Manusia hidup tidak sendiri, alam ini diciptakan oleh Sang Hyang Widhi dengan ciptaan yang beragam. Setiap ciptaan akan membutuhkan maupun dibutuhkan oleh yang lain. Harmoni diantara ciptaan-Nya adalah sebuah kewajiban agung dari setiap makhluk. Harmoni dengan seluruh isi Jagad Raya.
Beranda
Sabtu, 18 Agustus 2018
OJO WATON NGOMONG, NANGING NGOMONGO NGANGGO WEWATON
Jumat, 17 Agustus 2018
PEMIMPIN HARUS MEMAHAMI MASYARAKATNYA
Kamis, 16 Agustus 2018
NGELMU IKU KALAKONE KANTI LAKU
NGELMU IKU KALAKONE
KANTI LAKU
(ilmu pengetahuan hanya akan
bermanfaat jika dipraktekkan)
Petikan dari sebuah sastra kuno mengatakan sebagai berikut:
“Ring widyā wiṣa tulya dénikang anabhyāsālasang sampĕnĕh, ……”
Terjemahan:
Ilmu pengetahuan hanya akan
menjadi racun bagi mereka yang tidak terbiasa dan malas untuk mempraktekkannya,
……. (Kekawin Nitisastra, I.3)
Canakya Nitisastra IV.15 juga mengatakan hal yang
sama:
anabhyāse viṣaṁ ṡāstram ajīrṇe
bhojanaṁ viṣam,
daridrasya viṣaṁ goṣṭhī
vṛddhasya taruṇī viṣam.
Terjemahan:
Ilmu pengetahuan yang tidak
dipraktekkan akan menjadi racun. Makanan yang tidak dapat dicerna oleh tubuh
juga merupakan racun. Bagi orang bodoh, pergaulan dengan banyak orang adalah
racun. Perempuan muda bagi mereka yang sudah tua renta adalah racun.
Dan sebagaimana disebutkan
dalam Serat Wedhatama III.1 (tembang pucung):
ngelmu iku kalakone kanti laku,
lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budaya pangekese dur angkara.
Ilmu itu harus dijalankan dengan
perbuatan/praktek. Dengan kemauan dan niat yang tulus sebagai kekuatan budi dan
kebenaran sebagai penghancur keangkaramurkaan.
Mereka yang kurang
berpengetahuan dalam berbahasa biasanya akan sulit dalam bergaul dengan orang
lain. Kemampuan dalam mengolah bahasa diibaratkan seperti meracik makanan
dengan enam rasa atau sadrasa yaitu manis, asam asin, pedas,
pahit dan sepat. Kapan harus mengolahnya dengan rasa manis, atau kapan dengan
rasa lainnya, maka dibutuhkan suatu kemampuan.
Sekarang ini banyak sekali orang yang menguasai keilmuan akan tetapi tidak berbanding lurus dengan perilakunya. Ilmu yang mereka kuasai hanya sebatas di mulut dan di kertas saja. Banyak bicara tetapi miskin penerapannya. Bila diminta bicara bisa sampai berjam-jam, dan tiada bukti di masyarakat. Banyak sekali mereka-mereka yang berpendidikan tinggi dengan gelar sederet namun tidak mampu menjaga “ajining diri”. Bicara semaunya, bicara seenaknya yang justru berakibat merendahkan dirinya sendiri.
Mereka yang banyak bicara saja dan tanpa aktualisasi dari apa yang sedang dia bicarakan maka dalam peribahasa Jawa berbunyi “kakehan gludug kurang udan” artinya “terlalu banyak petirnya tetapi hujannya kurang”. Dalam Bahasa Indonesia berbunyi “tong kosong nyaring bunyinya”, orang-orang yang seperti ini akan sangat mudah berkata-kata, mudah berjanji tetapi jarang ditepati, ibarat kata hanya pepesan kosong belaka. Mereka menyembunyikan kebodohannya dengan berlagak angkuh, sok tahu, dan banyak bicara namun tidak menarik untuk didengar.
Petikan Kakawin Nitisastra, I.9
“………Ring janmālpaka śāstra
garwita tĕrĕh śabdanya tanpāmrĕta.
“…….Orang yang sedikit pengetahuannya
biasanya angkuh, bicaranya keras dan sama sekali tidak menarik hati”
Orang dikatakan berilmu bila dia bisa “nglakoni”, artinya secara nyata mempraktekkannya dan dengan disertai “wiweka” (kebijaksanaan). Manusia berbeda dengan binatang, manusia dibekali dengan wiweka yang diharapkan bahwa manusia bisa membedakan antara yang baik dengan yang buruk. Dengan wiweka maka manusia bisa memikirkan apa yang baik dan harus dilakukan dan apa yang tidak seharusnya dilakukan.
Kalimat bijak:
“Pengetahuan itu bagaikan susu yang kaya dengan nutrisi kehidupan, namun jika hanya sebatas diseduh saja dalam gelas (hanya sebatas pengetahuan di dalam pikiran) dan tidak diminum (tidak diaktualisasikan atau dipraktekkan) maka nutrisi kehidupan itu akan sia-sia saja karena tidak merasuk dalam urat nadi kehidupan masyarakat”
Penguasaan ilmu pengetahuan yang tanpa disertai dengan kebijaksanaan maka bisa berakibat salah dalam penggunaan ilmu pengetahuan tersebut. Misal saja seperti tokoh teroris yang sudah mati yaitu Dr.Azhari; dia adalah seorang doktor dibidang fisika dan kimia yang tidak mempraktekkannya untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat namun justru sebaliknya mempraktekkannya untuk membuat bom untuk aksi teror.
Jika kita ahli berbisnis, makmur dan bahagia; ajarkan ilmu itu kepada orang lain agar orang lain pun sejahtera dan makmur seperti kita, jangan justru mengambil setiap peluang dan kesempatan hanya untuk kesejahteraan dan kemakmuran diri sendiri tanpa memberikan kesempatan itu kepada orang lain. Begitu juga dengan keahlian lainnya hendaknya semaksimal mungkin menjadi bermanfaat bagi orang lain.
Orang yang berilmu (juga berwiweka) akan mampu menjaga setiap pemikiran, kata-kata dan perilakunya; dengan begitu dia mampu menjaga “ajining diri” nya sendiri juga diri orang lain. Dia akan mampu menelaah apakah pemikiran, kata-kata dan perilakunya bermanfaat atau justru malah merugikan atau menyakiti orang lain. Orang yang berilmu akan selalu berusaha menjaga keberadaannya untuk selalu bermanfaat bagi orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Dia akan selalu berusaha untuk mengaktualisasikan pengetahuannya untuk kebaikan bersama.
AGUSWI
Bumi
Pasundan
Kamis, 02 Agustus 2018
AGAMA DALAM KONTEKS BUDAYA
Selasa, 24 Juli 2018
Perpaduan Ruwatan dan Melukat
Senin, 23 Juli 2018
BRATA SIWARATRI: MENDENGAR TETAPI TIDAK MERASA MENDENGAR, MERASA TETAPI TIDAK MERASA
Kamis, 19 Juli 2018
KITA ADALAH APA YANG KITA TEMUI
Rabu, 18 Juli 2018
Menyatukan Cipta, Rasa dan Karsa Dalam Kebersamaan Ngembak Geni Dan Banyu Pinaruh
Minggu, 15 Juli 2018
BERYADNYA KARENA TAKUT ATAU GENGSI ?
Sabtu, 14 Juli 2018
PRAKTEK KEAGAMAAN SEORANG HINDU ETNIS JAWA
Jumat, 13 Juli 2018
PIKIRAN DAN KOMPUTER
Kamis, 12 Juli 2018
WEDA MEMBANGUN KEMBALI NUSANTARA
Rabu, 11 Juli 2018
TEMPAT SUCI SUNDA KUNA
Senin, 09 Juli 2018
Dunia Ini Adalah Sebuah Asrama
Minggu, 08 Juli 2018
PEMAHAMAN AGAMA DENGAN KACAMATA KUDA DAN HITAM PUTIH
Jumat, 06 Juli 2018
Membangkitkan Hindu Jawa Barat – Sunda
Rabu, 04 Juli 2018
AGNIHOTRA (HOMA YAJNA)
Senin, 02 Juli 2018
Dalam Hindu Tidak Ada Ritual Yang Sesat
Kamis, 28 Juni 2018
PANDANGAN HINDU TENTANG NASIONALISME
PEREMPUAN JAWA KUNO
![]() |
| sumber: http://solo.tribunnews.com |
Yajna Upavitam Bagi Brahmacari
Di antara keempat tahapan kehidupan tersebut, kiranya penting untuk dipahami bahwa tahapan brahmacari merupakan tahapan yang paling menentukan untuk seseorang dapat melewati tahapan kehidupan berikutnya. Mengapa demikian? Karena masa brahmacari ini adalah masa pembekalan diri dan masa pengisian diri untuk seseorang dapat menjalani tahapan selanjutnya. Brahmacari secara konseptual dapat dimaknai sebagai masa dimana seseorang hendaknya menuntut ilmu pengetahuan, baik itu pengetahuan yang bersifat sains maupun spiritual. Pengetahuan inilah yang pada nantinya akan dijadikan pijakan untuk memasuki tahapan berikutnya. Pada masa ini pula seseorang hendaknya membentuk karakter dirinya untuk menjadi mulia, sebab pada saat tua nanti sangat susah membentuk karakter karena beban kehidupan yang banyak dan ketajaman intelek sudah mengalami ketumpulan.
Rabu, 06 Juni 2018
Mengapa bunga digunakan untuk pemujaan kepada para dewa?
Pemujaan kepada para dewa tidak akan lengkap tanpa menggunakan bunga. Jika kita memahami bunga atau daun yang mana yang kita perlukan untuk memuja dewa tertentu, dalam jumlah berapa dan apa manfaat spiritualnya bunga tersebut maka kita akan mendapatkan lebih banyak manfaatnya dari pemujaan tersebut.
Ada frekuensi halus para dewa yang aktif di atmosfer. Frekuensi ini ditarik oleh bunga-bunga tertentu. Frekuensi ini kemudian oleh bunga tersebut dipancarkan kembali ke atmosfer dan kemudian dikenal sebagai 'pavitrak'. Inilah perbedaan antara frekuensi dan pavitrak.
Pluralisme dan multikulturalisme
Perubahan tata kehidupan di era global terjadi karena didukung oleh
perkembangan teknologi yang sangat pesat telah membawa berbagai kemudahan. Kemudahan
dimaksud seperti kecepatan berkomunikasi, persahabatn lintas tempat dengan hilangnya
sekat-sekat batas wilayah antar daerah bahkan negara, kemudahan memperoleh
informasi dari berbagai belahan dunia baik yang bersifat ilmiah, popular dan instan,
tetapi di sisi lain teknologi juga dapat berpengaruh negatif, mudahnya
mendapatkan informasi yang bersifat sampah seperti gambar tak senonoh, juga pada
bentuk penanaman paham yang bersifat agitasi (penyebaran kebencian) pada paham
lain yang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip bertuhan yang pluralis dan
multikultural.Manusia Sempurna
Pandangan Hindu tentang kemajemukan bangsa, persatuan dan warga negara
BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI
Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...
-
Kualitas atau pun harga diri seseorang itu tolok ukurnya adalah pada perilakunya, itulah yang menjadi tolok ukur. Prilaku yang menunjukkan ...
-
Pendahuluan Semaraknya kegiatan keagamaan yang dilaksanakan diberbagai pure yang kita lihat dewasa ini yang mungkin bahkan terbilang m...
-
Pemujaan kepada para dewa tidak akan lengkap tanpa menggunakan bunga. Jika kita memahami bunga atau daun yang mana yang kita perlukan ...




