Beranda

Kamis, 28 Juni 2018

PANDANGAN HINDU TENTANG NASIONALISME



Hindu memandang bahwa kecintaan terhadap bangsa dan negara dan pengejawantahan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan landasan bagi umat Hindu untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pandangan ini dapat kita jumpai dalam beberapa kitab suci. Seperti Atharwa Weda XII.1.45:

janam bibhrati bahudha vivacasam
manadharmanam prthivi yathaikasam
sahasram dhara dravinasya me duham
dhraveva dhenuranapasphuranti

Berikanlah penghargaan kepada bangsamu yang menggunakan berbagai bahasa daerah, yang menganut kepercayaan yang berbeda. Hargailah mereka yang tinggal bersama di bumi pertiwi ini. Bumi yang memberi keseimbangan bagaikan sapi yang memberi susunya kepada umat manusia. Demikian ibu pertiwi memberikan kebahagiaan yang melimpah kepada umatnya.


PEREMPUAN JAWA KUNO

Ken Angrok terperangah ketika tanpa sengaja melihat betis Ken Dedes. Terlihatlah bagian rahasianya yang bersinar.
“Jika ada perempuan yang demikian anakku, perempuan itu namanya Nariswari. Dia adalah perempuan yang paling utama, anakku,” jawab Dang Hyang Lohgawe ketika ditanya Ken Angrok dalam naskah Pararaton.
Empat tipe perempuan antara lain padmini, citrini, sankini, dan hastini.

sumber: http://solo.tribunnews.com

Tipe pertama, padmini memiliki ciri fisik: matanya seperti mata kijang dengan ujung-ujung kemerahan; hidungnya kecil dan bentuknya bagus; wajahnya bagaikan bulan purnama yang keemasan seperti bunga cempaka; lehernya halus dan luwes; buah dada yang penuh dan tinggi; pusarnya dikelilingi tiga garis lipatan; kulitnya halus seperti kelopak bunga sirsa; suaranya manis mengalun; kalau jalan seperti angsa; wataknya pemalu, menyenangkan, pemurah, setia, memiliki rasa keagamaan, dan bertingkah terhormat.

Yajna Upavitam Bagi Brahmacari

Veda merekomendasikan tahapan kehidupan ideal yang disebut dengan catur asrama dharma. Keempat tahapan kehidupan ini merupakan lapangan kehidupan yang hendaknya seseorang lalui, mulai dari tahapan awal yang disebut dengan brahmacari (masa menuntut ilmu), grehasta (masa berumah tangga), vanaprastha (masa dimana sedikit demi sedikit melepaskan kehidupan duniawi), dan masa sanyasin (masa sudah secara totalitas melepaskan diri dari ikatan duniawi).

Di antara keempat tahapan kehidupan tersebut, kiranya penting untuk dipahami bahwa tahapan brahmacari merupakan tahapan yang paling menentukan untuk seseorang dapat melewati tahapan kehidupan berikutnya. Mengapa demikian? Karena masa brahmacari ini adalah masa pembekalan diri dan masa pengisian diri untuk seseorang dapat menjalani tahapan selanjutnya. Brahmacari secara konseptual dapat dimaknai sebagai masa dimana seseorang hendaknya menuntut ilmu pengetahuan, baik itu pengetahuan yang bersifat sains maupun spiritual. Pengetahuan inilah yang pada nantinya akan dijadikan pijakan untuk memasuki tahapan berikutnya. Pada masa ini pula seseorang hendaknya membentuk karakter dirinya untuk menjadi mulia, sebab pada saat tua nanti sangat susah membentuk karakter karena beban kehidupan yang banyak dan ketajaman intelek sudah mengalami ketumpulan.

Rabu, 06 Juni 2018

Mengapa bunga digunakan untuk pemujaan kepada para dewa?


Pemujaan kepada para dewa tidak akan lengkap tanpa menggunakan bunga. Jika kita memahami bunga atau daun yang mana yang kita perlukan untuk memuja dewa tertentu, dalam jumlah berapa dan apa manfaat spiritualnya bunga tersebut maka kita akan mendapatkan lebih banyak manfaatnya dari pemujaan tersebut.

1. Pentingnya bunga dalam pemujaan

Ada frekuensi halus para dewa yang aktif di atmosfer. Frekuensi ini ditarik oleh bunga-bunga tertentu. Frekuensi ini kemudian oleh bunga tersebut dipancarkan kembali ke atmosfer dan kemudian dikenal sebagai 'pavitrak'. Inilah perbedaan antara frekuensi dan pavitrak.
·         Prinsip halus para dewa yang ditarik oleh bunga dari atmosfer disebut frekuensi, dan frekuensi kedewaan ini oleh bunga dipancarkan lagi ke atmosfer sebagai pavitrak.
·         Frekuensi ini sangat halus dan tidak berwujud (nirguna), sementara pavitrak adalah bentuk halus dan nyata dari prinsip dewa tersebut.

Mari kita lihat bunga Sepatu (Hibiscus) ini.



·         Energi yang dipancarkan dewa Ganesha di alam semesta ini akan ditarik ke bagian tengah bunga Sepatu yang berwarna merah dan dipancarkan dalam bentuk lingkaran.
·         Energi Ganesha yang diserap oleh tangkai bunga akan dipancarkan melalui kelopak bunga ke atmosfer.
·         Benang sari bunga menyerap energi Ganesha yang ada di atmosfer dan memancarkan partikel yang berfungsi sebagai energi vital atau pranshakti.
·         Bunga Sepatu memiliki sifat sattvam, oleh karena energi ilahi (shakti) dan kesadaran ilahi (Chaitanya) dipancarkan dari kelopaknya.

Pluralisme dan multikulturalisme


Perubahan tata kehidupan di era global terjadi karena didukung oleh perkembangan teknologi yang sangat pesat telah membawa berbagai kemudahan. Kemudahan dimaksud seperti kecepatan berkomunikasi, persahabatn lintas tempat dengan hilangnya sekat-sekat batas wilayah antar daerah bahkan negara, kemudahan memperoleh informasi dari berbagai belahan dunia baik yang bersifat ilmiah, popular dan instan, tetapi di sisi lain teknologi juga dapat berpengaruh negatif, mudahnya mendapatkan informasi yang bersifat sampah seperti gambar tak senonoh, juga pada bentuk penanaman paham yang bersifat agitasi (penyebaran kebencian) pada paham lain yang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip bertuhan yang pluralis dan multikultural.

Manusia Sempurna


Kesempurnaan pada dasarnya ini mengacu kepada bagaimana kita bisa mendapatkan sebuah keterampilan yang sekarang ini tidak kita punyai. Sebagai contoh, katakanlah kita mengetik 20 kata dalam satu menit dengan dua jari kita. Lalu kita ingin meningkatkan kemampuan kita selama enam bulan untuk praktek setiap hari. Maka kita pasti bisa mengetik dengan sepuluh jari kita, bahkan tanpa melihat pada keyboard, pada kecepatan rata-rata 50 kata dalam satu menit. Maka dapat disimpulkan bahwa latihan kita selama enam bulan telah membuat kita lebih sempurna.

Ketika konsep ini kita terapkan dalam upaya-upaya kehidupan spiritual kita, maka ini akan sangat berarti. Ini karena esensi jati diri kita, jiwa kita pada hakekatnya sempurna. Latihan dan upaya kita sendiri akan membawa kesempurnaan diri pada intelektual, emosional dan naluri kita.

Kita terlahir dalam badan fisik untuk tumbuh dan berkembang dengan kekuatan jati diri kita. Agama kita mengajarkan pengetahuan bagaimana menyadari kesatuan kita dengan Tuhan dan tidak menciptakan pengalaman yang tidak kita inginkan.

Pandangan Hindu tentang kemajemukan bangsa, persatuan dan warga negara

Kemajemukan atau keberagaman bukan hanya sebagai sebuah realitas sosial. UUD 1945 menyatakan dgn jelas bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya. Karena itulah ditegaskan bahwa semua agama memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang, termasuk pemeluknya untuk menjalankan agamanya secara bebas. Pemeluk agama tertentu tidak boleh memaksa pemeluk agama lainnya untuk pindah agama sebagaimana realita yang kita lihat selama ini. Setiap orang memiliki hak dasar untuk memeluk agama yang berarti kebebasan dan kewenangan seseorang untuk menganut suatu agama yang tercantum dalam Pustaka Suci Veda, khususnya Bhagavadgita.

Umat Hindu menghormati kebenaran dari manapun datangnya dan menganggap bahwa semua agama bertujuan sama, yaitu menuju Tuhan, namun dengan berbagai sudut pandang dan cara pelaksanaan yang berbeda. Hal ini diuraikan dalam Bhagavadgita IX.29 yang berbunyi:

samo ‘ham sarvabhuutesu
na me dvesyo ‘sti na priyah
ye bhajanti tu maam bhaktyaa
mayi te tesu caa ‘py aham

Aku bersikap adil pada semua makhluk, tidak ada yang paling Ku-benci ataupun yang paling Ku-kasihi, akan tetapi mereka yang berbhakti kepada-Ku, maka dia ada dalam Diri-Ku dan Aku ada dalam dirinya.

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...