwa sesuatu itu pantas atau tidak untuk dipikirkan dikatakan atau bahkan dilakukan. Merasakan bahwa dirinya bermanfaat atau justru menimbulkan masalah oleh karena sikap dan perilakunya. Merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, merasakan bahwa dirinya adalah satu dengan semua orang dalam kemanusiaan, itu “tat tvam asi”.

Dan sebagai puncaknya adalah dia matang dalam kerohanian, dalam hubungannya dengan Sang Maha Tinggi.

Sudahkah kita menjadi pribadi yang matang? Jadilah diri yang “ngrumangsani” alias merasa apakah sudah matang atau belum.

Rahayu Sagung Dumadi

AGUSWI          

Pengaruh Bulan Purnama dan Tilem Pada Kehidupan Bumi

 

Selama beberapa dekade terakhir, terdapat banyak laporan-laporan ilmiah yang mendukung dan menentang pengaruh bulan purnama dan bulan mati (tilem) terhadap perilaku manusia. Laporan-laporan tersebut menganalisa meningkatnya aktivitas pikiran, peningkatan kunjungan ke bagian gawat darurat atau bagian kejiwaan rumah sakit, serta orang-orang yang mengeluh tentang tingginya tingkat tekanan fisik dan mental.

Beberapa ilmuwan Tantrik (Neo Tantra) meneliti pengaruh dari bulan purnama dan bulan mati (tilem) terhadap perilaku manusia menggunakan metodologi penelitian spiritual. Dalam penelitian spiritual yang dilakukan untuk mengkonfirmasi pengaruh bulan terhadap perilaku manusia, jawaban singkatnya adalah ya, bulan purnama dan bulan mati (tilem) keduanya memiliki pengaruh signifikan. Berikut adalah berbagai aspek tentang bagaimana bulan mempengaruhi kehidupan kita.

Semua benda-benda langit termasuk bintang, planet dan satelitnya bersama dengan atribut-atribut kasarnya (fisik), juga memancarkan frekuensi-frekuensi halus (non-fisik). Atribut-atribut fisik dan frekuensi-frekuensi halus ini mempengaruhi kita dalam berbagai tingkatan pada tingkat fisik maupun spiritual.

Frekuensi yang dipancarkan bulan purnama dan bulan mati (tilem) mempengaruhi frekuensi tubuh mental, yakni pikiran manusia. Maksud kami ‘pikiran’ disini adalah perasaan, emosi dan hasrat keinginan kita. Pikiran terdiri dari pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Dalam pikiran bawah sadar kita memiliki sejumlah impresi mendalam yang menentukan sifat alami serta kepribadian kita. Namun, kita tidak menyadari adanya pemikiran atau impresi dalam pikiran bawah sadar kita. Impresi-impresi ini telah terkumpul sejak beberapa kelahiran.

Impresi-impresi di dalam pikiran kita ini adalah katalisator dari semua pemikiran dan tindakan-tindakan kita selanjutnya. Keduanya, baik impresi maupun pemikiran kita memiliki frekuensi halusnya masing-masing.

Bagaimana Pengaruh Bulan Purnama dan bulan mati (tilem) pada Pikiran?

Frekuensi bulan purnama dan bulan mati (tilem) sedikit lebih halus (tak kasat mata) dibandingkan dengan frekuensi halus pemikiran kita, tetapi masih kurang halus dibandingkan frekuensi impresi di dalam pikiran kita. Frekuensi bulan purnama dan bulan mati (tilem) memiliki kemampuan untuk mendorong frekuensi pemikiran akibat impresi di pikiran bawah sadar untuk muncul ke pikiran sadar. Setelah muncul ke pikiran sadar, barulah kita menjadi tahu akan adanya pemikiran tersebut. Maka pada saat bulan purnama atau baru seseorang akan terpengaruh sesuai dengan impresi yang dominan di pikirannya. Kami akan menjelaskan hal ini dengan lebih rinci di bagian selanjutnya.

Bulan purnama dan bulan mati (tilem) juga mempengaruhi pikiran hewan dengan cara yang sama. Namun karena pikiran hewan hanya terdiri dari impresi-impresi hanya berhubungan dengan naluri dasar seperti lapar, berkembang biak, tidur, dsb., maka meningkatnya pemikiran hanya terkait dengan naluri-naluri dasar saja.

Pada saat bulan mati (tilem), bagian yang tidak terkena cahaya (sisi gelap dari bulan) menghadap ke arah Bumi. Kegelapan memancarkan frekuensi yang lebih dominan Rajas-Tamas. Maka dibandingkan dengan ketika sisi yang terkena cahaya menghadap Bumi, lebih banyak frekuensi dasar dominan Rajas-Tamas yang terpancar ke Bumi.

Sebaliknya, pada saat bulan purnama terdapat penurunan dalam Rajas-Tamas akibat meningkatnya pencahayaan. Namun karena frekuensi bulan lebih aktif pada waktu bulan purnama, peningkatan aktivitas dari pikiran. Tergantung pada jenis impresi dari pikiran bawah sadar yang terpicu, peningkatan aktivitas pikiran dapat berkisar dari meningkatnya pemikiran-pemikiran acak hingga meningkatnya pemikiran spesifik tertentu.

Contohnya, seseorang yang merupakan seorang penulis dan memfokuskan diri pada beberapa buku yang sedang ia tulis, lebih mungkin untuk mendapatkan peningkatan aktivitas pemikiran terutama yang berkaitan dengan buku tersebut dan kreativitasnya dalam gaya menulis. Jenis pemikiran ini akan muncul dari pusat minat-bakat dalam pikiran bawah sadar.  Oleh sebab itu, mungkin ia merasa mampu lebih banyak menulis pada saat bulan purnama.

Namun untuk kebanyakan orang, pemikiran-pemikiran yang muncul adalah acak. Jika terdapat beberapa gangguan kepribadian seperti marah, rakus, dsb. maka kepribadian tersebut mungkin juga akan muncul dan mendominasi pemikiran kita selama periode bulan purnama ini. Misalnya, seorang alkoholik akan mendapatkan lebih banyak pemikiran tentang minuman keras pada hari itu.

Memungkinkan juga untuk membangkitkan pemikiran tentang Spiritualitas yang tertidur pulas dalam pikiran bawah sadar dari seorang spiritualis, bila ia mengambil keuntungan dari peningkatan aktivitas pikiran tersebut dengan meningkatkan latihan spiritual pada saat bulan purnama.

Pengaruh tarikan gravitasi pada masa bulan purnama dan bulan mati (tilem). Ketika bulan berada dalam keadaan bulan purnama ataupun bulan mati (tilem), kekuatan tarikan gravitasional dari bulan dan matahari sejajar. Bulan memberikan gaya tarik pada Bumi seperti pada hari-hari biasanya, tetapi tidak sekuat di hari terjadinya bulan purnama dan bulan mati (tilem).

Misalkan kita mengambil nafas dalam-dalam, udara yang terhirup ke dalam paru-paru kita adalah tiga kali lebih banyak dibandingkan nafas yang normal. Sekarang mari kita menerjemahkan analogi ini pada Bulan dan gaya tariknya pada Bumi. Di hari-hari terjadinya bulan baru dan bulan purnama, keseluruhan bulan menarik Bumi dan pengaruhnya adalah seperti yang dijelaskan pada analogi sebelumnya yaitu Bulan mengambil nafas dalam-dalam. Pada saat tersebut, kami menemukan bahwa atmosfer selebar tiga kali ukuran bulan tertarik dari Bumi.

Pada saat terjadinya Bulan purnama dan bulan mati (tilem), unsur-unsur kosmik di Bumi seperti Tanah, Air dan Angin ditarik ke arah Bulan. Hal ini menciptakan sejenis sabuk tak kasat mata dengan tekanan sangat tinggi.

Dalam proses ini pada tingkatan fisik ketika air tertarik ke arah bulan, bukan airnya, melainkan unsur-unsur gas dalam air (uap air) yang naik di atas air dan masuk ke sabuk tak kasat mata yang bertekanan tinggi tersebut. Karena energi-energi negatif sebagian besar berada dalam bentuk gas dan mereka tertarik ke sabuk tak kasat mata bertekanan tinggi ini. Di sini mereka bergabung dalam kelompok dan mendapatkan tambahan kekuatan dalam jumlah besar dari satu sama lainnya. Oleh sebab itu mereka menyerang umat manusia pada tingkat lebih tinggi dibandingkan hari-hari biasanya. Dampak dari hal ini adalah serangan hantu-hantu pada manusia baik pada tingkatan fisik maupun pikiran bisa mencapai tiga kali lipat lebih besar.

Dalam penelitian, peningkatan dari serangan-serangan energi negatif dan tekanan halus negatif telah diamati pada hari-hari bulan purnama dan bulan baru. Peningkatan ini dimulai dua hari sebelum bulan purnama atau bulan baru dan berakhir dua hari setelah itu.

Konsekuensi meningkatnya pengaruh negatif selama bulan purnama dan bulan baru. Pada hari-hari bulan mati (tilem), energi negatif penyebar Rajas-Tamas, orang-orang yang terlibat dalam ritual gaib dan yang dominan rajasik dan tamasik nya sangat dipengaruhi dan menerima energi hitam untuk aktivitas-aktivitas Rajas-Tamas mereka. Sehubungan hari tersebut kondusif untuk aktivitas-aktivitas negatif, maka hari tersebut  juga dianggap sebagai hari yang tidak menguntungkan untuk aktivitas-aktivitas positif.  Karena Rajas-Tamas dari bulan mempengaruhi pikiran, kejadian-kejadian dengan kecenderungan Rajas-Tamas dan menyebabkan penderitaan bagi manusia.

Pada malam bulan purnama, karena sisi terang dari bulan menghadap ke Bumi, lebih sedikit Rajas-Tamas yang dipancarkan pada malam ini dibandingkan malam-malam lainnya. Pada malam ini, lebih sedikit energi Rajas-Tamas.

Antara bulan mati (tilem) dan bulan purnama, pengaruh-pengaruh dari bulan mati (tilem) kurang terlihat bagi kita. Namun, pengaruh negatifnya lebih besar pada bulan mati (tilem). Alasan untuk hal ini karena pada bulan mati (tilem) pengaruh terhadap manusia lebih pada tingkatan non-fisik/halus, sementara pada bulan purnama seseorang lebih mampu menyadari peningkatan dalam pemikirannya.

Para penekun banyak latihan spiritual sesuai dengan prinsip-prinsip dasar latihan spiritual memiliki sifat utama yang Sattvik. Oleh sebab itu, mereka lebih sensitif terhadap perubahan-perubahan dalam Rajas-Tamas di lingkungannya dibandingkan dengan rata-rata orang yang lebih dominan Rajas-Tamasnya. Namun keuntungannya, para penekun spiritual akan lebih siap untuk mengakses perlindungan Tuhan melawan energi negatif.

Apa yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dari pengaruh berbahaya bulan purnama dan bulan mati (tilem)?

Oleh karena pengaruh berbahaya dari bulan mati (tilem) dan bulan purnama disebabkan oleh alasan spiritual, hanya terapi spiritual atau latihan spiritual yang dapat membantu dalam memberikan perlindungan.

Pada tingkatan duniawi, hal yang terbaik adalah untuk menghindari mengambil keputusan-keputusan penting pada hari-hari tersebut. Tingkatkanlah kuantitas dan kualitas latihan spiritual sejak 2 hari sebelum dan lanjutkan sampai dengan 2 hari setelah bulan purnama dan bulan baru. Di samping itu, juga akan bermanfaat untuk menyebut dan mengulang (chanting/berjapa) Nama Tuhan YME sesuai agama kelahiran dan chanting perlindungan spiritual.

Selama fase memudarnya bulan, yaitu periode di antara bulan purnama menuju bulan mati (tilem), seiring ukuran bulan semakin mengecil, frekuensi dasar Rajas-Tamas halus (tak kasat mata) yang dipancarkan bulan semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh semakin meningkatnya sisi gelap dari bulan. Untuk melindungi diri dari pengaruh buruk peningkatan Rajas-Tamas ini, maka adalah penting bagi kita untuk meningkatkan latihan spiritual selama periode ini.

Selama fase membesarnya bulan menuju bulan purnama, setidaknya kita harus mencoba untuk tetap mempertahankan upaya-upaya peningkatan spiritual yang telah kita lakukan dua minggu sebelumnya. Maksud hal ini adalah supaya kita dapat kembali memperbaharui upaya-upaya kita untuk meningkatkan latihan spiritual dalam fase memudarnya bulan menuju bulan baru berikutnya.

Bocah Angon

Aguswi

Suwung – Nyepi

 

Oleh: Aguswi

         Kata “suwung” adalah literatur Jawa yang berarti kosong, sepi, tiada apapun juga. Dunia ini berawal dari Suwung (kekosongan). Itulah yang dinyatakan oleh Chandogya Upanisad: “idam va agranaiva kincit asit, sadva saumnya idam agra acit, ekam eva advitya”, artinya “sebelum diciptakan, alam semesta ini tidak ada apa-apa, sebelum alam semesta diciptakan hanya Hyang Kuasa yang ada, maha esa tiada duanya”

Manava Dharma Sastra I.5 juga menjelaskan: “asid idam tamobhutam aprajnatam alaksanam, apratarkyam avijneyam prasuptamiva sarvatah”, artinya “ketahuilah bahwa asal mulanya alam semesta ini terselimuti kegelapan, tak terlihat, tanpa sifat, melampaui daya penalaran atau akal, seakan-akan terselimuti dalam tidur lelap universal”.

Jika memang alam ini berawal dari Suwung (kekosongan), lalu benarkah Tuhan itu ada? Secara logika, kekosongan adalah tanpa ada apapun juga, tiada obyek apapun yang dapat ditemukan. Jawaban atas pertanyaan apakah Tuhan itu ada maka tergantung pada kesadaran kita mengenai definisi “ada”. Jika kita mendefinisikan kata “ada” sebagai sebuah kenyataan yang harus memiliki bentuk atau ciri-ciri fisik, maka sudah jelas Tuhan itu tidak ada. Instrumen apapun yang digunakan akan gagal untuk membuktikan bahwa Tuhan itu terlihat atau sosok-Nya yang sejati dapat disaksikan.

Dengan memperluas definisi “ada” hingga pada tingkat kasunyatan metafisik, pernyataan Tuhan itu “ada” atau “tidak” tergantung pada kesadaran pengertian mengenai Tuhan itu sendiri. Mereka yang berkesadaran bahwa Tuhan adalah Pribadi dengan keberadaan metafisik (mereka yang dikategorikan sebagai para penganut kepercayaan Tuhan Personal), maka ada teks-teks kuno yang menyatakan bahwa Tuhan itu “ada”. Seperti yang tertulis dalam Bhagavad-Gita adhyaya 11 yang menyatakan bahwa Arjuna menyaksikan Sri Krishna dalam wujud Mahavisvarupa-Nya yang sesungguhnya adalah wujudNya sebagai Saguna Brahman (Tuhan Berkepribadian, Yang Terpikirkan).

Begitu juga dengan Manava Dharma Sastra adhyaya 1 yang menjelaskan alam semesta secara runtut dari keadaan Suwung (kosong) hingga kemudian meng “ada” dengan sendirinya dengan kekuatan-Nya yang Maha Ada.

Terkait pernyataan bahwa Tuhan itu ada, para saintis atau siapa pun juga yang berpegang pada pembuktian empiris tentu saja bisa menyangkal pernyataan itu. Seperti pernyataan Stephen Hawking dan para atheis lainnya yang menyatakan bahwa tidak ada sosok Tuhan yang terlibat dalam pembentukan alam semesta. Namun, menyangkal sebuah realitas metafisik (niskala) dengan pendekatan empiris yang melibatkan perangkat indriawi manusia adalah kebodohan belaka. Meski dibantu dengan perangkat paling canggih sekalipun, tidak akan pernah bisa mengungkapkan keberadaan-Nya secara utuh. Wilayah non-materi dari alam semesta ini hanya akan bisa ditangkap dengan perangkat non-indriawi pada diri manusia.

Suwung merupakan realitas kekosongan yang menjadi inti sekaligus meliputi segala yang ada. Tuhan, sejatinya bukanlah sosok atau pribadi, melainkan kekosongan yang meliputi seluruh jagad raya. Tuhan dalam keadaan esensialnya adalah kekosongan yang tanpa batas. Segala sosok agung apapun juga yang digambarkan oleh berbagai sastra suci, atau pun sebagaimana yang disaksikan oleh beberapa Sang Waskita (pelaku spiritual), sejatinya tak lebih dari manifestasi atau pengejawantahan Tuhan, Sang Suwung. Sang Suwung mengejawantah menjadi Wisnu, atau Brahma atau Mahadewa adalah tergantung kepada tujuan-Nya dalam pengejawantahan-Nya tersebut. Atau pun mengejawantah dalam Realitas Cahaya Tertinggi yang meliputi segalanya. Sang Suwung mengejawantah (memanifestasi) dalam wujud keberadaan Yang Berpribadi tiada lain hanyalah cara Sang Suwung untuk membuat manusia lebih mudah mengenal keberadaan-Nya sebagai realitas Yang Maha Agung.

Leluhur Nusantara yang menjelaskan keberadaan Tuhan sebagai Kang Akarya Jagad, Kang Murbeng Dumadi; tidak sedang menyebut sosok Tuhan. Tetapi yang sedang diungkap adalah keberadaan Sang Suwung yang mengejawantah menjadi jagad raya beserta segala isinya. Hal ini senada dengan petikan dari Chandogya Upanisad 3.14.1 “sarvam khalvidam brahma” yang artinya “segalanya adalah pengejawantahan dari Hyang Kuasa”. Tuhan sebagai Sang Suwung adalah bagian tak terpisahkan dari alam semesta, dan Sang Suwung adalah akar dari keberadaan alam semesta.

Di dalam segala yang ada, di sana ada Tuhan, Sang Suwung. Sang Suwung adalah Kesadaran yang bekerja menjadikan (meng ”ada” kan), memelihara, dan meluruhkan segala keberadaan melalui serangkaian hukum yang kita sebut hukum alam (rta).

Berarti manusia juga merupakan pengejawantahan dari Sang Suwung, maka manusia disebut mikrokosmos, jagad alit. Sebagaimana Sang Suwung dan jagad raya tiada pernah terpisah, demikian pula Sang Suwung dengan manusia adalah kesatuan juga. Sebuah kesatuan antara Sang Suwung dengan Sang Diri inilah dalam filosofi Jawa disebut Manunggaling Kawula Lan Gusti. Bahwa sudah sejak pada awalnya antara Sang Suwung dengan Sang Diri ini merupakan sebuah kesatuan yang tidak pernah maupun tidak akan terpisahkan. Sang Suwung adalah Kekosongan yang menjadi esensi sekaligus memenuhi dan meliputi diri manusia. Sang Suwung yang mengejawantah menjadi Pribadi Agung atau Personal maka terkesan terpisah dengan manusia.

Setiap manusia (sebagai pengejawantahan dari Sang Suwung) memiliki kebebasan penuh untuk memilih tindakan sesuai yang diinginkan. Yang menjadi batasannya adalah kapasitas dirinya sendiri dan hukum-hukum semesta. Manusia memiliki murba atau kuasa sejauh kapasitasnya, dan memiliki wasesa atau wewenang memilih tindakan dimana setiap pilihannya mendatangkan resiko tertentu yang dalam susastra Jawa disebut wohing pakarti – buah perbuatan. Manusia bisa melakukan sesuatu oleh karena ada daya atau kuasa yang diberikan oleh Sang Suwung, namun setiap apa yang dilakukan akan selalu terikat dengan hukum-hukum semesta yang sama sekali tidak bisa dihindari. Tindakan destruktif manusia akan dipatulkan oleh hukum-hukum semesta sebagai wohing pakarti yang juga merugikan dan membawa dukacita. Tanpa upaya untuk menata, memperbaruhi hidup, harmonis dengan alam semesta sebagai pengejawantahan dari Sang Suwung, maka dukacita pasti akan dialami. Dalam hal ini harus kita sadari bahwa sejatinya tidak ada dosa yang berakar pada ketidaksenangan dan kemarahan Hyang Kuasa terhadap tindakan manusia. Apapun yang diperbuat oleh manusia, Sang Suwung tetaplah Suwung; tiada marah dan benci, pun juga tiada senang dan duka. Tetapi manusia sudah pasti ngunduh wohing pakarti (mendapatkan segala akibat perbuatan yang dilakukannya).  

Nyepi....dalam pemahaman umat Hindu etnis Jawa sesungguhnya adalah sebuah laku dalam rangka Nyuwung (mengosongkan diri). Apa yang dikosongkan? Sebagaimana yang dijelaskan dalam upanisad-upanisad bahwa dunia ini pada awalnya hanyalah kekosongan saja tiada materi, tiada rupa, tiada obyek apapun juga dan yang ada hanya dengungan suara AUM; maka seperti itu pula bahwa Nyepi adalah laku mengosongkan hasrat-hasrat duniawi semata melalui pengendalian indriya-indriya dalam diri terutama rajendriya (rajanya indriya yaitu pikiran), dan hanya merenungkan esensi-esensi Ketuhanan. Jiwa manusia juga berasal dari-Nya, Sang Suwung yang mengejawantah; oleh karena itu Nyepi juga sebagai laku untuk suatu tujuan tertinggi perjalanan jiwa manusia, yaitu menuju sangkan paraning dumadining manungsa (asal dan tujuan manusia itu diciptakan). Nyuwung juga merupakan upaya bagi Sang Jiwa untuk kembali murni. Menjadi Diri Sejati atau Realitas Cahaya yang paling murni. Inilah yang disebut kamoksan sejati atau Moksa. Sang Diri Sejati akan menuntun untuk mencapai tataran Suwung. Inilah keadaan yang disebut sampurnaning hurip. Menjadi murni dan kembali kepada Suwung membuat manusia tiada tapi ada, dan ada tapi tiada. Kosong tapi isi, isi tapi kosong. Catur Brata yang selama ini kita kenal sebagai bagian dari sadhana atau laku di hari raya Nyepi adalah cara-cara brata untuk melatih Sang Diri ini dalam nyuwungke (mengosongkan) diri ini dari berbagai hasrat duniawi dengan cara (1) mengosongkan kerja (amati karya), (2) mengosongkan ego maupun ahangkara (amati geni), (3) mengosongkan kesenangan (amati lelanguan), dan (4) mengosongkan berbagai keinginan duniawi yang membuat pikiran menjadi mengembara kemana-mana (amati lelungan).

Saat sang Jiwa meneruskan perjalanan dengan menyelami realitas Sang Diri, maka pada puncaknya akan melampaui kerikatan dengan bumi dan serasa berada di angkasa raya. Kita akan secara nyata merasakan keagungan jagat raya yang tanpa batas, yang pada ujungnya kita akan berada pada sebuah kekosongan. Tubuh pun serasa lebur dan sirna, tetapi kesadaran kita tetap ada. Inilah yang disebut Suwung. Kita menjadi tiada, lebur dengan Sang Suwung yang merupakan sumber dari seluruh keberadaan ini.

Nyepi adalah upaya untuk jumbuh (menyatu, bersenyawa) dengan Sang Suwung yang merupakan sumber dari segala keberadaan di dunia ini. Oleh karena itu juga dapat diartikan jumbuh dengan segala bentuk kehidupan dari yang rendah hingga yang tertinggi. Dengan begitu kita pun menyadari bahwa kita dengan segala bentuk kehidupan adalah satu, kita dengan makhluk hidup lainnya adalah satu, bersaudara – Vasudheva Kutumbakan.

 

Satriya Jawa – Pasundan-Parahyangan

Sadulur Papat Kalima Pancer

 

Nusantara ini kaya dengan kelimuan Mantra Yantra dan Tantra, terutama Jawa dan Bali. Karya-karya klasik yang berupa sastra-sastra kuno banyak ditemukan yang hingga kini nilai-nilainya masih banyak dijadikan falsafah hidup masyarakat (terutama Jawa dan Bali) dalam kehidupan sehari-hari. Praktek-praktek yang bersumber dari sastra-satra kuno para leluhur masih banyak diyakini dan dilakukan sebagai sebuah jalan hidup dalam mencapai sebuah tujuan tertentu.

Sadulur Papat Kalima Pancer, kalimat ini bagi masyarakat Jawa tidaklah asing yang artinya Saudara Empat Kelima adalah Pusat (tengah). Pancer disini artinya adalah tengah, yang dimaksud tiada lain adalah Sang Hidup (Atma) itu sendiri yang menghidupi kedua lapisan badan ini (dari perspektif Tri Sarira), kedua lapisan itu adalah Sthula Sarira (badan fisik) dan Suksma Sarira (badan halus/badan astral). Jadi Atma sebagai Sang Hidup kedudukan-Nya sebagai Pancer (tengah), yang menjadi lapisan badan manusia yang paling halus yang disebut Antah Karana Sarira.

Saat Sang Atma mulai menghidupi Sthula Sarira dan Suksma Sarira dari janin dalam rahim seorang ibu, ada empat macam cahaya yang menyertai yaitu sebagai berikut:

1.    Cahaya putih, yang kemudian disebut Kakang Kawah

2.    Cahaya kuning, yang kemudian disebut Adi Ari-Ari

3.    Cahaya merah, yang kemudian disebut Getih

4.    Cahaya hitam, yang kemudian disebut Puser.

 Empat cahaya inilah yang merupakan unsur pembentuk Suksma Sarira (sains menyebutnya Badan Astral), dan setiap cahaya memiliki kecenderungannya masing-masing.

1.    Kakang Kawah dengan cahaya putihnya adalah manifestasi dari Buddhi dengan kecenderungan yang sabar dan stabil, Buddhi adalah sebagai Kesadaran, baik Kesadaran Jaga (awareness) maupun Kesadaran Kepahaman. Fungsi dari Buddhi adalah menentukan keputusan. Buddhi adalah juga kebijaksanaan. Kita sering mendengar nasehat “jadilah manusia yang berbuddhi”, yang artinya jadilah manusia yang memiliki prilaku yang bijaksana, prilaku yang bermoral, yang beretika. Jangan justru berperilaku yang sebaliknya bukan mencerminkan identitas sebagai manusia. Terhadap sesama manusia kita harus ngewongke, maksudnya adalah memanusiakan manusia. Jangan sampai memperlakukan orang lain sebagai budak atau sebagai alat (memperalat orang lain) untuk ambisi-ambisi pribadi. Menganggap orang lain sebagai budak atau alat akan cenderung memperlakukan mereka tidak sebagaimana layaknya manusia. Mungkin akan timbul perlakuan yang sewenang-wenang, senonoh atau bahkan jauh dari moralitas. Berbuddhi tidak hanya untuk kepada sesama manusia saja tetapi kepada makhluk hidup serta lingkungan lainnya kita harus berbuddhi. Bayangkan jika manusia tidak berbuddhi kepada lingkungan sekitar maka akan muncul perilaku-perilaku yang mengarah kepada pengrusakan alam, dan akibatnya sampai hari ini banyak tempat dilanda banjir dan tanah longsor.   

2.    Adi Ari-Ari dengan cahaya kuningnya adalah manifestasi dari Manah. Manah tiada lain adalah pikiran, dan pikiran memiliki dualisme (baik-buruk). Kecenderungan dari Manah (pikiran) adalah sangat mudah terpikat dengan kenikmatan dunia. Segala macam imajinasi ada dalam pikiran. Karena sifatnya yang dualisme, maka pikiran bisa menjadi teman dan juga bisa menjadi musuh diri sendiri. Bagi mereka yang bisa mengendalikan gelombang-gelombang pikirannya maka pikiran itu akan membawanya pada kemuliaan yang tertinggi. Namun bagi orang yang membiarkan gelombang-gelombang pikirannya menjadi liar, penuh dengan ambisi-ambisi, penuh dengan keinginan-keinginan yang hanya bersifat kesenangan belaka, maka pikiran itu tak ubahnya seperti musuh diri sendiri yang akan membawanya pada kesengsaraan. Pikiran adalah rajendriya (rajanya indriya), bila pikiran tidak terkendali maka indriya yang lain juga tidak akan terkendali. Itulah perlunya pikiran harus dikendalikan agar indriya-indriya yang lain juga terkendali. Rsi Patanjali dalam Yoga Sutra menuliskan “yogas citta vrtti nirodhah”, artinya yoga adalah untuk mengendalikan gelombang-gelombang pikiran. Dan Yoga Sutra ditulis oleh Sang Rsi dalam rangka untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia tentang cara mengendalikan gelombang-gelombang pikiran.

3.    Getih dengan cahaya merahnya adalah manifestasi dari Ahangkara dengan kecenderungannya yaitu agresif, ambisi dan dengki. Ahangkara juga bisa disebut Perasaan yang berfungsi untuk merasakan dan bertindak.

4.    Puser dengan cahaya hitamnya adalah manifestasi dari Citta dengan kecenderungan yang lembam. Citta adalah lapisan ingatan atau memori, Citta menyimpan segala macam ingatan/memori pengalaman manusia, baik yang manis maupun yang pahit. Puser atau Citta adalah pikiran bawah sadar. Semua memori manusia dalam hidup sekarang, bahkan memori dari berbagai kehidupannya yang sebelumnya semua tersimpan dalam Citta. Memori itu bisa dimunculkan kembali sehingga kita ingat akan kehidupan kita dikelahiran yang sebelumnya dengan teknik regresi, back to the pastlife. Silahkan baca buku terbitan Media Hindu yang berjudul Banyak Kehidupan Banyak Guru yang juga merupakan terjemahan penulis, maka akan lebih mengerti dalam memahaminya karena di buku itu diceritakan tentang seorang pasien yang diregresi (memorinya dikembalikan ke waktu lampau dengan teknik hipnosis) oleh seorang psikolog yang ahli hipnosis, dan pikiran pasien berhasil menembus ruang dan waktu lampau yang cukup jauh.

 

Keempatnya mengeluarkan tanda yang nyata bersamaan dengan lahirnya sang jabang bayi.

Yang pertama keluar adalah Kakang Kawah, lebih umum kita mengenalnya sebagai air ketuban, yang keluar terlebih dahulu dari rahim. Saat sang ibu merasakan bahwa si jabang bayi hendak lahir ke dunia, maka air ketuban akan muncul terlebih dahulu. Dengan munculnya/pecahnya air ketuban maka sebagai tanda nyata bahwa si jabang bayi sudah amat dekat kelahirannya. Karena air ketuban ini muncul terlebih dahulu, maka disebut Kakang Kawah yang berarti kakak yang berupa air, bagaikan kawah sebuah gunung berapi yang menyemburat.

Lalu si jabang bayi menyusul keluar dari rahim seorang ibu. Keluarnya si jabang bayi ini disertai dengan keluarnya Getih, yaitu darah. Lalu yang seperti usus yang melekat pada puser jabang bayi keluar juga, oleh karena itu disebut Puser, yang artinya pusat.

Yang terkahir kali muncul adalah Adi Ari-Ari atau plasenta. Adi artinya adik, Ari-Ari artinya plasenta. Dengan demikian Kakang Kawah, Adi Ari-Ari, Getih dan Puser muncul mengiringi lahirnya si jabang bayi.

Penyebutan Sadulur Papat Kalima Pancer oleh para Wasi/Pinandita/Pandita di Jawa dalam sebuah mantra saat sedang melakukan ritual tidak lain adalah mengacu kepada lapisan tubuh manusia yaitu Suksma Sarira (sedulur papat) dan Antah Karana Sarira atau Atma (pancer).

Badan manusia adalah Sthana Hyang Kuasa, karena itulah diri kita sendiri harus menjaga badan kita masing-masing. Menjaga berbagai lapisan badan kita sendiri berarti juga menjaga Sthana Hyang Kuasa dalam bentuk badan ini. Melalui badan ini pula-lah Hyang Kuasa mengejawantah dalam bentuk makhluk hidup dan ikut bermain sandiwara kehidupan ini.

Lebih jauh lagi konsep Sadulur Papat Kalimo Pancer bila dikaitkan dengan konsep Dewata Nawa Sanga maka Kakang Kawah dengan cahaya putihnya merujuk arah Timur dewanya Iswara, Adi Ari-Ari dengan cahaya kuningnya merujuk arah Barat dewanya Mahadewa, Getih dengan cahaya merahnya merujuk arah Selatan dewanya Brahma, Puser dengan cahaya hitamnya merujuk arah Utara dewanya Wisnu. Dan Pancer sebagai pusatnya yaitu arah Tengah dewanya Siwa.

Inilah sebenarnya filosofi dari Sadulur Papat Kalimo Pancer yang terkandung dalam berbagai keilmuan Mantra Yantra Tantra di Jawa, tidak lain adalah sebagai bentuk penghormatan atau pemeliharaan kepada lapisan-lapisan badan manusia itu sendiri yang sejatinya adalah Sthana Hyang Kuasa. Dan lebih jauh lagi juga sebagai bentuk penghormatan kepada seluruh penjuru alam semesta dengan Ista Dewata-Nya.

 

AGUSWI

Rahayu Sagung Dumadi 

Para Ilmuwan Kuno Hindu


ARYABHATT (476 SM)

PAKAR ASTRONOMI AND MATHEMATIKA

 

Aryabhatt lahir pada 476 Sebelum Masehi di Kusumpur.Beliaulah yang menjelajahi batas-batas matematika dan astronomi. Pada 499 SM, pada saat beliau berusia 23 tahun, beliau menulis teks tentang astronomi dan risalat non - paralel dalam matematika berjudul "Aryabhatiyam." Beliau merumuskan proses kalkulasi pergerakan planet - planet dan saat-saat gerhana. Aryabhatt adalah yang pertama kali memproklamirkan bahwa bumi berbentuk bundar, berputar pada sumbunya, mengitari matahari - 1000 tahun sebelum Copernicus mempublikasikan teori heliosentris.

Beliau juga dikenal karena menghitung p (phi) hingga empat digit di belakang koma: 3,1416 dan juga membuat tabel trigonometri. Beratus - ratus tahun kemudian, pada tahun 825 M, matematikawan Arab, Mohammed Ibna Musa mengamini bahwa nilai phi diambil dari India, "Nilai ini telah diberikan oleh Hindu." Dan yang terpenting, kontribusinya yang paling spektakuler adalah konsep angka nol, yang tanpanya tak mungkin ada teknologi komputer moderen seperti sekarang ini. Aryabhatt adalah Sang Virtuoso dalam bidang matematika.

 

 

BHASKARACHARYA II (1114-1183 M)

SANG JENIUS ALJABAR

 

Bhaskaracharya lahir di desa bernama Vijjadit (Jalgaon) di Maharastra. Karya-karyanya meliputi Aljabar, Aritmetika dan Geometri, bidang ilmu yang membuatnya kemasyuran dan keabadian. Karya matematikanya diberi judul "Lilavati" dan "Bijaganita" dan dipandang sebagai karya yang tak tertandingi dan fenomenal karena menunjukkan kecerdasannya yang luar - biasa. Karena itulah, tidak mengherankan jika karya - karyanya itu telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa - bahasa dunia.

Dalam salah satu risalahnya, "Siddhant Shiromani" dia menuliskan posisi planet, gerhana, kosmografi teknik matematika dan perlengkapan - perlengkapan astronomi. Dalam "Surya Siddhant" dia membuat sebuah catatan tentang gaya gravitasi: "Benda - benda terjatuh ke bumi disebabkan oleh gaya tarik bumi. Oleh sebab itu, bumi, planet, konstelasi, bulan, dan matahari tetap berada di dalam orbitnya disebabkan oleh gaya tarik ini." Bhaskaracharya adalah orang pertama yang menemukan teori gravitasi, 500 tahun sebelum Sir Isaac Newton. Dia adalah jawara di antara para matematikawan pada masa abad pertengahan India. Karya - karyanya membakar imajinasi ilmuwan - ilmuwan Persia dan Eropa, yang melalui penelitian terhadap karya - karyanya mendapatkan kemasyuran dan popularitas.

 

 

ACHARYA KANAD (600 SM)

PENEMU TEORI ATOM

 

Sebagai penemu "Vaisheshik Darshan" - salah satu dari enam folosofi dasar India-Acharya Kanad adalah seorang jenius di bidang filosofi.Beliau dipercaya terlahir di Prabhas Ksethra di dekat Dwarika di Gujarat. Beliau adalah pionir di bidang realisme, hukum sebab - akibat dan teori atom. Beliau mengklasifikasikan semua benda menjadi sembilan elemen, yakni : bumi, air, cahaya, udara, ether, waktu, ruang, pikiran dan jiwa. Beliau berkata,: Setiap benda ciptaan berasal dari atom - atom yang pada gilirannya berhubungan satu dengan yang lainnya untuk kemudian membentuk molekul." Pernyataannya mendahului John Dalton sekitar 2500 tahun berselang. Kanad juga menggambarkan dimensi dan pergerakan atom dan reaksi kimianya dengan atom-atom lainnya. Sejarahwan terkenal, T.N. Colebrook, pernah menyatakan, "Dibandingkan dengan para ilmuwan Eropa, Kanad dan ilmuwan-ilmuwan India lainnya adalah para pakar global dalam bidangnya."

 

 

NAGARJUNA (100 M)

SANG MASTER KIMIA

 

Terlahit di desa bernama Baluka, Madhya Pradesh, dia mendedikasikan waktunya untuk melakukan penelitian selama 12 tahun, hingga menghasilkan penemuan - penemuan luar biasa di bidang kimia dan metalurgi. Mahakarya tertulis seperti "Ras Ratnakar," "Rashrudaya" dan "Rasendramangal" adalah kontribusi fenomenalnya di bidang sains kimia. Saat alkemis Inggris gagal dalam eksperimennya, Nagarjuna telah menemukan proses kimia mentrasmutasi besi menjadi emas. Selain dikenal sebagai pengarang buku - buku kedokteran seperti "Arogyamanjari" dan "Yogasar," dia juga memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap pengobatan kuratif. Karena kejeniusan dan ke"mahabisaan"nya ini, dia kemudian dipercayakan menjadi Penasehat di universitas terkenal, University of Nalanda, dan sampai saat ini masih tetap mengundang decak kagum ilmuwan modern.

 

 

ACHARYA CHARAKA (600 SM)

BAPAK KEDOKTERAN

 

Acharya Charaka telah dinobatkan sebagai Bapak Pengobatan. Karyanya yang termasyur, "Charaka Samhita", dianggap sebagai ensiklopedinya Ayurveda. Prinsip, diagnosis,dan penyembuhannya masih relevan karena mengandung kebenaran ilmiah, bahkan setelah beratus - ratus tahun lamanya berselang. Ketika sains anatomi dibingungkan oleh berbagai teori di Eropa, Acharya Charaka menyingkap tabir melalui kejeniusannya yang tak tertandingi itu fakta - fakta tentang anatomi manusia, embriologi, farmakologi, sirkulasi darah dan berbagai macam penyakit, seperti diabetes, tuberkulosis, penyakit jantung, dan lain - lain.

Dalam "Charaka Samhita" dia telah menjelaskan kualitas medis serta fungsi dari 100.000 tanaman herbal. Dia telah pula menekankan pengaruh diet dan aktivitas terhadap pikiran dan tubuh. Dia telah membuktikan korelasi antara spiritualitas dan kesehatan fisik yang dikontribusikan luas melalui diagnosis dan sains kuratif. Dia juga mengusulkan kode etis bagi para praktisi pengobatan, dua abad sebelum dikumandangkannya sumpah Hippokrates di bidang kedokteran. Melalui kejeniusan dan intuisinya, Acharya Charak memberikan sudut- pandang yang sangat menyeluruh bagi pembelajaran Ayurweda. Dia selamanya dikenang dalam sejarah sebagai salah satu rsi-ilmuwan yang terbaik dan terhormat.

 

 

VARAHAMIHIRA (499-587 M)

AHLI ASTROLOGI DAN ASTRONOMERA TERKENAL

 

Warahamihira adalah ahli astrologi dan astronomi yang merupakan salah satu dari sembilan permata Raja Vikramaditya di Avanti (Ujjain). Buku Warahamihira berjudul "Pancha Siddhanta" mendapatkan tempat yang sangat terhormat di bidang astronomi. Dia mencatat bahwa bulan dan planet - planet bersinar bukan atas sinarnya sendiri, melainkan karena memantulkan cahaya matahari. Dalam bukunya yang lain, :"Bhurad Samhita" dan "Bhurad Jatak," beliau menyingkap tabir cabang ilmu alam, seperti geografi, konstelasi, sains, botani dan ilmu hewan. Dalam risalahnya tentang botani, Varahamihira menyajikan penyembuhan atas berbagai macam penyakit yang sering dialami oleh tanaman. Rsi- ilmuwan masih tetap eksis melalui kontribusinya yang unik bagi sains astrologi dan astronomi.

 

 

ACHARYA PATANJALI (200 SM)

BAPAK YOGA

 

Sains Yoga adalah salah satu dari sekian banyak kontribusi India bagi dunia. Hakekat Yoga adalah pencarian Kenyataan Sejati melalui latihan yang berkesinambungan. Acharya Patanjali, sang penemu, terlahir di Gonda (Gonara), Uttar Pradesh. Beliau mengembangkan metode pengaturan prana (nafas hidup) sebagai sarana mengendalikan badan, pikiran dan jiwa. Hal ini memberi manfaat yang melimpah juga bagi kesehatan dan kebahagiaan di dalam diri. ke-84 posisi yoga Patanjali dengan efektif meningkatkan efisiensi sistem pernafasan, sirkulasi darah, sistem saraf, pencernaan , sistem endokrin dan banyak organ lainnya di dalam tubuh. Yoga memiliki delapan tahapan dimana Acharya Patanjali menunjukkan cara mencapai rahmat Tuhan yang tertinggi melalui disiplin yama, nyama, asana, pranayama, pratyahara, dhyana dan dharana. Sains Yoga telah meraih popularitas karena pendekatan dan manfatnya yang ilmiah. Yoga juga menempati tempat terhormat sebagai salah satu dari enam sistem filosofi di India. Acharya P atanjali akan selamanya diingat dan dikenal sebagai seorang perintis dalam bidang ilmu tentang disiplin diri, kebahagiaan sejati dan kesadaran diri.

 

 

ACHARYA BHARADWAJA (800 SM)

PERINTIS TEKNOLOGI PENERBANGAN

 

Acharya Bharadwaja melewatkan masa hidupnya di kota bernama Prayaga dan merupakan penggubah Ayurweda dan fisika mekanik. Beliau mengarang kitab "Yantra Sarvasva" yang telah menyertakan juga penemuan luar biasa tentang ilmu penerbangan, ilmu ruang angkasa dan mesin terbang. Beliau telah menjelaskan tiga kategori mesin terbang:

 

> Mesin terbang yang terbang di bumi dari satu tempat ke tempat lainnya.

> Mesin terbang yang melintasi satu planet ke planet lainnya.

> Mesin terbang yang melintasi satu alam semesta ke alam semesta lainnya.

 

Beliau mendesain dan mendeskripsikan sesuatu yang bahkan hingga pada masa sekarang pun masih tetap mencengangkan dunia penerbangan. Kecemerlangannya dalam bidang teknologi penerbangan tercermin dari teknik yang dijelaskan oleh beliau:


>
Rahasia Tertinggi: Teknik untuk membuat mesin terbang agar tidak terlihat dengan penerapan hukum cahaya matahari dan udara.

> Rahasia Kehidupan: Teknik untuk membuat mesin angkasa menjadi terlihat melalui penerapan hukum listrik.

> Rahasia Spionase: Teknik rahasia untuk mendengarkan percakapan di pesawat lain.

> Rahasia Visual: Teknik untuk melihat apa yang terjadi di pesawat lain.

 

Melalui penemuan yang inovatif dan brilian ini, Acharya Bharadwaja telah dikenal sebagai perintis teknologi penerbangan.

 

ACHARYA KAPILA (3000 SM)

BAPAK KOSMOLOGI

 

Dikenal sebagai pendiri filsafat Sankya, Acarya Kapila dipercaya lahir pada tahun 3000 SM dari hasil perkawinan orang suci Kardama dan Devhuti. Beliau mempersembahkan kepada dunia apa yang dikenal dengan nama Sekolah Pikiran Sankhya. Karyanya memberikan pencerahan dalam bidang prinsip - prinsip Jiwa Tertinggi (Purusha). Materi mula (Prakrti) dan penciptaan.

Konsepnya tentng transformasi energi dan penjabarannya yang luar biasa tentang atma, anatma dan elemen halus dari kosmos menempatkan beliau ke dalam posisi kelas elit Sang Master - tiada tertandingi oleh ahli kosmologi manapun. Dalam penjabarannya, Prakrti terinspirasi oleh Purusha, sehingga dikatakanlah bahwa Prakrti adalah ibu dari penciptaan kosmis dan sumber dari segala energi. Layaklah kiranya bila dikatakan bahwa Acarya Kapila mengkontribusikan babak baru bagi dunia kosmologi. Karena observasi beliau yang ekstrasensorik dan penyingkapan tabir rahasia penciptaan ini, beliau dikenal dan diberi penghargaan sebagai Bapak Kosmologi.

 

Kapan ilmuwan dan sastrawan generasi sekarang muncul...jauh ribuan tahun sebelum masehi dimana banyak agama belum lahir dan dikatakan jaman yang kegelapan, faktanya ilmu, sastra dan pengetahuannya lebih daripada yang muda, dimana yang muda belum bisa baca tulis orang-orang jaman dahulu malah sudah asyik berselancar dan jangan sampai penemuan-penemuan mereka diklaim lagi oleh "negara lain" setelah borobudur, gajahmada, jayabaya, penumbal tanah jawa dll bahkan pandawa juga diklaim karena pusaka jamus kalimasadanya hanya untuk kepentingan tertentu

 

Selasa, 10 Januari 2023

Frekuensi Mantra Dan Pengaruhnya Pada Dunia

Ada semua jenis frekuensi dan getaran di sekitar kita. Ada frekuensi yang kita lihat (seperti gelombang cahaya), dengar (gelombang suara), atau rasa, dan lain-lain yang berada di luar kemampuan kita untuk merasakan, seperti sinar gamma, inframerah, atau frekuensi radio dan televisi. Sebenarnya, teks-teks Veda kuno India menjelaskan, secara ringkas, bahwa seluruh alam semesta ini adalah produksi atau manifestasi dari getaran-getaran tertentu yang menyebabkan perubahan dari energi spiritual menjadi energi material. Dan semua frekuensi ini mempengaruhi kita dalam banyak hal. Misalnya, kita mungkin mendengar musik yang menenangkan dan damai, atau yang kasar dan menjengkelkan. Atau mungkin ada frekuensi yang suka atau tidak suka harus kita hadapi secara terus-menerus, seperti suara bising yang kita dengar saat bekerja di pabrik, atau suara lalu lintas di pusat kota.

Berjalan melalui sebuah pabrik. Tingkat kebisingan dan getaran dari frekuensi yang kita dengar dan rasakan tidak menarik. Bahkan, frekuensi tersebut sangat memungkinkan merusak pendengaran kita dan mengharuskan kita untuk mengenakan penutup telinga. Berada di sekitar kebisingan semacam itu, yang merupakan getaran yang lebih rendah, dapat membuat kita gelisah atau gelisah pada waktunya nanti yang cenderung menarik kesadaran kita ke bawah dengan cara yang membuat kita berpikir dalam istilah yang sangat mendasar. Frekuensi atau getaran semacam itu dapat membuat pikiran kita terserap dalam cara berpikir yang lebih rendah, seperti sekadar ingin memuaskan indra kita, ingin pergi ke bar setelah bekerja untuk menenggelamkan pikiran kita, atau memikirkan apa pun yang akan memberi kita sensasi termudah. Dengan kata lain, paparan getaran frekuensi semacam itu cenderung menghasilkan kesadaran yang rendah bila kita terpapar terhadapnya. Mari kita jelaskan ini.

Ilmu tentang getaran dan frekuensi serta bagaimana pengaruhnya terhadap manusia adalah sesuatu yang telah ada selama ribuan tahun. Kita masih dapat menemukan buktinya dalam teks-teks Veda kuno. Ini menjelaskan tidak hanya hasil dari penggunaan frekuensi kata dan mantra, tetapi juga memberikan instruksi dalam beberapa kasus. Orang bijak dari dahulu kala menggunakannya untuk menghasilkan berbagai hasil dalam ritual yang mereka lakukan, dan dari mantra yang mereka ucapkan. Jika mantra dilafalkan dengan cara tertentu, hasil tertentu yang menakjubkan akan terjadi. Termasuk mengubah cuaca, menghasilkan jenis makhluk hidup tertentu, atau bahkan istana. Yang lain menggunakannya untuk memproduksi senjata, seperti senjata brahmashtra yang setara dengan bom nuklir modern. Mantra khusus dapat dilampirkan ke panah, dengan suara yang menyebabkan ledakan kuat ketika panah mencapai targetnya. Yang lain menggunakan ilmu frekuensi dan getaran untuk membawa kesadaran mereka ke tingkat persepsi yang lebih tinggi, atau untuk memasuki realitas spiritual, atau untuk menunjang kebutuhan hidup duniawi misalnya kesehatan, kecerdasan, kekayaan, dll.

Kita juga bisa melihat hasil paparan frekuensi tertentu dengan cara lain. Bahkan sekarang sudah ada penelitian yang memberikan penemuan tentang penggunaan frekuensi. Diaplikasikan untuk tanaman, dimixing ke berbagai jenis music, dll. Tumbuhan akan tumbuh subur jika diperdengarkan musik klasik, sementara tanaman akan layu atau layu jika diperdengarkan musik keras yang tidak menentu. Namun, mengingat sifat sebagian besar masyarakat yang tidak tercerahkan dimana kita hidup, beberapa dari penemuan ini tidak bermanfaat bagi dunia dan cukup menakutkan untuk memikirkan hasil yang mungkin terjadi.

Nicola Tesla, penemu kelahiran Kroasia, telah melakukan eksperimen pada pergantian abad yang mengungkapkan bahwa udara pada tekanan biasa adalah konduktor untuk sejumlah besar energi listrik jarak jauh tanpa kabel. Ini berarti beberapa hal bahwa penggunaan listrik untuk keperluan manusia akan tersedia di setiap tempat di dunia. Dan listrik yang merambat di udara menunjukkan bagaimana frekuensi dan gelombang energi yang kuat tidak memerlukan kabel untuk dibangkitkan di satu tempat dan diterima di tempat lain. Lebih jauh lagi, beberapa orang berpendapat bahwa matematika yang memberikan dasar untuk pekerjaan Tesla juga memberikan dasar untuk memahami telepati. Ini menunjukkan terbukanya potensi besar bagi pikiran manusia.

Kita dapat melanjutkan dengan menyarankan bahwa ini menandakan bahwa seluruh alam semesta adalah generator getaran yang berfrekuensi, dalam beberapa hal, agar tidak hanya menghasilkan, mengirim dan menerima energi di berbagai titik di seluruh dunia, tetapi juga mempertahankan energi tersebut. Mari kita sajikan beberapa informasi tambahan dalam hal ini.

Tesla membuktikan transmisi nirkabel tenaga listrik kembali pada bulan Februari 1900. Dia mengirim sinyal frekuensi Hertz yang sangat rendah dengan menciptakan jalur konduksi antara ionosfer dan bumi. Tesla menemukan bahwa permukaan bumi dapat digunakan untuk sirkuit panjang untuk frekuensi yang sangat rendah. Dengan demikian, energi listrik dapat ditransmisikan ke seluruh dunia dari bumi melalui tanah dan menggunakan ionosfer sebagai jalur kembali. Ionosfer adalah cangkang bola konduktor listrik dari ion dan elektron bebas yang mengelilingi bumi di bagian atas atmosfer dengan ketinggian antara 50 hingga 200 mil. Hal ini penting dalam transmisi radio dalam melayani sebagai reflektor gelombang radio pada rentang frekuensi yang memungkinkan transmisi di luar garis pandang dan mengelilingi bumi dengan refleksi berturut-turut. Ini berarti bahwa listrik dan frekuensi dapat dipancarkan ke pengguna dan penerima tanpa memerlukan saluran listrik di mana pun di dunia.

Namun, dapat dipahami bahwa efek osilasi ini dapat menghasilkan di ionosfer mungkin tidak selalu bermanfaat. Misalnya, dilaporkan di antara Intelijen A.S. bahwa U. S. S. R. telah terlibat dalam upaya skala besar untuk mengembangkan transmisi radio nirkabel yang dapat mempengaruhi pola perilaku seluruh populasi. Departemen Komunikasi Kanada melaporkan komunikasi frekuensi rendah bertenaga tinggi datang dari Uni Soviet. Peneliti independen memverifikasi keberadaan ini berasal dari berbagai situs di Uni Soviet. Di kalangan Intelijen, gelombang radio dikenal sebagai "Pelatuk" karena memiliki suara ketukan yang khas di atas gelombang udara.

Telah terbukti adanya kepekaan psiko-fisiologis pada hewan dan manusia terhadap medan magnet dan listrik dalam frekuensi sangat rendah (Extremely Low Frequency (ELF)) yang sesuai dengan gelombang otak. ELF ini, yang dapat menembus apa pun, memungkinkan militer memiliki sistem komunikasi di seluruh dunia dengan kapal selamnya, yang dapat ditempatkan di bagian mana pun di dunia.

Namun, pada akhir 1970-an, ada kematian ternak yang meluas di Oregon. Ditentukan oleh penelitian bahwa ternak telah dibunuh oleh transmisi frekuensi radio ELF yang merugikan dari Rusia. Tampaknya manusia adalah transduser bio-kosmik, pemancar dan penerima juga, dan entah bagaimana gelombang otak kita dapat mengunci dan memodulasi dengan medan elektromagnetik bumi, Medan Magnet Universal (UMF), sebagaimana Tesla menyebutnya. Penelitian telah menunjukkan bahwa mengubah medan magnet elektro ini dapat mempengaruhi gelombang otak kucing dan monyet. Manusia juga terpengaruh.

Apa pun di atas 11 Hz menghasilkan rentang umum agitasi dan ketidakpuasan. Saluran listrik bertegangan tinggi menghasilkan 50 hingga 60 hertz, dan ada kekhawatiran tentang apa yang dapat mereka lakukan terhadap orang-orang yang tinggal di dekat mereka. Beberapa orang merasa bahwa garis-garis seperti itu, atau bahkan penggunaan barang-barang seperti selimut listrik, dapat menyebabkan kanker karena medan magnet yang tidak wajar yang terpapar pada tubuh. Para peneliti telah menyimpulkan bahwa manusia adalah manusia listrik. Misalnya, jantung kita dapat mulai atau berhenti karena impuls listrik yang sesuai. Penggunaan alat pacu jantung adalah contoh untuk membantu menjaga detak jantung tetap stabil. Dengan demikian, radiasi elektromagnetik bisa menjadi polutan paling berbahaya di masyarakat kita. Ada bukti kuat bahwa kanker dan penyakit lain dapat dipicu oleh gelombang elektromagnetik.

Beberapa siaran ELF dari Rusia diduga menyebabkan depresi pada manusia. Ketika Rusia pertama kali mulai mentransmisikan pada tahun 1976, mereka memancarkan sinyal 11 Hz melalui Bumi. Gelombang ELF ini begitu kuat sehingga mengganggu komunikasi radio di seluruh dunia, mengakibatkan banyak negara mengajukan protes. Angkatan Udara AS mengidentifikasi lima frekuensi berbeda yang dipancarkan Rusia dalam koktail ELF liar. Mereka tidak pernah menyiarkan apa pun di bawah 11 Hz, atau apa pun yang bermanfaat. Mereka memiliki hal-hal yang lebih jahat dalam pikiran. ELF menembus apa saja dan segalanya. Tidak ada yang menghentikan atau melemahkannya. Pada frekuensi dan durasi yang tepat, seluruh populasi dapat dikendalikan oleh ELF, atau bahkan dibunuh. Setelah jangkauan pembunuhan dengan frekuensi ini disempurnakan, itu bisa membuat bom nuklir menjadi usang. Itu bisa membunuh segera dengan frekuensi merugikan yang kuat. Seluruh populasi dapat dibunuh tanpa pandang bulu dari frekuensi radio yang ditransmisikan dari sisi lain dunia tanpa merusak apa pun. Pasukan penakluk bisa dengan mudah mengambil alih tanah dan bangunan tanpa pertempuran.

Untungnya, senjata potensial ini tampaknya belum disempurnakan, atau penelitian semacam itu terselubung dalam tingkat kerahasiaan tertinggi. Secara tepat, Tesla pernah berkata bahwa perdamaian hanya bisa datang sebagai konsekuensi alami dari pencerahan universal.

Mengingat poin ini, disisi positifnya, ada mesin yang menggunakan frekuensi untuk penggunaan yang bermanfaat. Ada perangkat medis yang disebut Multiple Wave Oscillator, pertama kali dikembangkan oleh seorang peneliti Prancis dan ditingkatkan oleh elektronik solid state. Ini menggunakan sistem Tesla miniatur yang terdiri dari dua kumparan tembaga. Saat diaktifkan, medan magnet dibangkitkan di antara kedua kumparan dan frekuensinya dapat disesuaikan dengan listrik yang mengalir dari satu kumparan ke kumparan lainnya. Hasilnya adalah beberapa gelombang frekuensi inheren yang baik untuk membantu menyembuhkan berbagai bagian tubuh. Lutut yang sakit atau otot yang robek dapat ditempatkan di dalam medan magnet selama beberapa menit setiap kali, membantu menyembuhkannya lebih cepat daripada dengan metode konvensional.

Para peneliti telah menemukan bahwa frekuensi dibawah 7 Hz menciptakan perasaan relaksasi dan kesejahteraan umum, yang dikenal sebagai keadaan Alfa. Frekuensi yang paling menguntungkan di Bumi dikatakan frekuensi 6,8 Hz. Menariknya, Piramida di Giza memiliki frekuensi konstan 6,8 Hz yang melewatinya. Meskipun para peneliti telah mempelajarinya, mereka tidak tahu dari mana asalnya atau mengapa dalam struktur kuno seperti itu.

Hal ini menunjukkan gagasan bahwa orang dahulu mengetahui pentingnya frekuensi dan bagaimana menggunakannya untuk memberikan suasana untuk mencapai keadaan pikiran yang damai untuk memasuki keadaan kesadaran yang lebih tinggi dan persepsi realitas spiritual. Praktek Yoga telah menggunakan prinsip ini selama ribuan tahun. Berkonsentrasi pada pernapasan yang stabil, seperti dalam Hatha-Yoga, adalah sarana untuk meratakan dan menyelaraskan impuls listrik tubuh dan detak jantung. Menerapkan kondisi Alfa dengan cara alami memungkinkan seseorang untuk juga mencapai kondisi vibrasi dimana kesadaran dapat memasuki tingkat keberadaan dan persepsi yang lebih tinggi. Tubuh tidak hanya menghantarkan frekuensi yang lebih seimbang, tetapi juga mulai menghasilkannya. Seolah-olah tubuh dan pikiran sedang menciptakan atmosfernya sendiri dimana ia dapat memajukan perkembangan spiritualnya, dengan atau tanpa atmosfer yang tepat di sekitarnya. Struktur bangunan, seperti piramida, Candi dan kuil seperti piramida, yang umum di tempat-tempat tertentu di seluruh dunia, dapat memberikan bantuan untuk melakukan itu, bersama dengan latihan fisik yoga dan penggunaan doa, mantra, atau ritual. Dengan menerapkan hal-hal seperti itu secara teratur dalam kehidupan seseorang, itu akan meningkatkan rasa damai seseorang, membawa keadaan kesadaran yang lebih tinggi, dan wawasan ke dalam tingkat realitas diluar persepsi indra biasa. Dengan kata lain, itu secara alami akan membawa seseorang lebih dekat ke Kebenaran keberadaan kita. Seperti yang diharapkan Tesla, itu akan membawa kedamaian yang akan datang dari konsekuensi alami dari pencerahan universal

Poin kunci dalam hal ini adalah penggunaan mantra kuno, seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Tidak hanya hasil tertentu dapat dicapai dengan penggunaan getaran dan frekuensi yang tepat dalam suara, tetapi bahkan hari ini penggunaan mantra tertentu dikenal untuk menenangkan pikiran, menurunkan tekanan darah, menghilangkan kecemasan yang tidak perlu dengan mengubah fokus seseorang dalam hidup, dan seterusnya. Juga dipahami bahwa mantra-mantra dan doa-doa tertentu, seperti pengucapan nama-nama spiritual Tuhan, membawa seseorang kepada getaran transendental dari dunia spiritual dari mana asalnya. Ini berarti seperti konduktor, membawa energi spiritual dan frekuensi yang berasal dari strata transendental.

Dengan demikian, dengan menyerap kesadaran seseorang dalam getaran suara nama-nama Tuhan, ia akan melakukan beberapa hal, seperti mengubah dan meningkatkan impuls listrik yang dihasilkan oleh tubuh, dan membantu mempertahankan diri dari impuls negatif yang mungkin dihadapi. Dengan cara ini, membantu menciptakan sikap damai dalam diri individu dan watak yang lebih sehat. Itu juga mempersiapkan kesadaran seseorang untuk memahami tingkat realitas yang lebih tinggi, membuka seseorang terhadap dunia spiritual, secara bertahap mengungkapkan identitas spiritual sejatinya, yang juga memungkinkan seseorang untuk melihat kesatuan diantara semua orang. Itu juga menyelaraskan keberadaan seseorang dengan alam, dan bahkan mulai menghidupkan kembali hubungan nyata seseorang dengan Jiwa Tertinggi, Tuhan. Setelah getaran yang lebih tinggi dari alam spiritual dipanggil secara teratur dengan cara ini, dan dibuka untuk digunakan diantara orang-orang pada umumnya, peluang untuk perubahan dunia menjadi sangat besar.

Secara alami, ini mungkin tidak terjadi segera. Seseorang harus mampu berkonsentrasi pada suara-suara spiritual tersebut dengan tepat. Ini berarti membersihkan diri dari kekacauan dalam pikiran seseorang. Hanya dengan fokus murni pada suara nama-nama suci, seseorang dapat benar-benar merasakan kekuatannya, dan membuka potensinya. Untuk itu perlu adanya hidup dalam kebenaran. Itu membuat perbedaan dalam hal kemampuan fokus pada pengucapan doa-doa dan mantra spiritual ini dengan perasaan. Kemudian seseorang melepaskan kekacauan yang menghalangi untuk benar-benar mendengar suara dan memungkinkan mereka untuk memiliki pengaruh yang mendalam pada kehidupan seseorang. Saat itulah perubahan mendalam dan wawasan dapat mulai terjadi. Ketika masyarakat umum mulai berpartisipasi dalam proses ini, saat itulah getaran kolektif di seluruh dunia dapat mulai membawa perubahan sosial yang akan membantu membawa semua orang ke keadaan makhluk yang lebih tinggi dan lebih damai. Frekuensi umum yang kita hasilkan dan terima kemudian secara alami akan bersifat harmonis dan spiritual.

 

Aguswi

Kalki Team


BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...