Beranda

Sabtu, 18 Agustus 2018

OJO WATON NGOMONG, NANGING NGOMONGO NGANGGO WEWATON

Kualitas atau pun harga diri seseorang itu tolok ukurnya adalah pada perilakunya, itulah yang menjadi tolok ukur. Prilaku yang menunjukkan sifat kepanditaan (yang mulia) adalah sabar, tanpa pamrih, tenang dan halus budinya. Dan jika ada seorang pandita/pendeta/ulama tidak menunjukkan sifat-sifat itu maka ia tidak akan dihormati selayaknya seorang yang sangat terhormat dan dia hanya akan dianggap sebagai manusia awam saja. 

Hal ini dinyatakan dalam Kekawin Nitisastra Sargah I.6:

Jroning wwé parimāna nāla gaganging tuñjung dawut kawruhi
Yan ring jātikula pracāra winaya mwang śīla karménggita
Yan ring paṇḍita ring kṣamā mudita śāntopékṣa ris mardawa
Sang śāstrajña wuwus nirāmrĕtā padanyāngdé sutusténg prajā

Jumat, 17 Agustus 2018

PEMIMPIN HARUS MEMAHAMI MASYARAKATNYA

Seorang pemimpin yang baik harus bisa memahami, mengenal dengan sebenarnya tentang masyarakat yang dipimpinnya dan wajib hukumnya untuk selalu mengutamakan kepentingan masyarakatnya sehingga terwujud rasa senang dan bahagia pada masyarakatnya, maka masyarakatpun akan menaruh hati pada pemimpinnya. Pemimpin dituntut untuk mampu bertutur kata yang tepat dan mampu menempatkan diri dimanapun dia berada di tengah-tengah masyarakat. Adakalanya dia harus bertindak lembut dan penuh kasih sayang ataupun kapan saatnya dia harus bertindak tegas tanpa kompromi demi kepentingan masyarakat. Seperti yang dinyatakan Kekawin Nitisastra I.4 berikut:

Ring janmādhika méta citta rĕsĕping sarwa prajāngénaka,
Ring strī madhya manohara priya wuwustāngdé manah kūng lulut,
Yan ring madhyani sang pinaṇḍita mucap tatwopadéṡa prihĕn,  
Yan ring madhyanikāng musuh mucapakĕn wākṡūra singhākrĕti.
 

Kamis, 16 Agustus 2018

NGELMU IKU KALAKONE KANTI LAKU

NGELMU IKU KALAKONE KANTI LAKU

(ilmu pengetahuan hanya akan bermanfaat jika dipraktekkan)

 Petikan dari sebuah sastra kuno mengatakan sebagai berikut:

 “Ring widyā wiṣa tulya dénikang anabhyāsālasang sampĕnĕh, ……”

 Terjemahan:

Ilmu pengetahuan hanya akan menjadi racun bagi mereka yang tidak terbiasa dan malas untuk mempraktekkannya, ……. (Kekawin Nitisastra, I.3)

 

Canakya Nitisastra IV.15 juga mengatakan hal yang sama:

anabhyāse viṣaṁ ṡāstram ajīrṇe bhojanaṁ viṣam,

daridrasya viṣaṁ goṣṭhī vṛddhasya taruṇī viṣam.

 Terjemahan:

Ilmu pengetahuan yang tidak dipraktekkan akan menjadi racun. Makanan yang tidak dapat dicerna oleh tubuh juga merupakan racun. Bagi orang bodoh, pergaulan dengan banyak orang adalah racun. Perempuan muda bagi mereka yang sudah tua renta adalah racun.

 

Dan sebagaimana disebutkan dalam Serat Wedhatama III.1 (tembang pucung):

ngelmu iku kalakone kanti laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budaya pangekese dur angkara.

Ilmu itu harus dijalankan dengan perbuatan/praktek. Dengan kemauan dan niat yang tulus sebagai kekuatan budi dan kebenaran sebagai penghancur keangkaramurkaan. 

 

Mereka yang kurang berpengetahuan dalam berbahasa biasanya akan sulit dalam bergaul dengan orang lain. Kemampuan dalam mengolah bahasa diibaratkan seperti meracik makanan dengan enam rasa atau sadrasa yaitu manis, asam asin, pedas, pahit dan sepat. Kapan harus mengolahnya dengan rasa manis, atau kapan dengan rasa lainnya, maka dibutuhkan suatu kemampuan.

Sekarang ini banyak sekali orang yang menguasai keilmuan akan tetapi tidak berbanding lurus dengan perilakunya. Ilmu yang mereka kuasai hanya sebatas di mulut dan di kertas saja. Banyak bicara tetapi miskin penerapannya. Bila diminta bicara bisa sampai berjam-jam, dan tiada bukti di masyarakat. Banyak sekali mereka-mereka yang berpendidikan tinggi dengan gelar sederet namun tidak mampu menjaga “ajining diri”. Bicara semaunya, bicara seenaknya yang justru berakibat merendahkan dirinya sendiri.

Mereka yang banyak bicara saja dan tanpa aktualisasi dari apa yang sedang dia bicarakan maka dalam peribahasa Jawa berbunyi “kakehan gludug kurang udan” artinya “terlalu banyak petirnya tetapi hujannya kurang”. Dalam Bahasa Indonesia berbunyi “tong kosong nyaring bunyinya”, orang-orang yang seperti ini akan sangat mudah berkata-kata, mudah berjanji tetapi jarang ditepati, ibarat kata hanya pepesan kosong belaka. Mereka menyembunyikan kebodohannya dengan berlagak angkuh, sok tahu, dan banyak bicara namun tidak menarik untuk didengar.

 Petikan Kakawin Nitisastra, I.9

“………Ring janmālpaka śāstra garwita tĕrĕh śabdanya tanpāmrĕta.

“…….Orang yang sedikit pengetahuannya biasanya angkuh, bicaranya keras dan sama sekali tidak menarik hati

Orang dikatakan berilmu bila dia bisa “nglakoni”, artinya secara nyata mempraktekkannya dan dengan disertai “wiweka” (kebijaksanaan). Manusia berbeda dengan binatang, manusia dibekali dengan wiweka yang diharapkan bahwa manusia bisa membedakan antara yang baik dengan yang buruk. Dengan wiweka maka manusia bisa memikirkan apa yang baik dan harus dilakukan dan apa yang tidak seharusnya dilakukan.

 Kalimat bijak:

“Pengetahuan itu bagaikan susu yang kaya dengan nutrisi kehidupan, namun jika hanya sebatas diseduh saja dalam gelas (hanya sebatas pengetahuan di dalam pikiran) dan tidak diminum (tidak diaktualisasikan atau dipraktekkan) maka nutrisi kehidupan itu akan sia-sia saja karena tidak merasuk dalam urat nadi kehidupan masyarakat”

Penguasaan ilmu pengetahuan yang tanpa disertai dengan kebijaksanaan maka bisa berakibat salah dalam penggunaan ilmu pengetahuan tersebut. Misal saja seperti tokoh teroris yang sudah mati yaitu Dr.Azhari; dia adalah seorang doktor dibidang fisika dan kimia yang tidak mempraktekkannya untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat namun justru sebaliknya mempraktekkannya untuk membuat bom untuk aksi teror.  

Jika kita ahli berbisnis, makmur dan bahagia; ajarkan ilmu itu kepada orang lain agar orang lain pun sejahtera dan makmur seperti kita, jangan justru mengambil setiap peluang dan kesempatan hanya untuk kesejahteraan dan kemakmuran diri sendiri tanpa memberikan kesempatan itu kepada orang lain. Begitu juga dengan keahlian lainnya hendaknya semaksimal mungkin menjadi bermanfaat bagi orang lain.

Orang yang berilmu (juga berwiweka) akan mampu menjaga setiap pemikiran, kata-kata dan perilakunya; dengan begitu dia mampu menjaga “ajining diri” nya sendiri juga diri orang lain. Dia akan mampu menelaah apakah pemikiran, kata-kata dan perilakunya bermanfaat atau justru malah merugikan atau menyakiti orang lain. Orang yang berilmu akan selalu berusaha menjaga keberadaannya untuk selalu bermanfaat bagi orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Dia akan selalu berusaha untuk mengaktualisasikan pengetahuannya untuk kebaikan bersama.

 

AGUSWI

Bumi Pasundan

 

Kamis, 02 Agustus 2018

AGAMA DALAM KONTEKS BUDAYA

Agama secara normatif  tidak pernah mengajarkan untuk melakukan penekanan terhadap pemeluk agama, baik dalam intern agama maupun antar agama karena selain mengutamakan religi, agama juga mengajarkan ajaran moralitas. Dalam hal ini agama merupakan sumber nilai moral yang sangat penting dalam praktek kehidupan masyarakat. Dalam UUD 1945 pasal 29 ayat 2 yang berbunyi “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”, umat beragama diberikan kebebasan dalam melaksanakan berbagai  praktik agama. Namun realita keagamaan sekarang ini lebih menunjukkan adanya persoalan-persoalan yang mengatasnamakan agama. Padahal agama lokal telah dijadikan pedoman tingkah laku dalam menciptakan kesadaran dalam kelompok masyarakat.

Selasa, 24 Juli 2018

Perpaduan Ruwatan dan Melukat

Hari Sabtu tanggal 15 Agustus 2015, bertempat di Pura Taman Mini Indonesia Indah, Paguyuban umat Hindu Jawa – Paguyuban Majapahid – melaksanakan acara ruwatan/melukat. Pada awalnya pihak panitia menargetkan peserta yang tidak lebih dari 50 orang, namun ternyata yang memberikan konfirmasi ikut acara tersebut lebih dari 100 orang. Dan itu tidak menjadikan masalah apapun karena sarana upakara yang dipakai bisa untuk ngruwat/melukat orang berapapun.

Acara pertama diawali oleh pemangku yang melakukan puja pembersihan dan penyucian diri, dilanjutkan dengan puja nuwur tirtha lukat/ruwat dan penguripan sarana sesaji untuk pembersihan dan penyucian (byakala, durmanggala, prayascitta) dan penguripan sesaji lainnya.

Kemudian tirtha lukat/ruwat sebagai bibit, dicampur dengan toya anyar yang sudah dilengkapi dengan berbagai sarana antara lain:
1.      Berbagai jenis daun (daun kayu sisih, daun kayu tulak, daun kayu suji, daun beringin, daun andong, daun mengkudu, daun alang-alang, daun bambu, daun dadap serep, daun temen, daun nagasari, dsb)
2.      Bunga (melati, jepun, kenanga, kantil putih, kantil kuning, mawar, kaca piring, soka, teratai, bunga kelapa, dsb)
3.      Buah (delima putih, jeruk purut, jeruk nipis)
4.      Kayu (cendana, gaharu, stigi, ulin, tulasi)
5.      Batu permata/akik (putih, merah, hitam, kuning)
6.      Cengkir kelapa (kelapa bulan, kelapa udang, kelapa gading, kelapa hijau)
7.      Ruas tebu wulung
8.      Dhatu (emas, perak, tembaga dan permata mirah)
9.      Sejenis minyak yang sangat langka (minyak buluh perindu)
Pencampuran ini diurip dengan mencelupkan sejumlah dupa yang menyala ke dalam campuran tirtha. Perpaduan antara ruwatan dan melukat ini tidak menggunakan wayang, tetapi mengkombinasikan antara daya spiritual dan ritual pelaksana dengan berbagai sarana alami yang mengandung mineral dan daya energi masing.

Senin, 23 Juli 2018

BRATA SIWARATRI: MENDENGAR TETAPI TIDAK MERASA MENDENGAR, MERASA TETAPI TIDAK MERASA


Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara hari suci lainnya, Siwaratri memang unik dan sangat berbeda, sangat menantang bagi para bhakta yang mau melakukannya. Betapa tidak, ada beberapa jenis brata yang memang tidah mudah untuk dilakukan, namun juga tidak sulit jika dilakukan dengan penuh kesadaran, semangat spirit dalam melakukan berbagai sadhana (disiplin spiritual) yang ada. Hari-hari raya yang lain terkesan lebih menonjolkan ritual, namun Siwaratri menuntut para bhakta untuk menyelami lautan spiritual yang memerlukan kemampuan pikiran untuk berenang hingga mencapai pantai realisasi diri. Adalah perlu dipertanyakan bila hari raya Siwaratri ternyata pemakaian sesajen/bebantenan masih cukup banyak, karena dalam Siwaratri lebih mengedepankan menggembleng the Self (Sang Diri) yang bersemayam dalam setiap diri kita sendiri. Disini penulis lebih ber-explore tentang bagaimana melalukan brata-brata Siwaratri, tentu yang berdasarkan pengalaman, tidak berdasarkan kata orang.

Pertama, Upawasa, merupakan brata yang dilakukan dengan tidak/mengurangi makan dan minum. Bagi yang mampu bisa dilaksanakan dengan tidak makan dan minum sama sekali, namun bagi yang tidak mampu bisa dilaksanakan dengan mengurangi porsi makan, suatu contoh pada hari biasa makan sehari tiga piring maka saat Upawasa cukup makan sepiring saja, ini sebagai tahap awal atau tahap belajar. Ada yang mengatakan bahwa sadhana ini hendaknya dilakukan selama 24 jam, namun tidak menutup kemungkinan kurang dari itu dengan menyesuaikan kemampuan diri juga sebagai tahap pembelajaran. Apa konsekuensinya apabila perut kosong? Secara alami maka akan muncul rasa lapar dan haus. Perlu diketahui bahwa antara perut kosong karena belum makan alias lapar dengan perut kosong karena sedang melakukan Upawasa sangat berbeda. Perut kosong oleh karena belum/terlambat makan bisa menyebabkan penyakit, ini dikarenakan ada keinginan untuk makan dalam pikiran sehingga lambung terus mengeluarkan enzim pencernaan, dan pada kenyataannya pada saat itu belum ada yang dicerna karena belum makan, akibatnya lambung perih. Namun perut kosong oleh karena sedang Upawasa tidak akan menyebabkan penyakit, bila Upawasa tersebut memang dilakukan atas kesadaran dirinya sendiri, atas niat yang tulus sebagai sadhana spiritual. Ketika Upawasa dilakukan benar-benar atas dasar niat (bukan karena ikut-ikutan atau gagah-gagahan), ini berarti sama sekali tidak ada pemikiran untuk makan dan minum yang muncul dalam pikiran, karena tidak adanya pemikiran makan dan minum maka secara otomatis lambung tidak mengeluarkan enzim pencernaan dan berhenti melakukan gerakan meremas-remas, sehingga tidak akan ada luka lambung yang menyebabkan perih, lalu rasa lapar pun tidak ada. RASA LAPAR ADA KARENA ADA PEMIKIRAN MAKAN DALAM PIKIRAN.

Kamis, 19 Juli 2018

KITA ADALAH APA YANG KITA TEMUI


Lingkungan sangat mempengaruhi perilaku, kata-kata dan tindakan kita seperti layaknya yang kita makan.

Kita semua pasti sudah tidak asing dengan ungkapan “Kita adalah apa yang kita makan”. Pandangan Hindu terhadap hal ini adalah bahwa jenis makanan yang berbeda yang kita konsumsi mempunyai pengaruh yang sangat signifikan pada kondisi pikiran dan emosi kita. Sebagai contoh; memakan daging, yang dikenal sebagai makanan yang tamasik, akan mengarahkan kita ke kesadaran yang lebih rendah dan akan terikat dengan rasa ketakutan, iri dan penyesalan yang selalu mengikuti. Mengkonsumsi makanan pedas yang terlalu banyak atau makanan rajasik, dapat menyebabkan aktivitas fisik dan intelektual yang terlalu bersemangat. Pada sisi lain, makanan yang murni atau sattvik – seperti buah-buahan segar dan sayuran yang tumbuh di atas tanah – membantu mengembangkan intuisi atau jiwa kita. Untuk perkembangan spiritual yang maksimal, yang terbaik adalah banyak memakan makanan yang sattvik, mengurangi memakan makanan yang rajasik dan menghindari makanan yang tamasik. Chandogya Upanisad 7.26.2 mengatakan: “Ketika makanan yang dimakan itu murni, pikiran juga menjadi murni, Ketika pikiran menjadi murni, ingatan menjadi kuat. Dan ketika seseorang mempunyai sebuah ingatan yang kuat, seluruh ikatan yang mengikatnya di dunia material ini akan hilang.”

Rabu, 18 Juli 2018

Menyatukan Cipta, Rasa dan Karsa Dalam Kebersamaan Ngembak Geni Dan Banyu Pinaruh

Ngembak Geni....sebuah rangkaian ritual dalam Hari Raya Nyepi. Istilah Geni disini tidak mengacu kepada unsur api atau unsur apapun, melainkan sebuah kata filosofis yang lebih terkait dengan nafsu/keinginan duniawi dalam diri setiap manusia. Ngembak Geni adalah sebuah kemenangan diri dari peperangan melawan Geni (nafsu/keinginan) saat melaksanakan Catur Brata Penyepian. Ritual ini sangat tampak sekali di pura yang ada di desa-desa umat Hindu etnis Jawa, setelah selama 24 jam melaksanakan Catur Brata Penyepian pada pagi harinya melaksanakan sembahyang bersama dan dilanjutkan anjangsana dari rumah ke rumah umat Hindu.
Ngembak Geni tahun ini yang jatuh pada tanggal 18 Maret 2018 bersamaan dengan Banyu Pinaruh yang merupakan rangkaian Hari Raya Saraswati. Banyu disini yang secara harfiah artinya air juga merupakan kata yang filosofis; namun sah-sah saja jika dikaitkan dengan tirtha, dan tirtha itu bisa digunakan dengan cara diminum atau dibasuhkan atau untuk mandi. Pinaruh sama artinya dengan Pangaweruh (dalam literatur Jawa Kuno) yang artinya Pengetahuan Yang Sejati. Jadi Banyu Pinaruh yang dilaksanakan keesokkan hari setelah Hari Raya Saraswati membawa pesan bahwa hendaknya setiap manusia mandi/membasuh/meminum/mengisi diri dengan pengetahuan yang sejati. Bagaimana caranya? Tentu bisa dengan mempelajari berbagai sastra suci Veda dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kemenangan terhadap berbagai nafsu/keinginan (Geni) saat Catur Brata Penyepian yang secara ritual diwujudkan dalam pelaksanaan Ngembak Geni harus dilanjutkan dengan berusaha memahami hakekat hidup dan kehidupan dengan cara mengisi diri dengan pengetahuan yang sejati (Banyu Pinaruh), inilah pesan yang disampaikan dalam momen pertemuan dua ritual tersebut diatas.

Minggu, 15 Juli 2018

BERYADNYA KARENA TAKUT ATAU GENGSI ?


Hal yang paling utama dalam beragama menurut Hindu adalah kesadaran diri pribadi masing-masing dengan segala keyakinannya karena Hindu lebih mendasarkan ajarannya pada cinta kasih kepada setiap orang, persaudaraan, dan saling menghargai dalam kesetaraan bagi semua makhluk, tanpa dilandasi kebencian dan kekerasan. Agama Hindu tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk melakukan kegiatan beragama yang dilandasi oleh rasa ketakutan yang berlebihan baik takut akan berbagai ancaman hukuman, takut Tuhan akan marah apabila dianggap kurang dalam menghaturkan persembahan atau ketakutan-ketakutan lainnya.

Harus kita akui bahwa dalam kenyataannya pilihan agama tidak sepenuhnya diawali berdasarkan kesadaran diri untuk menentukan pilihan dari berbagai alternatif yang ada namun lebih dominan diperoleh dari ketururnan/orang tua sehingga memiliki konsekwensi logis hanya memahami ajaran agama yang telah ditentukan sejak lahir dan tidak pernah memiliki pemahaman tentang ajaran agama lain sebagai pembanding. Kondisi ini bisa jadi berpotensi menimbulkan militansi dan fanatisme agama yang berlebihan atau dapat pula menimbulkan kelatahan ritual yang acapkali tanpa pemahaman tentang kedalaman maknanya karena melaksanakan ritual yajna hanya mengikuti warisan turun temurun, kemudian dihantui ketakutan karena bersembunyi dibalik kata “nak mule keto“.

Sabtu, 14 Juli 2018

PRAKTEK KEAGAMAAN SEORANG HINDU ETNIS JAWA


Berbicara tentang Hindu di Indonesia, maka khalayak ramai selalu berasumsi bahwa mereka pasti orang Bali. Dan dalam kenyataannya memang seperti itu. Ketika penulis baru awal-awal bekerja di sebuah instansi, banyak yang menganggap bahwa penulis adalah seorang Hindu etnis Bali, bertemu dengan komunitas yang berbeda agama juga sering ditanya, Bali-nya dimana? Padahal Hindu di Indonesia dianut oleh berbagai etnis selain etnis Bali, yaitu Jawa, Madura, Batak Karo, Dayak dan lain-lain. Dan sudah tentu karena latar belakang etnis yang berbeda itu pula maka praktek keagamaan pun juga sudah pasti berbeda. Hal ini dikarenakan Hindu berkembang disuatu tempat maka ia akan berkembang sesuai dengan adat dan budaya tempat tersebut.
Hal ini selaras dengan apa yang dinyatakan dalam Nitisastra, yaitu Dharma Sidhiyartha (Panca Tarka) antara lain: Iksa, Sakti, Desa, Kala dan Tattva. Iksa memberi pesan bahwa suatu praktek keagamaan haruslah benar-benar menuju pada tujuannya, alias tidak salah arah. Sakti, yaitu bahwa kegiatan-kegiatan tersebut harus mempertimbangkan kemampuan, baik kemampuan finansial maupun non finansial, tidak dianjurkan untuk memaksakan kehendak. Desa, yaitu sesuai dengan kondisi tempat tersebut, adat dan budayanya, tidak menerapkan adat dan budaya yang lain. Kala yaitu menyesuaikan dengan jaman yang sedang berlangsung. Tattva yaitu tidak keluar atau bertentangan dengan kebenaran, atau ajaran Veda, Veda selalu menjadi ukuran yang tertinggi.

Jumat, 13 Juli 2018

PIKIRAN DAN KOMPUTER


Semua orang pasti sudah tahu apa itu komputer. Sebuah alat yang terbilang canggih yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari rumah tangga, sekolah, perkantoran, bisnis, perusahaan hingga pemerintahan dan masih banyak lagi instansi-instansi yang lain yang menggunakan komputer sebagai salah satu alat operasionalnya. Alat yang satu ini bisa dibuat menjadi multi-fungsi. Dan anda akan sangat kagum apabila anda mengikuti berita perkembangan teknologi negara-negara  maju dimana komputer merupakan alat kendali yang utama. Begitu juga dengan pikiran merupakan alat kendali yang utama pada tubuh manusia. Pikiran adalah gudang segala keinginan, dan pemenuhan keinginan itu hanya pikiran itu sendirilah yang bisa melakukannya. Pikiran memenuhi keinginan pikiran itu sendiri.

Kamis, 12 Juli 2018

WEDA MEMBANGUN KEMBALI NUSANTARA

      Judulnya memang tendensius, tetapi kalau alam sudah menggeliat dan mendukung, maka itu pun terjadi. Manusia boleh saja berkomentar, tetapi hasil akhirlah yang menentukan. Weda adalah penyangga alam semesta, ia juga adalah alam dan isinya. Maka tidak aneh kalau yang berperan dalam “penataan” alam ini adalah pengetahuan Weda itu sendiri. Jadi, siapapun itu yang ingin berperan dan berbuat untuk ikut serta dalam menata kembali alam semesta ini maka dia tidak akan pernah berhasil apabila mengabaikan Weda itu. Kalau toh ini hanya angan-angan, maka tidak banyak orang yang berangan-angan seperti ini. Ya, memang orang yang hanya mencari selamat seperti itu. Karena berangan-angan pun memerlukan keberanian, harus punya nyali. Karena harus berjuang keras untuk merealisasikan angan-angannya, dan siap untuk dicemoh dan dicibir oleh orang-orang di sekitarnya. Dan orang bebas dan sah-sah saja mencibir karena memang bukan misinya.

Rabu, 11 Juli 2018

TEMPAT SUCI SUNDA KUNA

(Jejak-jejak Hindu di Jawa Barat)

 Kabuyutan
      Karya sastra Sunda Kuna tidak terlalu banyak menguraikan perihal bangunan suci. Dalam naskah-naskah Sunda Kuna penyebutan hanya sepintas saja. Dalam Carita Parahyangan, misalnya dijumpai kalimat yang berhubungan dengan bangunan suci atau tempat keramat: “…Nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama, ti sang resi, ti sang disri, ti sang tarahan tina parahyangan …” (Atja, 1968:30, Agus Aris Munandar dkk, 2011:53) (… yang membuat kabuyutan-kabuyutan dari sang Rama, dari sang Resi, dari sang Disri, dari sang Tarahan bagi Parahyangan …).
      Sangat mungkin kabuyutan yang dimaksud oleh Carita Parahyangan adalah semacam “bangunan suci” atau tempat yang dikeramatkan seperti persemayaman para leluhur yang telah meninggal (hyang). Tempat suci seperti itu disebut pula dalam naskah Amanat Galunggung, bahkan dijelaskan betapa pentingnya kedudukan kabuyutan yang terdapat di Gunung Galunggung. Kabuyutan Galunggung mungkin merupakan kabuyutan utama yang disucikan oleh masyarakat Sunda dan akhirnya menjadi pusaka kerajaan.

Senin, 09 Juli 2018

Dunia Ini Adalah Sebuah Asrama



Dalam Hindu kita amat beruntung mempunyai banyak jiwa-jiwa yang telah mendapatkan pencerahan untuk menuntun kita sepanjang jalan spiritual. Pengajaran mereka amat dalam dan sungguh kuat mereka penetrasikan ke dalam kesadaran kita yang biasa dan memberi kita penglihatan batin yang baru tentang bagaimana memaksimalkan kemajuan spiritual dalam hidup ini.
Guru kami, Yogaswami, Jaffma, dari Sri Lanka, memberi kami sesuatu yang berharga ketika ia mengatakan, “Dunia ini adalah sebuah asrama, suatu latihan yang mendasar untuk mencapai moksa, kebebasan.” Pernyataan Yogasvami mempunyai hubungan dengan puisi William Shakespeare “Seperti Kamu Menyukainya.”

Seluruh dunia ini adalah sebuah panggung,
Dan seluruh manusia semata-mata hanyalah para pemain,
Mereka punya jalan keluar dan jalan masuk;
Dan seorang manusia memainkan berbagai peran,
Ia beraksi selama tujuh abad.

Minggu, 08 Juli 2018

PEMAHAMAN AGAMA DENGAN KACAMATA KUDA DAN HITAM PUTIH

Seringkali kita melihat atau mendengar tontonan atau berita berbagai kejadian atau peristiwa di luar batas etika perikemanusiaan yang membuat kita mengelus dada. Mungkin ada yang masih ingat kejadian beberapa tahun lalu tentang pengrusakan dan pembantaian secara biadab atas nama agama terhadap sekelompok penganut keyakinan di sebuah kampung yang bernama Cikesik Pandeglang yang sunyi dan amat sederhana. Kemudian peristiwa pembakaran gereja di Temanggung oleh sekelompok orang, pengrusakan pure di Lumajang yang terjadi awal tahun 2018 ini, dan yang baru-baru ini terjadi adalah teror bom di sejumlah gereja di Surabaya. Belum lagi ditambah dengan munculnya berbagai video yang provokatif dan mengandung SARA yang dilakukan oleh orang-orang yang justru mendapat sebutan “tokoh”.

Berbagai kejadian ini bisa menjadi bukti dan menambah catatan panjang betapa semakin buruknya  kehidupan beragama di negeri tercinta ini, yang konon dikenal sangat agamis dan religius. Bukan jaminan bahwa seseorang yang taat beragama akan menjadi pribadi-pribadi yang baik. Sikap ketaatan beragama ini kini justru lebih terkesan membentuk pribadi-pribadi yang berwajah keras dan sanggar yang menganggap orang lain yang berbeda keyakinan dengannya sebagai orang yang tidak berhak hidup dan dijadikan musuh yang perlu dibinasakan, meski UUD 1945 yang ada sejak republik ini berdiri secara jelas memberikan jaminan kebebasan kepada setiap warga negara untuk memeluk keyakinan atau kepercayaannya masing-masing. Juga kita ketahui bahwa sejarah mencatat sejak awal para pendiri republik ini telah sepakat membangun dan merajut negeri ini dari berbagai perbedaan sehingga dikenal sebagai negara yang pluralis, “Bhinneka Tunggal Ika” beragam dalam kesatuan.

Jumat, 06 Juli 2018

Membangkitkan Hindu Jawa Barat – Sunda



Jawa Barat adalah cikal bakal kerajaan-kerajaan Hindu di Nusantara. Boleh dibilang Jawa Barat-lah  leluhurnya para Raja-raja diseluruh Nusantara. Pada abad ke II Masehi banyak datang para pedagang dari India dengan dikawal oleh para prajurit yang sangat tangguh. Lalu terjadi interaksi yang bukan hanya interaksi perdagangan tetapi interaksi budaya, agama dan lain-lain. Sebelum ada kerajaan Kutai pada abad ke IV Masehi, pada abad  ke II Masehi di Jawa Barat sudah ada kerajaan Hindu yaitu Salakanagara, dan ternyata Kudungga yang ada di Kutai ada hubungan saudara dengan Raja Salakanagara yang ke VIII. Dan karena Kudungga hanya punya anak perempuan maka mengadopsi anak kedua dari Raja Salakanagara tersebut yaitu Aswawarman dan dikawinkan dengan putrinya dan menjadi Raja di Kutai yang kemudian melahirkan Mulawarman, yang membawa Kutai mencapai kejayaannya. Raja-raja Salakanagara juga melahirkan keturunan-keturunan yang menjadi raja-raja di Sumatera dan Jawa Tengah, bahkan Majapahit mengganggap Jawa Barat adalah leluhur mereka. Karena ternyata kakeknya Raden Wijaya (Pendiri Kerajaan Majapahit), orang tua dari Lembu Tal (Ayah Raden Wijaya) adalah orang Sunda yang masih keturunan Raja-raja Jawa Barat. Karena itulah pada masa Raja Hayam Wuruk ketika majapahit mencapai puncak kejayaan, Beliau berpesan kepada Mahapatih Gajah Mada agar jangan berperang dengan Jawa Barat karena dosa besar apabila berperang menundukkan tanah leluhurnya sendiri. Dari uraian sekilas inilah dapat disimpulkan bahwa Salakanagara adalah Kerajaan Hindu Tertua di Nusantara. Tidak tahu pasti mengapa dari awal tidak dimunculkan bahwa Kerajaan tertua adalah Salakanagara di Jawa Barat. Sejarah ini secara detail Media Hindu sudah pernah memuatnya di Edisi yang sebelumnya, karena itulah penulis tidak akan mengulanginya lebih jauh.

Rabu, 04 Juli 2018

AGNIHOTRA (HOMA YAJNA)


Pendahuluan

Semaraknya kegiatan keagamaan yang dilaksanakan diberbagai pure yang kita lihat dewasa ini yang mungkin bahkan terbilang megah belumlah bisa dikatakan bahwa kita sebagai umat Hindu telah melaksanakan ajaran agama dengan baik. Keseimbangan tiga kerangka agama Hindu yaitu tattwa, etika dan upacara harus tetap menjadi dasar agar umat menjadi semakin kuat dan kokoh sraddha dan bhaktinya. Ritual yang tanpa disertai dengan pemahaman akan tattwa dan susila semuanya maka terasa hambar dan bahkan sia-sia belaka, dan inilah tantangan Hindu di masa depan.
Agnihotra yang juga disebut Homa Yajna adalah sebuah upacara yang banyak dijelaskan dalam pustaka suci Veda, bahkan Krishna dalam Bhagavadgita bersabda bahwa “diantara yajna Aku adalah Homa (agnihotra)”. Tidak hanya kitab Sruti dan Smrti saja yang menjelaskan tentang Homa Yajna (agnihotra), namun kitab-kitab agama yang disusun para leluhur Nusantara ini yang berbahasa Jawa Kuno juga banyak yang menjelaskan tentang Agnihotra. Upacara ini sangat baik dijadikan sebagai pendamping atau sebagai alternatif didalam menyempurnakan persembahan atau pelaksanaan upacara yajna.
Banyak yang curiga dan anti dengan upacara Agnihotra yang mulai berkembang dan hidup lagi, dicurigai sebagai aliran atau upacara yang asal atau sumbernya tidak jelas dan ke-India-an. Perkembangan suatu ritual agama yang berdasarkan kitab suci membantu memperkuat agama itu sendiri dan memperbesar keyakinan dan ketaatan pelaksanaan ajaran agamanya. Upacara ini berlaku secara universal, karena dilakukan di upacara-upacara keagamaan secara umum.
Agnihotra berasal dari kata Sansekerta dimana terdiri dari dua kata yaitu agni dan hotra. Agni adalah api dan hotra adalah persembahyangan atau melakukan persembahan. Jadi agnihotra adalah sebuah ritual atau bentuk upacara persembahan.  Secara umum semua yajna dalam Veda mempunyai arti sama yaitu Agnihotra. Sebab pengertian yajna dalam Veda adalah persembahan yang dituangkan ke dalam api suci. Api suci yang dimaksud adalah api yang dihidupkan dan dikobarkan dalam kunda. Kunda adalah lambang pengorbanan. Mengapa persembahan dimasukkan dalam api, hal ini disebutkan dalam Purana, bahwa Dewa Agni (disimbulkan dengan api) adalah lidahnya Tuhan. Sehingga maknanya adalah jika persembahan disampaikan melalui lidah Tuhan, maka persembahan tidak akan nyasar ke tempat lain.

Dasar Sastra Upacara Agnihotra

1.      Agnimile Purohitam, yajnasya devam rtvijam Hotaram ratnadhatanam

Oh Agni, Engkau sebagai Pendeta Utama, dewa pelaksana upacara yajna, kami memuja-Mu, Engkau pemberi Anugrah berupa kekayaan yang utama (Reg Veda 1.1.1)

Mantra di atas mengandung makna bahwa Deva Agni merupakan pemimpin atau pendeta utama dalam suatu penyelenggaraan Yajna, maka dapat disimpulkan bahwa tanpa Dewa Agni semua upacara persembahan akan menjadi sia-sia. Lebih ditegaskan lagi bahwa Dewa Agni sekaligus berfungsi sebagai pelaksana yajna, hal ini semakin memperkuat bahwa Agni menjadi pokok upacara persembahan. Pada pelaksanaan upacara Agnihotra, semua persembahan dituangkan langsung ke dalam api yang diumpamakan sebagai lidahnya Manusia Kosmos (Tuhan) dalam kitab Purana dan Upanisad, sehingga apapun yang dipersembahkan dalam upacara Agnihotra langsung ditujukan pada manifestasi/Tuhan itu sendiri.

Senin, 02 Juli 2018

Dalam Hindu Tidak Ada Ritual Yang Sesat


Pemujaan dalam Hindu yang memakai media arca (patung yang sudah disakralkan) bukan berarti bahwa umat Hindu adalah penganut ajaran yang sesat, penyembah berhala, atau juga Hindu adalah pemuja setan. Sama sekali tidak benar. Pemujaan melalui media simbol berbagai atribut dewa dan dewi dalam suatu pura bagi Hindu, simbol tersebut adalah wujud-Nya yang disebut Saguna Brahman (terpikirkan). Yang berarti mewujudkan Tuhan melalui media seperti Arca, patung dewa, gambar atau lukisan dewa, batu dan lain-lain. Ini dimaksudkan agar kita mudah berkonsentrasi beserta membayangkan wujud Tuhan bagi yang baru belajar atau menjadi Hindu tahap dasar.

Bagi umat Hindu yang sudah tidak memerlukan simbol-simbol sebagai media dalam pemujaan atau yang tingkat spiritualnya sudah tinggi dan memuja tanpa memerlukan sarana simbol, itu disebut wujud Nirguna Brahman (tak terpikirkan).

Kamis, 28 Juni 2018

PANDANGAN HINDU TENTANG NASIONALISME



Hindu memandang bahwa kecintaan terhadap bangsa dan negara dan pengejawantahan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan landasan bagi umat Hindu untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pandangan ini dapat kita jumpai dalam beberapa kitab suci. Seperti Atharwa Weda XII.1.45:

janam bibhrati bahudha vivacasam
manadharmanam prthivi yathaikasam
sahasram dhara dravinasya me duham
dhraveva dhenuranapasphuranti

Berikanlah penghargaan kepada bangsamu yang menggunakan berbagai bahasa daerah, yang menganut kepercayaan yang berbeda. Hargailah mereka yang tinggal bersama di bumi pertiwi ini. Bumi yang memberi keseimbangan bagaikan sapi yang memberi susunya kepada umat manusia. Demikian ibu pertiwi memberikan kebahagiaan yang melimpah kepada umatnya.


PEREMPUAN JAWA KUNO

Ken Angrok terperangah ketika tanpa sengaja melihat betis Ken Dedes. Terlihatlah bagian rahasianya yang bersinar.
“Jika ada perempuan yang demikian anakku, perempuan itu namanya Nariswari. Dia adalah perempuan yang paling utama, anakku,” jawab Dang Hyang Lohgawe ketika ditanya Ken Angrok dalam naskah Pararaton.
Empat tipe perempuan antara lain padmini, citrini, sankini, dan hastini.

sumber: http://solo.tribunnews.com

Tipe pertama, padmini memiliki ciri fisik: matanya seperti mata kijang dengan ujung-ujung kemerahan; hidungnya kecil dan bentuknya bagus; wajahnya bagaikan bulan purnama yang keemasan seperti bunga cempaka; lehernya halus dan luwes; buah dada yang penuh dan tinggi; pusarnya dikelilingi tiga garis lipatan; kulitnya halus seperti kelopak bunga sirsa; suaranya manis mengalun; kalau jalan seperti angsa; wataknya pemalu, menyenangkan, pemurah, setia, memiliki rasa keagamaan, dan bertingkah terhormat.

Yajna Upavitam Bagi Brahmacari

Veda merekomendasikan tahapan kehidupan ideal yang disebut dengan catur asrama dharma. Keempat tahapan kehidupan ini merupakan lapangan kehidupan yang hendaknya seseorang lalui, mulai dari tahapan awal yang disebut dengan brahmacari (masa menuntut ilmu), grehasta (masa berumah tangga), vanaprastha (masa dimana sedikit demi sedikit melepaskan kehidupan duniawi), dan masa sanyasin (masa sudah secara totalitas melepaskan diri dari ikatan duniawi).

Di antara keempat tahapan kehidupan tersebut, kiranya penting untuk dipahami bahwa tahapan brahmacari merupakan tahapan yang paling menentukan untuk seseorang dapat melewati tahapan kehidupan berikutnya. Mengapa demikian? Karena masa brahmacari ini adalah masa pembekalan diri dan masa pengisian diri untuk seseorang dapat menjalani tahapan selanjutnya. Brahmacari secara konseptual dapat dimaknai sebagai masa dimana seseorang hendaknya menuntut ilmu pengetahuan, baik itu pengetahuan yang bersifat sains maupun spiritual. Pengetahuan inilah yang pada nantinya akan dijadikan pijakan untuk memasuki tahapan berikutnya. Pada masa ini pula seseorang hendaknya membentuk karakter dirinya untuk menjadi mulia, sebab pada saat tua nanti sangat susah membentuk karakter karena beban kehidupan yang banyak dan ketajaman intelek sudah mengalami ketumpulan.

Rabu, 06 Juni 2018

Mengapa bunga digunakan untuk pemujaan kepada para dewa?


Pemujaan kepada para dewa tidak akan lengkap tanpa menggunakan bunga. Jika kita memahami bunga atau daun yang mana yang kita perlukan untuk memuja dewa tertentu, dalam jumlah berapa dan apa manfaat spiritualnya bunga tersebut maka kita akan mendapatkan lebih banyak manfaatnya dari pemujaan tersebut.

1. Pentingnya bunga dalam pemujaan

Ada frekuensi halus para dewa yang aktif di atmosfer. Frekuensi ini ditarik oleh bunga-bunga tertentu. Frekuensi ini kemudian oleh bunga tersebut dipancarkan kembali ke atmosfer dan kemudian dikenal sebagai 'pavitrak'. Inilah perbedaan antara frekuensi dan pavitrak.
·         Prinsip halus para dewa yang ditarik oleh bunga dari atmosfer disebut frekuensi, dan frekuensi kedewaan ini oleh bunga dipancarkan lagi ke atmosfer sebagai pavitrak.
·         Frekuensi ini sangat halus dan tidak berwujud (nirguna), sementara pavitrak adalah bentuk halus dan nyata dari prinsip dewa tersebut.

Mari kita lihat bunga Sepatu (Hibiscus) ini.



·         Energi yang dipancarkan dewa Ganesha di alam semesta ini akan ditarik ke bagian tengah bunga Sepatu yang berwarna merah dan dipancarkan dalam bentuk lingkaran.
·         Energi Ganesha yang diserap oleh tangkai bunga akan dipancarkan melalui kelopak bunga ke atmosfer.
·         Benang sari bunga menyerap energi Ganesha yang ada di atmosfer dan memancarkan partikel yang berfungsi sebagai energi vital atau pranshakti.
·         Bunga Sepatu memiliki sifat sattvam, oleh karena energi ilahi (shakti) dan kesadaran ilahi (Chaitanya) dipancarkan dari kelopaknya.

Pluralisme dan multikulturalisme


Perubahan tata kehidupan di era global terjadi karena didukung oleh perkembangan teknologi yang sangat pesat telah membawa berbagai kemudahan. Kemudahan dimaksud seperti kecepatan berkomunikasi, persahabatn lintas tempat dengan hilangnya sekat-sekat batas wilayah antar daerah bahkan negara, kemudahan memperoleh informasi dari berbagai belahan dunia baik yang bersifat ilmiah, popular dan instan, tetapi di sisi lain teknologi juga dapat berpengaruh negatif, mudahnya mendapatkan informasi yang bersifat sampah seperti gambar tak senonoh, juga pada bentuk penanaman paham yang bersifat agitasi (penyebaran kebencian) pada paham lain yang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip bertuhan yang pluralis dan multikultural.

Manusia Sempurna


Kesempurnaan pada dasarnya ini mengacu kepada bagaimana kita bisa mendapatkan sebuah keterampilan yang sekarang ini tidak kita punyai. Sebagai contoh, katakanlah kita mengetik 20 kata dalam satu menit dengan dua jari kita. Lalu kita ingin meningkatkan kemampuan kita selama enam bulan untuk praktek setiap hari. Maka kita pasti bisa mengetik dengan sepuluh jari kita, bahkan tanpa melihat pada keyboard, pada kecepatan rata-rata 50 kata dalam satu menit. Maka dapat disimpulkan bahwa latihan kita selama enam bulan telah membuat kita lebih sempurna.

Ketika konsep ini kita terapkan dalam upaya-upaya kehidupan spiritual kita, maka ini akan sangat berarti. Ini karena esensi jati diri kita, jiwa kita pada hakekatnya sempurna. Latihan dan upaya kita sendiri akan membawa kesempurnaan diri pada intelektual, emosional dan naluri kita.

Kita terlahir dalam badan fisik untuk tumbuh dan berkembang dengan kekuatan jati diri kita. Agama kita mengajarkan pengetahuan bagaimana menyadari kesatuan kita dengan Tuhan dan tidak menciptakan pengalaman yang tidak kita inginkan.

Pandangan Hindu tentang kemajemukan bangsa, persatuan dan warga negara

Kemajemukan atau keberagaman bukan hanya sebagai sebuah realitas sosial. UUD 1945 menyatakan dgn jelas bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya. Karena itulah ditegaskan bahwa semua agama memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang, termasuk pemeluknya untuk menjalankan agamanya secara bebas. Pemeluk agama tertentu tidak boleh memaksa pemeluk agama lainnya untuk pindah agama sebagaimana realita yang kita lihat selama ini. Setiap orang memiliki hak dasar untuk memeluk agama yang berarti kebebasan dan kewenangan seseorang untuk menganut suatu agama yang tercantum dalam Pustaka Suci Veda, khususnya Bhagavadgita.

Umat Hindu menghormati kebenaran dari manapun datangnya dan menganggap bahwa semua agama bertujuan sama, yaitu menuju Tuhan, namun dengan berbagai sudut pandang dan cara pelaksanaan yang berbeda. Hal ini diuraikan dalam Bhagavadgita IX.29 yang berbunyi:

samo ‘ham sarvabhuutesu
na me dvesyo ‘sti na priyah
ye bhajanti tu maam bhaktyaa
mayi te tesu caa ‘py aham

Aku bersikap adil pada semua makhluk, tidak ada yang paling Ku-benci ataupun yang paling Ku-kasihi, akan tetapi mereka yang berbhakti kepada-Ku, maka dia ada dalam Diri-Ku dan Aku ada dalam dirinya.

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...