Beranda

Selasa, 24 Juli 2018

Perpaduan Ruwatan dan Melukat

Hari Sabtu tanggal 15 Agustus 2015, bertempat di Pura Taman Mini Indonesia Indah, Paguyuban umat Hindu Jawa – Paguyuban Majapahid – melaksanakan acara ruwatan/melukat. Pada awalnya pihak panitia menargetkan peserta yang tidak lebih dari 50 orang, namun ternyata yang memberikan konfirmasi ikut acara tersebut lebih dari 100 orang. Dan itu tidak menjadikan masalah apapun karena sarana upakara yang dipakai bisa untuk ngruwat/melukat orang berapapun.

Acara pertama diawali oleh pemangku yang melakukan puja pembersihan dan penyucian diri, dilanjutkan dengan puja nuwur tirtha lukat/ruwat dan penguripan sarana sesaji untuk pembersihan dan penyucian (byakala, durmanggala, prayascitta) dan penguripan sesaji lainnya.

Kemudian tirtha lukat/ruwat sebagai bibit, dicampur dengan toya anyar yang sudah dilengkapi dengan berbagai sarana antara lain:
1.      Berbagai jenis daun (daun kayu sisih, daun kayu tulak, daun kayu suji, daun beringin, daun andong, daun mengkudu, daun alang-alang, daun bambu, daun dadap serep, daun temen, daun nagasari, dsb)
2.      Bunga (melati, jepun, kenanga, kantil putih, kantil kuning, mawar, kaca piring, soka, teratai, bunga kelapa, dsb)
3.      Buah (delima putih, jeruk purut, jeruk nipis)
4.      Kayu (cendana, gaharu, stigi, ulin, tulasi)
5.      Batu permata/akik (putih, merah, hitam, kuning)
6.      Cengkir kelapa (kelapa bulan, kelapa udang, kelapa gading, kelapa hijau)
7.      Ruas tebu wulung
8.      Dhatu (emas, perak, tembaga dan permata mirah)
9.      Sejenis minyak yang sangat langka (minyak buluh perindu)
Pencampuran ini diurip dengan mencelupkan sejumlah dupa yang menyala ke dalam campuran tirtha. Perpaduan antara ruwatan dan melukat ini tidak menggunakan wayang, tetapi mengkombinasikan antara daya spiritual dan ritual pelaksana dengan berbagai sarana alami yang mengandung mineral dan daya energi masing.

Senin, 23 Juli 2018

BRATA SIWARATRI: MENDENGAR TETAPI TIDAK MERASA MENDENGAR, MERASA TETAPI TIDAK MERASA


Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara hari suci lainnya, Siwaratri memang unik dan sangat berbeda, sangat menantang bagi para bhakta yang mau melakukannya. Betapa tidak, ada beberapa jenis brata yang memang tidah mudah untuk dilakukan, namun juga tidak sulit jika dilakukan dengan penuh kesadaran, semangat spirit dalam melakukan berbagai sadhana (disiplin spiritual) yang ada. Hari-hari raya yang lain terkesan lebih menonjolkan ritual, namun Siwaratri menuntut para bhakta untuk menyelami lautan spiritual yang memerlukan kemampuan pikiran untuk berenang hingga mencapai pantai realisasi diri. Adalah perlu dipertanyakan bila hari raya Siwaratri ternyata pemakaian sesajen/bebantenan masih cukup banyak, karena dalam Siwaratri lebih mengedepankan menggembleng the Self (Sang Diri) yang bersemayam dalam setiap diri kita sendiri. Disini penulis lebih ber-explore tentang bagaimana melalukan brata-brata Siwaratri, tentu yang berdasarkan pengalaman, tidak berdasarkan kata orang.

Pertama, Upawasa, merupakan brata yang dilakukan dengan tidak/mengurangi makan dan minum. Bagi yang mampu bisa dilaksanakan dengan tidak makan dan minum sama sekali, namun bagi yang tidak mampu bisa dilaksanakan dengan mengurangi porsi makan, suatu contoh pada hari biasa makan sehari tiga piring maka saat Upawasa cukup makan sepiring saja, ini sebagai tahap awal atau tahap belajar. Ada yang mengatakan bahwa sadhana ini hendaknya dilakukan selama 24 jam, namun tidak menutup kemungkinan kurang dari itu dengan menyesuaikan kemampuan diri juga sebagai tahap pembelajaran. Apa konsekuensinya apabila perut kosong? Secara alami maka akan muncul rasa lapar dan haus. Perlu diketahui bahwa antara perut kosong karena belum makan alias lapar dengan perut kosong karena sedang melakukan Upawasa sangat berbeda. Perut kosong oleh karena belum/terlambat makan bisa menyebabkan penyakit, ini dikarenakan ada keinginan untuk makan dalam pikiran sehingga lambung terus mengeluarkan enzim pencernaan, dan pada kenyataannya pada saat itu belum ada yang dicerna karena belum makan, akibatnya lambung perih. Namun perut kosong oleh karena sedang Upawasa tidak akan menyebabkan penyakit, bila Upawasa tersebut memang dilakukan atas kesadaran dirinya sendiri, atas niat yang tulus sebagai sadhana spiritual. Ketika Upawasa dilakukan benar-benar atas dasar niat (bukan karena ikut-ikutan atau gagah-gagahan), ini berarti sama sekali tidak ada pemikiran untuk makan dan minum yang muncul dalam pikiran, karena tidak adanya pemikiran makan dan minum maka secara otomatis lambung tidak mengeluarkan enzim pencernaan dan berhenti melakukan gerakan meremas-remas, sehingga tidak akan ada luka lambung yang menyebabkan perih, lalu rasa lapar pun tidak ada. RASA LAPAR ADA KARENA ADA PEMIKIRAN MAKAN DALAM PIKIRAN.

Kamis, 19 Juli 2018

KITA ADALAH APA YANG KITA TEMUI


Lingkungan sangat mempengaruhi perilaku, kata-kata dan tindakan kita seperti layaknya yang kita makan.

Kita semua pasti sudah tidak asing dengan ungkapan “Kita adalah apa yang kita makan”. Pandangan Hindu terhadap hal ini adalah bahwa jenis makanan yang berbeda yang kita konsumsi mempunyai pengaruh yang sangat signifikan pada kondisi pikiran dan emosi kita. Sebagai contoh; memakan daging, yang dikenal sebagai makanan yang tamasik, akan mengarahkan kita ke kesadaran yang lebih rendah dan akan terikat dengan rasa ketakutan, iri dan penyesalan yang selalu mengikuti. Mengkonsumsi makanan pedas yang terlalu banyak atau makanan rajasik, dapat menyebabkan aktivitas fisik dan intelektual yang terlalu bersemangat. Pada sisi lain, makanan yang murni atau sattvik – seperti buah-buahan segar dan sayuran yang tumbuh di atas tanah – membantu mengembangkan intuisi atau jiwa kita. Untuk perkembangan spiritual yang maksimal, yang terbaik adalah banyak memakan makanan yang sattvik, mengurangi memakan makanan yang rajasik dan menghindari makanan yang tamasik. Chandogya Upanisad 7.26.2 mengatakan: “Ketika makanan yang dimakan itu murni, pikiran juga menjadi murni, Ketika pikiran menjadi murni, ingatan menjadi kuat. Dan ketika seseorang mempunyai sebuah ingatan yang kuat, seluruh ikatan yang mengikatnya di dunia material ini akan hilang.”

Rabu, 18 Juli 2018

Menyatukan Cipta, Rasa dan Karsa Dalam Kebersamaan Ngembak Geni Dan Banyu Pinaruh

Ngembak Geni....sebuah rangkaian ritual dalam Hari Raya Nyepi. Istilah Geni disini tidak mengacu kepada unsur api atau unsur apapun, melainkan sebuah kata filosofis yang lebih terkait dengan nafsu/keinginan duniawi dalam diri setiap manusia. Ngembak Geni adalah sebuah kemenangan diri dari peperangan melawan Geni (nafsu/keinginan) saat melaksanakan Catur Brata Penyepian. Ritual ini sangat tampak sekali di pura yang ada di desa-desa umat Hindu etnis Jawa, setelah selama 24 jam melaksanakan Catur Brata Penyepian pada pagi harinya melaksanakan sembahyang bersama dan dilanjutkan anjangsana dari rumah ke rumah umat Hindu.
Ngembak Geni tahun ini yang jatuh pada tanggal 18 Maret 2018 bersamaan dengan Banyu Pinaruh yang merupakan rangkaian Hari Raya Saraswati. Banyu disini yang secara harfiah artinya air juga merupakan kata yang filosofis; namun sah-sah saja jika dikaitkan dengan tirtha, dan tirtha itu bisa digunakan dengan cara diminum atau dibasuhkan atau untuk mandi. Pinaruh sama artinya dengan Pangaweruh (dalam literatur Jawa Kuno) yang artinya Pengetahuan Yang Sejati. Jadi Banyu Pinaruh yang dilaksanakan keesokkan hari setelah Hari Raya Saraswati membawa pesan bahwa hendaknya setiap manusia mandi/membasuh/meminum/mengisi diri dengan pengetahuan yang sejati. Bagaimana caranya? Tentu bisa dengan mempelajari berbagai sastra suci Veda dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kemenangan terhadap berbagai nafsu/keinginan (Geni) saat Catur Brata Penyepian yang secara ritual diwujudkan dalam pelaksanaan Ngembak Geni harus dilanjutkan dengan berusaha memahami hakekat hidup dan kehidupan dengan cara mengisi diri dengan pengetahuan yang sejati (Banyu Pinaruh), inilah pesan yang disampaikan dalam momen pertemuan dua ritual tersebut diatas.

Minggu, 15 Juli 2018

BERYADNYA KARENA TAKUT ATAU GENGSI ?


Hal yang paling utama dalam beragama menurut Hindu adalah kesadaran diri pribadi masing-masing dengan segala keyakinannya karena Hindu lebih mendasarkan ajarannya pada cinta kasih kepada setiap orang, persaudaraan, dan saling menghargai dalam kesetaraan bagi semua makhluk, tanpa dilandasi kebencian dan kekerasan. Agama Hindu tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk melakukan kegiatan beragama yang dilandasi oleh rasa ketakutan yang berlebihan baik takut akan berbagai ancaman hukuman, takut Tuhan akan marah apabila dianggap kurang dalam menghaturkan persembahan atau ketakutan-ketakutan lainnya.

Harus kita akui bahwa dalam kenyataannya pilihan agama tidak sepenuhnya diawali berdasarkan kesadaran diri untuk menentukan pilihan dari berbagai alternatif yang ada namun lebih dominan diperoleh dari ketururnan/orang tua sehingga memiliki konsekwensi logis hanya memahami ajaran agama yang telah ditentukan sejak lahir dan tidak pernah memiliki pemahaman tentang ajaran agama lain sebagai pembanding. Kondisi ini bisa jadi berpotensi menimbulkan militansi dan fanatisme agama yang berlebihan atau dapat pula menimbulkan kelatahan ritual yang acapkali tanpa pemahaman tentang kedalaman maknanya karena melaksanakan ritual yajna hanya mengikuti warisan turun temurun, kemudian dihantui ketakutan karena bersembunyi dibalik kata “nak mule keto“.

Sabtu, 14 Juli 2018

PRAKTEK KEAGAMAAN SEORANG HINDU ETNIS JAWA


Berbicara tentang Hindu di Indonesia, maka khalayak ramai selalu berasumsi bahwa mereka pasti orang Bali. Dan dalam kenyataannya memang seperti itu. Ketika penulis baru awal-awal bekerja di sebuah instansi, banyak yang menganggap bahwa penulis adalah seorang Hindu etnis Bali, bertemu dengan komunitas yang berbeda agama juga sering ditanya, Bali-nya dimana? Padahal Hindu di Indonesia dianut oleh berbagai etnis selain etnis Bali, yaitu Jawa, Madura, Batak Karo, Dayak dan lain-lain. Dan sudah tentu karena latar belakang etnis yang berbeda itu pula maka praktek keagamaan pun juga sudah pasti berbeda. Hal ini dikarenakan Hindu berkembang disuatu tempat maka ia akan berkembang sesuai dengan adat dan budaya tempat tersebut.
Hal ini selaras dengan apa yang dinyatakan dalam Nitisastra, yaitu Dharma Sidhiyartha (Panca Tarka) antara lain: Iksa, Sakti, Desa, Kala dan Tattva. Iksa memberi pesan bahwa suatu praktek keagamaan haruslah benar-benar menuju pada tujuannya, alias tidak salah arah. Sakti, yaitu bahwa kegiatan-kegiatan tersebut harus mempertimbangkan kemampuan, baik kemampuan finansial maupun non finansial, tidak dianjurkan untuk memaksakan kehendak. Desa, yaitu sesuai dengan kondisi tempat tersebut, adat dan budayanya, tidak menerapkan adat dan budaya yang lain. Kala yaitu menyesuaikan dengan jaman yang sedang berlangsung. Tattva yaitu tidak keluar atau bertentangan dengan kebenaran, atau ajaran Veda, Veda selalu menjadi ukuran yang tertinggi.

Jumat, 13 Juli 2018

PIKIRAN DAN KOMPUTER


Semua orang pasti sudah tahu apa itu komputer. Sebuah alat yang terbilang canggih yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari rumah tangga, sekolah, perkantoran, bisnis, perusahaan hingga pemerintahan dan masih banyak lagi instansi-instansi yang lain yang menggunakan komputer sebagai salah satu alat operasionalnya. Alat yang satu ini bisa dibuat menjadi multi-fungsi. Dan anda akan sangat kagum apabila anda mengikuti berita perkembangan teknologi negara-negara  maju dimana komputer merupakan alat kendali yang utama. Begitu juga dengan pikiran merupakan alat kendali yang utama pada tubuh manusia. Pikiran adalah gudang segala keinginan, dan pemenuhan keinginan itu hanya pikiran itu sendirilah yang bisa melakukannya. Pikiran memenuhi keinginan pikiran itu sendiri.

Kamis, 12 Juli 2018

WEDA MEMBANGUN KEMBALI NUSANTARA

      Judulnya memang tendensius, tetapi kalau alam sudah menggeliat dan mendukung, maka itu pun terjadi. Manusia boleh saja berkomentar, tetapi hasil akhirlah yang menentukan. Weda adalah penyangga alam semesta, ia juga adalah alam dan isinya. Maka tidak aneh kalau yang berperan dalam “penataan” alam ini adalah pengetahuan Weda itu sendiri. Jadi, siapapun itu yang ingin berperan dan berbuat untuk ikut serta dalam menata kembali alam semesta ini maka dia tidak akan pernah berhasil apabila mengabaikan Weda itu. Kalau toh ini hanya angan-angan, maka tidak banyak orang yang berangan-angan seperti ini. Ya, memang orang yang hanya mencari selamat seperti itu. Karena berangan-angan pun memerlukan keberanian, harus punya nyali. Karena harus berjuang keras untuk merealisasikan angan-angannya, dan siap untuk dicemoh dan dicibir oleh orang-orang di sekitarnya. Dan orang bebas dan sah-sah saja mencibir karena memang bukan misinya.

Rabu, 11 Juli 2018

TEMPAT SUCI SUNDA KUNA

(Jejak-jejak Hindu di Jawa Barat)

 Kabuyutan
      Karya sastra Sunda Kuna tidak terlalu banyak menguraikan perihal bangunan suci. Dalam naskah-naskah Sunda Kuna penyebutan hanya sepintas saja. Dalam Carita Parahyangan, misalnya dijumpai kalimat yang berhubungan dengan bangunan suci atau tempat keramat: “…Nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama, ti sang resi, ti sang disri, ti sang tarahan tina parahyangan …” (Atja, 1968:30, Agus Aris Munandar dkk, 2011:53) (… yang membuat kabuyutan-kabuyutan dari sang Rama, dari sang Resi, dari sang Disri, dari sang Tarahan bagi Parahyangan …).
      Sangat mungkin kabuyutan yang dimaksud oleh Carita Parahyangan adalah semacam “bangunan suci” atau tempat yang dikeramatkan seperti persemayaman para leluhur yang telah meninggal (hyang). Tempat suci seperti itu disebut pula dalam naskah Amanat Galunggung, bahkan dijelaskan betapa pentingnya kedudukan kabuyutan yang terdapat di Gunung Galunggung. Kabuyutan Galunggung mungkin merupakan kabuyutan utama yang disucikan oleh masyarakat Sunda dan akhirnya menjadi pusaka kerajaan.

Senin, 09 Juli 2018

Dunia Ini Adalah Sebuah Asrama



Dalam Hindu kita amat beruntung mempunyai banyak jiwa-jiwa yang telah mendapatkan pencerahan untuk menuntun kita sepanjang jalan spiritual. Pengajaran mereka amat dalam dan sungguh kuat mereka penetrasikan ke dalam kesadaran kita yang biasa dan memberi kita penglihatan batin yang baru tentang bagaimana memaksimalkan kemajuan spiritual dalam hidup ini.
Guru kami, Yogaswami, Jaffma, dari Sri Lanka, memberi kami sesuatu yang berharga ketika ia mengatakan, “Dunia ini adalah sebuah asrama, suatu latihan yang mendasar untuk mencapai moksa, kebebasan.” Pernyataan Yogasvami mempunyai hubungan dengan puisi William Shakespeare “Seperti Kamu Menyukainya.”

Seluruh dunia ini adalah sebuah panggung,
Dan seluruh manusia semata-mata hanyalah para pemain,
Mereka punya jalan keluar dan jalan masuk;
Dan seorang manusia memainkan berbagai peran,
Ia beraksi selama tujuh abad.

Minggu, 08 Juli 2018

PEMAHAMAN AGAMA DENGAN KACAMATA KUDA DAN HITAM PUTIH

Seringkali kita melihat atau mendengar tontonan atau berita berbagai kejadian atau peristiwa di luar batas etika perikemanusiaan yang membuat kita mengelus dada. Mungkin ada yang masih ingat kejadian beberapa tahun lalu tentang pengrusakan dan pembantaian secara biadab atas nama agama terhadap sekelompok penganut keyakinan di sebuah kampung yang bernama Cikesik Pandeglang yang sunyi dan amat sederhana. Kemudian peristiwa pembakaran gereja di Temanggung oleh sekelompok orang, pengrusakan pure di Lumajang yang terjadi awal tahun 2018 ini, dan yang baru-baru ini terjadi adalah teror bom di sejumlah gereja di Surabaya. Belum lagi ditambah dengan munculnya berbagai video yang provokatif dan mengandung SARA yang dilakukan oleh orang-orang yang justru mendapat sebutan “tokoh”.

Berbagai kejadian ini bisa menjadi bukti dan menambah catatan panjang betapa semakin buruknya  kehidupan beragama di negeri tercinta ini, yang konon dikenal sangat agamis dan religius. Bukan jaminan bahwa seseorang yang taat beragama akan menjadi pribadi-pribadi yang baik. Sikap ketaatan beragama ini kini justru lebih terkesan membentuk pribadi-pribadi yang berwajah keras dan sanggar yang menganggap orang lain yang berbeda keyakinan dengannya sebagai orang yang tidak berhak hidup dan dijadikan musuh yang perlu dibinasakan, meski UUD 1945 yang ada sejak republik ini berdiri secara jelas memberikan jaminan kebebasan kepada setiap warga negara untuk memeluk keyakinan atau kepercayaannya masing-masing. Juga kita ketahui bahwa sejarah mencatat sejak awal para pendiri republik ini telah sepakat membangun dan merajut negeri ini dari berbagai perbedaan sehingga dikenal sebagai negara yang pluralis, “Bhinneka Tunggal Ika” beragam dalam kesatuan.

Jumat, 06 Juli 2018

Membangkitkan Hindu Jawa Barat – Sunda



Jawa Barat adalah cikal bakal kerajaan-kerajaan Hindu di Nusantara. Boleh dibilang Jawa Barat-lah  leluhurnya para Raja-raja diseluruh Nusantara. Pada abad ke II Masehi banyak datang para pedagang dari India dengan dikawal oleh para prajurit yang sangat tangguh. Lalu terjadi interaksi yang bukan hanya interaksi perdagangan tetapi interaksi budaya, agama dan lain-lain. Sebelum ada kerajaan Kutai pada abad ke IV Masehi, pada abad  ke II Masehi di Jawa Barat sudah ada kerajaan Hindu yaitu Salakanagara, dan ternyata Kudungga yang ada di Kutai ada hubungan saudara dengan Raja Salakanagara yang ke VIII. Dan karena Kudungga hanya punya anak perempuan maka mengadopsi anak kedua dari Raja Salakanagara tersebut yaitu Aswawarman dan dikawinkan dengan putrinya dan menjadi Raja di Kutai yang kemudian melahirkan Mulawarman, yang membawa Kutai mencapai kejayaannya. Raja-raja Salakanagara juga melahirkan keturunan-keturunan yang menjadi raja-raja di Sumatera dan Jawa Tengah, bahkan Majapahit mengganggap Jawa Barat adalah leluhur mereka. Karena ternyata kakeknya Raden Wijaya (Pendiri Kerajaan Majapahit), orang tua dari Lembu Tal (Ayah Raden Wijaya) adalah orang Sunda yang masih keturunan Raja-raja Jawa Barat. Karena itulah pada masa Raja Hayam Wuruk ketika majapahit mencapai puncak kejayaan, Beliau berpesan kepada Mahapatih Gajah Mada agar jangan berperang dengan Jawa Barat karena dosa besar apabila berperang menundukkan tanah leluhurnya sendiri. Dari uraian sekilas inilah dapat disimpulkan bahwa Salakanagara adalah Kerajaan Hindu Tertua di Nusantara. Tidak tahu pasti mengapa dari awal tidak dimunculkan bahwa Kerajaan tertua adalah Salakanagara di Jawa Barat. Sejarah ini secara detail Media Hindu sudah pernah memuatnya di Edisi yang sebelumnya, karena itulah penulis tidak akan mengulanginya lebih jauh.

Rabu, 04 Juli 2018

AGNIHOTRA (HOMA YAJNA)


Pendahuluan

Semaraknya kegiatan keagamaan yang dilaksanakan diberbagai pure yang kita lihat dewasa ini yang mungkin bahkan terbilang megah belumlah bisa dikatakan bahwa kita sebagai umat Hindu telah melaksanakan ajaran agama dengan baik. Keseimbangan tiga kerangka agama Hindu yaitu tattwa, etika dan upacara harus tetap menjadi dasar agar umat menjadi semakin kuat dan kokoh sraddha dan bhaktinya. Ritual yang tanpa disertai dengan pemahaman akan tattwa dan susila semuanya maka terasa hambar dan bahkan sia-sia belaka, dan inilah tantangan Hindu di masa depan.
Agnihotra yang juga disebut Homa Yajna adalah sebuah upacara yang banyak dijelaskan dalam pustaka suci Veda, bahkan Krishna dalam Bhagavadgita bersabda bahwa “diantara yajna Aku adalah Homa (agnihotra)”. Tidak hanya kitab Sruti dan Smrti saja yang menjelaskan tentang Homa Yajna (agnihotra), namun kitab-kitab agama yang disusun para leluhur Nusantara ini yang berbahasa Jawa Kuno juga banyak yang menjelaskan tentang Agnihotra. Upacara ini sangat baik dijadikan sebagai pendamping atau sebagai alternatif didalam menyempurnakan persembahan atau pelaksanaan upacara yajna.
Banyak yang curiga dan anti dengan upacara Agnihotra yang mulai berkembang dan hidup lagi, dicurigai sebagai aliran atau upacara yang asal atau sumbernya tidak jelas dan ke-India-an. Perkembangan suatu ritual agama yang berdasarkan kitab suci membantu memperkuat agama itu sendiri dan memperbesar keyakinan dan ketaatan pelaksanaan ajaran agamanya. Upacara ini berlaku secara universal, karena dilakukan di upacara-upacara keagamaan secara umum.
Agnihotra berasal dari kata Sansekerta dimana terdiri dari dua kata yaitu agni dan hotra. Agni adalah api dan hotra adalah persembahyangan atau melakukan persembahan. Jadi agnihotra adalah sebuah ritual atau bentuk upacara persembahan.  Secara umum semua yajna dalam Veda mempunyai arti sama yaitu Agnihotra. Sebab pengertian yajna dalam Veda adalah persembahan yang dituangkan ke dalam api suci. Api suci yang dimaksud adalah api yang dihidupkan dan dikobarkan dalam kunda. Kunda adalah lambang pengorbanan. Mengapa persembahan dimasukkan dalam api, hal ini disebutkan dalam Purana, bahwa Dewa Agni (disimbulkan dengan api) adalah lidahnya Tuhan. Sehingga maknanya adalah jika persembahan disampaikan melalui lidah Tuhan, maka persembahan tidak akan nyasar ke tempat lain.

Dasar Sastra Upacara Agnihotra

1.      Agnimile Purohitam, yajnasya devam rtvijam Hotaram ratnadhatanam

Oh Agni, Engkau sebagai Pendeta Utama, dewa pelaksana upacara yajna, kami memuja-Mu, Engkau pemberi Anugrah berupa kekayaan yang utama (Reg Veda 1.1.1)

Mantra di atas mengandung makna bahwa Deva Agni merupakan pemimpin atau pendeta utama dalam suatu penyelenggaraan Yajna, maka dapat disimpulkan bahwa tanpa Dewa Agni semua upacara persembahan akan menjadi sia-sia. Lebih ditegaskan lagi bahwa Dewa Agni sekaligus berfungsi sebagai pelaksana yajna, hal ini semakin memperkuat bahwa Agni menjadi pokok upacara persembahan. Pada pelaksanaan upacara Agnihotra, semua persembahan dituangkan langsung ke dalam api yang diumpamakan sebagai lidahnya Manusia Kosmos (Tuhan) dalam kitab Purana dan Upanisad, sehingga apapun yang dipersembahkan dalam upacara Agnihotra langsung ditujukan pada manifestasi/Tuhan itu sendiri.

Senin, 02 Juli 2018

Dalam Hindu Tidak Ada Ritual Yang Sesat


Pemujaan dalam Hindu yang memakai media arca (patung yang sudah disakralkan) bukan berarti bahwa umat Hindu adalah penganut ajaran yang sesat, penyembah berhala, atau juga Hindu adalah pemuja setan. Sama sekali tidak benar. Pemujaan melalui media simbol berbagai atribut dewa dan dewi dalam suatu pura bagi Hindu, simbol tersebut adalah wujud-Nya yang disebut Saguna Brahman (terpikirkan). Yang berarti mewujudkan Tuhan melalui media seperti Arca, patung dewa, gambar atau lukisan dewa, batu dan lain-lain. Ini dimaksudkan agar kita mudah berkonsentrasi beserta membayangkan wujud Tuhan bagi yang baru belajar atau menjadi Hindu tahap dasar.

Bagi umat Hindu yang sudah tidak memerlukan simbol-simbol sebagai media dalam pemujaan atau yang tingkat spiritualnya sudah tinggi dan memuja tanpa memerlukan sarana simbol, itu disebut wujud Nirguna Brahman (tak terpikirkan).

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...